Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Seperti Adegan Film Holywood


__ADS_3

Jantung Syera berdegup kencang tak beraturan. Saat ini ia merasa jika dirinya seperti berada dalam adegan film Hollywood yang sedang diintai seseorang. Sedari tadi pria berambut gondrong dan brewokan yang sebelumnya ia layani di restoran selalu mengikutinya.


Ketika selesai bekerja pria itu berada diluar restoran, berdiri seakan menunggu Syera untuk keluar. Pria itu mengikuti Syera berjalan hingga halte bus dan ikut menaiki bus yang sama.


Kursi penumpang di belakang supir yang kosong tidak di sia-siakannya. Syera duduk di sana dan tidak menoleh pada pria yang duduk di kursi paling belakang. Kedua mata Syera menatap lurus pada jalan di depan berharap ketakutan dalam pikirannya tidaklah benar.


Tenang Syera, tenang. Dia hanya kebetulan menggunakan bus yang ini karena arah tujuan kalian sama.


Kedua mata Syera melirik pria itu dari kaca spion di depan supir. Syera menelan liurnya karena ternyata pandangan pria itu juga terarah pada Syera.


Turun dari bus Syera semakin mempercepat langkahnya. Ia semakin ketakutan karena pria itu juga ikut turun dan berjalan mengikutinya dari belakang. Kali ini ketakutan Syera bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya.


Syera masuk dalam lift dan sengaja berdiri agak depan sedangkan pria itu berdiri menyandarkan tubuhnya di sudut kanan Syera. Telunjuk Syera langsung menekan tanda 'HOLD' saat seorang bapak paruh baya yang sering ia jumpai di lift karena juga tinggal di apartemen yang sama berlari ke arah lift.


"Baru pulang kerja?" tanya si bapak.


"Iya, pak."


Bapak itu menekan nomor dua, itu tandanya hanya naik satu lantai dari posisi mereka saat ini sedangkan Syera belum menekan lantai tujuannya. Ia menunggu pria yang sedari tadi mengikutinya menekan lantai tujuannya terlebih dahulu namun sayang itu tidak terjadi.


Syera sudah memikirkan sesuatu dan mengambil ancang-ancang akan apa yang harus ia lakukan. Ia mengatur nafasnya dan saat pintu lift terbuka di lantai dua ia langsung berlari menuju arah tangga darurat.


"Selamat," ucap Syera merasa lega. Ia berjalan perlahan karena kakinya yang begitu lemas.


Dia tidak mungkin mengikutiku pakai tangga darurat dengan tas gunung besarnya itu. Iya, tidak mungkin.


Ingatan Syera kembali pada saat ia menggunakan tangga darurat hanya untuk menghindar agar tidak bertemu dengan Leo. Dan kali ini ia harus ngos-ngosan lagi menapaki tangga itu karena si pria brewokan yang menguntitnya.


Sudah tidak dapat digambarkan lagi dengan kata-kata bagaimana lelahnya dia. Betisnya terasa keram dan kakinya tidak punya kekuatan lagi. Beberapa kali ia terjatuh saat melangkah karena kakinya seperti mati rasa.


Lantai tujuh tidaklah begitu tinggi jika menggunakan lift untuk menuju ke sana akan tetapi berbeda ceritanya jika menggunakan tangga darurat. Beberapa kali Syera berhenti untuk mengatur nafas hingga akhirnya ia tiba di lantai tujuh.


Syera tersenyum melihat tulisan 'lantai tujuh' di atas kepalanya. Dia hanya perlu berjalan sedikit lagi di lorong apartemen untuk tiba di depan pintu apartemen yang ia tinggali bersama Fandy.


"Apa kau kurang kerjaan menggunakan tangga darurat?"


Suara itu seketika mengagetkan Syera. Belum lagi ia menoleh pada pemilik suara lengannya sudah ditarik dan mengikuti langkah pria itu.


"Lepas. Aku akan teriak kalau kau tidak melepas tanganku," ucap Syera memperingatkan.


Langkah pria itu semakin cepat dan pegangan tangannya di lengan Syera begitu kuat. Syera cukup kewalahan mengikuti langkah pria itu apalagi ia berusaha melepas tangannya. Syera terus memberontak.

__ADS_1


"Jadilah adik penurut."


Ucapan pria itu berhasil membuat Syera termangu. Tidak mungkin Syera salah dengar. Adik? Sejak kapan Syera menjadi adik pria itu, kenal saja tidak.


Pria brewokan itu menekan password pintu apartemen yang sangat dikenal Syera.


"Tunggu. Kau siapa dan mau apa?" menahan pria itu saat menarik paksa Syera masuk. "Kau tidak bisa masuk ke apartemen orang sembarangan. Atau jangan-jangan kau juga yang menculik pemilik apartemen ini?"


"Aku sudah bilang diam dan jadilah penurut."


Pria itu menarik paksa Syera dan mendorongnya hingga terjatuh ke sofa.


Tas gunung yang sedari tadi bertengger di punggung ia lepas dan jatuhkan begitu saja ke lantai. Ia menggesernya menggunakan kaki agar tidak menghalangi jalan.


Melihat pria itu berjalan mendekati kamar Leo membuat Syera berlari menghalanginya.


"Kau tidak boleh masuk," cegat Syera.


Pria itu menunduk mendekatkan wajahnya pada Syera. Nyali Syera menciut melihat wajah pria itu, ia menutup matanya karena takut. Ia menghindar dan mengingat sesuatu.


Syera pergi ke kamar mandi dan membuka ponselnya. Ia baru teringat untuk menghubungi Fandy. Baru saja ia menekan tombol memanggil pria itu sudah merampas ponsel Syera. Bodohnya Syera tidak ingat untuk terlebih dahulu mengunci pintu kamar mandi.


Berulang kali Syera mencoba menekan angka-angka untuk membuka pintu tapi tidak satupun yang berhasil. Ia mencari kartu yang dulu pernah ia gunakan saat membawa pulang Leo yang dalam keadaan mabuk tapi tidak menemukannya.


Di kamar mandi pria itu mengguyur tubuhnya dengan air dingin sembari tersenyum. Ia melihat wajahnya di cermin dan kembali tersenyum membayangkan bagaimana takutnya gadis yang saat ini ia yakin sedang berusaha untuk keluar dari sana.


"Apa tidak berhasil?"


"Hakh!"


Syera melonjak kaget. Pria itu sudah berdiri di dekatnya dengan hanya menggunakan handuk. Syera mencoba menenangkan pikirannya.


Pria itu berjalan begitu santai masuk ke kamar dan saat keluar ia sudah berpakaian.


Kenapa jalannya begitu santai, dia sudah seperti pemilik tempat ini. Dan lagi, suaranya tidak asing tapi wajahnya sangat menyeramkan.


"Apa kau akan terus berdiri di sana?"


Tatapan pria itu begitu mengintimidasi. Syera menurut dan duduk di sofa. Setidaknya ia harus bersikap baik agar pria itu tidak melakukan hal jahat padanya.


Syera melihat pria itu sedang menyeduh teh. Syera terus memperhatikan pria brewok itu sambil memijit betisnya yang sakit.

__ADS_1


Pria itu duduk di samping Syera dan menyeruput teh buatannya.


"Kau bisa membuat untukmu sendiri!"


Syera hanya diam dan membuang pandanganya tak ingin menyahuti pria itu.


"Kau mau apa?" pekik Syera saat pria itu dengan tiba-tiba menarik kaki yang sedari tadi ia pijat dan meletakkan di atas pangkuannya.


"Diamlah. Kau beruntung karena menjadi orang pertama yang mendapat perlakuan seperti ini dariku."


Syera merasa jika pijatan pria itu sangat enak meski sedikit terasa kuat untuknya.


"Apa kau berbuat baik dulu sebelum melakukan kejahatan nantinya?" tanya Syera ragu.


Pria itu ingin tertawa mendengar pertanyaan Syera. Ia berpikir apa sekarang ini dia sudah seperti seorang penjahat? Apa seorang penjahat juga akan memijit kaki orang yang akan menjadi korbannya?


Suasana begitu hening selama beberapa waktu. Syera hanya pasrah akan kemungkinan yang bisa terjadi. Pria itu menyandarkan kepalanya pada sofa sambil terus memijat kaki Syera yang semakin lama semakin pelan.


"Apa sebegitu menyeramkan?" tanya pria itu akhirnya. Ia menoleh pada Syera dan melihat gadis itu menganggukkan kepala.


"Bagaimana mungkin kau menjadi adikku sedangkan untuk mengenaliku saja kau tidak bisa."


Adik?


"Apa kau yakin tidak mengenalku?"


Syera menggeleng namun ia mengamati wajah pria itu baik-baik karena suara yang tidak asing. Syera mengajak dirinya berpikir keras dan semakin lama mendekatkan wajahnya pada pria itu.


Kening Syera mengkerut saat menyadari sesuatu namun melihat penampilan pria yang duduk di dekatnya itu membuat Syera menggelengkan kepala.


"Nggak mungkin," ucap Syera.


"Apa yang tidak mungkin?" tanya pria itu mendekatkan wajahnya pada Syera. Begitu pula sebaliknya Syera semakin mengamati wajah brewokan itu begitu dalamnya.


Bruk!


"Aw!" pekik Syera kesakitan.


Syera melonjak kaget dan menarik kakinya dari atas pangkuan pria itu. Gerakannya yang tiba-tiba membuat Syera jatuh ke bawah sofa dan pergelangan kakinya mengenai ujung meja yang terbuat dari kaca.


Syera menahan sakit namun kesadarannya mengetahui siapa pria itu tak kalah membuatnya terkejut.

__ADS_1


__ADS_2