Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Kita Akan Menemui Seseorang


__ADS_3

Sejak pagi hingga semalaman Leo menunggu Syera dan Fandy yang sama sekali tak kunjung kembali. Hingga hampir menjelang pagi lagi Ben membawa Leo kembali ke hotel untuk istirahat dan berjanji akan segera menemukan keberadaan kekasih dan adiknya itu. Ben rasa selama Syera dan Fandy masih ada di negara dan di kota itu maka tidak akan sulit menemukan mereka.


Ben yang memiliki teman dan bekerja di sebuah maskapai penerbangan juga dimintainya tolong agar memberi informasi jika mengetahui ada penumpang pesawat yang bernama Syera maupun Fandy.


Saat pikiran Leo berkecamuk berat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dalam hati Leo bersorak kegirangan saat yang mengiriminya pesan adalah Syera. Leo semakin senang saat membaca isi pesan itu, Syera ingin bertemu pukul tiga sore.


Di tempat lain, setelah mencoba gaun pengantin pilihannya dengan air mata dan hati yang hancur, Syera menunggui Leo yang sedang mencoba setelan jas yang akan ia pakai juga saat menikah nanti.


Semua bagaikan mimpi yang tidak pernah diharapkan Syera. Syera sama sekali tidak menduga akan menikah dengan pria yang dianggapnya sudah seperti kakak kandungnya. Pernikahan yang direncakan Fandy juga sangat tiba-tiba hingga tak mampu bagi Syera untuk berpikir jernih, mencoba alasan lain untuk menghentikan kehendak Fandy.


Fandy membuka tirai yang menutupinya dalam sebuah kotak saat mencoba pakaiannya. Ia mendekat pada Syera yang sudah berpakaian semula dan duduk di sofa panjang.


"Bagaimana, apa menurutmu ini bagus?" meminta pendapat Syera.


Syera hanya mengangguk, memaksakan senyumnya pada Fandy.


"Iya, bagus."


Akan lebih bagus lagi jika pria yang memakainya adalah kak Leo.


"Kalau gitu aku pilih yang ini saja."


Fandy memakai pakaiannya semula dan melakukan pembayaran. Fandy membawa Syera meninggalkan tempat tersebut, merangkulnya berjalan keluar.


"Kita makan siang dulu, aku sudah sedikit lapar."


Usai memasang sabuk pengaman, Fandy melajukan mobilnya ke salah satu restoran yang juga sering dikunjungi mereka.


Sebelum turun dari mobil, Fandy terlebih dahulu membuka ponsel Syera yang mendapat pesan dari Leo. Di dalam pesan itu mengatakan jika Leo akan menunggu Syera di sana dan tak sabar ingin bertemu. Leo tidak lupa menyematkan kata cinta di akhir pesan yang ia kirim.


"Ayo," ajak Fandy.


Fandy memilih tempat khusus agar mereka tidak bergabung dengan para pelanggan lainnya. Seorang pelayan restoran membawa Syera dan Fandy, menuntun mereka ke tempat yang dipesan.


Hanya ada beberapa meja di dalamnya, ruangan itu diperuntukkan bagi pelanggan yang tidak ingin diganggu privasinya saat makan, biasanya digunakan orang-orang penting.


"Duduklah," mempersilahkan Syera duduk di kursi yang Fandy tarik.


Fandy menarik kursi dihadapan Syera dan memposisikannya di samping kursi Syera dan duduk di sana. Gadis itu tidak peduli lagi akan apa saja yang dilakukan oleh Fandy. Syera merasa bicara ataupun tidak, hasilnya akan tetap sama.


Syera hanya menunjuk pada daftar menu di atas meja tanpa bersuara. Fandy tidak masalah, ada Syera bersamanya saat ini itulah yang terpenting.


Selagi menunggu pesanan mereka datang, Leo kembali mengecek ponsel Syera. Seperti dugaannya, Leo mengirimi banyak pesan untuk Syera namun satupun tidak ada yang dibalas. Syera mana mungkin bisa membalas pesan dari Leo sedangkan ponselnya dikuasai oleh Fandy. Jangankan untuk membalas, isinya saja Syera tidak tahu.


"Apa aku bisa meminta ponselku?" tanya Syera penuh harap.


"Kamu tidak membutuhkannya untuk saat ini. Kamu hanya perlu mempersiapkan diri dan fokus pada pernikahan kita."


"Sebentar saja?" pinta Syera memohon namun Fandy menggeleng.


Fandy mengusap kepala Syera, membelai rambut panjangnya yang tergerai. Tangan kiri Fandy sudah berada di pinggang Syera dan menariknya hingga menepis jarak diantara mereka.


"Syera, aku mencintaimu," bisik Fandy di telinga Syera.

__ADS_1


Hanya ada rasa risih saat Syera mendengar kata cinta untuknya dari Fandy. Ia tak berharap kalimat itu keluar dari bibir Fandy. Kalimat cinta seperti itu hanya ingin di dengarnya dari Leo, pria yang sudah memiliki hatinya bahkan juga tubuhnya.


Lagi, Syera hanya bisa pasrah saat merasakan bibir Leo menyentuh ujung bibirnya. Syera tidak lagi menangis, ia juga tidak menutup matanya. Syera bagai patung saat Fandy meraup bibirnya, meski Fandy melakukannya perlahan dan lembut namun Syera tak sedikitpun bergeming.


Sesaat Fandy menghentikan ciumannya, menatap Syera yang tak meresponnya. Kemudian ia menurunkan pandangannya lagi pada bibir basah Syera. Lagi dan lagi Fandy membekap Syera dengan bibirnya. Pagutan dan ******* silih berganti, membuat Fandy semakin enggan menyudahi aksinya.


Tak kunjung mendapat respon dari Syera, akhirnya Fandy mengigit kecil bibir bawah Syera hingga terdengar suara desisan dari gadis itu dan membuka mulutnya seketika.


Syera mendorong tubuh Fandy saat pelayan restoran datang dan menyajikan pesanan mereka.


"Syera, kamu milikku," bisik Fandy di telinga gadis yang duduk disampingnya.


Tidak ada tanggapan apapun dari Syera setiap kali Fandy mengatakan isi hatinya. Semuanya tidak berarti dan tak ada rasa saat yang mengatakannya adalah Fandy namun akan berbeda jika pria yang mengatakannya adalah Leo. Leo yang saat ini merasa senang, bersiap untuk bertemu dengan kasihnya.


..........


"Aku capek, aku mau pulang dan istirahat."


"Satu tempat lagi," ucap Fandy namun ia tidak melihat Syera saat mengatakannya. Fokusnya hanya pada jalanan di depan. "Setelah itu kita pulang dan kamu bisa istirahat sampai hari kita menikah."


Kata-kata pernikahan yang diucapkan Fandy membuat Syera ingin berteriak sambil menangis.


"Mau kemana lagi?"


Semangat Syera sudah tidak ada, hilang bersama kekuatan yang ia coba bangun sebelumnya.


"Kita akan menemui seseorang. Dia mungkin sudah menunggu."


"Siapa?"


Syera tidak bisa menebak siapa orang yang dimaksud Fandy. Ia hanya bisa berpikir jika orang itu pasti ada hubungannya dengan pernikahan yang direncanakan Fandy. Menurut saja lebih baik dari pada protes yang tidak ada artinya, pikir Syera.


Pukul setengah tiga sore, Leo sudah tiba di tempat yang sudah ditentukan Syera, tepatnya Fandy karena dialah yang mengirim pesan itu pada Leo melalui ponsel Syera.


Leo hanya memesan minuman. Ia tidak berniat atau berpikir untuk memesan makan. Ia bisa melakukan itu saat bertemu Syera nanti. Fandy ingin makan bersama dengan Syera, salah satu hal yang ia suka sejak ada Syera dihatinya.


Makan bersama sambil mengobrol tentang hal-hal kecil yang terkadang membuat tawa atau salah satu dari Leo dan Syera ngambek. Leo merindukan semua hal yang pernah mereka berdua lakukan saat tinggal bersama di apartemen dulu.


Jika Leo sedang menanti untuk bertemu Syera dengan tidak sabar maka berbeda dengan Bima yang masih ada di Indonesia. Pesawat yang akan membawanya ke tempat Leo sekarang berada ditunda keberangkatannya selama satu jam.


Jujur Bima juga tidak tahu pasti apa tujuannya. Mama Mila menyuruh dan memaksanya untuk membawa kembali Leo dan hal itu tentu tidak mungkin ia lakukan. Jika melakukan kehendak mama Mila maka Leo yang akan menjadi lawannya. Bima bagaikan buah simalakama.


Bima berlari ke toilet dengan ransel di punggungnya. Ia ingin menyelesaikan panggilan alamnya.


Brukkk


"Aaawww..."


Seorang gadis remaja jatuh terpeleset saat berlari dan menabrak Bima. Sama seperti Bima, gadis kecil itu juga berlari karena kebelet dan tidak memperhatikan jalannya.


"Hei, Dora! Kalau jalan angkat kepalamu biar bisa lihat siapa orang yang ada di depanmu!"


Mungkin karena pikiran Bima yang kacau, nada suaranya seperti orang yang sedang membentak.

__ADS_1


"Awas, minggir!" ketus Bima.


Kejadian di depan toilet itu bukan salah Bima tapi gadis remaja yang dikatainya Dora itu kesal. Meski ia salah bukan berarti seenaknya saja mengatainya seperti salah satu tokoh kartun.


Kebelet gadis remaja itu seakan lenyap dibawa rasa kesalnya. Di depan toilet ia berdiri menunggu pria yang tadi membentaknya.


Bima lega setelah menyelesaikan misi panggilan alamnya. Ia menaikkan celana jeans biru dongker yang dipadukannya dengan kaos oblong putih dan memasukkan ujungnya ke dalam celana. Bima merekatkan kembali ikat pinggangnya tapi lupa menaikkan zipper jeans-nya.


"Huh... Akhirnya."


Bima keluar dari dalam toilet dan mendapati gadis remaja yang menabraknya tadi berdiri seorang diri.


"Hei, Dora!" panggil Bima. Meski nada suaranya sudah menurun tapi masih terdengar seperti membentak bagi gadis itu. "Jangan berkeliaran sendiri di bandara. Saat berjalan juga hati-hati dan jangan lari dengan kepala menunduk."


"Aku nggak lagi berkeliaran, om!" menampilkan wajah masamnya pada Bima. "Aku minta maaf sudah nabrak, om. Maaf, aku nggak sengaja."


"Ya sudah, tidak apa-apa tapi lain kali kau harus hati-hati, Dora.


Bima membuka topinya, merapikan rambutnya dan memakai kembali topinya.


Untuk apa merapikan rambut kalau harus pakai topi juga.


Baru selangkah Bima sudah dipanggil remaja itu.


"Om? Sekarang giliranmu!"


"Apa?"


"Minta maaf karena sudah membentak aku. Om juga mengataiku Dora, aku bukan Dora!"


Bima berbalik tapi tidak mendekat, ia menyimpulkan senyum pada gadis remaja itu.


"SD atau SMP?" tanya Bima terkekeh.


"Apa?"


"Kau."


"SMP. Memangnya kenapa?" geramnya.


"Hem.. Ya sudah, om minta maaf. Maaf sudah membentakmu tapi kau memang sangat mirip dengan Dora. Rambut dan ponimu persis sepertinya," gelak Bima. Hanya bedanya Dora asli pakai ransel sedangkan kau pakai tas sandang."


Meski masih remaja tapi tatapannya begitu menusuk.


"Aku bukan Dora!" tegasnya. "Semoga sesuatu yang buruk menimpamu, om."


"Aw! Hisss..."


Bima meringis, begitu cepat gadis remaja itu mengigit tangannya dan berlari sekencang mungkin.


"Siall! Anak kecil itu, apa dia menyumpahiku?"


Bima mendengus kesal diiringi langkahnya yang berlari karena pesawat yang ia tumpangi akan segera berangkat.

__ADS_1


..........



__ADS_2