
Dua bulan sudah Leo tidak masuk kerja. Entah kemana dia pergi selama itu tidak ada yang tahu. Bima yang selama ini menjadi tangan kanan dan kepercayaan Leo saja tidak tahu. Terakhir kali Leo hanya mengatakan jika ia ingin istirahat dan menenangkan diri pada Bima. Urusan pekerjaan Leo serahkan pada Bima dan Fandy.
Setiap kali Bima mengirim pesan mengenai urusan kantor Leo sama sekali tidak membalasnya. Leo masih mengaktifkan semua kontaknya namun tidak ada yang ia jawab saat siapapun menghubunginya.
Selama Leo tak ada maka selain Bima yang kelimpungan di perusahaan maka ada Fandy juga yang harus bekerja ekstra. Pekerjaannya sebagai wakil direktur saja sudah banyak ditambah ia harus melakukan beberapa pekerjaan yang seharusnya dilakukan Leo.
Seperti saat ini, Fandy baru tiba di rumah setelah hampir pukul sembilan malam. Untung ada Syera yang selalu memberi semangat untuk Fandy dikala lelah.
"Apa belum tahu dia ada dimana?" tanya Syera dan dijawab gelengan kepala oleh Fandy.
"Sudah dua bulan, kak. Apa nggak sebaiknya lapor polisi aja," ucap Syera memberi saran.
"Lapor polisi?" tanya Fandy mengerutkan dahi.
"Iya, lapor polisi. Laporin orang hilang."
Raut wajah Syera terlihat begitu serius saat mengatakannya. Ia berpikir setidaknya dengan cara melaporkan orang hilang pada polisi maka keberadaan Leo dapat diketahui.
"Hei, dia bukan anak kecil. Dia pasti kembali, kenapa kamu sepertinya khawatir dengan dia?"
"Bukan gitu, kak. Lihat aja sekarang di berita-berita banyak kasus orang hilang dan banyak mayat yang ditemukan. Kita nggak tahu apa yang bisa terjadi. Bisa saja dia diculik seseorang. Setelah diculik organ-organ penting di tubuhnya diambil dan mayatnya dibuang, iyakan?"
"Hahaha... Apa menurutmu dia orang seperti itu? Orang yang mudah diculik dan dianiaya? Bukannya justru dia yang selalu nyakitin kamu selama ini?"
"Iya sih, kak."
"Ya udah, lagian ngapain bahas dia. Kalau sudah waktunya dia pasti pulang. Mending kamu buatin kak Fandy teh hangat dan jangan mikirin yang aneh-aneh lagi apalagi seperti yang kamu lihat dan dengar di berita-berita itu."
"Iya, kak. Syera cuman-"
"Shttt... No!" sela Fandy menempelkan telunjuknya dibibir Syera. "Satu lagi yang penting, kamu tidak perlu khawatirin dia, oke?"
Beberapa hari terakhir sebelum Leo pergi entah kemana, Syera adalah orang yang bersama dengan Leo. Tidak seperti sebelumnya, Syera akan menghindar saat ada Leo. Demikian juga Leo yang tak suka jika ada Syera disekitarnya.
Kondisi tubuh Leo tidaklah baik-baik saja saat terakhir mereka bertemu dan tiba-tiba mulai keesokan harinya pria itu tidak ada kabar lagi. Jadi bagaimana mungkin Syera tidak berpikir mengenai Leo.
..........
Pagi ini Syera begitu malas bangkit dari tempat tidurnya. Tidak seperti biasanya ia akan selalu bersemangat setiap memulai harinya di pagi hari.
Keluar dari kamar Syera terkejut melihat Fandy sudah rapi dan duduk di meja menikmati sarapan. Ia mendekat karena mencium aroma sedap dari makanan di atas meja.
"Ini pasti buat aku, iyakan?" memandang takjub pada sepiring spaghetti carbonara.
"Sikat gigi dan cuci mukamu terlebih dahulu. Kamu itu seorang gadis. Apa kamu nggak malu dengan penampilanmu sekarang?" melihat penampilan Syera dari atas hingga ke bawah.
"Ada yang salah ya, kak?" tanya Syera menggaruk kepalanya.
"Hm... Aku merasa kasihan pada pria yang menyukaimu," seloroh Fandy sedikit mengeraskan suaranya.
__ADS_1
Syera berlari kembali ke kamarnya dan melihat penampilannya di cermin. Ia syok melihat penampilannya. Rambut panjangnya terurai berantakan. Wajah bangun tidur dan bekas liur saat tidur semalam yang mengering di sudut bibirnya pun terlihat jelas.
"Apa kak Fandy juga lihat ini?" memegang sudut bibirnya. Ia menunduk merasa malu dan masuk ke dalam kamar mandi.
Syera semakin lemas membayangkan Fandy melihat penampilannya yang begitu mengerikan. Ia yakin saat ini kakaknya itu sedang menertawakannya dalam hati.
Sambil menikmati sisa sarapannya Leo tersenyum-senyum mengingat penampilan Syera tadi.
"Hah... Aku mengasihani diriku sendiri," gelak Fandy karena dia adalah pria yang sangat menyukai bahkan menyayangi Syera, gadis yang sangat ia cintai dan ingin ia jaga dalam hidupnya.
Selesai mandi dan mengganti pakaian, Syera keluar untuk sarapan. Ia melihat Fandy sedang duduk di sofa memakai sepatu.
"Kamu malu?" tanya Fandy ingin menggoda Syera.
"Enggak," bantah Syera. "Kak Fandy juga nggak mungkin cerita ke orang-orang kalau punya adik jorok, iyakan?"
"Oh, ya?"
"Iya. Emang kak Fandy nggak malu kalau ketahuan punya adik jorok? Pasti malukan? Jadi sebagai kakak yang baik kak Fandy harus jaga rahasia ini. Oke?" tegas Syera.
"Oke. Baiklah."
Spaghetti carbonara di hadapan Syera sudah tak sabar ingin disantapnya. Sebelum mencicipinya terlebih dahulu ia endus untuk merasakan aroma wanginya.
Sesuap demi sesuap Syera luncurkan ke lambungnya. Ia begitu menikmati salah satu makanan khas dari negara Italia tersebut. Sangking menikmatinya ia tak sadar jika kini Fandy sudah duduk tepat di sebelahnya.
"Kak Fandy ngagetin aku. Tapi ini beneran enak," memuji hasil masakan Fandy.
Fandy mengulas senyum menyaksikan Syera makan begitu lahap. Tatapan Fandy berubah semakin dalam apalagi jarak mereka begitu rapat. Tangan pria itu sudah mendarat di atas kepala Syera, membelai rambut yang masih setengah kering itu karena tadi di keramas.
"Apa kamu suka menjadi adikku?"
"Iya, kak." Syera mengangguk tersenyum.
Tapi aku tidak. Aku tidak mau kamu jadi adikku lagi.
"Kita tidak ada hubungan darah. Apa kamu sungguh hanya anggap aku sebagai kakak?"
"Sampai kapanpun kak Fandy akan jadi kakak yang baik untuk Syera selamanya," ucap Syera sambil terus melahap makanannya.
Tapi aku tidak menyukai hal itu.
"Apa kamu mau tinggal seperti ini terus denganku?"
Sontak pertanyaan itu membuat Syera diam sejenak. Ia menghadap wajah Fandy, mencari tahu apa sebenarnya yang ingin dikatakan Fandy.
"Apa kak Fandy sudah bertemu dengan perempuan itu? Maksudku, apa kakak sedang mencintai seorang perempuan dan ingin menikahinya?"
"Em, aku sangat mencintainya. Aku ingin dia tetap ada bersamaku dan berada di sisiku."
__ADS_1
"Dia sangat beruntung. Aku yakin dia sangat spesial karena bisa dapetin hati kak Fandy."
"Benarkah?"
"Tentunya. Syera ikut bahagia buat kak Fandy."
Masih banyak yang ingin ditanyakan bahkan dikatakan Fandy tapi ia urungkan. Perlahan ia ingin mencoba mengeluarkan apa yang selama ini tertahan dalam hatinya.
Fandy tahu jika selain dirinya tidak ada pria lain yang sedang dekat dengan Syera. Oleh karena itu Fandy tidak terburu-buru mengungkapkan perasaannya.
Membuat Syera merasa nyaman di dekatnya adalah yang terpenting sambil perlahan ia menunjukkan rasa yang ia punya pada Syera.
..........
Hari ini Syera benar-benar tidak bersemangat. Disisi lain Syera senang saat tahu jika Fandy menyukai seorang gadis. Itu artinya Syera harus memikirkan dimana dia harus tinggal untuk selanjutnya. Tidak mungkin ia terus menumpang di tempat Fandy, tidak akan nyaman buat wanita itu apalagi saat mereka sudah menikah nanti.
Pikiran Syera melayang jauh memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
"Syera," panggil ibu Linda. "Itu meja nomor delapan baru datang," ingatkan wanita itu.
"Iya, bu."
Segera Syera mengambil buku menu dan memberikannya pada tamu di meja nomor delapan. Syera melirik penampilan tamu itu yang ternyata seorang pria. Sebuah tas gunung yang merupakan milik pria itu di letakkan di atas meja.
"Permisi, mas. Ini daftar menunya. Silahkan mau pesan apa?"
Pria itu menunjuk apa yang ingin dia pesan tanpa mengeluarkan suaranya. Syera tidak dapat melihat wajah pria itu karena ditutupi oleh topi hitam. Dia hanya dapat melihat brewok dan kumis dari pria itu tumbuh subur di seputaran wajahnya.
Pesanan pria itu sudah selesai dan Syera mengantarnya. Syera sedikit kesulitan saat akan meletakkan pesanan pria itu di atas meja karena keberadaan tas gunung yang cukup besar.
"Maaf, mas. Tasnya boleh diletakan di atas kursi aja," pinta Syera dengan sopan.
Pria itu mengangkat tas itu dan meletakkannya di atas kursi di sampingnya.
"Silahkan, mas. Kalau ada tambahan tinggal panggil saya atau karyawan lainnya," pesan Syera.
Saat Syera akan berbalik pria itu membuka topinya dan menaruhnya di atas tas gunung tadi. Syera tersenyum merasa geli melihat penampilan pria itu.
Selain brewok dan kumis yang tumbuh lebat ternyata rambut pria itu juga sedikit panjang dan berantakan seperti tak terurus.
"Apa pelayan disini akan berdiri menunggui tamu yang makan sampai selesai?"
Ucapan pria itu menyadarkan Syera dan pergi dari sana.
Suaranya tadi seperti kenal.
Sambil berjalan ia mengingat-ingat kembali siapa orang yang memiliki suara yang sama dengan pria itu.
Suara itu sangat tidak asing bagi Syera apalagi nada bicaranya yang sedikit menekan dan terdengar seakan mengintimidasi.
__ADS_1