Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Apa Aku Bisa Memelukmu?


__ADS_3

Sesuai perintah, pagi hari sebelum ke kantor Bima terlebih dahulu menemui Leo di apartemennya. Ada beberapa hal yang mereka bahas termasuk mengenai perkuliahan Syera yang akan dilanjutkan kembali.


Semua yang dibicarakan Leo dan Bima di dengar jelas oleh Syera karena di suruh ikut bergabung dengan mereka.


"Hari ini urus semua keperluannya di kampus dan ganti namaku menjadi walinya. Carikan sopir untuk mengantar dan menjemputnya dari kampus."


"Baik, tuan."


"Tunggu. Aku akan naik kendaraan umum, aku tidak butuh supir untuk mengantar jemput," tolak Syera.


"Bagus kalau begitu. Selamat, Bima. Kau tidak perlu repot-repot mencarikan supir untuknya."


Dari cara Leo dan Syera bicara Bima merasa hubungan antara sepasang kakak adik itu belum sepenuhnya membaik.


"Pelayan yang biasanya bekerja disini, aku tidak membutuhkannya lagi."


"Maksud, tuan?"


"Ada dia yang akan melakukan pekerjaan rumah di sini," ucap Leo melirik pada Syera.


"Baik, tuan."


"Apa kau sudah melakukan tugas yang aku minta semalam?"


"Sudah, tuan. Surat-suratnya akan ditanda tangani hari ini. Setelah semua proses administrasinya selesai saya akan langsung memberi surat hak kepemilikan pada tuan."


"Bagus."


Meski penasaran dengan apa yang dibahas kedua pria itu tapi mana mungkin Syera menanyakannya.


Banyak yang dibahas Leo dan Bima namun Syera hanya mendengarkan saja. Syera hanya bicara sesekali saat membahas mengenai perkuliahannya.


..........


Hari berlalu begitu cepat, Syera sudah kembali ke kampus dan bekerja setelahnya. Awalnya Syera merasa sangat canggung saat kembali ketempat yang dulu pernah ditinggalkannya saat dikeluarkan oleh pihak kampus. Akan tetapi semuanya bisa dilalui Syera dengan baik.


Beberapa bulan tidak masuk kampus membuatnya cukup ketinggalan banyak mata kuliah tapi itu tidak masalah bagi Syera karena dia bisa belajar dengan cepat dan mengejar ketertinggalannya meski tak jarang dia harus begadang di kamarnya.


Hubungannya dengan Leo semakin hari semakin berjalan dengan baik meski terkadang ada perbedaan pendapat diantara mereka termasuk mengenai Fandy.


Seringkali Syera harus berbohong saat akan pergi keluar dengan Fandy atau hanya sekedar mengunjungi Fandy di apartemennya. Leo secara terang-terangan tidak mengizinkan Syera bertemu dengan Fandy tanpa dirinya ikut serta.


Contohnya saja seperti sekarang ini. Kebetulan jatah libur Syera bertepatan dengan akhir pekan. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Fandy untuk mengajak Syera keluar hanya untuk sekedar jalan-jalan, menghabiskan waktu bersama mengingat setelah Syera tinggal dengan Leo, mereka sangat jarang pergi bersama.


Leo tidak tahu jika Syera pergi bersama Fandy, dia tidak tahu jika Syera libur kerja hari ini. Setahu Leo gadis itu pergi untuk bekerja.


Syera dan Leo menikmati keseruan mereka mulai dari mengunjungi wahana permainan, menikmati jajanan pasar dan berakhir di bioskop.

__ADS_1


"Sambil nonton kita bisa istirahat sekalian. Kamu pasti capek."


"Iya, kak. Apalagi waktu naik wahana permainan tadi. Kaki Syera lemas dan hampir copot sangking gemetaran."


Fandy menahan tawanya mengingat saat Syera gemetaran dan menangis saat menaiki salah satu wahana permainan yang bernama roller coaster. Sangking gemetaran Syera tidak dapat menopang dan menggerakkan kakinya.


"Sudah, ayo."


Biasanya saat akhir pekan penonton bioskop pasti ramai tapi karena masih sore tidak begitu banyak yang menonton berbeda jika saat malam nanti mungkin.


Tidak ada yang aneh dari film yang diputar karena yang mereka tonton adalah film animasi. Sesekali Syera tertawa saat ada adegan lucu, berbeda dengan Leo yang entah sejak kapan sudah mengalihkan pandangannya pada Syera disampingnya bukan lagi pada layar besar di depan sana.


"Kamu suka film-nya?"


"Iya, kak."


Syera menyedot minuman ringan miliknya dan melihat Fandy sesaat.


"Kak Fandy nggak suka film-nya?"


"Em, aku suka film-nya tapi aku lebih menyukaimu."


"Ha?" kaget Syera mendengar perkataan Fandy.


"Aku lebih menyukaimu dari film itu," ulang Fandy.


Syera terdiam sejenak dan memikirkan maksud kalimat Fandy dan tak lama Syera tertawa.


Fandy hanya bisa tersenyum pada apa yang dikatakan Syera. Fandy ingin sekali jujur akan perasaannya tapi hal itu tidak mungkin ia katakan di saat mama Mila masih menentang perasaannya pada Syera.


Persetujuan mama Mila adalah yang paling penting. Saat mama Mila sudah memberikan lampu hijau maka mengenai Syera adalah hal yang mudah pikir Leo.


Usai dari bioskop keduanya pulang dan Syera mampir sebentar ketempat Fandy.


Tidak ada yang berubah semuanya masih masa, bahkan kamar yang Syera tempati masih tetap kosong.


"Kenapa kak Fandy nggak pindah ke kamar ini?"


"Itukan kamarmu."


"Tapi aku sudah nggak tinggal di sini lagi, kak. Kak Fandy bisa menggunakannya lagi seperti sebelum Syera datang dan tinggal di sini."


"Tapi aku masih menunggumu kembali ke sini."


"Kak? Jangan seperti itu. Kak Fandy tahu sendiri kan kak Leo orangnya seperti apa. Lagian kak Leo juga baik sekarang, Syera mau jadi adik yang baik juga. Syera sayang sama kak Fandy dan juga kak Leo. Punya dua kakak suatu karunia yang besar buatku."


"Meskipun diantara kita berdua tidak ada hubungan darah?" tanya Fandy.

__ADS_1


"Hubungan darah bukanlah segalanya dan penentu saudara itu saling menyayangi. Diluar sana banyak yang tidak punya hubungan darah tapi bisa saling menyayangi. Contohnya aja almarhum pak Bayu dan tante Mila, iyakan? Mereka sayang sama kak Fandy, sama seperti kak Fandy dan Syera juga."


"Huh.... Omonganmu buat kepalaku jadi semakin pusing. Kamu sudah seperti nenek-nenek yang sedang menasihati cucunya."


"Kak Fandy sakit?" menempelkan telapak tangannya di kening Fandy. "Apa kak Fandy butuh sesuatu?"


"Em, dan itu kamu. Apa aku bisa memelukmu? Aku yakin itu akan sangat ampuh," pinta Fandy.


"Tapi-"


"Nghh... Seperti ini lebih baik," ucap Fandy yang tiba-tiba sudah memeluk Syera. "Sebentar saja seperti ini," ucap Fandy begitu lembut.


Syera tidak bisa berbuat apa-apa. Fandy memeluknya begitu erat. Mungkin karena untuk pertama kalinya di peluk begitu erat membuat Syera begitu canggung.


"Sudah, kak. Syera harus pulang," mencoba melepaskan pelukan tapi sulit karena kedua tangan Fandy memeluknya begitu kuat.


Cukup lama mereka dengan posisi itu sampai akhirnya Fandy melonggarkan pelukannya dan melepas Syera.


"Pergilah sebelum aku melakukan kesalahan," ucap Fandy.


..........


"Kenapa lama sekali? Aku sudah hampir mati kelaparan menunggumu."


Baru saja Syera masuk sudah disambut oleh rengekan Leo. Pasalnya pria itu sudah sejak tadi kelaparan dan menunggu Syera pulang supaya membuatkan makanan untuknya.


"Kak Leo belum makan?"


"Menurutmu?" ucap Leo kesal.


"Maaf, Syera pulangnya agak lama, kak. Tapi kenapa tidak pesan makanan dari luar kalau kakak lapar?"


"Aku tidak suka makanan dari luar."


"Bukannya dulu-"


"Itu dulu beda dengan sekarang. Salahmu sendiri selalu masak, meski sederhana tapi rasanya enak dan aku suka masakan rumahan yang kau buat," gerutu Leo.


Syera melepas tasnya dan meletakkannya di atas sofa tak jauh dari posisi duduk Leo.


"Kak Leo mau makan apa?" tanya Syera sambil mengobrak-abrik isi kulkas.


"Apa kau punya daftar menu seperti di restoran tempatmu bekerja? Buat saja apa yang menurutmu bisa aku makan."


Sambil bicara Leo membuka tas Syera dan tangannya menyusup kedalam mengambil benda yang dicarinya. Leo begitu berhati-hati agar tidak dilihat oleh Syera.


"Jangan lama," ingatkan Leo dan setelahnya masuk kedalam kamar membawa ponsel Syera.

__ADS_1


..........


Jangan lupa kasih like dan komentarnya kak, saya butuh semangat nih buat lanjutin ceritanya😪


__ADS_2