
Hancur!
Piala kaca yang di dapat Leo sebagai penghargaan dari bukti salah satu pengusaha muda paling berpengaruh dalam dunia bisnis tinggal pecahan-pecahan kecil yang tak mungkin bisa disatukan lagi. Namanya yang terukir di piala itu sudah tak terlihat lagi.
Raut kesedihan terukir jelas di wajah Leo saat memungut satu pecahan piala yang sengaja ia letakkan di atas meja sebagai penyemangat bekerja dikala jenuh dan lelah menghampirinya. Piala yang sangat berharga bagi Leo karena ia mendapatkannya tidak dengan mudah.
"Kak, aku-"
Leo menempelkan telunjuknya dibibir lalu menunjuk Syera memberi kode untuk diam. Ia meraih gagang telpon di atas meja dan melakukan panggilan telepon.
"Suruh petugas kebersihan datang ke ruanganku," perintah Leo dan langsung memutus sambungan telepon.
Tangan Syera gemetaran karena sedari tadi Leo tidak mengatakan apa-apa padanya.
Tak lama Bima datang dan membawa seorang petugas kebersihan. Mata Bima langsung tertuju pada pecahan kaca dekat meja kerja Leo. Belum lagi mengatakan apa-apa Leo sudah memberi kode pada Bima agar membersihkan pecahan dilantai.
"Bersihkan dengan baik dan jangan ada yang tersisa," ucap Bima pada petugas kebersihan.
Leo memutar kursinya dan duduk membelakangi semuanya. Bima menahan diri untuk tidak bertanya ataupun mengatakan sesuatu karena tentunya dia tahu kapan saat yang tepat baginya untuk bicara ataupun bertanya.
Bima melirik Syera yang berdiri disampingnya. Syera menggelengkan kepala dengan wajah ketakutan.
"Aku nggak sengaja, kak. Aku yang buat itu pecah," ucap Syera.
Tangan Syera menggenggam erat pergelangan tangan Bima, meyakinkan jika dia sama sekali tidak berniat melakukannya.
Bima menghela nafasnya, dia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa pada Syera karena dia tahu benda yang hancur itu sangat berarti bagi Leo.
"Sudah, pak. Lantainya sudah bersih," ucap petugas kebersihan pada Bima.
"Keluarlah," perintah Bima.
Mendengar petugas kebersihan selesai dengan pekerjaannya Leo memutar kembali kursinya menghadap ke depan.
"Saya akan minta pihak penyelenggara penghargaan itu untuk mendesain yang baru untuk tuan."
"Apa aku seperti anak kecil yang butuh dikasihani karena mainannya dirusak?" sarkas Leo.
"Maaf, tuan. Saya tidak berpikir demikian tapi piala itu sangat berarti untuk tuan," ucap Bima.
Mata Leo menyorot tangan Syera yang memegang erat pergelangan tangan Bima. Leo tidak suka melihat itu sedangkan Syera hanya diam dengan kepala menunduk tidak berani melihat Leo.
"Keluarlah," perintah Leo dengan sorot mata yang begitu tajam. "Tidak ada tamu lain lagi untuk hari ini," pesan Leo mengingatkan.
Sorot mata Leo begitu mengganggu Bima, ia merasa sedang melakukan kesalahan tapi dia sudah minta maaf tadi. Barulah saat akan meninggalkan ruangan, Bima menyadari arti sorot mata tuannya itu.
Refleks Bima melepas tangan Syera dari pergelangannya, akan tetapi Syera kembali menggenggamnya.
"Baik, tuan. Saya permisi," ucap Leo menarik paksa tangannya.
__ADS_1
Syera memandangi Bima yang berjalan meninggalkannya dan Leo dalam ruangan besar itu. Syera bingung apa dia harus ikut keluar seperti Bima atau tetap berada di sana.
Lutut Syera semakin lemas saat pintu tertutup rapat sedangkan Leo tetap diam di kursinya.
"A-aku juga akan keluar," ucap Syera terbata.
Tanpa menunggu persetujuan Syera melangkahkan kakinya begitu cepat. Tangannya ikut bergerak cepat meraih handle pintu dan menekannya.
"Apa ini, kenapa nggak bisa dibuka?" batin Syera bolak-balik menekan handle pintu yang tak kunjung terbuka. "Ayo cepat terbuka," gerutu Syera dalam hati.
'Tidak ada tamu lain lagi hari ini' adalah kode yang biasanya dikatakan Leo saat tidak ingin bertemu dengan siapapun lagi. Baik dengan alasan karena lelah, sibuk, ataupun saat ia sedang bersama dengan orang penting. Saat Leo mengatakan kalimat itu berarti tidak seorangpun yang bisa masuk lagi ke ruangannya.
Ruangan itu akan dikunci Bima, menghindari jika sewaktu-waktu ada orang masuk karena Leo selalu lupa mengunci ruangannya.
Syera masih terus berusaha membuka pintu di depannya tanpa berani menoleh pada Leo.
"Gajimu di restoran tidak akan cukup mengganti handle pintu itu kalau rusak."
Syera menghentikan tangannya dan berbalik. Leo berdiri, melepas jasnya dan menggantungnya di kursi. Ia berjalan menuju sofa dan duduk tanpa melepas pandanganya dari Syera.
"Apa kau akan terus berdiri di sana?"
Leo memperhatikan meja di depannya, ada kantong kain yang jelas bukan miliknya.
"Ada apa, kenapa tiba-tiba datang kemari?"
Syera mengingat tujuannya dan menghampiri Leo.
"Untuk siapa? Untuk Fandy?"
"Yang ini buat kak Leo. Punya kak Fandy sudah dibawa kak Bima tadi, katanya kak Fandy lagi ada rapat diluar."
"Kau membuatnya untuk dua orang ternyata."
"Enggak, aku buat tiga. Untuk kak Bima juga ada tadi," jelas Syera.
Seperti dugaan Leo, Syera mana mungkin datang hanya untuknya. Hal yang tak mungkin terjadi.
Syera mengeluarkan kotak bekal yang dibawanya dan membukanya di depan Leo.
"Ini, kak. Sudah waktunya makan siang," ucap Syera menyodorkan kotak makan di tangannya pada Leo.
Leo menerimanya karena Leo sangat suka masakan yang dibuat Syera apalagi Leo juga belum makan siang.
"Duduklah," ucap Leo sembari menarik tangan Syera untuk duduk di sampingnya.
Syera menurut agar Leo tidak marah mengingat kesalahan yang tadi sudah dia lakukan. Diluar dugaan Syera karena Leo tidak membahas piala yang tadi pecah akibat ketidak hati-hatiannya.
Menyadari tidak ada air minum yang dibawanya membuat Syera mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Beruntung ternyata ada dispenser di sana. Syera berlari untuk mengambil air minum menggunakan gelas yang ada di atas meja kerja Leo.
__ADS_1
"Kau sudah makan siang?" tanya Leo saat Syera meletakkan gelas di meja.
"Belum, kak. Nanti aku makan siangnya di tempat kerja aja," jawab Syera.
"Di restoran?"
"Iya, kak."
Melihat Leo makan begitu lahap membuat Syera sangat senang. Itu artinya tidak sia-sia kedatangannya hari ini.
"Ayo makan," perintah Leo menyodorkan sendok berisi makanan pada Syera.
"Itu buat kakak," tolak Syera.
"Ayo makan, siapa yang tahu kau tidak memasukkan racun ke dalam makanan ini. Ayo makan," membuka paksa mulut Syera dan memasukkan makanan kedalamnya. Mau tidak mau Syera menerimanya karena mulutnya sudah dibuka Leo seperti mulut ikan koi.
Leo tersenyum setelah berhasil melakukannya.
"Aku tidak mau mati sendirian. Kau juga harus mati bersamaku, jadi makanlah."
"Syera mana mungkin masukin racun dalam makanan kak Leo," bantahnya.
"Sudah, diam dan makanlah. Menggigitku saja kau berani. Tidak ada yang tidak mungkin."
Syera tidak bisa lagi menjawab dan duduk manis di samping Leo.
"Ayo buka, apa harus seperti yang tadi?"
Syera pasrah dan membuka lagi mulutnya menerima makanan yang disodorkan Leo. Bergantian Leo menyendok makan ke mulutnya dan mulut Syera sampai isi kotak makanan habis.
Uhuk-Uhuk
Leo memberi Syera minum saat terbatuk dan meminum sisa air dalam gelas.
"Apa kau sudah kenyang?" tanya Leo mengarahkan jempolnya menyeka bekas makanan di sudut bibir Syera dengan tersenyum.
Syera tertegun atas apa yang dilakukan Leo. Syera langsung berdiri dari duduknya dan mengambil tasnya.
"A-aku harus pergi," ucap Syera namun saat itu juga Leo menahan tangannya. "Syera mau kerja, kak. Aku harus pergi sekarang."
Syera gugup, sekuat tenaga ia berusaha untuk tenang. Leo tidak boleh tahu apa yang ia rasakan saat ini.
"Tetaplah disini," pinta Leo lembut. "Aku ingin istirahat sebentar sebelum kembali bekerja, jadi tetaplah disini," pinta Leo lagi.
Leo melonggarkan sedikit dasinya dan merebahkan tubuhnya di atas sofa tanpa melepas pegangannya dari tangan Syera.
Syera mencoba menarik tangannya namun Leo menahannya terlalu kuat, tidak ingin melepas tangan Syera.
Kak, jangan seperti ini. Jangan bersikap seperti ini
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan komentarnya kak.