
Hari ini untuk meyakinkan dan menjawab rasa penasaran, Syera meminta Fandy mengirimkan foto bekal yang ia berikan pada Fandy melalui OB.
Alangkah terkejutnya Syera karena foto yang dikirim tak jauh beda dari yang semalam. Ia yakin pasti terjadi sesuatu sehingga makanan untuk Fandy berubah. Syera harus tahu apa yang sebenarnya terjadi dan ia akan membuktikannya besok.
Lain dengan Syera, Fandy justru merasa sangat senang setiap kali menerima bekal makan siang dari gadis itu. Fandy merasa jika hubungannya dengan Syera semakin dekat dan berharap kedepannya semua akan seperti yang ia harapkan.
Kebersamaannya dengan Syera selama ini membuat Fandy yang awalnya menyayangi Syera sebagai adik berubah menjadi rasa sayang yang dimiliki seorang pria terhadap seorang wanita.
Rupa yang cantik, kehidupan sederhana dan sikap polos yang dimiliki Syera membuat Fandy menyukai gadis itu. Baginya Syera adalah gadis pertama dan terakhir dalam hidupnya.
Apapun boleh terjadi asal Syera selalu bersamanya, itulah yang ada dalam hati Fandy.
Kehidupannya selama menjadi bagian keluarga Suntama selama ini tidaklah mudah. Apalagi semenjak kepergian Bayu Suntama, papa angkatnya. Ia juga menyadari jika kehadirannya tidak pernah diharapkan oleh Leo, kakak angkatnya.
Hanya mengingat kebaikan almarhum Bayu dan mama Mila yang hingga kini begitu menyayanginya membuat Fandy bertahan dalam keluarga Suntama.
Setalah pulang kerja Fandy terlebih dahulu singgah ke rumah untuk bertemu mama Mila. Sudah hampir dua minggu Fandy tidak mengunjungi mama Mila karena kesibukannya semenjak kembali diangkat menjadi wakil direktur.
Mengenai Syera yang kini tinggal di apartemennya pun sudah diberitahu sebelumnya. Fandy yakin jika sebenarnya di dalam hati mama Mila ada rasa sayang pada Syera namun tidak pernah ia tunjukkan karena Leo.
Seperti dugaannya, mama Mila memasak makanan kesukaan Fandy. Bebek goreng lengkap dengan sambal dan beberapa sayur lalapan. Dengan senang hati semuanya dibuat oleh mama Mila dengan bantuan bibi Retno.
"Enak, ma. Rasanya nggak ada tandingannya. Bahkan yang ada di restoran mewah bintang lima sekalipun masih kalah kalau diadu dengan yang mama buat," ucap Fandy memuji masakan mamanya.
"Kala enak kamu harus setiap hari pulang biar mama juga masakin buat kamu setiap hari. Gimana?"
"Nanti Fandy usahain ya, ma."
"Kamu dan kakak kamu sama aja. Selalu omongannya usahain terus. Mama sudah tua, kalau boleh mama pengennya kalian tinggal di sini sama mama. Semakin rame semakin bagus."
"Terus Syera gimana, ma? Nggak diajak juga buat tinggal disini?"
Mama Mila terdiam mendengar pertanyaan Fandy. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Syera itu baik loh, ma. Pintar masak, rajin, dan yang paling penting dia anak yang baik."
__ADS_1
"Maka dari itu kamu suka dia, iyakan?"
Kali ini giliran Fandy yang terdiam. Tidak menyangka jika mama Mila akan langsung berkata begitu jelas.
"Meski bukan orang yang melahirkan kamu tapi mama tahu bagaimana kamu. Kamu nggak bisa bohongin mama."
"Terus menurut mama gimana, bolehkan? Syera bukan adik kandung Fandy, ma. Kami juga nggak punya hubungan darah."
"Tapi dia tetap adik kamu, nak."
"Ma?" Fandy lemas seketika mendengar perkataan mamanya.
"Ayo, lebih baik sekarang kamu lanjutin makannya. Nanti kita bisa membahasnya lain waktu."
Mama Mila mengambil sepotong bebek goreng lagi dan menaruhnya di piring Fandy. Nafsu makan yang sedari tadi begitu besar seketika hilang entah kemana. Akan tetapi Fandy tetap memaksakan untuk makan tak ingin membuat mama Mila kecewa dan sedih karena ia tahu seharian ini mama Mila pasti sudah lelah di dapur memasak untuknya.
..........
Tidak seperti malam sebelumnya, kali ini Leo mengendarai mobilnya seorang diri ke restoran tempat Syera bekerja. Leo sendiri bingung dengan apa yang beberapa malam ini ia lakukan setelah pulang kerja. Dirinya sudah bak seorang penguntit mengawasi Syera dari kejauhan.
Untuk apa dan dengan dasar apa Leo melakukan itu dia sama sekali tidak tahu hanya saja ada rasa ingin tahu lebih akan Syera dalam dirinya.
Suara sendawa memenuhi mobil saat isi kaleng pertama habis dibuat Leo tanpa jeda meski sama sekali tidak mengurangi rasa laparnya. Pun saat isi kaleng minuman bersoda yang satu lagi diminum Leo tetap tidak mengurangi rasa laparnya. Minuman kaleng itu justru perlahan membuat Leo merasakan perih pada perutnya.
Sungguh Leo tidak dapat menahan rasa laparnya lagi. Ia mengeluarkan gawainya dan memesan makanan lewat aplikasi. Tak perlu lama makanan yang dipesan tiba dan langsung disantap oleh Leo yang sudah hampir mati kelaparan.
"Aneh. Tinggal nyebrang aja apa susahnya sih? Kelakuan orang kaya memang rada-rada aneh," gerutu seorang pemuda yang baru saja mengantar pesanan Leo.
Bagaimana tidak kesal, makanan yang di pesan Leo berasal dari restoran diseberang jalan tempat ia sekarang berada. Ya, restoran dimana Syera bekerja dan tengah diamati Leo entah untuk apa.
"Enak."
Sambil terus mengamati Syera, tangan Leo tak berhenti menyuap makanan ke mulutnya. Ia tidak menduga jika makanan dari restoran itu rasanya akan seenak itu. Bukan restoran besar ataupun mewah namun rasanya boleh di adu dengan makanan yang ada di hotel- hotel berbintang.
Mungkin karena kekenyangan saat ia menyandarkan tubuhnya ke kursi pengemudi dan menutup mata untuk sedikit beristirahat merilekskan tubuhnya, tanpa sadar ia pun tertidur.
__ADS_1
Bunyi ponsel yang sedari tadi terus-menerus berbunyi akhirnya membuat Leo terbangun dari tidurnya. Ia merenggangkan kepalanya, memutar ke kiri dan ke kanan.
Pandangan Leo kembali pada bangunan di seberang jalan. Spontan ia mengernyitkan dahinya saat melihat bangunan itu sudah sepi dengan pintu yang juga sudah tertutup.
Leo menyalakan ponselnya dan melihat ada beberapa panggilan dan pesan dari beberapa orang berbeda dan salah satunya adalah Mila, mamanya.
Belum lagi membuka isi pesan mamanya mata Leo membulat melihat waktu yang di tunjukkan ponsel tersebut.
"Hais... Brengsek!" umpat Leo.
Segera Leo menyalakan mobilnya dan langsung memutar balik menuju apartemen untuk pulang. Ia begitu kesal dan merutuki kebodohannya karena bisa tertidur cukup lama tadi. Padahal ia hanya merasa tertidur sebentar untuk merilekskan tubuhnya namun ternyata saat ini sudah hampir pukul sepuluh malam.
Seingatnya saat ia memesan makanan tadi masih sekitar pukul tujuh lewat dan ternyata saat dia bangun restoran sudah tutup karena sudah selesai beroperasi.
Berjalan terburu-buru sambil melonggarkan dasinya Leo menuju lift yang baru saja dimasuki seseorang dan hampir akan tutup. Untung saja langkah kakinya yang panjang serta kecepatan tangannya berhasil menahan pintu lift agar ia dapat masuk dan tidak perlu menunggu lift berikutnya.
"Siall! Brengsek!"
Lagi-lagi Leo mengumpat sambil kedua tangannya dengan kasar melepas dasinya lalu membuka satu kancing paling atas kemeja putihnya sedangkan jas yang seharian ini dipakainya sudah dilepas dan ditinggal dalam mobil.
Sibuk mengumpat dan menggerutu membuat Leo yang sedari tadi masuk lift tidak menyadari jika seseorang yang kini berdiri di belakangnya menahan takut dan gugup.
Sejak masuk ke dalam lift Leo tidak memperhatikan jika orang yang bersamanya dalam lift adalah Syera. Maklum saja Syera memakai sweater dan menggunakan penutup kepalanya.
Digulungnya dasi yang tadi ia pakai dan di masukkan ke dalam saku celananya. Tepat saat itu ponsel Leo kembali mendapat pesan hingga saat ia mengeluarkan ponselnya dasi yang belum masuk dengan benar kedalam saku pun terjatuh.
Leo menunduk hendak mengambil dasinya. Matanya menangkap sepasang sepatu yang dipakai seseorang yang berdiri di belakangnya.
Menyeringai tersenyum, Leo dapat menebak harga sepatu yang dipakai orang tersebut. Murah dan pastinya tidak lewat dari seratus ribu rupiah. Bukan untuk menghina namun zaman sekarang sangat jarang seorang wanita memakai sesuatu yang murah hanya demi menjaga penampilan.
Tiba-tiba Leo merasakan perutnya sakit seolah di putar-putar sampai keringat dingin membanjiri tubuhnya. Semakin lama wajah Leo kian pucat, ia meremas bagian perut yang sakit hingga pada akhirnya ia berjongkok dan menjatuhkan tubuhnya bersandar pada dinding lift.
Melihat itu Syera panik. Wajah pucat Leo membuatnya takut sesuatu terjadi, belum lagi ia melihat pria itu menggigit bibir bawahnya sambil meremas perut seakan menahan sesuatu.
Jedag!
__ADS_1
Saat akan menuju lantai tempat mereka tinggal lift tiba-tiba berhenti dan membuat Syera semakin panik.
"Tuan... Tuan Leo?"