Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Kurir Makanan


__ADS_3

Baru dua episode menonton drama Korea di laptopnya sudah membuat Syera mengantuk. Ia memutuskan menyudahinya saja karena tidak ingin tertidur. Masih pukul sepuluh pagi tapi Syera merasa sangat jenuh.


Setelah dipikir-pikir Syera akhirnya punya ide untuk membunuh rasa jenuhnya. Isi kulkas ia obrak-abrik untuk melihat apa saja sisa dalam kulkas yang bisa dia gunakan untuk bahan makanan tiga orang.


Tidak perlu waktu lama untuk Syera memutuskan akan memasak apa. Tangannya begitu lihai mengupas, mengiris dan memotong bahan-bahan masakan yang ada. Entah turunan dari siapa Syera juga tidak tahu karena sejak kecil dan tinggal dengan mami Jelita, Syera suka sekali menyaksikan acara masak di televisi.


Kegemarannya menonton acara memasak ikut ia praktekkan di dapur hingga sekarang bisa memasak dengan baik. Syera sangat suka memasak apalagi kalau memasak untuk orang-orang yang dia sayangi. Syera semakin merasa senang jika masakannya habis dilahap.


Pertempurannya di dapur pun berakhir dengan hasil maksimal yang Syera bisa. Syera mengambil tiga kotak bekal yang bersih dan menatanya sedemikian rupa. Nasi putih, ayam goreng sambal balado dan sayur capcay dilengkapi irisan timun terlihat begitu menarik dalam kotak makan siang.


Syera berkemas untuk mengantar makanan buatannya dan berharap akan disukai.


Syera menyusun kotak makan siang dalam tas kain yang sesuai dengan ukuran dengan hati-hati. Sebelum pergi Syera teringat sesuatu, ia mengambil satu-satunya apel yang ada di dalam kulkas.


Tidak sampai tiga puluh menit Syera sudah tiba di depan gedung Suntama Group.


Ini untuk kedua kalinya Syera masuk ke dalam perusaan Suntama Group setelah dulu dia datang ingin menemui Leo demi mami Jelita, meskipun saat itu dia tidak berhasil bertemu Leo di sana.


Saat menuju meja resepsionis Syera melihat seorang office boy yang sangat ia kenal. Syera kembali mundur karena ada yang ingin ia tanyakan.


"Mas Eko?" panggil Syera menepuk pundak orang yang dipanggilnya.


"Mba Syera? Nga-ngapain di sini, mba?"


"Mau ketemu mas Eko," jawab Syera asal.


"Hahaha... Ada-ada aja, mba."


"Tapi saya serius, mas."


"Iya saya tahu, mba. Mau nitip bekal makan siang buat pak Fandy lagikan?" tebak Eko.


"Bukan."


"Terus?"


"Mas Eko jawab jujur, makan siang yang sering saya titipin dulu pasti dimakan sama mas Eko, iyakan?"


"Bu-bukan, mba. Bukan, bukan saya yang makan. Saya nggak tahu."


"Kalau bukan mas Eko yang makan kenapa makanannya nggak sampai sama pak Fandy? Terus yang dimakan pak Fandy kenapa beda dengan yang saya kasih? Mending mas Eko jujur karena saya punya buktinya kalau makanan itu nggak sampai ke pak fandy," cecar Syera.


"Maaf, mba. Bukan salah dan maunya saya, mba. Sebenarnya makanan yang mba titip itu saya sudah antar ke pak Fandy tapi hanya sekali. Hari-hari berikutnya saya antar ke pak Leo."


"Maksud mas Eko?"


"Iya, mba. Saya antar ke ruangan pak Leo, pimpinan perusahaan ini. Orangnya galak, mba. Dari pada saya di pecat mending saya nurut aja, iyakan mba?"


"Kok bisa?"


"Saya juga nggak ngerti, mba. Waktu tahu saya mau nganterin bekal yang mba titip buat pak Fandy tiba-tiba pak Bima nyulik saya dan nyuruh saya buat kasih ke pak Leo dan seperti itu seterusnya. Sebagai gantinya saya dikasih uang untuk beli makanan diluar buat pak Fandy. Gitu, mba."


"Mas Eko nggak bohong?"


"Beneran, mba. Saya nggak bohong."

__ADS_1


Apa yang diceritakan Eko sangat tidak masuk akal bagi Syera tapi melihat caranya menyampaikan pada Syera tidak mungkin office boy itu berbohong.


"Mba, saya masih ada kerjaan. Saya permisi dulu ya, mba."


"Ya udah, mas Eko boleh pergi."


Pertanyaan Syera akan Leo semakin bertambah. Mulai dari sikap Leo yang belakangan ini berubah-ubah hingga melihatnya menangis, foto-foto dirinya semasa sekolah yang di simpan Leo dalam laci lemarinya dan mengenai makan siang yang harusnya untuk Fandy malah disabotase untuk diberikan pada Leo.


Syera kembali menuju meja resepsionis sambil terus memikirkan apa yang baru saja dia dengar dari Eko, seorang office boy yang biasanya dititipkan Syera bekal makan siang untuk Fandy.


"Permisi, mba. Saya mau ketemu," sapa Syera namun seketika ucapannya berhenti. Syera bingung menyebut nama siapa yang ingin dia temui.


"Iya, mba. Mau ketemu dengan siapa?" tanya resepsionis ramah.


"Em.., saya mau ketemu pak Fandy dan pak Leo," jawab Syera.


Tidak mau memilih, Syera menyebut kedua nama itu.


"Sudah buat janji sebelumnya, mba?"


"Janji?"


"Iya, mba. Untuk bisa bertemu dengan kedua orang itu sudah harus buat janji terlebih dahulu."


"Tapi saya saudara mereka, mba. Saya adik perempuan mereka."


Salah satu dari resepsionis di sana menahan tawa saat Syera mengatakan jika dirinya merupakan saudara dari Leo dan Fandy. Semua orang yang ada di Suntama Group tahu jika anak dari Bayu Suntama hanya ada dua orang dan keduanya adalah laki-laki. Jadi tidak salah jika resepsionis itu tidak serta merta mempercayai Syera.


"Kalau saya titip ini buat mereka bolehkan, mba?" meletakkan kantong kain berisi kotak makan siang yang dibawanya.


"Ini bekal makan siang, mba. Ada tiga, satu buat pak Leo, pak Fandy dan satunya lagi buat kak Bima, sekretarisnya pak Leo," ucap Syera menjelaskan.


"Oh...Kurir makanan ya, mba?"


Syera hanya tersenyum mendengar pertanyaan si resepsionis. Syera malas menjelaskan siapa dirinya karena pastinya tidak akan dipercaya oleh kedua resepsionis di hadapannya itu.


"Jangan lupa anterin bekal makan siangnya ya, mba. Saya permisi, terimakasih."


Meski tidak bisa bertemu Leo ataupun Fandy setidaknya Syera sudah menitipkan apa yang dibawanya pada resepsionis. Syera berbalik meninggalkan meja resepsionis Suntama Group dengan malas. Sebenarnya dia sangat ingin mengantar langsung apa yang dibawanya.


Bruk!


"Aw! Maaf, pak. Saya nggak sengaja."


Tak sengaja Syera menabrak dada seseorang karena jalan menunduk.


"Syera? Anda sedang apa disini?"


"Kak Bima!" seru Syera cukup keras hingga kedua resepsionis tadi kaget saat mendengarnya.


"Apa ada yang penting?" tanya Bima karena Syera tidak pernah datang ke perusahaan.


Melihat interaksi Bima dengan gadis yang baru menitipkan bekal makan siang membuat kedua resepsionis yang kembali berdiri saat melihat kedatangan Bima terhenyak seketika.


Gadis yang tadi dikatakan kurir makanan oleh salah satu resepsionis itu sedang berbicara dan begitu dekat dengan Bima, orang kepercayaan pimpinan perusahaan tempat sekarang mereka bekerja.

__ADS_1


"Barusan Syera nitip makan siang dimeja resepsionis buat kak Leo, kak Fandy dan juga buat kak Bima."


"Kenapa tidak antar langsung ke atas, tuan Leo pasti sangat senang."


"Aku nggak yakin kalau dia bakalan senang lihat Syera datang kemari," ucap Syera manyun.


"Sebentar," ucap Bima meminta Syera menunggunya.


Bima menghampiri kedua resepsionis, menanyakan bekal makan siang yang tadi dititip Syera.


"Tolong ingat wajah gadis itu baik-baik. Antar langsung keruangan direktur utama jika lain kali dia datang," ucap Bima memperingatkan.


"Baik, pak."


Bima mengambil bekal makan siang tadi dan menuntun Syera naik lift menuju ruangan Leo.


Ting!


"Kita mau kemana, kak?" tanya Syera saat pintu lift yang membawa mereka kelantai tujuh belas terbuka.


Bima tidak menjawab dan terus berjalan di depan Syera. Langkah Bima berhenti di depan pintu yang bertuliskan 'Direktur Utama' di atasnya namun tidak diperhatikan oleh Syera.


"Ayo masuk," ajak Bima sembari membuka pintu.


Syera menurut saja apa perkataan Bima.


Syera tercengang setelah berada di dalam ruangan. Matanya langsung mengarah pada deretan buku-buku yang tersusun rapi pada lemari besar.


"Tunggulah sebentar," pinta Bima. "Saya harus pergi karena ada urusan penting diluar."


"Tunggu, kak."


Syera membuka kantong kain yang diletakkan Bima di atas meja sofa. Ia mengambil satu kotak bekal makan siang dan menyerahkannya pada Bima.


"Ini. Untuk kak Bima."


Bima ragu untuk menerimanya namun karena Syera mengangguk meyakinkannya akhirnya Bima menerimanya.


"Aku juga bawa buat kak Fandy dan kak Leo, ruangan mereka dimana?"


"Untuk pak Fandy biar saya saja yang kasih. Pak Fandy lagi ada rapat diluar, mungkin akan kembali sekitar satu jam lagi."


Padahal Syera juga ingin bertemu Fandy dan melihat ruangan tempat dia bekerja.


"Ini, kak."


Syera menyerahkan kotak makan siang milik Fandy. Bima menutup pintu dan meninggalkan Syera seorang diri dalam ruangan yang cukup besar itu.


Sebuah meja kerja menarik perhatian Syera, penasaran dengan siapa yang duduk di kursi yang menurutnya begitu elegan dan berkelas, sebuah kursi yang sering dia lihat dalam drama Korea yang dia tonton.


Klek!


Suara pintu yang terbuka membuat Syera langsung menoleh namun sayangnya sikunya menyenggol sebuah piala kaca di atas meja.


"Hakh!" kaget Syera melihat piala kaca jatuh dan hancur bersamaan dengan seseorang yang masuk.

__ADS_1


"A-aku nggak sengaja, kak."


__ADS_2