
Aroma teh yang baru diseduh Syera menyeruak ke semua sudut ruangan. Aroma teh hijau yang begitu menenangkan tersebut ikut menusuk aroma penciuman Leo yang masih berbaring di lantai. Perlahan ia membuka mata, kepalanya masih terasa berat dan pusing.
Leo duduk dalam keadaan setengah sadar. Ia melihat sekelilingnya dan ingat jika semalam ia sedang menunggui Syera keluar dari kamarnya hingga ternyata ia tertidur.
Kepalanya yang pusing membuat Leo tidak langsung bergerak dari posisinya. Ia memijit kedua pelipisnya hingga sisi kiri dan kanan keningnya. Badannya juga terasa sakit karena semalaman ia tidur di lantai tanpa menggunakan alas.
Selimut yang ada padanya mencuri perhatian Leo, ia yakin jika semalam Syera yang memakaikannya. Setelah cukup sadar dan kuat Leo berdiri dan membawa selimut itu dengannya.
Hal pertama yang dilakukanya adalah menemui Syera. Leo berjalan ke arah dapur yang menyatu dengan ruang tengah, di sana ia melihat Syera sedang memotong daun bawang.
Langsung saja Leo mendekati Syera dan berdiri disampingnya. Biasanya Syera akan menyapanya mengucapkan selamat pagi atau sekedar bertanya jika Leo sudah bangun tapi tidak untuk pagi ini.
"Terimakasih untuk selimutnya," ucap Leo membuka percakapan.
Tangan Syera berhenti sejenak namun ia kembali mengiris daun bawang.
"Kita harus bicara."
Leo memegang tangan kiri Syera agar melihatnya dan merespon ucapannya.
Alih-alih membuat Syera bicara padanya, gadis itu malah melotot pada Leo. Syera menepis tangan Leo sedangkan tangan kanan Syera semakin menggenggam kuat pegangan pisau ditangannya.
"Jangan melihatku seperti itu," pinta Leo.
Nada arogansi yang selama ini keluar dari mulut Leo setiap kali bicara hilang sejak beberapa hari ini.
"Kamu nggak akan membunuhku dengan pisau itukan?" melirik pada pisau di tangan Syera. "Ayo, kita harus bicara sekarang."
Mata Syera kembali melotot melihat Leo, bahkan ia menggigit bibir bawahnya menahan diri untuk tidak terpancing emosi.
"Jangan hanya melihatku seperti itu, setidaknya kamu bicara," mohon Leo.
Syera berbalik dan memasukkan potongan daun bawang ke dalam panci karena Syera sedang memasak sup. Peralatan yang kotor ia kumpulkan semua kedalam wastafel dan mencucinya sambil menunggu supnya matang.
"Jangan diam saja, ayo bicara dan katakan sesuatu," bujuk Leo mengikuti setiap gerak Syera.
__ADS_1
Piring yang kotor sudah selesai dicuci Syera, sup pun sudah matang. Syera menyajikannya di atas meja. Ia merapikan dan mengelap bekasnya memasak. Setelah dirasa bersih Syera melepas celemek dan mencuci tangannya. Syera meninggalkan dapur dan menuju kamarnya.
Leo mengejarnya dan tanpa pikir memeluk Syera dari belakang sebelum Syera masuk ke kamar.
Sama seperti di kolam renang, perbuatan Leo kali inipun membuat Syera terkejut dan berdesir. Sekuat tenaga Syera berontak melepas tangan Leo yang melingkar di dada dan pinggangnya.
Tenaga Syera sudah tidak kuat lagi karena Leo lebih kuat menahannya. Syera mencoba menenangkan dirinya meski sejujurnya degup jantungnya sungguh tidak beraturan.
"Lepas, kak."
Leo menggeleng mendengar permintaan Syera.
"Jangan mendiamiku, aku tidak suka kamu melakukan itu. Kamu ingatkan waktu di kolam renang, kamu bilang tidak akan bicara dan bertemu aku lagi kalau aku nggak melepasmu? Aku melepasmu saat itu tapi kenapa kamu tidak menepati janjimu dengan cara mendiamiku," ucap Leo mengingatkan.
"Kalau gitu kak Leo juga harus lepasin aku sekarang! Jangan mengajakku bertengkar di pagi hari!" teriak Syera.
"Kalau aku lepas sama saja, kamu tetap akan mendiamiku, iyakan?"
"Tolong lepasin Syera, kak. Kalau kak Leo masih seperti ini aku benar-benar nggak mau bicara dan ketemu dengan kakak lagi."
"Enggak, aku nggak akan lepas sampai kita bicara."
Sakit. Tentu Leo merasa sangat sakit atas apa yang dilakukan Syera. Leo meringis akan tetapi ia menahan rasa sakit itu. Leo tidak mau kalah dari Syera.
Apa yang dilakukan Syera percuma, bekas gigitannya sangat merah bahkan sedikit lagi mungkin akan mengeluarkan darah. Syera tidak tega, Syera melepaskannya dan hanya bisa menangis.
Leo bisa merasakan air mata Syera jatuh di pergelangan tangannya yang digigit tadi. Leo menjatuhkan kepalanya di atas pundak Syera dan ikut menangis.
"Tolong jangan menangis," mohon Leo.
Semakin lama pelukan Leo merenggang dan Syera langsung melepaskan dirinya dan menghadap Leo. Saat Leo mengulurkan tangannya ingin menghapus air mata Syera, tangannya justru ditepis kuat.
"Jangan sentuh Syera lagi!" teriak Syera memenuhi seisi ruangan. "Kak Leo sadar nggak apa yang sudah kakak lakuin, ha? Ini aku kak, ini Syera. Ini Syera adik kak Leo!"
Air mata Leo lolos begitu saja dari kedua maniknya. Ucapan Syera bagaikan sebuah sembiluh tajam tepat mengenai hatinya.
__ADS_1
"Apa yang kak Leo lakuin sudah sangat keterlaluan. Aku nggak tahu dan nggak mau tahu apa yang kak Leo pikirkan tapi Syera mau bilang kalau apa yang kak Leo lakuin itu salah, kak. Sadar dan berpikirlah dengan waras. Jangan bawa Syera untuk ikut gila seperti kak Leo."
"Tapi aku-" mencoba meraih tangan Syera namun Syera kembali menepisnya dan menyela ucapannya Leo.
"Nggak ada yang perlu dibicarakan. Kita lupain apa yang terjadi kemarin dan anggap saja itu nggak pernah terjadi," pinta Syera sambil menyeka air matanya.
"Mana mungkin itu tidak pernah terjadi. Bagaimana caranya untuk melupakannya di saat ciuman itu nyata?" protes Leo.
Plak!
"Puluhan bahkan ratusan kali menamparku tidak akan pernah merubah apa yang sudah terjadi."
"Kak!" teriak Syera lagi. Ia tak ingin Leo membahas kejadian semalam lagi. "Aku sudah lupain jangan mengungkitnya lagi, tolong!"
"Kamu bohong, kamu nggak akan bisa lupain itu. Aku tahu itu ciuman pertamamu, iyakan?"
"Kak Leo bisa diam nggak?" geram Syera menatap tajam Leo.
"Kenapa, aku benarkan? Apa semenjijikkan itu karena aku laki-laki pertama yang melakukannya?"
"Aku adiknya kak Leo!" jawab Syera cukup kuat.
"Aku juga gila memikirkannya," balas Leo dengan teriakannya. "Aku mengutuki diriku sendiri. Aku juga nggak tahu kenapa orang yang aku suka itu kamu. Aku juga tidak suka dengan perasaan ini. Apa kamu tahu, sangat sulit untuk aku mengontrolnya. Aku juga berharap bukan kamu orangnya. Jadi katakan, apa aku salah dengan perasaan yang aku miliki?" ucap Leo menggebu.
Leo terkulai lemas di lantai, bersandar pada tembok dan menangis dengan kepala tertunduk.
Hati Syera sedih mendengar pengakuan Leo tapi ia tidak menunjukkannya. Syera tidak ingin terlihat lemah dihadapan Leo kali ini.
"Katakan, apa ini salahku? Ini juga tidak gampang untukku, apa kamu juga tahu kepalaku hampir pecah memikirkannya selama ini," ucap Leo di sela-sela isakannya.
Tubuh Syera serasa bergetar mendengar setiap pengakuan Leo. Saat Leo mengangkat kepalanya kearah Syera dengan sigap Syera membuang pandanganya.
Syera tidak ingin beradu tatap dengan keadaan Leo yang begitu menyedihkan. Ia tidak kuat melihat Leo saat ini.
"Itu bukan urusan Syera," ucap Syera membuang mukanya dari Leo. "Satu lagi, jangan menggunakan 'kamu' saat bicara denganku, itu tidak cocok dengan kak Leo. Kata 'kau' lebih cocok kakak gunakan untukku seperti selama ini."
__ADS_1
Tup!
Syera masuk ke kamarnya, ia sudah tidak kuat berlama-lama melihat Leo dan mendengarnya dengan segala pengakuannya.