
Untuk kedua kalinya Leo melihat mamanya menangis sambil berteriak, menghancurkan barang-barang dengan emosi yang tak terkontrol. Leo seperti kembali ke beberapa tahun lalu saat papanya meninggal. Bedanya saat ini Leo dihadapkan dengan dua wanita yang begitu dicintainya.
Bibi Retno membantu Leo mengantar mama Mila ke kamar dan memberikan minum agar lebih tenang. Mama Mila terlihat lemah setelah luapan emosi yang ia keluarkan.
Leo mengambil gelas dari tangan mama Mila dan meletakkannya di atas meja yang berada di samping tepat tidur. Leo duduk menghadap mama Mila, menghapus bekas air mata mamanya dan mengusap-usap punggung tangan mamanya.
"Ma?" suara Leo begitu lembut memanggil mamanya. "Mama tahukan kalau Leo itu sangat sayang sama mama? Jangan melakukan hal seperti itu lagi, ma."
"Mama nggak akan berbuat seperti itu kalau bukan karena Syera dan wanita itu. Jangan salahkan mama karena mama sangat membencinya. Mama sudah cukup baik karena menerima dan menampung Syera saat itu dirumah kita. Mama menyesal kenapa saat itu mama tidak mengusir gadis itu saja sehingga tidak perlu ada kejadian seperti ini."
"Ma, jangan salahkan Syera. Dia juga nggak ngerti apa yang terjadi saat itu. Mamanya juga sudah meninggal, jadi percuma mama membencinya."
"Meninggal? Tahu dari mana kamu?" tanya mamanya sinis.
"Sebenarnya Syera sudah bertemu dengan mamanya tapi di hari itu juga mamanya meninggal karena kecelakaan. Syera tahu kalau dia bukan anak papa dari mamanya langsung."
"Dia merasakan apa yang suamiku rasakan. Apa Fandy juga tahu soal ini?"
"Fandy tahu soal mamanya Syera tapi dia nggak tahu kalau aku dan Syera bukan saudara kandung."
"Kamu sudah tahu kalau dia bukan adik kandungmu tapi kenapa masih membiarkannya tinggal bersamamu? Apa kamu sudah lupa seperti apa keadaanmu di hari papa meninggal? Apa kamu lupa kalau wanita yang bernama Wulandari itu juga ada di mobil yang sama dengan papa?"
Leo terkesiap karena selama ini ia tidak pernah menceritakan hal-hal mengenai kecelakaan papanya. Setiap informasi yang dulu ia peroleh disimpannya untuk ia sendiri, sekalipun tidak memberitahu mamanya.
"Kenapa? Kamu kaget mama tahu soal itu? Mama tidak sebodoh yang kamu pikirkan. Kesalahan mama karena telah membiarkan putri wanita itu tinggal di rumahku."
"Jangan seperti itu, ma?"
"Lupakan dia kalau masih mau melihat mama hidup!"
"Ma?" suara Leo mengiba.
"Saat kamu menemuinya lagi maka saat itu juga hari terakhir kamu melihat mama hidup!" tegas mama Mila.
"Tapi Leo sayang dia, ma. Leo rasa mama juga sudah terima keberadaan Syera. Iyakan, ma?"
"Rasa kemanusiaan. Itu juga karena selama ini mama pikir dia anak papa. Sekarang semuanya sudah jelas, dia hanya putri dari seorang wanita yang membuat papa kamu meninggal."
"Tapi-"
"Cukup! Tidak usah di perpanjang lagi. Jangan berhubungan lagi dengannya, lupakan dia. Ada banyak wanita diluar sana yang jauh lebih cantik dan menarik dari dia."
"Tapi dia yang Leo mau," ucap Leo sedih.
"Kalau begitu tidak ada pilihan lain, kamu akan segera melihat mayat mama!"
Leo menggelengkan kepalanya, ia tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Keluarlah, mama mau istirahat."
Leo menghapus air matanya dan membantu mamanya berbaring. Mamanya adalah wanita yang selama ini ada untukknya dan mensupportnya dalam keadaan apapun. Leo sangat menyayangi mamanya namun saat ini ada wanita lain juga yang ia sayangi selain wanita yang sudah melahirkannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Besok pagi kita pulang dan jangan memikirkan gadis itu lagi," pesan mama Mila saat Leo akan keluar dari kamar. "Fandy. Fandy bisa mengurus gadis itu."
Leo keluar meninggalkan mamanya untuk beristirahat. Ia berlari ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari keberadaan Syera. Tidak menemuinya di dalam villa, Leo mencarinya di luar. Berlari kesana-kemari tapi Leo tidak menemukannya juga.
Sambil mencari di sekitar villa Leo mencoba menghubungi ponsel Syera namun ponsel Syera sudah tidak aktif. Ia kemudian menghubungi ponsel Fandy namun hal yang sama juga terjadi.
Saat melewati tempat mobil diparkirkan Leo berhenti dan tidak menemukan mobil Fandy terparkir lagi di sana. Rasa khawatir Leo semakin menjadi-jadi, ia berlari kearah jalan dan dilihatnya sepi karena memang sudah malam.
Kaki Leo lemas, ia terduduk di atas tanah membiarkan tubuhnya diterpa angin malam yang menusuk hingga ke tulang. Ingin rasanya ia berteriak namun kekuatannya sudah tidak ada lagi.
Seseorang menepuk pundak Leo, mengusap-usapnya memberi kekuatan.
"Sebaiknya masuk ke dalam. Anginnya kencang dan tidak baik untukmu. Kau seorang pria, kau harus kuat dan tidak lemah seperti ini."
Pak Asep berdiri di samping Leo, menguatkannya dan ikut sedih dengan keadaan malam ini. Pak Asep membantu Leo berdiri dan menyuruhnya masuk ke dalam.
Pria yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu menatap punggung Leo yang berjalan lemas. Pak Asep merasa menyesal dan ikut menyalahkan dirinya sendiri. Meski tidak yakin tapi pak Asep menyesali perbuatannya.
Andai saja pak Asep tidak pernah mengirim foto setiap kali Syera naik kelas dan lulus sekolah maka Leo tidak akan mengingat Syera saat Leo berada diluar negeri. Andai saja pak Asep tidak pernah memberi tahu mengenai apapun tentang Syera selama Leo di luar negeri maka Leo tidak akan memikirkan Syera.
Pak Asep tidak yakin dengan apa yang ia pikirkan namun ia menyesali perbuatannya. Pak Asep sedih apalagi saat mengingat uang saku yang diberikan bibi Retno padanya selalu habis hanya untuk mengirim foto-foto Syera ke alamat Leo saat diluar negeri.
..........
Laju mobil yang cukup cepat membuat perjalanan dari puncak ke ibukota terasa begitu cepat. Sepanjang jalan Syera mengeluarkan air mata meski tangisnya tidak kedengaran.
Setiap kalimat yang diucapkan mama Mila, kemarahan dan kebenciannya akan Wulandari dan dirinya membuat Syera sedih. Tidak hanya itu, wajah Leo saat menangis memeluknya semakin membuat Syera hancur.
Hingga Fandy memarkirkan mobilnya di basemen air mata Syera masih saja mengalir. Fandy manangkup wajah Syera dan menghapus air mata yang sudah membasahi pipi.
Fandy tidak mengatakan atau bertanya apapun karena yakin Syera tidak akan menjawabnya saat ini. Fandy merapikan rambut Syera dan menyelipkannya kebelakang telinga.
Mata Fandy memicing diikuti kening yang mengkerut. Rambut panjang yang sudah dirapikan Fandy kebelakang telinga memperlihatkan leher Syera. Fandy mengeratkan rahangnya, tangannya terkepal dan amarahnya kembali naik. Tanda merah yang diberikan Leo di leher Syera semalam terlihat begitu jelas oleh Fandy.
Fandy memperhatikan wajah Syera, ia tidak menyangka jika Leo sudah melakukannya sampai sejauh itu.
Bukan dia tapi aku yang selalu ada untukmu dari dulu. Aku tidak bisa menunggu lagi, sekarang waktunya.
Rambut panjang syera dibuat Fandy ke depan untuk menutupi leher Syera. Fandy mengeluarkan ponselnya dan membuka salah satu aplikasi. Tiga puluh menit kemudian Fandy melepas seat-belt mereka dan membawa Syera keluar dari mobil.
Fandy tidak melepas tangan Syera hingga masuk ke apartemennya. Sekilas Syera melihat apartemen Leo sebelum masuk ke apartemen Fandy.
"Ayo minum," memberi Syera segelas air putih.
Syera menerimanya dan memperhatikan apa yang dilakukan Fandy dengan terburu-buru di kamarnya.
Pakaian, surat-surat berharga milik Fandy dan apapun yang menurutnya penting dimasukkan dalam koper. Terakhir, Fandy mengambil beberapa buku kecil dan tipis dari laci meja dan memasukannya ke dalam ransel.
Kunci mobil ia lemparkan begitu saja ke atas tempat tidur dan mengambil dua topi yang tergantung di dinding kamarnya.
"Ayo," ajak Fandy menarik tangan Syera.
__ADS_1
Syera tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Fandy, ia hanya melihat Leo menggendong sebuah ransel dan menarik koper keluar dari apartemen tanpa melepas tangannya.
"Cepat buka," Fandy meminta Syera menekan pin apartemen Leo.
Setibanya di dalam Fandy langsung masuk ke kamar Syera dan menurunkan koper Syera dari atas lemari.
"Ayo cepat kemasi barang-barangmu," pinta Fandy sembari membuka koper Syera.
"Enggak, kak. Aku nggak akan kemana-mana, aku akan nunggu kak Leo disini," menggelengkan kepalanya.
Tanpa tanya Leo membuka lemari dan memasukkan asal pakaian Syera ke dalam koper. Tas yang biasanya dipakai Syera saat ke kampus ikut dimasukan Leo ke dalam koper.
Syera menangis menggeleng-gelengkan kepalanya menahan tangan Leo memasukkan barang-barang miliknya ke dalam koper.
"Enggak, kak. Jangan, aku nggak mau, kak. Aku harus nunggu kak Leo disini. Kak Fandy jangan lakuin ini, Syera mohon," pinta Syera mengiba disela-sela isakannya.
Apa yang dimasukkan Fandy ke koper dikeluarkan oleh Syera. Fandy tak mau kalah, ia kembali memasukkan apa yang dikeluarkan Syera.
"Jangan, kak. Aku nggak mau," mohon Syera.
Fandy menahan tangan Syera, mengguncang lengannya agar mendengar perkataan Fandy.
"Syera, dengar! Dengarkan aku, sudah cukup sampai disini. Jangan menangis lagi," ucap Fandy.
"Tapi kak?"
"Kamu ingatkan kak Fandy pernah bilang apa? Kita akan berpetualang. Ya, kita akan berpetualang dan sudah saatnya kita pergi. Kita akan berpetualang ketempat dimana hanya ada kita berdua dan kamu tidak akan menangis lagi, kamu ingat itukan?"
"Kak?" panggil Syera lirih.
Fandy kembali memasukkan semua barang-barang yang dikeluarkan Syera ke dalam koper. Ponsel milik Syera yang sejak meninggalkan villa diambil alih Fandy dilemparkannya juga ke atas tempat tidur.
Fandy menghubungi petugas apartemen untuk membantunya membawakan koper kebawah.
"Ayo!"
Fandy memegang tangan Syera setelah seorang petugas apartemen datang. Diluar gedung apartemen sebuah taksi sudah menunggu dan tak perlu berlama-lama Fandy menuntun Syera untuk masuk terlebih dahulu.
"Sudah, pak?" tanya si supir memastikan.
"Sudah. Jalan, pak."
"Baik, pak. Maaf, tujuan kita kemana ya, pak?"
Fandy tidak melepas genggamannya pada tangan Syera. Ia melihat Syera duduk membisu di sampingnya dengan air mata.
"Bandara, pak!"
Spontan Syera menoleh dan Fandy menganggukkan kepalanya pada Syera.
Bandara?
__ADS_1