Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Ini Mama


__ADS_3

Ujian semester hari ini dilalui Syera dengan baik. Ia cukup beruntung karena memiliki kemampuan belajar yang cepat mengingat ia sempat tertinggal beberapa bulan perkuliahan. Ia puas dengan jawaban yang ia tuliskan dalam lembar ujian untuk setiap pertanyaan yang diberikan.


Seperti rencananya setelah dari kampus ia akan ke restoran untuk memberitahu ibu Linda jika akan berhenti bekerja, sekaligus pamitan dengan pekerja di sana.


Sebelum pulang ia terlebih dahulu makan siang di restoran itu. Jika sebelumnya dia adalah seorang karyawan di sana maka hari ini statusnya adalah seorang pelanggan.


Syera menikmati makan siang pertama di restoran itu sebagai seorang pelanggan yang di ladeni untuk setiap pesanannya.


Ibu Linda dan karyawan lainnya tak bisa menahan gelak mereka saat Syera duduk manis dan memesan makanan pada pelayan yang sebelumnya menjadi rekan kerja Syera di sana.


Dengan ramah pelayan yang bernama Merry mencatat pesanan temannya itu yang mencoba bertingkah menirukan pelanggan yang ia jumpai.


"Baik, mba. Tunggu sebentar ya, pesanannya akan segera saya antar jika sudah selesai," ucap merry mengikuti alur Syera.


Hahaha....


Keduanya tertawa begitu juga dengan ibu Linda yang ada di meja kasir.


Masih pukul dua sore, Syera berpikir akan sangat membosankan jika ia harus kembali ke apartemen secepat itu. Ia berpikir sudah cukup lama sejak ia bertemu mami Jelita untuk yang terakhir kalinya, ia hanya berkomunikasi lewat sambungan telepon saja akhir-akhir ini.


Setelah berpikir Syera memutuskan untuk mengunjungi mami Jelita ke Panti asuhan tempatnya sekarang bekerja.


Sesampainya di panti asuhan Syera di suguhkan pemandangan indah dari anak-anak panti yang sedang bermain-main di area panti. Ini untuk pertama kalinya Syera pergi ke sebuah panti asuhan.


"Permisi, bu?" sapa Syera pada seorang wanita yang sedang menimang seorang bayi.


"Iya, ada apa ya, nak?"


"Ibu Jelitanya ada?"


"Ibu Jelita?" pikirnya sesaat. "Oh, Bunda Jeli, yang kerja di sini, anak-anak panti biasanya panggil bunda Jeli pada beliau. Kalau hari ini beliau tidak datang, katanya ada urusan penting di rumahnya," jelas ibu itu.


"Gitu ya, bu. Kalau gitu saya permisi, bu."


"Iya, nak. Ngomong-ngomong kamu ini siapanya bunda Jeli?"


"Nama saya Syera, bu. Saya putrinya. Saya pamit dulu, bu."


Putrinya cantik dan sopan.

__ADS_1


Syera kembali melanjutkan tujuannya ke alamat kontrakan yang sudah pernah di beritahu mami Jelita padanya. Butuh sekitar setengah jam ia menuju ke sana menggunakan angkutan umum.


Kontrakannya memang sangat kecil tapi ada di pinggir jalan, tidak membuat Syera kesulitan saat mencari letak rumah itu.


Melihat pintu yang setengah terbuka Syera merasa seneng karena itu artinya mami Jelita pasti ada di rumah. Sangking senangnya Syera tidak memperhatikan sebuah mobil parkir di depan rumah itu.


"Mami...?" panggil Syera sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


Syera langsung melihat keberadaan mami Jelita duduk berhadapan dengan seorang wanita lain.


"Aku rindu mami Jelita," ucap Syera memeluk mami Jelita.


Mami Jelita membalas pelukan Syera dengan rasa penuh kekhawatiran. Raut wajahnya kaget karena Syera tiba-tiba datang, sungguh diluar pemikirannya. Mami Jelita tegang dengan keadaan saat ini.


"Mami juga rindu kamu," membalas ucapan rindu Syera.


Wanita yang duduk di hadapan mami Jelita sontak berdiri dan mendekati Syera yang masih memeluk mami Jelita. Wanita itu berdiri tepat di belakang Syera dengan mata berkaca-kaca.


"Sye-Syera? Kamu Syera?" tanya wanita itu mulai menangis.


Syera melepas pelukannya dari mami Jelita, ia menoleh pada wanita di belakangnya.


"Iya, nama saya Syera, bu. Saya putri mami Jelita," jawab Syera. "Ibu kenapa nangis?" tanya Syera heran tapi perasaannya tidak enak, ia merasa sedih saat melihat air mata turun pada pipi wanita itu.


"Aku tidak akan pergi," lirih Wulandari. "Aku tidak akan pergi di saat aku akhirnya bisa bertemu dan melihatnya."


"Aku mohon pergilah dari sini," pinta mami Jelita lagi menekan ucapannya.


Syera merasa ada yang aneh dengan kedua wanita yang bersamanya sekarang. Saat ini mami Jelita menahan kedua tangan Syera agar tidak mengalihkan pandangannya pada Wulandari sedangkan wanita di belakangnya entah mengapa sedang menangis.


"Syera," panggil Wulandari menyentuh pundak gadis itu.


Wulandari tidak dapat menahan tangisnya saat menyentuh Syera.


Pagi tadi karena keinginannya ingin bertemu Syera membuat Wulandari tidak sabar untuk menunggu lagi. Tanpa pikir Wulandari menemui mami Jelita karana sudah tahu alamatnya.


Mami Jelita yang saat itu bersiap pergi ke panti untuk kerja terkejut saat Wulandari yang juga sangat ia kenal meski hanya sekali bertemu tiba-tiba mendatanginya.


Keduanya berdebat saat Wulandari mengatakan keinginannya untuk bertemu Syera. Perdebatan mereka berhenti saat Syera datang di waktu yang tidak tepat bagi mami Jelita namun di waktu yang tepat bagi Wulandari.

__ADS_1


Dari yang semula hanya ingin bertemu Syera saja, kini timbul keinginan lebih pada Wulandari. Ia ingin mengatakan siapa dirinya pada Syera.


"Pergilah!" pinta mami Jelita. Syera dapat merasakan jika tangan mami Jelita gemetaran.


"Mami, ada apa?" tanya Syera heran.


Mami Jelita menggeleng, matanya tertuju pada Wulandari di belakang Syera.


"Pergilah selagi aku masih sopan memintanya," ucap mami Jelita.


"Aku tidak akan pergi. Aku ingin bertemu putriku," teriak Wulandari diikuti tangisnya yang pecah. "Bagaimana bisa aku pergi saat kini putriku ada di hadapanku. Aku ibunya!" lanjut Wulandari.


"Aku maminya!" ucap mami Jelita ikut mengangkat suaranya.


"Aku yang melahirkannya. Aku wanita yang mengandungnya dan melahirkannya ke dunia. Aku mamanya Syera!"


Duar!


Spontan Syera memutar tubuhnya menghadap Wulandari.


Apa yang baru saja ia dengar membuat Syera sangat terkejut.


"Maksudnya apa?"


Mami Jelita tidak mau menjawab Syera, yang bisa ia lakukan saat ini hanya diam meski hatinya terasa sakit. Ia sadar bukan wanita yang melahirkan Syera tapi rasa sayangnya begitu besar semenjak Syera diasuhnya.


Sama halnya dengan Syera, ia tahu jika yang melahirkannya bukanlah mami Jelita tapi ia menyayangi dan menghormati wanita itu seperti ibu kandungnya. Dan sekarang seseorang di hadapannya mengaku adalah wanita yang sudah melahirkannya.


"Aku yang sudah melahirkan kamu, aku mama kamu, nak. Ini mama," tangis Wulandari memberi tahu.


"Syera Hanindy, itu nama yang mama kasih buat kamu waktu lahir dan sudah mama persiapkan sejak kamu masih di kandungan mama. Ini mama, nak. Ini mama yang sudah lahirin kamu."


Wulandari memeluk Syera begitu erat. Menangis, menumpahkan rasa rindu yang tertahan selama ini. Syera tidak tahun harus berkata apa juga. Hal ini begitu tiba-tiba dan tidak pernah terpikirkan olehnya akan bertemu wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.


Akan tetapi tidak dapat dipungkiri jika Syera senang bisa bertemu dengan mama kandungnya. Ia tidak dapat membohongi hati kecilnya bahkan nalurinya sebagai seorang anak ikut tergerak melihat Wulandari menangis saat memeluknya, Syera ikut sedih.


Syera melepas pelukan Wulandari, ia mendekati mami Jelita dan berjongkok di hadapannya. Syera memegang kedua tangan mami Jelita, menanyakan keinginannya tanpa berucap.


Mami Jelita tidak dapat menahan rasa ibanya saat melihat kedua mata Syera yang sudah berlinang. Meski tidak rela namun mami Jelita menganggukkan kepalanya sambil membelai rambut Syera.

__ADS_1


Syera memeluk mami Jelita sambil menangis, begitu juga dengan Jelita, ia membalas pelukan Syera. Beberapa saat kemudian mami Jelita menangkup wajah Syera dan kembali menganggukkan kepalanya.


Mendapat izin dari mami Jelita membuat Syera kembali sedih saat berbalik melihat wanita yang sudah melahirkannya masih menangis dengan tatapan iba dimatanya.


__ADS_2