
Makan siang hari ini terasa menjengkelkan bagi Leo. Bagaimana tidak, acara pertemuannya dengan klien yang awalnya ia pikir hanya ada tiga orang yaitu dia, Bima dan klien ternyata bertambah satu karena klien tersebut membawa istri mudanya yang baru beberapa hari ia nikahi.
Awalnya Leo menolak saat ditawari makan siang bersama setelah pertemuan selesai namun karena merasa tidak enak apalagi Leo tidak datang saat klien itu menikah untuk ke dua kalinya beberapa hari lalu akhirnya Leo menerimanya.
Leo pikir toh hanya makan siang biasa jadi tidak ada salahnya. Akan tetapi saat makan siang berlangsung, dengan santainya dan tanpa malu pasangan pengantin baru itu mengumbar kemesraan di hadapan Leo dan Bima.
Rasanya Leo hampir muntah saat menyaksikan dua sejoli di depannya seakan tidak risih dan tidak menganggapnya ada di sana.
Bagaimana bisa pasangan tersebut saling suap-menyuapi di hadapan orang lain, belum lagi saat sang suami dengan genitnya meminta sang istri mengambil makanan yang ia jepit diantara kedua bibirnya.
Dasar pria mesum!
Bima juga tidak tahan melihat kelakuan pasangan itu, ingin rasanya ia menghilang dari sana saat itu juga. Ia bangkit berdiri hendak keluar dengan membuat alasan ke kamar kecil namun sayang Leo menahan tangannya dan memberi kode memaksanya duduk kembali dengan mata elangnya.
Jadilah keduanya sebagai saksi dari pasangan yang tengah dimabuk asmara.
Brengsek! Kalau bukan karena proyek besar aku tidak akan mau dalam situasi ini.
Leo mengumpat pada pasangan di depannya dan melirik Bima agar tidak pergi sedangkan yang di lirik hanya diam, mencoba menikmati makanan di hadapannya dengan kepala menunduk.
..........
Sejak kembali ke kantor, Leo terlihat uring-uringan. Mondar-mandir dalam ruangannya sambil terus menghubungi seseorang. Bima merasa jika hari ini Leo sepertinya tengah membelah dirinya menjadi tiga orang yang berbeda. Pagi tadi Bima melihat Leo senyum-senyum seolah hal baik telah melanda tuannya itu. Saat makan siang bersama klien tadi, Leo dengan sabar berada di situasi yang sangat menjengkelkan dan memuakkan bagi Leo. Dan sekarang Bima melihat wajah masam Leo.
"Apa anda butuh sesuatu, tuan?" tanya Bima.
"Tidak."
"Apa anda yakin?" tanya Bima lagi untuk meyakinkan Leo.
"Aku bilang tidak," tegas Bima. "Aku keluar lima belas menit, aku butuh udara segar."
Leo keluar dari ruangannya sambil terus melakukan panggilan yang sedari tadi tidak ada jawaban. Saat melewati ruangan Fandy tak sengaja ia melihat adiknya itu berbicara melalui sambungan ponselnya.
Fandy terlihat sangat senang karena ia bicara sambil tertawa kecil. Leo teringat jika ia akan melakukan pertemuan untuk kedua kalinya bersama klien tadi siang pada minggu depan. Leo ingin Fandy yang menghadiri pertemuan itu, makanya selagi lewat ruangan Fandy, ia ingin memberi tahunya langsung tanpa melalui Bima.
Tanpa terlebih dahulu mengetuk pintu ruangan, Leo masuk begitu saja. Fandy yang sedang bicara dengan seseorang lewat telepon sambil melihat pada laptop di depannya, terkesiap saat melihat Fandy sudah berdiri di hadapannya.
"Sebentar, jangan matikan ponselnya," kalimat yang diucapkan Fandy saat melihat keberadaan Leo. Ia meletakkan ponselnya dekat laptop.
"Pertemuan kedua dengan pimpinan perusaan K, tolong kau yang mengambil alih. Bima juga akan ikut bersamamu."
"Baik, pak."
Fandy menyanggupi permintaan Leo, bagaimanapun saat di kantor Leo adalah atasannya.
Saat akan keluar, Leo melirik pada layar ponsel Fandy yang masih menyala dan tersambung.
Mata Leo memicing diikuti kening yang mengkerut melihat nama yang tertera di layar ponsel itu. Sekarang Leo tahu kenapa sedari tadi orang yang ia hubungi tidak menjawab panggilan teleponnya.
"Kenapa, ada masalah lainnya?" tanya Fandy mengikuti arah kemana mata Leo tertuju.
"Tidak," jawab Leo. "Bekerjalah dengan baik, jangan menggunakan waktu kerja untuk urusan pribadi," ucap Leo menekan kalimatnya.
Apa-apaan ini, jelas-jelas orang yang disuka itu aku tapi kenapa malah menerima telepon dari pria lain?
Tak!
Bima kaget saat Leo kembali keruangannya dan membanting pintu. Bima yang harus menyelesaikan laporan di ruangan itu memilih diam dan fokus pada pekerjaannya agar cepat selesai dan segera keluar dari sana.
Leo menghempaskan tubuhnya di atas sofa panjang dalam ruangannya. Bersidekap dada melihat pada langit-langit di atasnya. Tanpa diminta Bima berjalan ke arah pintu dan menguncinya dari dalam. Bima kembali duduk mengerjakan tugasnya.
"Anda bisa mengatakannya sekarang jika anda mau," ucap Bima dengan mata tertuju pada layar laptopnya.
"Dia bilang dia menyukaiku, dan tidak suka saat aku dengan perempuan lain tapi dia tidak menjawab panggilan teleponku, dia malah menjawab panggilan pria lain dan membuat pria itu tertawa gembira saat bicara dengannya. Apa kau tahu rasanya seperti apa? Rasanya sangat menjengkelkan. Tapi yang paling membuat jengkel lagi pria itu menyukainya," cerocos Leo.
"Anda harus sabar, tuan. Terkadang wanita memang seperti itu," ucap Bima.
Bima tidak tahu siapa yang dimaksud Leo. Ia juga tidak ingin bertanya siapa, terkecuali Leo sendiri yang memberitahukannya. Terkadang saat berdua seperti sekarang, Leo akan mengeluarkan sebagian unek-uneknya akan seseorang. Baik itu mengenai pekerjaan, klien, dan masalah pribadinya. Meski tidak mendetail namun Bima bisa menangkap inti dari setiap kekesalan Leo, begitu juga saat ini.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak suka seseorang menggangu apa yang menjadi milikku."
"Tuan harus meyakinkannya jika dia adalah milik, tuan. Itu adalah yang terpenting. Anda harus membuatnya jelas agar dia tahu."
__ADS_1
"Aku sudah mengatakannya."
"Tuan hanya mengatakannya saja. Anda juga harus menegaskan jika dia adalah milik anda."
"Apa harus seperti itu?" tanya Leo serius.
"Tuan bisa mencobanya."
Sesuai janjinya, setelah pulang kantor Leo langsung menuju apartemen. Hari ini terasa panjang bagi Leo, ia sangat ingin bertemu dan memeluk Syera. Melihat nama Syera pada layar ponsel Fandy tadi membuatnya sangat kesal namun ia coba tahan dengan tidak menghubungi Syera lagi, takutnya ia malah marah-marah saat di telepon.
Tet... Tet...
Sengaja Leo menekan bel agar Syera membuka pintu untuknya. Ia ingin melihat wajah gadis itu menyambutnya pulang.
Syera membuka pintu dari dalam dan seperti keinginan Leo, Syera menyambutnya dengan senyuman.
"Nghh... Aku kangen kamu," memeluk Syera saat pintu baru saja dibuka.
"Jangan seperti ini, kak. Lepas, kak. Kakak ganti baju dulu," memukul-mukul lengan Leo.
Syera kesulitan saat berjalan mundur karena tubuhnya tertelan dalam pelukan Leo. Syera mendorong tubuh Leo yang membuatnya sesak dan sulit bernafas karena di dekap begitu kuat.
"Kak, aku nggak bisa nafas," ucap Syera memberitahu.
"Kamu tidak bisa bernafas?"
"Iya, kak. Aku nggak bisa nafas kalau kak Leo seperti ini," mencoba mendorong tubuh Leo sekuat tenaganya namun sia-sia.
Leo melempar tas kerjanya ke atas sofa namun malah jatuh kelantai karena Leo melemparnya asal. Tanpa melepas tangan Syera, Leo membuka jasnya dan melepasnya hingga jatuh kelantai begitu saja. Ia membuka dasinya, melemparnya asal dan membuka dua kancing kemejanya.
"Kamu tidak bisa nafas kan? Aku akan menolongmu."
Hufff....
Seperti kata Syera tadi, ia tidak bisa bernafas, oleh sebab itu Leo memberi nafas buatan dengan menyatukan kedua bibir mereka, mengunci mulut Syera dengan bibir Leo dan menghembuskan nafasnya.
"Kamu harus membuka mulut, kalau kamu menutupnya bagaimana nafasku bisa masuk?"
"Kak, aku bukan pingsan. Lebih baik kak Leo mandi biar segar dan isi kepalanya juga bersih."
"Kak?!" pekik Syera.
"Em?"
"Lepas!"
"Enggak, mau."
"Lepas kalau enggak aku gigit!"
Leo justru tertawa mendengar Syera akan menggigitnya.
"Kamu sudah pernah menggigitku dua kali, yang terakhir bahkan sampai hampir berdarah. Kamu nggak lupakan?" mengingatkan Syera
"Aaa... Hiss...! Syera..., sakit!"
Leo mendorong tubuh Syera saat dadanya digigit hingga membuatnya meringis kesakitan. Ia membuka kancing kemejanya dan melihat bekas gigitan Syera.
Leo mengelus-elus dadanya sambil melihat Syera kesal. Tanpa mengatakan apa-apa ia masuk ke kamarnya.
Apa yang mama Wulandari bilang hari itu benar juga.
Usai makan malam keduanya menonton film bersama, tepatnya Leo memaksa Syera menemaninya nonton di ruang tengah. Jujur Syera merasa gugup berduaan bersama Leo setelah pengakuannya semalam.
Seingatnya Leo mangatakan jika Leo menyukainya tapi tidak mengatakan hal lain mengenai bagaimana hubungan mereka saat ini.
"Kenapa tidak menjawab telpon dariku tadi siang?" mengalungkan tangannya di leher Syera.
Syera mendongak melihat Leo yang bicara sambil matanya menjurus pada layar televisi.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Leo lagi. "Aku tahu tadi kamu dan Fandy teleponan. Kamu tahu, dia sangat senang, dia tersenyum dan tertawa saat bicara denganmu sedangkan aku, jempolku terasa kram bolak-balik menekan tanda panggil untuk menghubungimu."
"Maaf, kak. Kak Fandy cuman tanya kenapa semalam nggak angkat telepon darinya. Dia khawatir aku kenapa-kenapa, apalagi setelah dia telpon lagi ponselku sudah tidak aktif. Kakak nggak lupakan sudah hancurin ponselku semalam?"
__ADS_1
"Iya, aku ingat. Aku membantingnya sampai hancur," jawab Leo memperjelas apa sudah ia lakukan pada ponsel Syera semalam. "Apa kamu suka dengan ponsel barumu? Apa Bima membeli yang bagus?"
"Ponselnya bagus dan mahal tapi percuma kalau nantinya juga akan dibanting kalau kakak marah," sindir Syera.
"Apa kamu marah?"
"Mana bisa marah, aku bukan siapa-siapa kak Leo, aku tidak punya hak."
Leo melihat Syera, ia tidak suka dengan apa yang baru dikatakan Syera. Ia menarik tangannya dari leher Syera.
"Ekhem... Kita harus bicara sekarang," ucap Leo dengan wajah serius, mengambil remote dan mematikan saluran televisi.
"Jangan menyela saat aku bicara, cukup jawab apa yang aku tanyakan. Kamu ngerti?"
Syera mengangguk, ia merinding saat Leo merapatkan duduk mereka, membelai rambutnya dan mengelus-elus pipinya.
"Aku suka, sayang, dan cinta sama kamu. Kalau kamu gimana, hem?" tanya Leo.
"Se-semalam sudah Syera jawab, kak. Jangan diulang lagi," jawab Syera malu-malu.
"Aku ingin mendengar dan memastikannya sekali lagi. Jadi ayo jawab dan jangan membuatku menunggu lama."
Belum lagi mengatakannya, pipi Syera serasa mengembang.
"Aku juga suka, sayang dan cinta sama kak Leo."
Syera senyum bercampur malu saat mengatakannya. Ia membenamkan wajahnya di dada Leo karena ia merasa tak kuat melihat tatapan mata Leo.
Leo mendekatkan bibirnya ke telinga Syera dan berbisik padanya.
"Kamu milikku mulai sekarang. Apa yang sudah menjadi milikku tidak akan pernah aku lepas, aku tidak perduli yang lain yang jelas kamu milikku," bisik Leo.
Leo menjauhkan Syera dari dadanya agar bisa melihat wajah gadis itu yang sudah merah merona.
"Apa kamu mau bersamaku dan menjadi milikku? tanya Leo.
Syera kembali membenamkan wajahnya di dada Leo.
"Syera mau," jawabnya.
Leo bernafas lega karena akhirnya sudah memperjelas hubungannya dengan Syera. Ia memeluk gadis itu dan mencium pucuk kepalanya.
"Sudah malam, sebaiknya kita istirahat."
Syera yang tadinya tersipu malu dan menyembunyikan wajahnya di dada Leo melonjak kaget saat tubuhnya diangkat Leo.
"Ma-mau apa, kak?" tanya Syera deg-degan.
Bukannya menjawab, Leo justru menyeringai lebar dan membawa Syera masuk ke kamar miliknya.
"Kamarku disebelah, kak. Tu-turunin," pinta Syera.
Leo meletakkan Syera ke atas tempat tidurnya dan mengunci pintu. Leo naik ke atas tempat tidur dan meraih tangan Syera yang akan turun dan terjatuh keatas pangkuannya.
"Ja-jagan seperti ini, kak. Ja-"
Seketika Syera menutup matanya merasakan bibir Leo memagut bibirnya.
"Jangan takut, aku nggak akan melewati batas. Aku nggak akan merusak milikku tapi setidaknya jangan menolak setiap kali aku menciummu. Aku pria normal, jadi biarkan aku menciummu dan tolong balas ciumanku," pinta Leo mengiba.
Leo menyatukan kembali bibir mereka, perlahan dengan lembut ia mencumbu bibir Syera. Ciuman itu semakin menuntut diikuti gemuruh nafas Leo.
"Syera, ayo lakukan," ucap Leo di sela-sela ciumannya.
Syera yang sama sekali tidak berpengalaman membuka sedikit bibirnya dan mengikuti apa yang dilakukan Leo pada bibirnya. Selang beberapa detik ia kembali dikagetkan dengan apa yang dilakukan Leo.
"Aku janji tidak akan melewati batas," bisiknya. Leo kembali mencium dan memagut bibir Syera setelah menurunkannya dari pangkuan dan merebahkan kembali Syera di atas tempat tidur.
Syera tidak dapat bergerak karena Leo mengunci tubuhnya di bawah tubuh Leo. Syera yang memang sudah terbuai akan ciuman pria itu hanya bisa menutup mata dan menerima perlakuan manis Leo.
Leo pria normal dan akan berusia dua puluh depan tahun beberapa bulan lagi namun ia menepati janjinya pada Syera dengan tidak melakukan hal diluar batas. Tapi jangan tanya bagaimana keadaan bibir mungil Syera saat ini, habis dilahap oleh Leo.
Leo tersenyum puas setelah Syera tidak membalas lagi ciumannya karena bibirnya yang sudah lelah dan keluh. Leo menarik tubuh Syera, memeluknya dan menyelimuti tubuh mereka berdua dan menggapai dunia mimpi yang indah.
__ADS_1
Cup
Selamat malam, sayang. Kamu milikku!