
"Hei, bro? Apa harimu indah?" sapa Ben pada Leo. "Hai, cantik?" mengedipkan sebelah matanya pada Syera.
Baik Leo maupun Syera sama-sama tersenyum pada Ben. Tak dipungkiri selain Bima ada juga Ben yang turut andil dalam hubungan Leo dan Syera saat ini. Kepada kedua pria itu mereka sangat berterimakasih.
"Apa kau sudah lama menunggu kami?" tanya Leo karena mendapati Ben sudah berada di halaman rumah saat mereka kembali dari berkeliling sekitar tempat mereka berada.
"Lumayan, sekitar tiga puluh menit tapi itu tidak masalah. Apa kalian punya rencana untuk malam ini?"
Selagi Leo dan Ben ngobrol di halaman, Syera menyeduh teh untuk keduanya.
"Tidak ada. Apa kau memikirkan sesuatu?"
"Hah...! Baiklah, kita barbeque saja menikmati malam ini. Besok aku akan kembali bekerja, aku bukan sepertimu yang pundi-pundimu terus mengalir meski kau tidak bekerja," seloroh Ben.
Hahaha...
Keduanya tertawa disaat bersamaan Syera keluar membawa dua cangkir teh.
"Kau tertawa itu artinya perkataanku benar," ucap Ben.
"Yah, aku tidak akan bilang kau salah tapi apa kau tahu, ada hal-hal yang tidak bisa kita dapat menggunakan uang yang kita miliki. Bahkan untuk hal tertentu tidak ada artinya uang yang kita miliki, sebanyak apapun itu."
Ben tersenyum mendengar perkataan Leo. Ben merasa sedang diceramahi oleh kakeknya di kampung. Dilihatnya Leo sedang memperhatikan Syera yang sedang menikmati hempasan angin mengenai wajah dan rambut panjangnya.
"Apa sudah punya rencana selanjutnya dengan dia?" tanya Ben pada Leo, melirik ke arah Syera.
"Apa kami masih bisa disini selama beberapa hari?"
"Tentu saja, jika ingin maka kau bisa melakukannya. Walaupun begitu aku sarankan sebaiknya segeralah kembali ke Indonesia jika memang ingin bersamanya. Bukankah tujuanmu datang kemari untuk membawa dia kembali?"
Benar saja, kebahagian setelah bertemu dengan Syera membuat Leo hampir melupakan tujuannya, selain untuk bertemu Syera juga untuk membawanya kembali.
"Aku pasti membawanya bersamaku tapi sebelum itu ada yang harus kutemui sebelum kami pergi."
"Apa maksudmu pria yang bersamanya setahun ini dan yang sudah membawanya jauh darimu?"
"Iya, aku harus menemuinya terlebih dahulu."
"Apa kau yakin? Apa kau juga mengenalnya?"
__ADS_1
"Tentu aku mengenalnya, dia adalah adikku," jawab Leo tanpa berpikir.
"What?" Are you sure, bro? He's your brother?"
"Iya, dia adikku."
Ben terkejut mengetahui jika pria yang menjadi rival Leo adalah adiknya sendiri. Ben teringat pada seorang pria yang menghubunginya tadi siang, ia yakin jika orang itu adalah adiknya Leo. Demikian juga Leo, dia hanya mengatakan jika Fandy adalah adiknya dan tidak memberitahu jika mereka tidak ada hubungan darah.
"Bukankah seorang kakak harus mengalah pada adiknya, bro?"
"Hahaha... Ada sesuatu yang tidak bisa kita bagi dan kita berikan pada yang lain, sekalipun itu saudara. Apa menurutmu aku harus melepas dan memberi wanitaku pada yang lain disaat aku begitu sulit untuk mendapatkannya? Tidak, Ben. Untuk yang satu ini, aku akan membawanya bersamaku kemanapun aku pergi."
"Hahaha... Dan apa kau tahu, kau sudah seperti seorang kakek yang sedang bercerita pada cucunya sembari memberi wejangan bahwa kita harus mempertahankan apa yang sudah seharusnya menjadi milik kita."
Hahaha...
Syera hanya ikut tersenyum melihat Leo dan Ben bercerita yang diselingi dengan tawa.
"Aku sudah sedikit lapar, sebaiknya kita melakukannya sekarang. Akan sangat nikmat menyantap daging panggang ditemani bir di saat cuaca seperti ini."
Ben bergerak terlebih dahulu karena dialah yang lebih tahu seluk-beluk rumah dan dimana letak pemanggangan berada.
Leo membantu Syera menyiapkan bahan yang sudah dibawa Ben. Sesekali Leo mencuri cium Syera saat tak ada Ben di dekat mereka.
"Kau menggunakan ini untuk membuat api terlebih dahulu?" tanya Leo penasaran sambil menunjuk pada kantong berisi serbuk kayu.
"Apa kau pikir arangnya akan terbakar dengan sendiri, bro?"
"Bukan itu, maksudku kau menyalakan api dengan ini dulu?"
"Itu serbuk kayu yang mudah terbakar. Setelah itu bisa tambahkan kayu atau arang."
Leo merutuki kebodohannya yang tidak tahu soal itu. Padahal jelas-jelas semalam dia melihat kantong itu dan isinya tapi tidak terpikir menggunakannya saat membuat api.
Ekor mata Leo menangkap Syera yang mencoba untuk menahan tawa.
"Apa kamu juga tahu soal ini?" tanya Leo serius. Dia belum sadar jika semalam Syera sudah mengerjainya.
"Maaf, kak. Maaf semalam nggak kasih tahu kakak," jawab Syera jujur.
__ADS_1
"Wah... Aku tidak percaya sudah dipermainkan olehmu."
Leo menggeleng-gelengkan kepalanya, ia merasa seperti orang bodoh karena berhasil dikerjai oleh Syera.
"Kau melakukannya dengan baik," puji Ben pada Syera. "Apa semalam dia menggunakan kertas atau plastik untuk menyalakan api?"
Syera terdiam melirik Leo yang berkacak pinggang melihat padanya dan Ben bergantian. Sesaat suasana berubah hening dan tidak melakukan apapun. Tak lama kemudian ketiganya tertawa bersama dan melanjutkan acara barbeque mereka.
Ben berinisiatif mengambil beberapa foto mereka dan meminta izin Leo dan Syera untuk mengunggahnya di sosial medianya.
"Aku tidak melihat mobilmu, apa kau memarkirkannya jauh dari sini?" tanya Leo memperhatikan jika tidak ada mobil yang parkir disekitar rumah.
"Bukan hanya gadismu saja yang perlu dandan, bro. Aku menaruhnya di bengkel untuk di dandani. Besok pagi akan ada yang mengantarnya kemari."
"Dia tidak perlu berdandan lebih. Tanpa berdandan pun dia sudah cantik," ucap Leo memuji Syera yang duduk di sampingnya sambil menikmati potongan-potongan daging yang diberikan Leo padanya.
Mereka bertiga masih mengobrol banyak, menikmati waktu yang semakin larut. Acara mereka berakhir saat sudah tak ada lagi potongan daging yang tersisa dan ketiganya merasa begitu kenyang.
Leo mengingat jika ada bir di dalam rumah yang tidak ia keluarkan karena ada Syera bersama mereka. Leo masih ingin bercerita banyak dengan Ben dan akan menyuruh Syera istirahat terlebih dahulu. Selama ini selain Bima tidak ada yang menjadi teman bicara Leo. Jika pun ada hanya akan membahas urusan seputar bisnis ataupun pekerjaan.
Bertemu Ben membuat Leo menjadi seorang yang lebih terbuka dan berkata apa adanya. Leo membuka hati untuk berteman dengan Ben.
"Aku kedalam sebentar."
Leo masuk untuk mengambil bir di dalam rumah sedangkan Syera dan Ben merapikan alat-alat yang mereka gunakan saat barbeque tadi. Ben mengambil air dari keran yang ada di samping rumah untuk ia gunakan menyiram arang di pemanggagan.
"Aw!" tak sengaja siku Syera mengenai pemanggangan. Meski hanya terkena sedikit namun rasa panasnya sangat mengganggu dan tidak nyaman buat Syera.
Syera berpikir mungkin ada obat untuk luka bakar di dalam rumah. Ia meletakkan gunting dan penjepit daging ditangannya untuk mencari obat buat meredakan rasa pedih dan panas di sikunya.
Mata Syera melotot sempurna, belum lagi jantungnya berdegup kencang saat ia berbalik. Syera mundur selangkah, diam tanpa bisa berkata apapun.
"Ayo!"
Syera menahan tubuhnya dan menggelengkan kepala saat tangannya ditarik paksa. Syera ingin berteriak memanggil Leo di dalam sana tapi mulutnya seakan terkunci rapat.
"Kak?" ucap Syera mengiba saat ia ditarik paksa.
Ben yang baru datang dengan semangkok air ditangannya terkejut melihat Syera ditarik dan dipaksa masuk oleh seorang pria kedalam mobil.
__ADS_1
"Woi... Stop!" teriak Ben sambil berlari mengejar Syera.
Mendengar suara teriakan dari luar membuat Leo berlari. Dilihatnya Ben berlari ke arah jalan, Leo melihat Syera sudah berada dalam mobil.