
Perbincangan antara Wulandari, mami Jelita dan Syera membuat mereka tak menyadari hari sudah semakin gelap. Tak satupun yang menyadarinya hingga ponsel milik Syera berdering.
Syera merogoh tasnya untuk mengambil ponsel dan menjawab panggilan itu. Baru saja ia mendekatkan benda pipih itu ke telinga, Syera sudah diserbu dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Kamu dimana? Kenapa tidak ada di apartemen, kenapa belum pulang? Apa terjadi sesuatu denganmu di luar sana? Atau jangan bilang kamu melarikan diri dariku?" cecar Leo dari seberang telepon.
"I-iya, kak, iya. Aku akan pulang sebentar lagi," sahut Syera.
"Tidak usah, katakan sekarang kamu dimana. Aku yang akan ke sana untuk menjemputmu."
"Nggak usah, kak. Aku pulang sendiri saja, aku bisa."
"Kamu yakin?"
"Iya, kak. Udah ya, aku matiin teleponnya."
Tut... Tut... Tut...
"Ha-halo... Halo?"
Belum lagi Leo selesai bicara Syera sudah mematikan sambungan telepon. Meski kesal tapi Leo tidak bisa berbuat apa-apa. Ia takut jika menelepon ulang Syera, membuat gadis itu marah dan justru pergi menjauh darinya.
"Ma, sudah malam. Syera harus pulang, lain kali kita bisa ketemu dan ngobrol lagi, iyakan?"
"Tapi mama masih kangen kamu sayang, mama masih mau sama kamu, sebentar lagi ya kamu pulangnya," pinta Wulandari. "Nanti biar mama yang antar kamu, sekalian mama juga mau ketemu tante Mila."
"Tapi Syera nggak tinggal dengan tante Mila. Aku nggak tinggal di rumah itu lagi sekarang."
"Jadi kamu tinggal dimana selama ini?" kaget mami Jelita. "Kenapa tidak pernah cerita soal itu sama mami? Kamu tinggal dengan siapa sekarang?"
Syera bingung saat akan menjelaskannya. Ia tidak yakin untuk memberitahu bahwa ia keluar dari rumah Suntama karena Leo dan sempat berpikir mencari kos-kosan. Tinggal berpindah-pindah dari yang semula di apartemen Fandy dan sekarang di apartemen Leo. Bahkan pagi tadi Syera berpikir untuk meninggalkan apartemen Leo dan mencari tempat baru untuk ia tinggal.
"Kenapa diam, kamu tinggal dimana sekarang?" tanya mami Jelita lagi.
"Dengan kak Leo. Syera tinggal di apartemen kak Leo sekarang," jawab Syera.
"Berdua?" gantian kini Wulandari yang kaget sedangkan mami Jelita biasa-biasa saja justru respon Wulandari yang membuatnya kaget.
"Iya, ma."
"Kenapa kau terkejut?" tanya mami Jelita pada Wulandari. "Bukannya itu bagus, ada yang jagain Syera. Syera bilang Leo itu selalu baik dari dulu padanya. Lagian mereka kakak-adik."
"Tapi mereka bukan kakak-adik," protes Wulandari. "Bagaimana ceritanya anak gadis tinggal dengan pria lajang dalam apartemen yang sama dan hanya berdua saja, itu tidak baik."
"Hei... Sebelum kau memberitahu yang sebenarnya hari ini, mereka itu punya hubungan baik sebagai kakak-adik. Jangan berpikir yang tidak-tidak, kau bisa membuat Syera takut dengan ucapanmu itu," ucap mami Jelita pada Wulandari.
__ADS_1
"Iya, ma. Aku baik-baik aja, jadi mama jangan khawatir," ucap Syera menenangkan mamanya.
"Apa kau tidak dengar Syera bilang akan pulang saat menerima telepon tadi, aku yakin orang yang bicara dengannya pasti Leo untuk menyuruhnya pulang karena susah malam. Dia sangat mengkhawatirkan adiknya, Syera."
"Tapi Syera bukan adiknya," protes Wulandari.
"Iya, tapi Leo tahunya Syera itu adiknya sampai saat ini. Kalau bukan karena bertemu denganmu hari ini Syera juga akan berpikir jika Leo itu kakak laki-lakinya."
"Mama nggak usah khawatir ya? Syera sangat senang bisa ketemu mama, aku rasa mama juga sama senangnya seperti Syera, iyakan? Jadi jangan pikirkan yang lain, oke?"
"Anak mami benar-benar sangat dewasa dan bijak," puji mami Jelita.
"Baiklah kalau kamu memang baik-baik saja di sana tapi kita bisa sering-sering ketemukan?" tanya Wulandari penuh harap.
"Pastinya. Kita akan sering ketemu jadi mama jangan khawatir."
"Ya sudah, kamu yakin tidak mau diantar mama pulang?"
"Syera yakin, ma. Syera bisa sendiri."
Wulandari memeluk Syera kembali, rasanya begitu berat saat akan berpisah lagi dengan putri yang baru bisa ia temui. Ia memeluk Syera begitu erat sambil menciumi pipi Syera.
"Ma? Syera pulang dulu, ya?" ucap Syera agar Wulandari melepas pelukannya.
Wulandari mengambil tasnya, mengeluarkan dompet dan sebuah agenda kecil.
Dari dalam dompet Wulandari mengambil sebuah kartu dan menyelipkannya dalam buku agenda itu.
"Ini ambil," menyerahkan agenda kecil itu pada Syera. "Ini milikmu," tegasnya.
"Ini apa, ma?"
"Ini milikmu dan bisa kamu lihat setelah sampai di rumah nanti. Kamu harus bahagia meski terkadang kenyataan tidak selalu sejalan dengan keinginan kita, paham?" pesan Wulandari.
"Syera nggak tahu ini apa tapi makasih buat hari ini, ma."
Syera memeluk mamanya dan mencium kedua pipinya. Saat akan pulang Syera mencium tangan mami Jelita dan Wulandari. Air mata Wulandari jatuh saat untuk pertama kalinya Syera mencium tangannya. Wulandari merasa tak ada lagi hal yang paling membagikan dari hari ini.
Wulandari tersenyum melambaikan tangannya saat Syera sudah masuk dalam taksi. Syera membalas dengan melambaikan juga tangannya dan memberi senyum terindahnya pada mamanya.
Terimakasih sudah jadi anak yang cantik dan baik. Terimakasih karena tidak marah bahkan membenci mama. Terimakasih, nak. Mama sayang kamu, nak.
..........
Klek!
__ADS_1
"Kenapa baru pulang? Kamu dari mana? Kamu nggak lihat ini sudah malam?"
Baru saja membuka pintu Syera sudah di cecar lagi dengan pertanyaan oleh Leo, bahkan posisi Syera masih berada diluar.
"Kak Leo juga baru pulangkan?" memperhatikan pakaian yang dikenakan Leo masih sama seperti tadi pagi.
"Enggak, selesai dari kantor aku langsung pulang. Tapi kamu, kamu yang hanya kuliah saja bisa pulang sampai pukul sembilan malam. Kamu keluyuran kemana seharian ini? Jangan-jangan kalau tadi aku nggak telpon, kamu mungkin nggak ingat pulang."
"Bukan cuman nggak ingat pulang, malah aku niatnya nggak akan pulang," ancam Syera.
Leo merutuki kebodohannya atas apa yang baru ia katakan. Bukannya membuat Syera merasa bersalah karena pulang malam, gadis itu justru membuat Leo menjadi takut mendengar apa yang dikatakan Syera.
"A-ayo masuk dulu," ajak Leo.
"Aku ngantuk, mau tidur."
Syera langsung masuk dan mengunci kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya, tersenyum menengadah ke langit-langit kamarnya.
Tidur hanya alasan yang dibuat Syera agar Leo tidak mengganggunya supaya bisa menikmati rasa senang bahkan bahagianya dia hari ini. Syera tidak bisa melupakan detik-detik saat bertemu orang tua kandungnya, wanita yang sudah melahirkannya.
Pelukan hangat mamanya masih dapat dirasakan Syera saat ini. Hari ini adalah salah satu hari yang paling membahagiakan buat Syera. Ia mengingat agenda kecil yang tadi diberikan Wulandari padanya.
Prang...
Tangan Syera terhenti saat akan membuka tasnya mendengar bunyi benda jatuh di luar. Penasaran apa yang terjadi Syera bangkit dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar.
"Kak Leo ngapain?"
Posisi Leo sedang berjongkok membelakangi Syera.
"Ha?" Leo langsung berdiri, menghadap Syera. "Bukannya kamu ngantuk, istirahatlah."
Syera kembali masuk ke kamarnya. Ia juga tidak mencoba untuk mencari tahu lebih lanjut. Syera kembali keluar dari kamarnya ingin ke kamar mandi. Posisi Syera yang sedang kebelet membuatnya berlari kecil dan tidak memperlihatkan apa yang sedang dilakukan Leo saat melewatinya di dapur.
Setelah selesai dari kamar mandi Syera mengerutkan keningnya melihat Leo berjongkok seperti yang dia lihat sebelumnya.
Akhirnya Syera mendekati Leo, mencari tahu apa yang dilakukan pria itu.
"Kak Leo ngapain?" kaget Syera.
"Ha?"
Leo juga kaget Syera sudah berdiri di dekatnya bahkan kaget dua kali lipat dari Syera.
"Kenapa bisa seperti ini?"
__ADS_1