Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Merindukanmu


__ADS_3

Satu tahun kemudian.....


"Baik pak Leo, saya harap kita akan bisa bekerjasama lagi untuk proyek-proyek lainnya. Saya puas dengan hasil kerjasama kita kali ini."


"Baik, terimakasih. Satu kehormatan juga buat saya dan Suntama Group bisa bekerjasama dengan perusahaan anda."


"Lain kali aku akan mentraktirmu di tempat yang kau sukai. Saya harus pergi karena ada kegiatan amal yang menunggu kehadiran saya."


"Dengan senang hati. Anda hati-hatilah di jalan."


Usia mengantar seorang pimpinan perusahaan yang setahun ini menjalin kerjasama dengan Suntama Group, Leo kembali menuju kantornya bersama Bima yang selalu menemaninya dalam segala urusan kantor.


"Apa anda akan makan siang di kantor seperti biasanya?"


"Hem, itu akan lebih menghemat waktu dalam bekerja."


"Baik, tuan."


Waktu adalah uang, tidak semua bisa dibeli dengan uang namun tanpa uang maka banyak hal yang tidak bisa diperoleh dan dilakukan. Prinsip Leo sejak terjun pertamakali menjadi seorang pengusaha semakin ia tekankan selama setahun ini.


Setahun ini Leo menjadi seorang yang sangat gila bekerja, bahkan melebihi dari sebelum-sebelumnya. Bima tidak habis pikir apa isi kepala Leo, setiap harinya Leo selalu menghabiskan waktunya di kantor, menyibukkan diri dengan segala pekerjaan dan tak pernah mengeluh sedikitpun seperti yang terkadang Leo lakukan.


Leo tidak pernah melewatkan jam makannya, ia akan makan tepat waktu meski terkadang ia harus makan sambil mengecek dan membaca file-file di laptopnya. Leo akan pulang setelah seluruh karyawan pulang terlebih dahulu.


Sampai di ruangannya, Leo menjatuhkan tubuhnya di atas sofa panjang. Di atas meja sudah ada makan siang yang disediakan untuk Leo.


"Sudah waktunya makan siang, kau juga harus makan," ucap Leo pada Bima.


"Saya belum lapar, tuan. Tadi pagi saya sarapan sedikit banyak. Saya akan merevisi laporan keuangan bulan ini untuk segera bisa anda tanda tangani."


"Terserahmu saja, kau bisa kerjakan di ruangan ini bila perlu. Itu akan mempercepat pekerjaanmu, kau bisa langsung bertanya dan memberitahuku jika ada yang tidak sesuai."


"Baik, tuan."


Bima menempati meja kerjanya, mulai mengerjakan tugasnya. Sebenarnya Bima mempunyai ruangan sendiri namun terkadang ia juga bekerja di ruangan Leo.


Leo membuka kotak makanan dan mengangkat kedua alisnya melihat menu makan siangnya hari ini. Ia membuka jasnya dan menggulung lengan kemejanya. Seperti biasa, selama setahun ini akan selalu ada dua porsi makanan dan minuman disediakan atas perintah Leo.


Kedua kotak makanan dibuka, satu untuk Leo dan satu lagi diletakkannya di atas meja seperti ada temannya saat sedang makan.


"Selamat makan siang, besok aku akan mentraktirmu yang lebih enak."


Dari posisinya berada, Bima hanya bisa memandangi setiap kali melihat Leo saat sedang makan. Sudah setahun lamanya dan selama itu juga Leo akan bertingkah seperti ada orang lain yang ikut makan bersamanya.


Selama setahun ini pula tak pernah sekalipun Leo bertanya perihal seseorang yang Bima yakini sangat di rindukan oleh Leo. Bima tidak paham dengan jalan pikiran Leo.


Setelah malam itu Leo menjadi sangat tertutup pada Bima. Bima benar-benar hanya melakukan tugasnya sebagai seorang sekretaris. Padahal sebelumnya ada keperluan pribadi Leo yang diurus oleh Bima. Leo juga melarang Bima datang ke apartemennya jika bukan karena Leo yang memintanya.


Apa anda sangat kehilangan dan menyayangi dia? Anda berpura-pura kuat dan biasa-biasa saja diluar tapi di dalam hati anda siapa yang tahu.


Bima mendengus melihat Leo dan melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Hampir pukul sembilan malam Leo baru tiba di apartemen. Tubuhnya yang sudah lelah menuntun Leo langsung naik ke atas tempat tidurnya tanpa terlebih dahulu membersihkan tubuhnya atau sekedar mengganti pakaian.


"Hoam... Aku lelah, ayo kita tidur. Jangan telat membangunkanku besok pagi."


Leo menarik sebuah foto dari bawah bantalnya, mendekapnya hingga akhirnya Leo tertidur. Seperti itulah hari Leo berakhir setiap malamnya selama setahun ini.


Ponsel Leo tiba-tiba bergetar, ada pesan yang diterimanya. Buru-buru Leo membuka isi pesan itu berharap isi pesan malam ini berbeda dari isi pesan sebelum-sebelumnya.


'Maaf, kami belum bisa menemukan keberadaan mereka. Kami akan terus mencari dan selalu mengabari pada anda.'


Leo lemas saat membacanya. Isi pesan malam ini juga masih sama tapi Leo tidak akan menyerah. Mungkin bukan hari ini tapi masih ada esok, lusa atau minggu depan dan seterusnya untuk ia memperoleh kabar yang ingin ia dengar.


"Datanglah meski hanya sebentar ke dalam mimpiku, aku sangat merindukanmu."


Kembali di dekapnya foto di tangannya dan menarik selimut menutupi setengah tubuhnya. Leo berharap bertemu gadisnya malam ini meski lewat mimpi. Leo ingin bertemu dan sangat merindukan kehadiran Syera.


..........


Tok-tok-tok


"Permisi, tuan."


Bima memohon izin masuk dengan pintu yang ikut terbuka.


"Hem, apa ada yang perlu aku tanda tangani?"


"Iya, tuan. Ini dari bagian keuangan."


"Mulai bulan depan naikkan gaji karyawan di bagian sales, OB/OG dan security," perintah Leo.


"Baik, tuan."


Ponsel di saku Bima bergetar, ia melihat nama si penelpon dan langsung menolak panggilan itu.


"Tidak usah terlalu kaku, kau bisa mengangkatnya jika memang perlu."


"Tidak, tuan. Hanya teman biasa, nanti saya bisa menghubunginya kembali."


"Ya sudah kalau begitu. Ini, bawalah, aku sudah selesai menandatanganinya," menyerahkan kembali map yang diberikan Bima tadi.


"Saya permisi, tuan."


Tiba di ruangannya, Bima menelepon kembali panggilan yang tadi ia tolak saat ada Leo.


"Halo, bagaimana?"


Bima mengecilkan suaranya agar tidak ada yang mendengar.


"Apa kau mendapat informasi?" lanjut Bima bertanya.


Seseorang di seberang telepon berbicara, memberitahu sesuatu pada Bima.

__ADS_1


"Benarkah? Apa kau yakin?"


Wajah Bima tampak serius mendengar apa yang dikatakan si penelpon.


"Baik, kirim buktinya padaku sekarang juga."


Tak lama setelah pembicaraan mereka berakhir Leo menerima pesan dan beberapa foto dari si penelpon. Bima mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku celana.


Bima memijit keningnya, memikirkan apa yang harus ia lakukan. Untuk pertama kalinya Bima sangat sulit dalam membuat keputusan. Melebihi sulitnya saat ia memutuskan wanita yang sangat ia cintai sejak SMA hingga lulus kuliah karena berselingkuh di belakangnya.


Kepala Bima semakin sakit saat ponselnya kembali menerima pesan dari mama Mila untuk membawa Leo makan malam di rumah.


..........


Malam hari seperti permintaan mama Mila, Leo datang dengan Bima ikut bersamanya. Usai makan malam sederhana mama Mila meletakkan sebuah foto wanita cantik di atas meja dan mendekatkannya pad Leo.


Mata Bima ikut melirik foto gadis tersebut, ia tahu inti pertemuan malam ini. Bima diam saja karena tidak punya hak untuk ikut campur urusan pribadi keluarga tersebut.


"Naomi Grasella, cantik dan pintar. Mama yakin kamu sudah kenal, dia anak sahabat papa. Kau sudah pernah bertemu sekali dengannya saat papa masih hidup."


Leo mengambil foto itu, melihatnya seolah-olah sedang memperhatikan wajah difoto padahal pikiran Leo tertuju pada satu nama, yaitu Syera.


Mama Mila terlihat senang melihat Leo tersenyum memperhatikan foto ditangannya.


"Oke, baiklah!" memasukkan foto ditangannya ke dalam saku jas. "Aku sangat lelah, ingin istirahat jadi aku pulang dulu, ma."


Mama Mila senang karena merasa putranya sudah melupakan gadis yang bernama Syera. Ia mengantar Leo dan Bima sampai pintu depan.


"Pesankan meja atas namaku dan Naomi Grasella di restoran biasa kita bertemu klien. Aku akan menemuinya lusa malam."


"Baik, tuan." Bima memangut saja pada permintaan Leo.


"Kau pulanglah, tidak perlu mengantarku ke atas. Dan jangan lupa pesanku tadi."


"Tuan?" menghentikan langkah Leo.


"Kenapa?"


"Apa saya bisa cuti besok seharian?" tanya Bima ragu karena ini pertama kalinya ia meminta cuti di saat ada banyak pekerjaan di kantor.


Leo berpikir sejenak, harusnya Bima tidak meminta cuti dalam situasi kantor sekarang. Tak biasanya juga Bima cuti tiba-tiba meski hanya untuk sehari. Bima akan memberitahu Leo jauh-jauh hari tapi tidak kali ini.


"Apa kau yakin minta cuti disaat ada banyak pekerjaan?"


"Maaf, taun. Saya mengerti, anda bisa melupakan permintaan saya tadi," ucap Bima menyesal.


"Sudahlah. Kau bisa cuti besok seharian. Tapi lusa kau harus kembali kerja."


"Baik, tuan. Terimakasih."


Melihat wajah penyesalan Bima akhirnya Leo memberi izin sekretarisnya untuk cuti. Leo berpikir jika mungkin ada hal darurat yang harus dilakukan Bima besok.

__ADS_1


__ADS_2