Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Bukan Seperti Ini


__ADS_3

Jingganya senja berubah menjadi gelapnya langit malam bertabur kerlipan bintang. Sudah dua jam pula pria berpakaian serba hitam duduk di sudut restoran menatap kerah jalan dengan kepala berada dia atas meja.


Sebelah tangannya ia julurkan sebagai bantalan kepalanya. Sudah beberapa kali ia mengganti pesanan yang sama karena tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.


Pramusaji yang sedari tadi melayaninya hanya dapat elus dada akan tingkah pelanggannya itu. Tidak mungkin juga untuk mengusir pria itu karena setiap kali ia meminta pesanannya dibuat ulang maka akan ada satu lembar uang seratus ribu yang ia letakkan dibawah cangkir. Ia hanya mencicipi sedikit saja dan setelahnya meminta untuk diganti yang baru.


Saat akan berdiri karena kondisinya yang begitu lemah membuatnya oleng dan terjatuh. Sikunya ngilu karena mengenai ujung meja bahkan apa yang ada di atas meja kini sudah berserak di lantai. Ia kembali bangkit namun penglihatannya tidak dapat fokus.


Bruk...


Semua mata tertuju pada suara yang berasal dari meja disudut ruangan.


"To-tolongin," pinta ibu Linda pada seorang karyawan pria.


Gegas pria itu berlari untuk menolong dan merapikan benda-benda yang berjatuhan ke lantai lalu kembali bekerja.


"Potong gaji!" teriak Mery saat karyawan yang tadi masuk ke dapur membawa pecahan cangkir keramik ditangannya.


"Enak aja. Noh, pelanggan gila yang buat pecah. Makanya cepat buat pesanan itu orang biar cepat cabut dari sini," sungutnya.


"Emang siapa sih itu orang?"


Pak Apeng mematikan kompornya, ia penasaran pada pelanggan yang dimaksud. Bukan hanya pak Apeng ternyata, satu per satu karyawan meninggalkan pekerjaan mereka mengekori salah satu juru masak itu, tak terkecuali Syera.


"Syera, sekalian nih bawain air jahenya," panggil Mery mengingatkan.


Para karyawan berkumpul di dekat meja kasir membuat ibu Linda memicingkan mata.


"Itu orangnya?" tanya pak Apeng melihat kearah si pria.


"Em... Sudah, balik kerja. Nanti kalau sudah bosan pasti dia juga pergi," perintah ibu Linda.


Syera yang baru tiba meminta diberikan jalan karena pintu dari arah dapur di palang oleh karyawan bertubuh bongsor.


"Permisi, kak. Aku bawa pesanan nanti tumpah."


Kedua pria itu langsung bergeser.


"Bu, air jahenya diantar ke meja yang mana ya?" tanya Syera.


Menggunakan telunjuknya ibu Linda memberi tahu pada Syera meja pelanggan tersebut.


Bruk...


Tepat saat Syera mengarahkan pandangannya pada meja yang ditunjuk dan saat itu juga pria yang sedari tadi berada di sana ambruk saat mencoba untuk berdiri.


"Tuan, Leo?"


Trang...


Syera meletakkan apa yang ada ditangannya dan lari menghampiri Leo. Semua mata karyawan kini tertuju pada Syera.

__ADS_1


"Kerja!" tegur ibu Linda mengagetkan para karyawannya. Meski begitu penasaran akan Syera dan pria itu, mereka harus tahan karena pekerjaan. Mereka kembali melakukan apa yang menjadi tugas mereka.


Dari posisinya berada ibu Linda memperhatikan Syera yang sedang membantu pelanggannya.


"Apa tuan baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Apa anda butuh sesuatu?" sembari membantu Leo untuk duduk Syera terus bertanya.


"Tunggu sebentar."


Syera sedikit berlari untuk mengambil air jahe yang tadi ia letakkan di meja kasir.


"Ini. Minumlah."


Wajah pucat leo masih sama seperti tadi pagi dan matanya begitu sayu. Syera begitu kasihan melihat penampilan Leo yang seperti itu. Sangat berbeda dari Leo yang biasanya.


Leo hanya mencicipi sedikit dan meletakkannya lagi. Ia menggeser cangkir itu dan menaruh selembar uang seratus ribu dibawahnya.


"Bukan seperti ini," ucap Leo dengan suara paraunya. Ia berusaha untuk duduk tegap dengan mengangkat bahunya namun kondisi badannya tidak sekuat yang ia rasakan.


Jujur Syera bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Bukan berarti karena mereka tidak dekat apalagi dengan hubungan mereka yang tidak begitu baik lantas ia membiarkan Leo begitu saja.


Syera menggaruk tengkuknya menggunakan telunjuk dan duduk menghadap Leo dengan dibatasi meja. Ia semakin bingung karena masih dalam jam kerja. Saat ia menoleh pada ibu Linda, wanita itu mengangguk seperti memberi kode untuk membantu Leo.


"Apa tuan mau saya buatkan seperti yang sebelumnya?" tanya Syera pelan.


"Em."


"Aku akan membuatkannya. Tuan tunggulah sebentar," ucap Syera.


Baru beberapa langkah Syera kembali berbalik menemui Leo. "Tuan tidak akan pergikan? Tuan akan menunggukan?"


Saat membuka mata Leo sengaja melotot pada Syera sebagai peringatan untuk segera pergi dan melakukan apa yang tadi ia katakan.


"Maaf."


Syera meninggalkan Leo dan membuat minuman yang sedari tadi bolak-balik dibuat Mery.


Tangan Syera begitu cekatan, karyawan lainnya pun ikut memperhatikan apa yang sedang dibuat Syera. Mery yang berada di sebelahnya memperhatikan cara Syera menakar dan meracik minuman yang begitu mujarab untuk di minum saat kurang sehat ataupun tidak enak badan.


Langkah terakhir, Syera menuangnya ke dalam cangkir dengan cara menyaringnya.


"Selesai."


"Iya, selesai tapi bukan kamu yang buat," sanggah pak Apeng saat Mery mengatakan 'selesai'.


"His... Pak Apeng kalau ngomong jujur amat."


Pak Apeng hanya tersenyum sedangkan Syera sudah membawa minuman hasil racikannya untuk Leo.


"Ini."


Leo memperhatikan isi cangkir yang di berikan Syera dan sama persis seperti yang di buat Syera sebelumnya. Tidak menunggu lama Leo langsung meminum dan menghabiskannya tanpa sisa.

__ADS_1


"Apa tuan sudah makan malam?"


Leo menggeleng, wajahnya masih pucat belum lagi badannya yang terlihat lesu. Syera pergi ke dapur dan memesan sup untuk Leo.


Syera membawa nampan berisi sepiring nasi hangat, sup iga dan air putih hangat. Sup iga adalah andalan di restoran itu dan salah satu menu yang paling mahal dari menu lainnya. Syera tidak peduli dengan harganya karena ia tahu itu tidak seberapa untuk Leo. Akan tetapi jangan tanya bagi Syera, dia akan berpikir seribu kali untuk membelinya.


Mata Leo meneliti apa yang di bawa Syera yang kini sudah ada dihadapannya. Meski lapar tapi Leo sama sekali tidak memiliki selera untuk makan.


"Makanlah walaupun hanya sedikit," bujuk Syera dan menyelipkan sendok ke tangan Leo. "Tante Mila akan sedih jika melihat-"


Seketika leo membuang sendok di ditangannya dan membuat Syera terkejut.


Apa dia tidak suka aku membicarakan mamanya saat ini?


Meski canggung namun Syera mencoba bersikap tenang dan berharap Leo akan makan. Dia mengambil sendok yang baru dan memberikannya lagi ke tangan Leo.


Sudah hampir sepuluh menit Syera menunggu Leo untuk makan tapi sayang pria itu sama sekali tidak menggerakkan tangannya.


Sup iga sebentar lagi akan dingin dan rasanya pasti akan berbeda. Tak jauh dari meja mereka Syera melihat seorang ibu sedang membujuk anaknya untuk makan. Sang ibu terlihat begitu sabar menyuapi anaknya yang berusia sekitar lima tahun.


Syera mengambil alih sendok dari tangan Leo. Ia mengambil kuah sup dan menyodorkannya ke mulut Leo namun justru ditepis pria itu. Dan lagi sendok itu jatuh kelantai.


Seolah tertantang dan tidak menyerah Syera pergi mengambil sendok lagi dan bukan hanya satu tapi ia membawa tiga sendok baru. Sangking geramnya Syera memberanikan dirinya kali ini. Setidaknya ia ingin membalas kebaikan keluarga Suntama selama ini karena sudah menampung dan membiayai hidup serta sekolahnya sampai lulus SMA.


"Ayo, tuan."


Menggunakan nada yang sedikit menekan Syera mengulangi apa yang tadi ia lakukan.


"Anda boleh marah dan semakin membenci saya tapi untuk saat ini makanlah terlebih dahulu. Anda harus makan supaya bertenaga untuk merundung saya nantinya."


"Menyia-nyiakan makanan bukanlah hal yang baik. Anda mungkin tidak suka dan bisa membeli yang lebih mahal dari ini tapi banyak orang diluar sana tidak pernah membayangkan dapat memakan makanan seperti ini."


"Aku tidak lapar dan juga tidak memintamu melayaniku. Melihatmu saja sudah membuatku tidak selera," ketus Leo.


"Maaf kalau seperti itu. Ada banyak pekerjaan dibelakang yang harus saya lakukan dan tidak ada yang perlu saya lakukan lagi disini. Saya permisi dan satu lagi, jangan menyusahkan karyawan yang ada disini lagi."


Sedih bercampur emosi Syera meninggalkan Leo.


Syera menghapus air matanya menggunakan lengan sebelum masuk ke dapur agar tidak mengundang perhatian sesama karyawan.


"Dalam keadaan sakit saja dia masih tetap jahat. Kalau tidak selera melihatku dan makanan disini harusnya dia jangan datang ke restoran ini. Dari banyaknya tempat kenapa dia harus datang kemari?" gumam Syera mengasihani diri sendiri.


Tiga puluh menit berlalu dan Leo merasa begitu lapar namun makanan di hadapannya sudah dingin. Ia pun memanggil pelayan.


"Apa bapak butuh sesuatu?" tanya si pelayanan.


"Aku ingin menu yang sama seperti ini," tunjuk Leo menggunakan dagunya.


"Baik, pak. Saya akan ambilkan."


"Tunggu," cegat Leo. "Katakan padanya aku ingin makan dan suruh dia yang membawanya."

__ADS_1


"Dia? Maksud anda dia siapa?" tanya pelayan tak mengerti.


"Ck. Yang bernama Syera!"


__ADS_2