
Makan malam telah selesai bahkan sebelum pulang Fandy membelikan sebuah boneka Teddy bear besar untuk Syera. Fandy membeli boneka itu untuk menemani Syera di rumah Leo. Syera hanya bisa tertawa merasa lucu dengan apa yang dikatakan Fandy namun Syera sangat senang menerima boneka pemberian Fandy.
"Kamu yakin?" tanya Fandy andai saja Syera berubah pikiran.
"Yakin, kak."
Saat ini mereka sudah berdiri di depan pintu apartemen Leo bersama koper dan boneka Teddy bear.
Tettttt......
Fandy menekan bell tanpa melepaskan telunjuknya. Suara bell itu tentunya sangat mengganggu orang yang ada di dalam sana. Fandy menarik jarinya dan menekan kembali bell begitu lama.
"Kak, sudah. Kalau dia marahin kakak gimana?" larang Syera menarik tangan Fandy dari bell.
"Biarkan saja. Apa kau tahu, dia juga pernah melakukan hal yang sama."
Di dalam sana Leo yang sedang bersantai di depan televisi sampai melempar remote karena kesal seseorang menekan bell begitu lama.
Tidak peduli siapapun itu Leo sudah bersiap untuk memarahi orang itu tanpa ampun.
Klek!
Pintu dibuka dan wajah masam Leo langsung mengarah pada Fandy yang memegang koper. Leo yakin jika dialah pelakunya.
"Brengsek!" umpat Leo dalam hati. Ingin sekali di memberi satu tinjuan pada Fandy namun ada Syera di sana. Leo tahu jika dia melakukannya pada Fandy maka bisa dipastikan Syera akan merubah pikirannya.
"Masuk!" ucap Leo pada Syera.
"Ayo masuk," ajak Fandy membawa Syera ke dalam.
Orang yang diminta Leo untuk masuk adalah Syera namun Fandy tanpa peduli langsung menerobos kedalam.
Baik, lakukan sesukamu karena setelahnya aku yang pegang kendali.
Leo hanya berdiri menyandarkan tubuhnya ke dinding melihat apa yang dilakukan Fandy. Satu per satu kamar dibuka Fandy untuk melihat kamar yang digunakan Leo. Setelahnya Fandy memasukkan koper Syera ke kamar yang satu lagi karena memang hanya ada dua kamar disana, sama seperti di tempatnya.
Syera yakin saat ini Leo pasti sangat kesal, itu terbukti dari sorot mata pria itu yang terus mengawasi Fandy.
"Istirahatlah," ucap Fandy.
Sebelum pergi Fandy ingin memastikan sesuatu dan ternyata seperti apa yang diduganya. Fandy menghela nafas saat membuka kulkas dan melihat isinya.
Isi kulkas Leo hampir kosong. Hanya ada beberapa minuman kaleng. Sangat berbeda dengan isi kulkas di tempatnya, ada banyak bahan masakan dan cemilan yang di susun rapi oleh Syera.
"Kalau kamu butuh sesuatu kamu ingatkan harus datang kemana?"
Syera tersenyum dan mengangguk. Fandy begitu baik dan perhatian padanya. Akan tetapi di saat yang sama Syera tahu bergantung terus menerus pada Fandy tidaklah baik.
"Aku pulang dan kamu istirahatlah," ucap Fandy. Ia mengelus kepala Syera dan menatapnya dalam berharap jika saja Syera kemudian berubah pikiran.
"Iya, kak."
Meski berat tapi Fandy tidak ingin memaksakan kehendaknya. Fandy tidak peduli pada Leo, dia hanya melihatnya sekilas dan keluar meninggalkan Syera di sana.
Leo menyunggingkan senyum saat Fandy pergi. Leo ikut keluar dan setelah memastikan Fandy masuk ke apartemennya sendiri. Seperti ingin membalas, Leo menekan bell apartemen Fandy berulang-ulang.
Sebelum Fandy keluar Leo sudah masuk terlebih dahulu dan mengunci pintu.
__ADS_1
Brengsek!
Tidak ada yang dikatakan Leo pada Syera malam ini. Leo langsung masuk ke kamarnya untuk istirahat, sama halnya dengan Syera. Gadis itu memejamkan matanya sambil memeluk boneka beruang.
..........
Hoam...
Syera membuka mata, mengumpulkan kesadarannya. Tidurnya begitu nyenyak malam ini tidak terganggu akan apapun sama sekali. Tenggorokannya terasa kering dan merasa lapar. Seingatnya masih ada sepotong kue di dalam kulkas dan akan nikmat jika dimakan bersama teh hangat di pagi hari.
Ya. Syera tidak ingat jika saat ini dia sudah tidak berada di tempat Fandy.
Setengah sadar Syera bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Syera melewati Leo yang duduk di sofa begitu saja, ia pikir Leo adalah Fandy. Tangan kirinya menggaruk lehernya sedangkan tangan kanan membuka kulkas.
Kosong?
"Kak Fandy makan kuenya ya?" tanya Syera. "Isi kulkasnya kenapa tiba-tiba kosong, kak? Syera lapar."
Gadis itu menghampiri Leo yang masih dikiranya Fandy.
"Kak Fandy?" panggil Syera karena sedari tadi tidak disahuti.
Kak Fandy?
Leo kesal karena Syera mengira dirinya adalah Fandy.
"Apa di kepalamu hanya ada Fandy?" tanya Leo ketus.
".....?"
"Hakh! Maaf?"
Sadar dimana dia sekarang berada Syera mundur dengan kepala menunduk.
"Maaf, saya lupa."
"Duduklah," perintah Leo.
Leo membuka ponselnya dan memesan makanan melalui aplikasi online. Syera duduk manis dihadapan Leo.
Apa dia mengganti mejanya?
Syera melihat meja yang melukai kakinya kemarin sudah diganti dengan yang baru.
Leo meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap Syera yang membisu.
"Apa kau lapar?"
"Tidak, tuan. Saya belum lapar," bohong Syera menggelengkan kepala.
"Panggil aku seperti kau memanggil Fandy. Aku bukan majikanmu."
"Apa itu boleh?"
"Em. Lakukan itu mulai sekarang," jelas Leo. "Tidak banyak, hanya ada satu aturan yang harus kau lakukan disini."
Aturan? Apa ini seperti yang sering terjadi dalam novel fiksi yang aku baca? Apa hal itu juga berlaku untuk hubungan adik-kakak?
__ADS_1
"Mematuhi apa yang aku katakan. Itu aturan yang harus kau turuti, jangan membantah dan jadilah penurut. Apa kau paham?"
Syera mengangguk menyetujui begitu saja apa yang dikatakan Leo. Menurut Syera tidak ada yang salah akan hal itu, sudah seharusnya sebagai seorang adik dia mematuhi Leo.
Jujur Syera merasa sangat canggung dengan situasinya saat ini tapi dalam hati kecilnya dia merasa senang karena kini mempunyai seorang kakak. Syera berharap hubungan antara mereka berdua bisa seperti kakak adik pada umumnya.
Makanan yang di pesan Leo pun tiba, tanpa diminta Syera langsung menatanya dan menuang air dalam dua gelas. Satu untuk Leo dan satu untuknya. Syera mengambil sendok dan menyerahkannya pada Leo.
Keduanya makan dalam keheningan, tidak ada yang bersuara, sangat berbeda saat bersama dengan Fandy. Biasanya saat makan bersama mereka akan saling bertukar cerita atau membahas apa yang sedang terjadi.
Uhuk... Uhuk...
Leo tersedak, dengan sigap Syera menyerahkan air minum.
"Kak Fandy minum dulu," ucap Syera.
Gadis itu tidak sadar jika dia menyebut nama yang salah sedangkan Leo langsung mengerutkan wajahnya. Semakin menambah sangar wajahnya yang brewokan.
"Kak Fandy? Apa kau belum sadar yang ada di depanmu sekarang siapa?"
"Maaf, tuan. Saya belum terbiasa. Maaf?"
Meski kesal Leo menerima gelas yang diberikan Syera dan meminum isinya habis.
"Kak Leo! Apa sebegitu susah mengatakannya?" kesal Leo.
Keduanya kembali melanjutkan sarapan. Melihat gelas Leo yang sudah kosong Syera kembali mengisinya. Masih di pagi hari dan di hari pertama Syera sudah melakukan dua kesalahan.
Kesalahan pertama Syera adalah mengira jika masih berada di tempat Fandy, menganggap Leo adalah Fandy. Kedua, Syera salah menyebut nama. Syera menyebut nama Fandy di saat jelas-jelas yang duduk di hadapannya adalah Leo.
Syera membersihkan bekas makan mereka dan mencuci peralatan makan yang dipakai. Semua yang dilakukan Syera tak lepas dari pengamatan Leo. Apa yang dilakukan Syera seperti pemandangan baru baginya.
Biasanya selesai makan Leo akan menaruh bekas makannya di wastafel. Saat Leo pergi bekerja seorang pelayan akan datang untuk bersih-bersih.
..........
Pakaian dan barang-barang Syera masih berada dalam koper. Syera berpikir untuk merapikannya setelah pulang kerja nanti.
"Ayo Syera, kamu bisa!" Syera melihat penampilannya di cermin, selalu menyemangati dirinya.
Syera akan pergi kerja dan tentunya akan pamit pada Leo terlebih dahulu. Dalam hatinya Syera sudah berlatih puluhan kali menyebut kata 'kak Leo'.
Beruntung Syera masih mendapati Leo di luar kamar dan sedang memainkan ponselnya di depan televisi.
"Mau kemana?" tanya Leo tiba-tiba sebelum Syera pamit.
"K-kak, Syera mau kerja, kak."
"Kebetulan aku punya kerjaan untukmu."
"Maksudnya aku mau-"
"Itu. Bongkar dan bereskan isinya," tunjuk Leo pada tas gunung yang ada di dekat pintu kamarnya.
"Tapi Syera harus kerja di restoran, kak. Semalam aku nggak kerja, aku-"
"Jangan membantah."
__ADS_1