Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Kenapa Membuatku Khawatir?


__ADS_3

"Apartemen XXX, pak. Kalau bisa agak cepat sedikit ya, pak."


"Iya, mba."


Jarang-jarang Syera menggunakan taksi, kalau bukan karena terdesak ia akan lebih memilih angkutan umum atau bus setiap kali berkendara. Meski memakan waktu sedikit lama tapi ongkosnya juga sedikit lebih murah bila dibandingkan naik taksi.


"Kok sendiri, mba? Mas yang dulu mana, nggak ikut?" tanya supir taksi dari kursi kemudinya.


Syera merasa sedikit risih karena si supir taksi seakan mengenalnya. Syera hanya mengulas senyum dan diam di posisinya. Ia tidak terlalu merespon agar supir taksi itu tidak bicara lebih lanjut dengannya. Bukan sombong tapi Syera takut saat bertemu orang baru tapi merasa kenal dan dekat apalagi saat berada dalam taksi.


"Sudah lupa ya, mba? Saya supir taksi yang dulu pernah bawa mba dan laki-laki yang muntah di taksi saya," jelasnya mengingatkan kejadian sebelumnya.


Syera terkejut tidak menyangka jika menggunakan taksi dan supir yang sama lagi.


"Itu bapak ya? Maaf, ya pak? Saya nggak ngenalin," ucap Syera tak enak.


"Nggak apa-apa, mba."


Sesekali supir taksi mengajak Syera bicara hal ringan dan tak lupa menanyakan mengenai laki-laki yang pernah muntah di taksinya yang tak lain adalah Leo.


Sebelum turun supir taksi itu memberi tanda pengenalnya sebagai supir taksi dan tertera nomor kontaknya dibelakang kartu. Jika seandainya membutuhkan supir Syera bisa menghubunginya.


Syera tiba di apartemen, pintu kamar Leo masih terbuka sama seperti saat dia pergi tadi dan tidak ada Leo di sana. Syera juga melihat kearah balkon tetap tidak ada Leo.


Apa dia pergi lagi? Harusnya tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Dia sudah besar dan dewasa.


Meski berpikir seperti itu tapi tetap saja Syera merasa khawatir. Ia meletakkan tasnya di atas tepat tidur dan mengambil baju ganti. Kebiasaan Syera sebelum tidur dia selalu mencuci wajahnya dan menyikat gigi, ajaran yang ia dapat sejak kecil dari mami Jelita.


"Kak Leo?"


Bukan main kagetnya Syera mendapati Leo tergelak di lantai kamar mandi, meringkuk memegangi perutnya dengan wajah pucat. Jantung Syera serasa ingin melompat keluar.


Leo sudah sadar akan tetapi rasa sakit di kepala dan perut membuatnya tidak berdaya.


Sigap Syera membantu Leo untuk duduk. Menyandarkan tubuh lemas Leo pada tembok kamar mandi. Syera melihat bekas muntahan Leo di kloset dan menyiramnya bersih.


"Apa sangat sakit?" tanya Syera lembut melihat tangan Leo terus memegangi perutnya. Leo mengangguk membenarkan pertanaan Syera.


"Aku belum mati tapi kenapa kamu nangis?"


"Aku nggak nangis," jawab Syera menyeka air matanya.


Syera membantu Leo berdiri dan menuntunnya ke kamar. Syera berpikir sejenak melihat keadaan Leo yang tidak memungkinkan untuk banyak bergerak.


"Dimana obatnya?"

__ADS_1


"Sudah habis."


"Habis? Mana mungkin."


"Disana," tunjuk Leo pada laci tempat ia menyimpan obatnya.


Syera membuka laci yang ditunjuk Leo dan benar saja, botolnya sudah kosong. Ia mengambil ponsel dari kamarnya dan memesan obat yang sama persis melalui aplikasi online.


"Satu jam lagi obatnya akan datang," ucap Syera.


"Kenapa?" tanya Leo melihat Syera seperti kebingungan.


Syera mengabaikan pertanyaan Leo. Ia membuka lemari pakaian Leo dan mengambil sepasang baju tidur.


"Aku akan keluar jadi kak Leo bisa ganti baju."


"Tidak usah, aku tidak kuat untuk bergerak. Besok saja."


"Tapi pakaian kak Leo itu lembab karena keringat dan air di lantai kamar mandi."


Leo benar-benar tidak berdaya, ia tidak berbohong pada Syera.


"Kamu mau apa?"


"Diam dan menurut saja kali ini."


"Kak Leo sudah makan?"


Leo menggeleng. Kalau dia sudah makan tidak mungkin saat ini dia memegangi perut karena asam lambungnya kambuh.


"Aku akan buat makanan buat kak Leo jadi gantilah celana yang kakak pakai."


Syera keluar meninggalkan Leo di kamarnya. Syera memasak bubur dengan suiran daging ayam. Sambil mengaduk bubur di panci Syera menangis tanpa suara agar Leo tidak mendengarnya.


Bubur yang dibuat Syera sudah jadi, ia membawanya beserta segelas air hangat ke kamar Leo.


Mata Syera tertuju pada celana jeans yang terletak di lantai. Leo sudah menggantinya seperti yang diminta Syera.


"Ayo makan," perintah Syera menyelipkan sendok ketangan Leo.


Meski tidak selera Leo memaksakan untuk makan karena asam lambungnya. Melihat cara makan Leo yang begitu lambat Syera mengambil sendok dari tangan Leo dan menyuapinya.


"Ayo cepat makan yang banyak. Jangan membuat orang khawatir."


Leo tersenyum mendengar ucapan Syera. Wajah khawatir gadis itu terlukis jelas tanpa diberitahu sekalipun.

__ADS_1


"Apa kamu sangat mengkhawatirkan aku? Kenapa cepat pulang, apa acara dengan Fandy sudah selesai? Bukannya kamu bilang agak malaman pulangnya?"


"Diamlah dan makan saja."


Takut membuat Syera marah dan pergi Leo akhirnya tidak bertanya lagi dan menerima suapan demi suapan yang diberikan Syera.


"Cukup, itu sudah banyak. Kalau dipaksa lagi yang ada bisa muntah," ucap Leo menolak saat akan disuapi lagi.


Syera membenarkan perkataan Leo di dalam hatinya. Ia kemudian memberi air minum pada Leo. Setelah Leo selesai makan Syera memungut celana yang ada dilantai untuk dibawanya ketempat pakaian kotor.


Di depan pintu Syera tiba-tiba berhenti dan balik badan menghadap Leo yang juga sedang melihatnya. Syera berjalan beberapa langkah dengan wajah marah.


Bug!


Celana yang ada ditangannya di lempar pada Leo dan mengenai dada.


"Apa kak Leo sudah bosan hidup, ha? Apa kak Leo mau mati dan nggak mikirin tante Mila? Kenapa selalu buat aku khawatir?" tanya Syera sambil menangis.


"Tetap di sana dan jangan gerak," ucap Syera saat melihat Leo akan bangkit dari posisi duduknya. Leo tak kuasa saat melihat Syera menatapnya dengan air mata tapi Syera melarangnya untuk mendekat.


Keduanya saling menatap dengan air mata sebagai alat penyampai apa yang mereka rasakan.


Tet.....!


Seseorang diluar menekan bel. Syera menghapus air matanya dan membuka pintu. Seorang kurir datang mengantar obat yang tadi di pesan Syera untuk Leo.


Syera kembali menemui Leo. Ia membuka obatnya dan memberinya pada Leo untuk di minum.


"Terimakasih," ucap Leo.


Ia menarik tangan Syera untuk duduk di dekatnya, menghapus air mata Syera yang masih mengalir.


"Maaf sudah membuatmu khawatir."


Air mata Syera kembali bercucuran mengingat saat ia mendapati Leo terletak di lantai kamar mandi.


Maaf sudah membuatmu khawatir tapi kalau bisa jujur aku sangat senang dikhawatirkan olehmu.


..........


Sedih dan kecewa. Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan Fandy saat ini. Hidangan penutup yang sudah dipersiapkan untuk Syera gagal sudah. Seiring waktu berjalan eskrim yang ada di atas puding mencair dan memperlihatkan sebuah cincin yang begitu indah.


Rencana Fandy untuk mengatakan isi hatinya yang sebenarnya berantakan karena Syera memaksa tetap pergi saat Fandy menahannya.


Fandy mengambil cincin itu dari lelehan eskrim dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


Apa ada hal yang lebih penting dari saat bersamaku selama ini, tidak ada. Tapi kenapa malam ini tiba-tiba ada hal penting lain?


__ADS_2