
Seperti biasa setelah menyelesaikan semua pekerjaan rumah Syera berangkat ketempat kerjanya. Pulang pergi menggunakan kendaraan umum membuat Syera harus mengeluarkan uang lebih dibanding saat dulu ia menggunakan sepeda motor. Apalagi jika ia pergi mengantar bekal makan siang untuk Fandy ke kantornya.
Meski begitu Syera tetap mensyukuri akan apa yang dikerjakannya. Setidaknya dia bukanlah seorang pengganguran yang hanya menumpang tinggal di tempat Fandy.
Sama seperti biasanya juga Syera kembali menitipkan bekal makan siang Fandy pada OB yang biasa dan kembali ke restoran.
Sibuk meladeni pesanan para pelanggan membuat Syera tidak menyadari ada beberapa notifikasi pesan masuk pada ponselnya.
"Ra, kursi nomor tiga belas minta tambahan air putih."
"Siap, kak."
Syera berjalan ke meja tiga belas dengan membawa air putih dalam wadah dan menuangkannya.
"Makasih ya," ucap si pelanggan.
"Sama-sama, bu. Kalau butuh sesuatu tinggal panggil ya, bu." Syera bersikap ramah dan sopan pada si pelanggan. Ia tahu selain rasa dari makanan yang enak, ramah tamah ataupun kesopanan menjadi salah satu yang terpenting dalam melayani para pelanggan.
Lewat pukul dua siang restoran kembali sepi dan hanya satu persatu pelanggan yang datang. Kesempatan itu dipergunakan para karyawan untuk makan siang dan beristirahat sejenak.
Pukul setengah dua belas siang hingga dua siang adalah puncak para pelanggan. Maklum saja, restoran milik ibu Linda tersebut menjadi tempat para karyawan ataupun pekerja untuk makan siang.
Berbeda dengan malam hari, restoran tersebut akan ramai di gandrungi para pemuda dan keluarga.
Selepas makan siang dan beristirahat sejenak, para karyawan restoran akan kembali sibuk bersih-bersih, mempersiapkan segala bahan dan keperluan untuk puncak kedua dari petang hingga pukul sembilan malam.
"Ra, ini buat kamu," meletakkan uang lima puluh ribu pada meja yang sedang di lap Syera.
"Ini uang apa, kak?" tanya Syera pada karyawan yang sudah bekerja lebih lama darinya di restoran itu.
"Ibu yang tadi minta tambahan air putih."
"Maksudnya, kak?" membuat Syera semakin tak mengerti.
"Itu tips buat kamu dari ibu itu. Tadi dia lupa kasih langsung ke kamu, jadi waktu di kasir dia nitipin ke aku buat di kasih ke kamu."
"Oh, ya?" Syera terlihat begitu bersemangat. Ia tidak menyangka dengan selembar uang kertas yang kini di pegangnya itu. "Kalau gitu uangnya kita bagi dua aja, kak."
"Jangan. Itu buat kamu. Simpan aja. Kamu juga pasti sangat butuh, iyakan?"
"Hehehe... Ya udah, kak. Uangnya aku ambil ya," ucap Syera sembari tersenyum dengan mata berbinar.
Syera memasukkan uang tersebut ke dalam saku celananya. Saat itu pula sebuah notifikasi pesan kembali masuk ke ponsel Syera.
Ada beberapa pesan masuk dari Fandy. Ia membukanya dan membaca satu persatu isi pesan tersebut. Fandy menanyakan apa dia sudah makan siang dan mengucapkan terimakasih untuk bekal makan siang yang tadi Syera kirim untuknya.
Semuanya biasa saja hingga suatu keanehan dirasa Syera saat melihat dua foto yang dikirim oleh Fandy.
__ADS_1
Foto pertama memperlihatkan makan siang yang baru saja dibuka Fandy dan masih utuh. Foto kedua saat makanan itu sudah habis dan hanya menyisakan bungkusnya saja.
Merasa ada yang aneh Syera langsung mengirim pesan pada Fandy.
"Itu apa, kak?"
"Kamu yang kirim kok malah nanya kak Fandy, ini kan makan siang yang tadi kamu titip ke OB. Cantik-cantik kok pelupa sih?"
"Hahaha... Oh iya. Maaf, aku lupa, kak."
"Ya udah, nggak kenapa-napa yang penting kamu nggak lupa sama kak Fandy."
"Ya enggaklah, kak. Kalau gitu Syera lanjut kerja lagi ya. Kak Fandy juga semangat kerjanya."
"Iya, kamu juga."
Fandy mengakhiri obrolan mereka dengan mengirimkan sebuah emoticon semangat pada Syera dan dibalas dengan emoticon senyuman.
Meski kedua tangan Syera sibuk bekerja namun pikirannya masih tak bisa terlepas dari dua foto yang tadi di kirim Fandy. Ia tahu betul jika wadah dan isi makan siang yang dikirimnya bukanlah seperti yang ada pada foto itu.
..........
Malam ini Bima kembali mengantar Leo ke restoran tempat Syera bekerja. Tepatnya lagi menemani Leo dalam mobil untuk mengamati entah itu restorannya, para pengunjung ataupun Syera yang sedang sibuk bekerja, entahlah Bima tidak tahu.
Sudah sekitar tiga puluh menit lebih sejak mereka parkir di seberang jalan tak jauh dari arah restoran. Mungkin bisa dikatakan tempat terbaik untuk memata-matai seseorang.
Syera menahan pemuda itu saat akan masuk dalam mobilnya dan berlari kedalam. Tak lama Syera kembali menghampirinya dengan sebuah paper bag cokelat yang tak lain berisi jaket si pemuda itu.
Sebelum berpisah pemuda itu tampak tersenyum sambil tertawa, bahkan ia menyerahkan kembali paper bag tersebut pada Syera. Dengan alasan barang yang sudah ia beri tidak dapat ia minta atau dikembalikan lagi padanya, pemuda itu menolak menerima jaketnya kembali.
Hal itu tak luput dari perhatian Leo yang tengah menampilkan smirik di wajahnya.
"Jalan!" perintah Leo pada Bima.
Sesampainya di apartemen, Bima ikut naik bersama Leo karena ada hal yang harus disampaikan pada Leo. Jika Bima ingin berbicara dan tidak mengatakannya di mobil langsung maka hal yang ingin disampaikan pasti penting.
Setelah terlebih dahulu mandi Leo pun akhirnya menemui Bima di ruang tamu dengan membawa dua kaleng minuman dari dalam kulkas.
"Katakan ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan kali ini," ucap Leo memberikan satu kaleng minuman ditangannya pada Bima.
"Apa tuan baik-baik saja?"
"Apa itu yang ingin kau tanyakan padaku?" kesal Leo.
"Maaf, tuan. Bukan itu yang ingin saya sampaikan.,"
"Lalu?"
__ADS_1
"Sebenarnya beberapa hari yang lalu sesuai dengan laporan yang diterima informan kita di lapangan, pak Ferdi sedang berada di salah satu taman hiburan di kota A dengan seorang wanita. Wanita tersebut tak lain ialah Wulandari yang kemungkinan besar merupakan ibu dari Syera, adik tuan."
"Apa kau bilang? Adik? Adikku? Apa kau ingin di pecat saat ini juga, hah?" geram Leo tak suka mendengar Bima mengatakan Syera adalah adiknya.
"Maafkan saya, tuan."
"Jangan ulangi kalau tidak ingin kau dipecat," ucap Leo mengingatkan. "Lanjutkan laporanmu."
"Baik, tuan. Setelah mendapat laporan tersebut informan kita langsung mengikuti keberadaan mereka berdua namun sayangnya sepertinya mereka tahu jika sedang diikuti. Kami kehilangan jejak mereka. Dan saya rasa pak Ferdi berbohong akan sesuatu. Beliau pasti mengetahui mengenai siapa Syera yang sesungguhnya."
"Pak Ferdi? Aku sudah menduganya. Terus lacak keberadaan mereka. Pasang CCTV di sekitar rumah pak Ferdi."
"Masalahnya pak Ferdi sudah tidak tinggal di rumah yang biasa ia dan keluarganya tinggali. Itulah sebabnya kami kehilangan jejaknya. Termasuk semua nomor kontak keluarganya pun sudah tidak aktif lagi semenjak pak Ferdi tidak bekerja lagi di perusahaan."
"Temukan salah satu dari mereka secepatnya. Baik pak Ferdi maupun wanita yang bernama Wulandari itu."
"Baik, tuan. Saya permisi pulang, tuan. Anda sebaiknya beristirahatlah."
Di atas tempat tidurnya Leo memandangi langit-langit kamarnya. Entah apa yang sedang dipikirkannya hingga air matanya mengalir.
Leo menutup kedua matanya namun air matanya masih saja terus mengalir. Kosong dan sepi, itulah yang dirasanya setiap kembali ke apartemen.
"Apa dia memang adik Leo, pa? Tapi karena dia papa pergi dan melukai hati mama hingga saat ini. Leo juga tidak mau seperti ini."
Dalam keheningan malam Leo larut dengan segala isi kepalanya. Matanya memang terpejam namun siapa sangka jika isi kepala dan kata hatinya tengah berperang sampai lelah hingga akhirnya ia pun tertidur.
..........
"Gantungan kunci kamu dimana, perasaan dari kemarin aku nggak lihat."
"Maaf kak, gantungan kuncinya hilang. Syera juga nggak tahu hilangnya dimana. Maaf, ya?"
"Ponsel kamu hilang, gantungan kunci hilang, kok bisa bersamaan?"
"Aku juga nggak tahu, kak. Maaf, ya?"
"Hem... Ya sudah, yang penting kamu nggak hilang."
Baik Fandy maupun Syera tertawa sambil menikmati sarapan pagi sebelum melakukan aktifitas mereka hari ini."
"Makasih buat ponselnya ya, kak."
"Iya."
Mengetahui jika ponsel Syera hilang Fandy langsung membelikan ponsel yang baru untuk ia berikan pada gadis itu. Namun siapa sangka jika Syera menolaknya. Syera sudah terlalu sering merepotkan Fandy, apalagi harus mengeluarkan duit untuk membelikannya ponsel baru, Syera tidak bisa menerimanya.
Akhirnya setelah Fandy berusaha keras mau tak mau Syera menerimanya. Syera mengalah namun dengan syarat ia tidak mau memakai ponsel baru melainkan ponsel yang digunakan Fandy dan yang baru dipakai oleh Fandy.
__ADS_1