Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Siapapun Asalkan Jangan Dia


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, malam ini Leo merasa tidak ingin melepaskan Syera. Bukan karena keinginannya mencium Syera akan tetapi ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan Leo. Seharian ini ia merasa sesuatu yang aneh pada dirinya, terasa tidak nyaman dan mengganggu pikirnya. Leo tidak tahu soal apa hanya saja ia tidak ingin Syera lepas darinya.


Perasan aneh dan tidak nyaman yang seharian ini menggangu pikiran Leo menuntunnya melakukan hal yang ia sendiri tidak ingin lakukan.


Tangan Leo tidak tinggal diam. Syera yang sudah ada di pangkuannya meronta saat Leo menggerayangi tubuhnya.


Syera memukul-mukul punggung Leo saat nafas pria itu semakin memburu dan turun hingga ke dadanya. Leo benar-benar tidak ingin melepas Syera.


"Sudah, kak. Sudah cukup," geram Syera.


Syera mendorong kuat dada Leo hingga akhirnya ia bisa terlepas dari Leo.


"Kak Leo kenapa? Kakak sakit?"


Syera bingung melihat wajah Leo berubah menjadi sendu bahkan Syera bisa melihat mata Leo berkaca-kaca saat ini.


"Kak Leo kenapa? Apa karena Syera dorong kakak?" tanya Syera lembut, mendekati Leo dan menghapus air matanya yang mulai mengalir.


"Jangan nangis, kak. Jangan seperti ini, jangan buat Syera jadi takut. Kak Leo kenapa nangis?"


Leo duduk lemas bersandar pada tiang pondok di belakangnya. Ia menggelengkan kepalanya pada setiap pertanyaan Syera.


"Kak, jawab aku?"


"Aku juga nggak tahu, aku nggak ngerti kenapa tiba-tiba seperti ini. Tiba-tiba saja aku takut dan merasa kosong."


Leo memperhatikan wajah Syera dan memperbaiki pakaian Syera yang sudah acak-acakan.


"Maaf?" ucap Leo sedih.


"Sudah, tidak apa-apa. Lebih baik kak Leo istirahat aja dulu, mungkin kakak kecapean dan kurang tidur. Kak Leo pastian akan baikan setelah istirahat."


Syera mengajak Leo agar kembali ke dalam villa. Syera berpikir Leo sedang kurang enak badan makanya suasana hati dan pikirannya ngawur malam ini.


Leo menggenggam tangan Syera saat berjalan meninggalkan pondok. Posisi pondok sedikit lebih tinggi jadi harus menuruni sekitar lima anak tangga saat ke villa. Saat menuruni anak tangga Leo tiba-tiba memeluk Syera, mengatakan jika ia sangat mencintai gadis itu dan mengecup sekilas bibirnya.


Seseorang tiba-tiba menarik lengan Leo hingga pelukannya dengan Syera terlepas.


Plak!


Sebuah tamparan melayang di pipi kiri Leo, sakit dan berdengung di telinga. Baik Leo maupun Syera sama-sama kaget.


"Mama?"


"Iya, ini mama," ucap mama Mila. Wajahnya merah padam. Terlihat jelas guratan amarah diwajahnya.


"Apa yang barusan kalian lakukan? Apa yang kamu lakukan sama Syera barusan, ha?" teriak mama Mila diikuti urat lehernya yang terbentuk.


"Leo bisa jelasin, ma. Mama jangan marah dulu, mama harus dengar apa yang mau Leo katakan. Tidak seperti apa yang mama pikirkan, ma."


"Apa? Tidak seperti yang mama pikirkan? Jadi maksudmu mama buta disaat mama melihat dengan jelas kamu memeluk dan mencium dia? Dia adik kamu Leo. Sadar!"

__ADS_1


Teriakan mama Mila di dengar pak Asep yang segera menyusul ke sumber suara dan ditahan bibi Retno, istrinya agar tidak lebih dekat.


"Syera bukan adik kandung Leo, ma."


Duar!


Fandy yang sedari tadi sudah berdiri tidak jauh dari mereka mengepalkan telapak tangannya hingga kotak kecil berwarna merah yang akan ia tunjukkan pada Syera tenggelam di genggamannya.


"Kami bukan saudara kandung. Kami bisa jelasin, ma."


"Apa?"


"Leo sayang sama Syera, ma. Dia gadis yang Leo suka."


"Apa? Jangan bercanda dengan mama!"


"Syera bukan adik kandung leo dan kami saling sayang, ma."


"Apa katamu? Saling sayang? Kalian berdua saling sayang?"


Plak!


Mama Mila kembali melayangkan tamparan di pipi yang sama.


"Apa kamu pikir kalau dia bukan adik kandungmu mama akan setuju dan menerima dia, iya?"


Plak!


"Diam! Kamu diam!"


Kali ini mama Mila berteriak pada Syera. Ia menarik Syera dan mengguncang-guncang lengan Syera sambil menangis penuh emosi.


"Kenapa harus kamu, ha? Kenapa? Apa tidak cukup mamamu sudah buat suamiku meninggal? Kau sama saja dengan dia, kalian berdua ingin mengambil apa yang aku punya. Kau tidak ada bedanya dari mamamu!"


Duar!


"Ma?"


Leo menarik Syera dan menyembunyikannya di belakang punggungnya dengan menggenggam erat tangan Syera.


Syera hanya bisa terisak mendengar perkataan mama Mila.


"Syera nggak salah, ma. Syera nggak tahu apa-apa. Jangan salahin dia, ma."


"Leo! Terlepas dia bukan adik kandungmu, mama tidak perduli hal itu. Justru bagus ternyata suamiku tidak seperti apa yang kupikirkan selama ini. Tapi kamu nggak lupa kan kalau mamanya yang sudah buat papa meninggal?"


"Ma? Leo sayang sama Syera," sama seperti Syera, Leo tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.


"Mama tidak peduli!"


"Tapi mama sudah janji akan menerima siapapun gadis yang bisa buat Leo bahagia. Iyakan, ma? Mama nggak lupa itukan?"

__ADS_1


Plak!


"Iya, mama ingat dan tidak akan lupa. Mama terima siapapun gadis itu tapi tidak dengan dia. Siapapun kecuali Syera, anak wanita itu," teriak mama Mila menggelegar.


Tangis Syera pecah di balik punggung Leo. Sakit, seakan ada ribuan jarum menusuk dadanya. Leo berbalik, memeluk Syera yang menangis.


"Jangan nangis, semua akan baik-baik saja. Kamu jangan khawatir."


"Kamu pikir mama akan iba dengan air mata kalian? Nggak sama sekali. Mama nggak peduli kalian saudara kandung atau tidak. Mama nggak peduli kalian saling sayang atau tidak. Mama nggak peduli wanita mana yang kamu cintai, asalkan jangan putri dari wanita yang bernama Wulandari."


"Ma, cukup," pinta Leo lirih. "Omongan mama barusan sangat nyakitin buat Syera. Dia nggak tahu apa-apa, ma. Leo sayang sama Syera, ma."


Syera memeluk Leo erat, air mata keduanya sudah cukup menjadi bukti jika keduanya tak ingin terpisah.


Cukup! Fandy yang sedari tadi menahan diri saat mama Mila berteriak pada Leo dan Syera tidak dapat lagi menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu.


Tentu saja Fandy marah saat tahu jika Leo juga menyukai Syera dan keduanya sudah menjalin hubungan di belakangnya. Fandy semakin marah mengingat saat Leo setuju jika ia bersama Syera. Leo mempercayakan Syera pada Fandy namun kenyataan yang dilihatnya saat ini justru berbanding terbalik.


Fandy marah pada Leo dan Syera namun ia juga tidak sanggup melihat Syera menangis mendengar perkataan menyakitkan dari mama Mila. Syera tidak ada hubungannya dengan masa lalu.


Wajah Fandy yang tak kalah merah padam dari mama Mila menarik dan melepas paksa Syera dari Leo.


Bug!


Satu pukulan keras diberikan Fandy pada Leo. Tangan Leo dengan cepat menarik kembali Syera dan menggenggamnya erat.


"Syera tidak akan mendengar kata-kata menyakitkan dari mama dan menangis kalau bukan karenamu. Jadi sekarang kau mau apalagi dengan menahan Syera?" suara Fandy pelan namun penuh penekanan, menahan emosinya yang hampir meledak.


Mama Mila melihat kearah Fandy dan memberinya kode agar membawa Syera dari sana.


"Akan banyak hati yang tersakiti kalau kamu masih disini," ucap Fandy melihat Syera. Syera hanya bisa menggeleng sambil terisak, ia tidak ingin menyakiti banyak orang.


Fandy menarik kembali Syera dan melepas genggaman tangan Syera dan Leo.


"Mungkin kamu akan berhenti kalau sudah lihat mama jadi mayat!" ancam mama Mila penuh penekanan.


"Ma?" teriak Leo menangis.


Saat Fandy membawa Syera meninggalkan Leo, mama Mila berlari ke dalam villa dengan keadaan marah dan kalimat ancamannya. Leo dilema, ia bingung harus memilih siapa diantara Syera atau mamanya.


Mama Mila menghancurkan barang-barang di ruang tamu, melempar barang kemana-mana hingga menimbulkan suara gaduh dalam villa. Pisau buah di atas meja mencuri perhatian mama Mila. Tanpa pikir ia berjalan menghampiri meja dan mengambil pisau yang menancap pada buah pir.


"Ma...?!"


Sedikit saja Leo terlambat mungkin pisau itu sudah menghunus mama Mila. Leo menahan pisau yang akan digunakan mama Mila untuk menyakiti dirinya sendiri. Pisau yang sudah di dapat Leo langsung ia lempar jauh. Bibi Retno datang dan ikut menenangkan mama Mila.


"Ma, jangan seperti ini. Jangan sakiti diri mama."


Leo memeluk mamanya yang runtuh kelantai. Pikirannya kacau tak karuan. Leo tidak ingin melepas Syera tapi ia tidak mungkin meninggalkan mamanya yang hampir menyakiti dirinya sendiri dengan sebuah pisau.


Leo menenangkan mamanya dan mengenai Syera, ia akan menghubungi Fandy setelah mamanya tenang. Leo yakin jika Syera akan baik-baik saja, Fandy pasti bisa menenangkan Syera saat ini. Setelah mama Mila membaik, Leo akan segera menemui Syera. Leo juga yakin jika Syera pasti mengerti keadaannya.

__ADS_1


__ADS_2