
Tidak seperti pagi biasanya, kali ini Fandy sudah dua puluh menit lebih berada di kamar mandi. Ia mengguyur sekujur tubuhnya dengan air dingin. Jika biasanya dia akan menggunakan air hangat saat mandi di pagi hari maka kali ini air dingin menjadi pilihannya.
Efek minuman semalam membuat tubuhnya gerah dan lengket mengingat ia juga tidak mandi di malam hari.
Bukan main kagetnya Fandy saat terbangun dan mendapati dirinya dengan pakaian kerja dan sudah berada di kamarnya. Seingatnya ia sedang berada disalah satu restoran bersama Leo dan pimpinan perusahaan Y untuk membahas kontrak kerjasama. Kenyataannya ia sudah berada di atas tepat tidur dan masih dengan sepatu yang tidak dilepas.
Kamar yang ditempati Fandy tidak memiliki kamar mandi di dalamnya oleh sebab itu sejak Syera tinggal di sana Leo menggunakan kamar mandi diluar.
Saat akan ke kamar mandi ia mendapati Syera tengah membersihkan lantai menggunakan alat penyedot debu. Penampilannya yang berantakan sukses membuat Syera tercengang dan tentunya ini untuk pertamakali Syera melihat pemandangan seperti itu akan Fandy.
Di dalam kamar mandi Fandy tengah bergelut dengan pikirannya mengenai kejadian semalam. Bagaimana ia bisa berada di apartemen dan siapa yang mengantarnya.
Setelah dirasa rapi Fandy keluar dari kamarnya untuk terlebih dahulu sarapan sebelum berangkat kerja. Sebenarnya ia tidak memaksa untuk Syera selalu memasak tapi gadis itu kekeh memasak untuknya karena mengingat sepeda motor yang rusak. Mengerjakan pekerjaan rumah dan memasak adalah salah satu bukti pertanggung jawaban Syera atas hal itu.
"Kakak mau aku buatin air jahe hangat?"
Uhuk... Uhuk...
Fandy terbatuk mendengar tawaran Syera. Fandy berpikir itu karena dirinya yang semalam mabuk dan bau alkohol.
"Aku baik-baik saja. Lebih baik kamu juga makan sebelum aku menghabiskannya."
Syera hampir saja tertawa melihat Fandy yang sedari tadi hanya menunduk sambil mengunyah sarapannya. Seperti yang dikatakan Fandy, Syera ikut makan bersamanya.
Mata Syera tak lepas menatap Fandy dan hal itu membuat Fandy merasa terganggu.
"Kak, semalam itu-"
"Aku kenyang. Aku harus pergi sekarang. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan pagi ini," sela Fandy tak ingin Syera membahas apa yang terjadi semalam.
"Tapi semalam itu-"
"Habiskan sarapanmu."
Fandy langsung mengambil tas kerja di kursi yang ada disampingnya. Ia tidak ingin mendengar apapun mengenai semalam.
Tapi semalam itu kak Fandy diantar pulang sama siapa? Itu yang aku mau tanyain, kak.
Syera kembali menikmati sarapannya hingga habis. Ia akan selalu menghabiskan isi piringnya karena mubajir membuang-buang makanan disaat banyak orang diluar sana yang kesulitan dan kelaparan.
..........
Sepulangnya dari kantor Leo menuju ke restoran tempat Syera bekerja. Leo ingin memastikan apakah gadis itu memang bekerja di sana.
__ADS_1
"Apa kita masuk, tuan?"
"Aku tidak pernah bilang jika akan makan di restoran itu. Diamlah. Kalau tidak kau saja yang masuk ke dalam."
"Maaf, tuan. Saya akan tetap di dalam mobil."
Dari dalam mobil yang di parkirkan Bima di seberang jalan, Leo dapat melihat jelas keberadaan Syera. Gadis itu tengah sibuk melayani tamu yang mulai memenuhi restoran. Syera bolak-balik dari meja yang satu ke meja lainnya mengantar pesanan para pengunjung dan mencatat pesanan yang baru datang.
Dari kejauhan Leo mengamati Syera yang tengah sibuk bekerja. Terlihat juga jika gadis itu terkadang harus berlari kecil ke sana kemari.
"Sejak kapan?" tanya Leo.
"Ha? Maksud, tuan?"
"Menurutmu apa lagi?" merasa kesal sebab Bima tidak langsung tanggap akan apa yang ditanyakan Leo.
"Maksud tuan," berpikir sejenak dan tak lama kemudian ia akhirnya mengerti melihat arah pandangan Leo yang tak lepas kearah restoran. "Oh itu, restoran itu sudah sekitar enam tahun beroperasi dan nona Syera bekerja di sana semenjak lulus SMA. Pemilik restoran itu dulunya bekerja sebagai pengasuh di panti tempat dimana pak Fandy dulu tinggal."
"Benarkah?" mengelus-elus dagunya menggunakan jempol.
"Iya, tuan. Pak Leo juga kerap kali berkunjung ke restoran itu dan sepertinya dia juga yang merekomendasikan nona Syera untuk bekerja di sana."
Masih dari dalam mobilnya Leo melihat sebuah sedan berwarna silver parkir di depan restoran. Dari dalam mobil itu keluar tiga pemuda berpenampilan kasual dengan tas dipunggung, layaknya seperti para mahasiswa.
Hanya ada satu meja kosong yang tersisa. Itupun posisinya berada di luar, tepatnya di dekat pintu masuk. Ketiganya kembali keluar dan duduk di sana.
Membawa buku menu ditangannya Syera berjalan menghampiri mereka dengan senyum ramah.
"Permisi, kak. Mau pesan apa?" meletakkan buku menu ke atas meja.
Ketiganya melihat daftar menu dan memilih apa yang ingin mereka makan. Dengan cekatan Syera mencatat semua apa yang mereka pesan dan meminta untuk sedikit bersabar menunggu pesanan mereka siap disajikan.
"Saya boleh izin ke kamar kecilnya nggak?" tanya pemuda yang masih memegang cup minuman.
"Boleh, kak. Terus aja ke belakang."
Bersamaan saat Syera akan berbalik kembali kedalam untuk menyerahkan pesanan kebagian dapur, pemuda itu berdiri dan kurang memperhatikan posisinya yang begitu mepet dengan Syera.
Tak sadar Syera menyenggol lengan pemuda itu hingga cup minuman yang masih berisi setengah itu tumpah mengenai lengan dan bagian depan kemeja putih milik Syera.
"Hakh! O'o..."
Sama seperti Syera, pemuda itu pun begitu terkejut karena kejadiannya begitu cepat dan tak terduga.
__ADS_1
Dingin dan beraroma. Belum lagi pakaiannya kini berwarna cokelat dan basah. Syera menepuk-nepuk kemejanya namun hal itu justru semakin membuat warna minuman itu melebar kemana-mana.
"Sorry!" ucap si pemuda menyatukan kedua tangannya meminta maaf pada Syera. "Aku nggak sengaja."
"Wah... Gila lo, bro. Tanggung jawab, lo. Kasihan, bro. Basah dan kotor. Ulah lo tuh, makanya hati-hati. Tanggung jawab," ucap salah satu teman pemuda itu.
"Maaf ya, aku benar-benar nggak sengaja tadi."
"Iya, kak. Nggak kenapa-napa, nanti aku bisa cuci bajunya. Aku yang salah karena sudah nyenggol tangan kakak tadi. Kalau gitu saya permisi ke dalam dulu, kak."
"Tu-tunggu. Tunggu sebentar."
Pemuda itu berlari ketempat dimana mobilnya diparkir. Ia mengeluarkan kunci dari saku jeans-nya untuk membuka mobil dan mengambil sesuatu dari dalamnya.
"Maaf ya," ucap pemuda itu lagi. Tanpa bertanya terlebih dahulu ia memakaikan jaket yang tadi ia ambil dari mobil pada Syera.
"Enggak usah, kak. Nggak kenapa-napa kok. Nggak usah," Syera berusaha menolak jaket yang dipakaikan padanya.
"Kamu nolak berarti kamu marah."
"Enggak, kok. Bukan gitu, kak."
"Jaketnya baru beli dan baru aku pakai hari ini. Jadi aman, cuman ada aroma parfumku yang nempel disini. So, please. Oke?"
Pemuda itu kembali membenarkan jaket ke tubuh Syera dan dengan sekali tarikan zipper-nya sudah berada di atas menutupi seluruh tubuh bagian atas Syera. Tak ada yang bisa dilakukan Syera selain pasrah. Ia melihat jika pemuda itu juga sepertinya seseorang yang keras kepala.
Setelah selesai pemuda itu membungkuk dan berbisik dekat telinga Syera. "Kemeja putihmu yang basah membuat pakaian didalamnya terlihat jelas. Lain kali jangan pakai kemeja putih."
Langsung saja Syera memeluk tubuhnya mendengar penuturan pemuda di hadapannya itu.
"Sudah pakai jaket jadi aman," goda si pemuda dan mengedipkan matanya pada Syera.
Merasa malu Syera berlari ke dalam untuk kembali bekerja. Sedangkan di seberang jalan dari dalam mobilnya Leo memperhatikan apa yang terjadi tanpa dapat mendengar yang mereka katakan.
Entah merasa sesak atau kepanasan Leo melonggarkan dasinya dan menatap tajam ke depan.
"Jalan!" perintah Leo.
"Kemana, tuan? Apa anda sudah selesai disini?"
"Em! Apartemen."
"Baik, tuan."
__ADS_1