
"Apa kau tuli? Aku haus dan ingin minum."
"Ba-ba-baik. Sebentar."
Berjalan sedikit gemetaran Syera kembali masuk ke dalam kamar. Ia mengambil gelas berisi air dan menyerahkannya pada Leo yang masih rebahan.
Kedua manik Leo melotot melihat Syera menyodorkan gelas padanya.
"Ma-maaf."
Diletakkannya kembali gelas di atas meja kecil di samping ranjang dan membantu Leo untuk duduk, bersandar ke kepala ranjang. Ia mengingat tujuannya datang dan memberi minuman yang tadi dia buat sendiri pada Leo.
"Aku mau air putih," pinta Leo.
"Iya tapi minum ini dulu, baru setelahnya aku kasih minum air putih. Ini, ayo minum."
"Apa kau ingin membunuhku?" mata Leo melotot melihat Syera.
"Tidak mungkin. Ini hanya air jahe ditambah madu. Ini bagus untuk kesehatan."
"Tapi aku bukan orang sakit, "ketus Leo.
Syera menghela nafas, rasanya ingin sekali ia menghilang saat itu juga. Kelakuan dan perbuatan Leo selama ini memang sering membuat Syera sedih dan kesal meski tidak pernah ia katakan dan tunjukkan pada siapa pun. Akan tetapi bukan berarti ia orang yang begitu kejam hingga akan membunuh Leo saat ada kesempatan.
Cangkir yang dia sodorkan pada Leo kembali ia letakkan dan memegang gelas berisi air putih untuk ia berikan pada Leo.
"Ini. Minumlah."
Dahi Leo mengkerut melihat apa yang di pegang Syera.
"Apa warna air jahe dan madu bening seperti ini?"
"Tapi tadi-"
"Bukannya tadi kau menyuruhku untuk minum air jahe?" sela Leo.
Oh Tuhan...
Kesabaran Syera rasanya kembali di uji saat ini namun tanpa membantah Syera mengikuti saja apa yang dimau dan dikatakan Leo agar ia dapat segera keluar dari sana.
"Ini," menyodorkan kembali minuman jahe pada Leo namun tangan pria itu sama sekali tidak bergerak dan berada di dalam selimut. Alhasil Syera berinisiatif mendekatkan ujung pinggiran cangkir ke mulut Leo.
Slurrpp...
Leo menyeruput sedikit isi cangkir dan mengecapnya. Ia kemudian mendekatkan kembali mulutnya pada cangkir dengan mata yang melekat menatap Syera yang berdiri di sampingnya.
Sedikit demi sedikit Leo meminum isi cangkir hingga habis tanpa melepas tatapannya dari gadis itu. Melihat ada bekas madu yang tidak larut bersama air jahe hingga menempel di bibir atas Leo, Syera mengambil tisu dan mengelapnya.
Egkkk...
Sepertinya air jahe tadi begitu ampuh hingga baru saja Leo meminumnya ia langsung bersendawa dan kerongkongan yang tadi serasa penuh dan sesak hingga ke dalam perut seketika terasa plong dan membuat tubuhnya ringan.
"Kalau gitu sekarang saya pergi, tuan."
Kriuuukkk....
"Pergilah dan jangan pernah datang lagi."
Disela-sela ucapan pria itu Syera masih dapat mendengar suara perut Leo yang sepertinya meminta untuk diisi.
__ADS_1
Leo bangkit dari tempat tidurnya dan keluar menuju dapur yang menyatu dengan ruang tamu.
Si pemilik kamar sudah keluar tentu saja Syera juga harus keluar dari sana. Sebelum keluar Syera menaikkan sebagian selimut yang berada di lantai ke atas tempat tidur.
Saat itulah Syera melihat sweater yang semalam ia gunakan untuk mengelap Leo berada di dalam selimut. Tanpa pikir ia langsung mengambilnya karena itu adalah miliknya.
Di dapur Leo membuka kulkas dan mencari-cari sesuatu yang sekiranya bisa ia makan. Tadi pagi karena tidak begitu selera Leo hanya memakan dua potong sandwich sebagai sarapannya. Dan sekarang dia sungguh kelaparan.
"Saya permisi, tuan. Tunggu, jangan!" Buru-buru Syera menghampiri Leo.
"Bukannya anda tidak bisa minum ini dalam keadaan perut kosong? Kalau perut anda sakit lagi bagiamana?"
"Memangnya dirimu siapa melarang apa yang bisa dan tidak bisa aku minum? Lebih baik sekarang kau pergi dari sini dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi."
"Saya bilang jangan. Kasihan tante Mila kalau tuan kenapa-napa."
Syera mengambil minuman kaleng dari tangan Leo dan dua kaleng lainnya dari dalam kulkas. Ia membuka satu per satu kaleng dan membuang isinya ke dalam wastafel.
Bagai berpacu dengan waktu Syera mengobrak-abrik isi kulkas melihat sekiranya ada bahan makanan yang bisa ia masak untuk Leo.
Hanya ada telur dan bahan lainnya yang bisa ia gunakan untuk membuat omelet. Lima belas menit kemudian hidangan omelet terbaik yang pernah ia buat dan selalu mendapat nilai sepuluh dari Fandy ia sajikan di atas meja makan.
Begitu cepatnya cara kerja Syera membuat Leo melongo menyaksikan setiap apa yang dilakukan gadis itu.
"Sudah, tapi maaf saya hanya bisa buat ini dari bahan yang ada. Saya harus kerja, jadi saya pergi sekarang." Syera berucap tanpa melihat pada Leo. Ia menyambar sweater yang tadi ia letakkan di kursi dan berlari menuju pintu.
"Tunggu!"
"Tapi saya sudah harus pergi."
"Aku tidak ingin menahanmu. Lebih cepat kau pergi maka itu lebih baik."
"....?"
"Kembalikan. Itu milikku," ucap Leo menunjuk pada apa yang dipegang Syera.
Syera semakin bingung karena yang ada ditangannya hanya sweater dan itupun miliknya. Ia merasa tidak mengambil atau membawa benda apapun dari dalam rumah Leo.
"Itu sweater nya," tunjuk Leo lagi memperjelas. "Tinggalkan. Itu milikku."
"....?"
Sesaat Syera bingung mendengar perkataan Leo. "Tapi ini-"
"Kembalikan."
Leo berjalan mendekati Syera dan menarik sweater tersebut dari tangannya. Dibukanya pintu untuk Syera, ditariknya lengan kecil gadis itu dan mendorongnya keluar.
"Pergilah!" ucap Leo yang kemudian menutup pintu.
Lagi-lagi Syera termangu mendapati dirinya berada di depan pintu apartemen Leo, dimana beberapa saat lalu ia diusir dari dalam sana.
..........
Bekerja memang ampuh mengalihkan dari hal-hal yang mengganggu pikiran. Seperti halnya Syera yang saat ini begitu sibuk sejak ia tiba di restoran.
Gadis itu cukup beruntung bekerja di restoran yang mana pemiliknya sangat baik hati ditambah lagi para karyawan begitu akrab sudah seperti saudara.
Semua karyawan di sana adalah anak perantau dari berbagai daerah. Ada yang bekerja sambil kuliah dan ada yang memang datang untuk bekerja saja.
__ADS_1
Berhubung begitu banyak pelanggan malam ini membuat restoran tutup sedikit lebih lama dari malam biasanya. Oleh karena itu malam ini Fandy menjemput Syera pulang. Fandy ingin mengantisipasi agar tidak ada kejadian aneh-aneh seperti semalam.
Di kamarnya Leo memandangi ponselnya menanti telepon atau pesan dari seseorang. Saat ponsel itu berdering ia langsung menjawabnya dan menempelkan benda pipih tersebut di telinga.
"Halo, tuan. Dia sudah pulang dan di jemput oleh pak Fandy."
"Apa kau yakin?"
"Iya, tuan. Saya akan mengirim fotonya pada, tuan."
Dengan sepihak Leo langsung memutus panggilan tersebut dan membuka notifikasi dimana dua buah foto baru saja diterimanya.
"Ck, apa kau sesayang itu padanya?" sinis Leo melihat foto dimana Fandy merangkul pundak Syera sembari tersenyum menuju sebuah mobil dan satu foto lagi saat Fandy membuka pintu mobil untuk Syera.
"Orang akan salah berpikir dengan kalian. Mereka pasti tidak menyangka kalau kalian itu kakak adik," melihat kedua foto tersebut dengan tatapan tak suka.
"Aku tidak peduli dengan kalian, aku hanya tidak mau nama keluarga besar Suntama menjadi jelek karena kalian berdua."
Leo melempar ponselnya ke sisi kiri ketempat tidur. Ia menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya.
Dert... Dert...
Hampir saja Leo mengumpat saat ponselnya kembali berdering namun tidak jadi ia lakukan karena melihat nama kontak si penelpon.
"Halo, ma?"
"Halo, nak. Kamu baik-baik saja, hem? Bima barusan telpon mama dan kasih tahu kalau kamu lagi-"
"Leo baik-baik aja, ma." Leo motong kalimat mamanya.
"Kamu jangan gitu dong, nak. Kamu kan sudah janji kamu bakalan kabarin mama kalau ada apa-apa, iyakan?"
"Iya, ma. Leo minta maaf tapi Leo sudah nggak kenapa-napa sekarang. Leo sehat dan mama nggak usah khawatir, oke?"
"Hmm... Ya sudah kalau gitu tapi besok kamu harus pulang kerumah. Mama kangen kalian dan mama pengen ketemua sama kalian, oke?"
"Kalian? Maksud mama?"
"Iya. Besok kita makan malam dirumah sama-sama. Sudah lama kan kita nggak ngumpul? Mama sudah telpon Fandy dan dia setuju dan mama nggak mau terima alasan apapun dari kamu."
"Tapi ma?"
"Sudah malam dan sebaiknya kamu istirahat biar besok kamu semakin seger dan fit. Ingat, jangan lupa besok malam," ucap mama Mila yang lalu memutus sambungan telepon.
..........
Sebelum masuk ke kamar masing-masing Fandy menghampiri Syera untuk mengatakan sesuatu.
"Besok malam mama Mila minta buat makan malam bersama dirumah. Kamu ikut aku kesana ya?"
"Syera ikut diundang juga?"
Fandy menggelengkan kepalanya.
"Itu artinya hanya kak Fandy yang kesana."
"Nggak. Kamu harus ikut. Kamu ikut buat nemanin aku, sekalian aku mau kenalin kamu sama mama Mila."
"Hihihi... Kak Fandy ada-ada aja. Tante Mila kan udah kenal, mau kenalin gimana lagi, yang ada bisa buat tante Mila marah," gelak Syera.
__ADS_1
"Kali ini beda, intinya besok kamu harus ikut."
Fandy langsung meninggalkan Syera dan masuk ke dalam kamarnya.