Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Enak Dan Manis


__ADS_3

Kaget. Syera menggeser sediki tubuhnya kesamping. Dengan perasaan campur aduk ia berusaha tenang sambil kedua tangannya terus membilas piring.


Deg


Sekali lagi Syera terkejut saat ia merasakan dingin di pipinya. Ia tidak tahu sejak kapan orang itu berada di dapur dan berdiri di sampingnya bahkan menempelkan cup jus sirsak yang tadi ia lihat di dalam kulkas ke pipinya.


Tak!


"Minum!"


"Ha?" Baru saja Syera mendengar bunyi sedotan menusuk penutup cup yang terbuat dari plastik dan tiba-tiba ia disuruh untuk meminum isinya.


"Ambil dan minum atau aku buang?"


Antara perintah atau ancaman, Syera tidak dapat membedakannya. Tangannya yang masih berbusa meraih cup jus sirsak yang sayang jika harus dibuang. Ia meletakkannya di sekitar wastafel dan akan meminumnya setelah pekerjaannya selesai.


"Minum!" perintahnya lagi.


"Na-nanti tunggu sel-"


Slurppp


"Pegang sendiri!"


Syera hanya bisa pasrah saat tiba-tiba Leo meraih jus sirsak tadi dan memasukkan ujung sedotan kedalam mulutnya saat ia sedang berbicara. Syera yang memang menginginkannya sedari tadi tanpa sadar langsung menyedotnya.


"Habiskan!"


Jujur Syera merasa canggung saat menerimanya. Diputarnya tubuhnya membelakangi Leo untuk menghabiskan jus itu seperti yang di perintahkan.


Terbayar sudah keinginan Syera untuk minum jus sirsak apalagi jus buatan bibi Retno itu berbeda dengan yang di jual di luar. Ia tidak memikirkan Leo yang masih berdiri di belakangnya.


"Syera?" panggil seseorang menuju dapur. "Syera, kamu dimana?"


Suara yang tak asing bagi Syera dan suara yang ia dengar setiap hari selama beberapa bulan ini.


"Kamu disini?" tanya Fandy mengerutkan keningnya melihat Leo yang ternyata juga berada di dapur tak jauh dari posisi gadis itu.


"Iya, kak. Aku bantu bibi buat nyuci piring tadi."


"Oh... Terus bibi mana?"


"Lagi nganterin kopi buat pak Asep," jawab Syera apa adanya.


Leo yang masih berada di sana membuka kulkas dan mengambil botol berisi air es dan membawanya kemeja yang ada di dapur. Kemudian Leo menuang air es tersebut ke dalam gelas seolah tidak menghiraukan Syera dan Fandy.


"Itu apa?"


"Ini jus sirsak, kak."


"Kau suka?"


"Iya, kak. Enak dan seger."


Slurppp...


"Oh, ya?"

__ADS_1


Fandy mengambil jus yang sedang diminum Syera dan langsung meminumnya. Syera terkejut karena begitu tiba-tiba. Gadis itu mematung karena Fandy menggunakan sedotan bekasnya. Syera menyaksikan saat sedotan yang tadi ia gunakan berada di antara bibir atas dan bawah Fandy.


Glek


Syera menelan liurnya dan berpikir apakah Fandy tidak merasa jijik menggunakan sedotan bekasnya.


Tak jauh dari mereka Leo yang sedari tadi mengawasi keduanya tak kalah terkejut dengan apa yang dilakukan Fandy bahkan air es yang masuk ke mulutnya seperti kerikil yang sulit untuk di telan.


"Enak dan manis," ucap Fandy seraya mencecap bibirnya tersenyum. "Ini" menyodorkan kembali jus itu ke bibir Syera.


"Cepat habiskan dan setelahnya kita pulang. Sudah malam, besok kita juga harus kerja."


"I-iya kak," jawab Syera mengangguk.


"Anak pintar," mengelus rambut lurus dan panjang Syera.


Perbuatan Fandy malam ini tidak dapat di mengerti oleh Syera. Baik dan perhatian adalah karakter yang dimiliki. Syera sudah terbiasa mendapat perlakuan manis dari Fandy namun malam ini kenapa rasanya berbeda bagi Syera. Ada sesuatu yang aneh dirasa Syera dan membuatnya sedikit merasa canggung.


"Aku tunggu di depan ya," ucap Fandy dan meninggalkan Syera tanpa memperdulikan keberadaan Leo yang masih diam mematung.


Bibi Retno yang baru kembali meminta Syera agar ke depan saja dan pekerjaan cuci piring yang belum selesai dilanjutkan oleh bibi Retno.


Saat menuju ruang keluarga Syera mendengar suara adu argumen dari Fandy dan mama Mila yang meski tidak begitu kuat namun dapat di pastikan bahwa ibu dan anak itu sedang dalam pembicaraan yang tak sejalan.


Leo yang menyadari hal itu langsung menghampiri keduanya dan hampir melayangkan tangannya pada pipi Fandy. Untung saja mama Mila begitu cepat menahan Leo kalau tidak mungkin keadaan akan semakin genting.


"Leo?" bentak mama Mila.


"Tapi dia nggak sopan sama mama. Meski bukan orang yang lahir dia tapi setidaknya mama orang yang sudah besarin dia dengan kasih sayang yang mama punya."


"Apapun alasannya tidak seharusnya dia mengangkat suaranya sama mama. Dia harus tahu diri dan ingat kalau dia anak angkat."


Plak!


"Cukup!" Ucap mama Mila.


Semuanya tercengang saat mama Mila menampar Leo bahkan bibi Retno yang tadi berada di dapur berlari karena suara keributan.


"Mama nampar Leo?"


Suara Leo terdengar begitu berat. Ia tidak pernah membayangkan jika mamanya, wanita yang begitu ia sayangi dan hormati melayangkan sebuah tamparan padanya. Niatnya ingin membela namun malah ia yang mendapat getahnya.


Jangankan Leo, Syera dan Fandy saja sampai terhenyak melihat apa yang di lakukan mama Mila.


"Mama sadar nggak kalau sudah nampar Leo, ma?" tanya Leo lagi.


"Kalian pulanglah. Mama minta maaf untuk yang tadi, lain kali kita bisa bicarakan lagi," ucap mama Mila pada Fandy.


"Ma?" geram Leo.


Merasa tidak diperdulikan dan justru meminta Fandy dan Syera pulang membuat Leo sakit hati. Ya. Untuk pertama kalinya Leo merasakan pukulan tangan yang selama ini selalu mengelus kepalanya, membelai rambutnya bahkan menghapus air mata saat berada dalam keadaan terpuruk. Akan tetapi malam malam ini tangan lembut itu serasa duri yang menusuk kulit dan meninggalkan bekas.


Bukan bekas yang dapat dilihat karena tentunya seiring waktu akan hilang namun bekas yang hanya dapat dirasakan hati Leo seorang.


Marah, sedih dan geram. Semuanya bercampur aduk. Leo tidak marah pada mama Mila atau menjadi benci karena sampai kapanpun wanita paruh baya itu akan tetap menjadi cinta pertama yang tidak dapat diganti oleh wanita manapun.


Leo sadar jika ucapannya pada fandy-lah yang membuat hingga ia ditampar. Hanya saja ia tidak terima mama Mila melakukan itu di depan Fandy dan disaksikan juga oleh Syera.

__ADS_1


Dengan suasana hati yang berkecamuk tanpa pamit Leo langsung mengambil kunci mobil dan meninggalkan rumah begitu saja.


"Mama baik-baik saja?" dengan lembut Fandy menuntun mama Mila duduk di sofa.


Air mata mama Mila mulai mengalir diiringi tangisnya.


"Kakakmu pasti sangat marah dan benci mama, iyakan?"


"Enggak, ma. Dia sayang sama mama," ucap Fandy mencoba menghibur.


"Mama minta maaf, kamu juga pasti marah sama mama karena melarang kamu dengan-"


Mama Mila tidak melanjutkan perkataannya saat pandangannya melihat Syera datang dengan membawa segelas air.


"Minum dulu, tante." Syera menyerahkan gelas ditangannya pada Fandy untuk di berikan pada mama Mila.


"Minum, ma."


Syera merasa senang saat mama Mila meminum air tersebut. Meski hanya air putih namun ini untuk pertama kali mama Mila menerima apa yang diberikan Syera.


Sewaktu masih tinggal di rumah itu Syera ingat pernah beberapa kali ia mengantar air minum dan makanan ke kamar mama Mila saat sakit namun sama sekali tidak disentuhnya.


"Pulanglah. Mama baik-baik saja."


"Tapi mama masih-"


"Mama mau istirahat," sela mama Mila.


Syera mengekori Fandy saat mengantar mama Mila untuk istirahat di kamarnya. Tangannya langsung sigap memposisikan bantal dan menarik selimut hingga menutupi pinggang.


Tak lama Fandy dan Syera kembali ke apartemen. Suasana mobil begitu hening karena baik Fandy maupun Syera tidak ada yang membuka suara.


Rasa penasaran seketika muncul di


benak Syera. Ia begitu penasaran apa yang tadi Fandy dan mama Mila bahas hingga membuat mereka berselisih paham yang berujung mama Mila sampai menampar Leo.


Niatnya Syera akan menunggu hingga sampai ke apartemen untuk bertanya namun ternyata ia tidak sabar. Syera bertanya dengan begitu berhati-hati.


"Kak?" panggil Syera dan Fandy hanya menoleh kearahnya.


"Sebenarnya tadi lagi ngobrolin apa dengan tante Mila? Nggak biasanya kak Fandy selisih paham dengan tante Mila?"


Tak ada jawaban yang diberikan fandy. Ia hanya diam menatap lurus ke depan dan terus mengemukakan mobil.


"Kak?" panggil Syera lagi dengan nada yang begitu lembut.


"Aku sedang menyetir."


Syera mengunci mulutnya dan tak lagi bersuara. Ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan Fandy. Jauh-jauh ia membuang rasa penasarannya karena apapun itu alasan Fandy dan mama Mila berselisih paham tentunya tidak ada hubungan dengan dirinya, itulah yang dipikirkan Syera.


Setibanya mereka di apartemen Syera langsung masuk ke kamar. Sebenarnya sejak tadi ia sudah tidak nyaman dengan heels yang dipakainya. Kakinya benar-benar sakit dan keram. Ia ingin cepat-cepat rebahan, meluruskan keduanya kaki sambil memijatnya.


Fandy berhenti sesaat setelah Syera menutup pintu kamarnya. Ia mengingat kembali saat ia berselisih paham dengan mama Mila dan menyuruhnya untuk membuang jauh-jauh apa yang dirasakannya pada Syera.


"Kamu. Itu karena kamu."


Fandy mengucapkannya dalam hati. Rasanya ia ingin mengatakan semua apa yang ada di dalam hatinya saat ini juga namun sepertinya belum waktunya.

__ADS_1


__ADS_2