Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Melewati Batas


__ADS_3

Kemeja putih, celana kain berwarna abu rokok sesuai ukuran, dasi merah motif garis dan jas biru langit begitu sempurna menempel ditubuh Leo. Tidak perlu banyak, Leo hanya butuh sedikit minyak rambut untuk ia oleskan pada rambut setengah basahnya dan menyisirnya menggunakan jemari. Cukup menggunakan lima jari saja sudah membuat tatanan rambut Leo rapi.


Ia menyemprotkan parfum di kedua pergelangan tangannya, menggesek-gesekkannya dan menempelkan semprotan parfum itu ke kanan-kiri dan belakang lehernya.


Langkah terakhir ia memakai kaos kaki dan sepatu pantofel hitam, menyempurnakan penampilannya di senin pagi ini.


Syera yang baru keluar dari kamar mandi berdecak kagum melihat penampilan Leo. Bukan untuk pertama kali Syera melihatnya namun entah mengapa rasa kagumnya dua kali lipat dari biasanya.


Aroma tubuh Leo begitu wangi saat melewati Syera yang masih memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki Leo.


Syera gegas ke kamarnya, ia juga akan ke kampus pagi ini. Hari ini ujian semester pertama akan dimulai dan dia tidak mau terlambat. Setelah dirasanya rapi ia membawa tasnya keluar dan meletakkannya di atas sofa.


"Apa kak Leo nggak sebaiknya istirahat dulu saja, kalau perut kakak kambuh lagi gimana?"


"Sudah tidak sakit lagi, aku baik-baik saja sekarang. Asalkan aku makan tepat waktu maka semuanya akan baik-baik saja."


"Kalau gitu jangan telat makan siang nanti dan jangan sampai melupakannya," ingatkan Syera.


Leo mengangguk menerima piring berisi nasi goreng kesukaannya.


"Kenapa tidak pernah membeli udang saat berbelanja, bukannya kamu sangat suka udang?"


"Tapi kak Leo nggak bisa makan udang karena alergi."


"Jangan menahan apa yang kamu suka hanya karena aku. Sama halnya denganku, aku akan terus menyukaimu sekalipun harus selalu menerima tamparan darimu," ucap Leo yakin.


"Kak?"


Leo tidak melihat Syera, dia fokus pada nasi goreng dihadapannya sambil terus mengunyah. Berbeda dengan Syera yang menjadi lemas karena perkataan Leo. Syera pikir Leo akan atau sudah melupakan hal itu tapi nyatanya tidak. Leo justru mempertegasnya pagi ini.


"Menjijikkan, brengsek dan terkutuk. Aku yakin kamu sedang mengumpatiku sekarang, iyakan?"


Leo mengangkat kepalanya dan mengulas senyum pada Syera.


"Dia bilang aku harus bisa menciptakan kebahagiaanku sendiri. Aku juga sudah minta izin sama papa kemarin."


Dia? Siapa yang dimaksud kak Leo?

__ADS_1


"Apa kemarin itu kakak dari makam pak Bayu?"


"Iya. Apa kamu tahu, itu salah satu tempat ternyaman. Aku bisa bicara sepuasnya di sana. Apa menurutmu setelah papa meninggal dan berada ditempatnya sekarang ini bahkan lebih nyaman lagi? Kalau iya apa ingin pergi ke sana denganku?"


Sepertinya dia benar-benar sudah gila. Yang kambuh asam lambungnya tapi pikirannya juga ikut terganggu.


Syera malas menanggapi Leo, dibiarkannya saja Leo bicara sendiri meski terkadang ada saat Syera ingin sekali menyela ucapan Leo.


Usai menghabiskan isi piringnya Leo langsung berdiri dan mengambil tas Syera dari sofa.


"Ayo, jangan sampai telat. Hari ini kamu ujian semester."


Mata Syera memicing melihat tasnya sudah di sandang Leo dan menuju arah pintu keluar. Ia masih belum selesai sarapan, masih tersisa sekitar dua-tiga sendok lagi di piringnya.


"Kenapa bawa tasku, kak?"


Buru-buru Syera berlari ingin mengejar Leo tapi langkahnya berhenti dan kembali ke meja makan karena nasi goreng di tenggorokannya sulit ia telan. Syera tidak memperhatikan lagi gelas mana yang dia ambil dan meminum isinya. Syera minum dari gelas Leo karena lebih mudah di jangkaunya.


Tangan Syera begitu cepat menarik sehelai tisu untuk mengelap bibirnya dan mengejar Leo yang sudah terlebih dahulu keluar membawa tasnya.


Dari luar pintu apartemen Syera melihat Leo berdiri di depan pintu lift menunggunya. Syera sedikit berlari menghampiri Leo.


"Kembalikan tasku, kak."


"Kamu bisa mengambilnya sendiri."


Postur tubuh Leo yang tinggi dan Syera yang hanya sebahunya membuat Syera kesulitan. Saat Syera berjinjit, Leo ikut juga berjinjit seakan tidak mau kalah.


"Apa kak Leo juga mau antar aku ke kampus?"


"Em, kenapa, apa aku tidak bisa pergi ke kampus itu?"


Syera menggeleng, mana mungkin ia bisa dan punya hak untuk melarang Leo untuk pergi kemanapun apalagi ke kampusnya disaat keluarga Suntama adalah pemegang saham terbesar kampus tersebut.


Tas miliknya dibiarkan saja di sandang Leo. Apapun caranya Syera tidak akan bisa mengambil tasnya saat ini. Dia akan mengambilnya setelah mereka ada di mobil nanti.


Syera mengekori Leo dan masuk ke dalam mobil. Sebelum Leo menjalankan mobil, Syera mengambil tasnya. Leo tertawa dan membiarkan Syera saat mengambil tas itu dari sandangannya.

__ADS_1


"Apa rencana kamu setelah pulang dari kampus nanti? Kamu ingatkan kalau mama tidak mau kamu kerja dulu sebelum lulus kuliah?"


"Aku ingat tapi aku akan pergi ke sana sebentar untuk pamit sama ibu Linda dan teman-teman."


"Apa kamu sangat suka kerja di sana dengan mereka?"


"Mereka sudah seperti saudara bagiku dan restoran itu bagaikan rumah kedua."


"Benarkah? Lalu aku, kamu menganggap aku apa?" tanya Leo.


"Kakak dan akan selamanya seperti itu," jawab Syera pasti.


Leo meraih tangan kiri Syera namun Syera menariknya dari Leo. Sambil mengemudi ia menggenggam tangan Syera meski beberapa kali mendapat penolakan.


"Apa kamu yakin hanya menganggapku sebagai kakak saja?"


"Iya, kak. Bukannya kita sudah membahasnya? Jangan aneh-aneh dan melewati batas, kak."


"Aku memang sudah melewati batas, apa kamu lupa kalau aku laki-laki pertama yang sudah mencium bibirmu? Apa lagi yang perlu aku tutupi?


"Kak, jangan seperti itu. Itu salah, kak. Aku ini Syera adiknya kak Leo," ucap Syera pelan mengingatkan Leo untuk yang kesekian kalinya.


"Salah?" Leo membawa tangan Syera yang digenggamnya mendekat dan menempelkan bibirnya pada punggung tangan Syera, mengecupnya cukup lama. "Apa seperti ini juga salah?" tanya Leo.


"Kak, jangan seperti ini," pinta Syera memelas.


"Aku tahu ini salah tapi jangan hanya menyalahkan aku saja. Salahkan perasaan yang ada di sini juga kalau begitu," menaruh tangan Syera di dadanya.


"Kamu bisa menolak dan itu hakmu, kamu bisa marah dan tak suka denganku, itu juga hakmu. Kamu bisa melakukannya tapi tolong jangan pernah mendiamiku karena aku juga akan melakukan sesuatu untuk kebahagiaanku."


Syera menarik tangannya, ia tidak terlalu banyak berkomentar. Memikirkan cara bagaimana agar Leo sadar dan melupakan apa yang sedang bersemayam di hati dan pikirannya saat ini lebih baik daripada terus-menerus menyela dan meneriaki Leo.


Leo menghentikan mobilnya saat tiba di pintu masuk kampus. Sebelum Syera membuka pintu mobil dan turun ia dikejutkan lagi dengan Leo yang tiba-tiba mencium keningnya.


"Kenapa, apa kamu mau menamparku lagi seperti waktu itu?" tanya Leo setelah mencium kening Syera. "Kalau gitu ayo lakukan, aku sudah siap."


Leo mendekatkan wajahnya pada Syera dan menutup kedua matanya. Ia siap menerima tamparan dari Syera karena tahu itu salah satu konsekuensi dari apa yang ia lakukan.

__ADS_1


"Pergilah, tidak ada gunanya kalaupun aku melakukannya. Bukannya kak Leo bilang meski puluhan bahkan ratusan kali tamparan aku berikan tidak akan merubah apa isi kepala kak Leo, jadi percuma. Itu hanya akan menyakiti tanganku saja."


Leo membuka matanya dan menatap Syera di hadapannya. Harusnya Leo merasa senang tapi entah mengapa sikap Syera kali ini membuat Leo tidak mengerti dan bertanya apa yang sedang Syera pikirkan.


__ADS_2