Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Jawab Dengan Jujur


__ADS_3

Tup!


"Astaga!" kaget Syera saat Leo menutup kuat pintu. "Kenapa jadi dia yang marah? Bukannya seharusnya dia berkata 'maaf' dan 'terimakasih'?"


Hari Syera terasa begitu panjang hari ini. Ia begitu lelah dan segera ingin istirahat. Setelah membuka pintu ia berjalan mengendap-endap agar Fandy tidak melihatnya pulang terlambat.


Tangannya baru mencapai handle pintu kamar saat seseorang membuka pintu apartemen.


"Kak Fandy? Kakak baru pulang?"


"Em. Ada banyak pekerjaan di kantor ditambah lagi direkturnya tidak masuk kerja."


"Kak Fandy butuh sesuatu?"


"Aku sudah makan di kantor tadi. Aku akan mandi dan langsung istirahat. Kamu juga sebaiknya istirahat sana," ucap Fandy.


"Iya, kak."


Sangking lelahnya Fandy tidak menyadari jika Syera juga baru tiba dan bahkan sebuah tas kain masih menggelantung di bahu gadis itu.


"Aku bikinin teh hangat ya, kak."


"Ya sudah. Aku mandi dulu."


Syera meletakkan tasnya di sofa dan membuat teh yang tadi ia maksud. Setelah selesai ia meletakkannya di atas meja dan menunggui Fandy selesai mandi agar tidak lupa untuk meminumnya.


Saat Fandy keluar dari kamar mandi Syera memberikannya untuk di minum.


"Makasih," ucap Fandy. "Apa kau sadar kalau perbuatanmu ini sudah seperti seorang istri yang mengurus suaminya?" gelak Fandy. Ia ingin melihat bagaimana respon Syera terhadap ucapannya.


"Hihihi... Dan aku yakin pasti ada banyak perempuan diluar sana yang akan cemburu jika mereka tahu bagaimana manis dan lembutnya kak Fandy memperlakukanku. Tapi tenang aja, aku akan jagain kakakku ini dengan baik untuk satu wanita beruntung itu."


Fandy mengulas senyum namun ada rasa kecewa di hatinya. Bukan tanggapan seperti itu yang Fandy ingin dengar. Spontan Fandy menarik lengan Syera mendekat padanya sedangkan tangan yang satu lagi masih memegang cangkir berisi teh hangat. Syera cukup terkejut dan menatap Fandy dengan wajah bingungnya.


Syera semakin merasa bingung saat tatapan Fandy begitu lekat menatapnya.


"Kak Fandy kenapa lihat aku seperti itu?"


Kedua mata Syera melotot melihat Fandy semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Syera.


"K-kak Fandy mau apa?"


Jarak wajah keduanya sudah begitu dekat membuat Syera gemetaran. Ia dapat merasakan hembusan nafas Fandy menyapu wajahnya. Tatapan Fandy yang semula tertuju pada mata Syera kali ini turun pada bibir ranum gadis itu.


"Hakh! Kak?"


Syera merasa ada yang tidak beras dengan Fandy soalnya kini tangan yang tadi menarik lengannya sudah melingkar di pinggang Syera.


Tatapan Fandy kembali menjurus pada manik Syera.


"Jawab dengan jujur, jaket siapa yang kamu pakai ini?"

__ADS_1


"Hah? Auw... Kak!"


Syera kembali terkejut karena tiba-tiba Fandy melepas tangannya dari pinggang Syera begitu saja hingga gadis itu terhuyung dan hampir terjatuh.


"Ayo, jawab. Itu jaket siapa?" tanya Fandy sembari menyeruput teh ditangannya.


Raut wajah Syera begitu kesal. Ia sudah ketakutan sedari tadi karena apa yang dilakukan Fandy padanya dan ternyata pria itu hanya ingin tahu mengenai jaket yang Syera pakai. Syera yang kesal langsung meninggalkan Fandy dan masuk ke kamar tanpa menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.


"Syera... Ayo jawab, jaket yang kamu pakai punya siapa?"


Fandy mengejar Syera hingga ke depan pintu kamar. "Kamu kenapa? Syera... Syera?" panggil Fandy mengetuk pintu kamar Syera.


"Punya orang gila. Udah, Syera ngantuk. Syera mau tidur," cerosos Syera.


Syera menjatuhkan tubuhnya di kasur, ia benar-benar sangat lelah. Badannya begitu malas bergerak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Hoam... Aku ngantuk. Tidak apakan kalau tidak mandi sekali ini, toh tidak akan ada yang tahu."


Syera menarik selimut dan jadilah ia tidur tanpa terlebih dahulu mandi. Sepertinya Syera sudah lupa jika tadi ia terkena muntahan bahkan celana jeans-nya saja belum ia ganti.


..........


Pukul tujuh pagi Bima sudah berada di apartemen Leo. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit Bima menunggu hingga Leo bangun dan keluar dari kamarnya. Leo berjalan menuju bagian dapur untuk mengambil air minum dengan wajah khas orang baru bangun tidur.


"Kau disini?"


"Iya, tuan."


"Maaf, tuan. Kemarin saya hanya berada setengah hari di kantor. Selebihnya saya serahkan pada pak Fandy."


"Wah, hebat! Kau ada kemajuan menjadi sekretaris pembangkang sekarang. Apa kau bertemu seorang gadis dan berkencan disiang bolong?"


"Bukan, tuan. Ini." Bima memperlihatkan beberapa foto pada Leo.


"Apa kau mendapat informasi tambahan?" tanya Leo mengernyitkan dahi melihat beberapa foto dan salah satunya foto saat Bima terlihat sedang berbicara pada pak Ferdy sebagai bukti kemana dan apa yang ia lakukan saat tidak berada di kantor.


"Saya hanya berbicara sepuluh menit dengan pak Ferdy. Sepertinya beliau juga sedang diawasi oleh seseorang."


"Dia bilang apa?"


"Pak Ferdy pesan agar anda menjaga Syera dengan baik. Sebenarnya pak Bayu pernah berkata pada beliau jika almarhum papa anda miliki seorang putri dengan Wulandari. Mengenai keberadaan anak itu pak Ferdy tidak tahu pasti tapi ia rasa Syera adalah orangnya."


"Apa kau mau bilang kalau gadis bernama Syera itu benar adalah adikku? Anak papa dari wanita lain yang bernama Wulandari?" tanya Leo memperjelas.


"Saya rasa seperti itu, tuan. Sebaiknya anda bersikap baiklah pada dia. Sebagai seorang kakak, anda-"


"Pergilah," sela Leo menghentikan ucapan Bima.


Leo kembali masuk ke kamar dan mengunci pintu. Dugaannya selama ini ternyata benar tapi mengapa Leo merasa sakit dan tak terima mendengar apa yang tadi diberi tahu Bima?


Leo meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Halo, nak?" sapa mama Mila dengan suara bergetar saat menjawab panggilan telepon Leo


"Ma? Apa mama ada di rumah? Leo mau ketemu dengan mama."


"Iya. Mama di rumah sayang, mama akan tunggu kamu," ucap mama Mila menahan tangis.


Mama Mila senang karena Leo menghubunginya, ia sudah tidak sabar ingin bertemu anak yang ia lahirkan itu.


Setelah menunggu beberapa lama akhirnya Leo tiba dan langsung disambut pelukan hangat dari wanita yang sudah melahirkannya. Mama Mila menangis memeluk Leo begitu erat, ia minta maaf dengan kejadian tempo hari. Melihat mamanya menangis sambil meminta maaf Leo benar-benar tidak tega.


"Mama tidak salah tapi Leo sendiri yang terlalu kekanak-kanakan. Sudah seharusnya mama mukul Leo jadi mama jangan nangis lagi ya," pinta Leo menghapus air mata mamanya.


Bibi Retno datang membawa dua gelas minuman dan meletakkannya di meja yang ada di ruang keluarga. Ia terharu menyaksikan hubungan antara ibu dan anak itu sampai tak sadar ia ikut menitikkan air mata.


Mama Mila mengajak Leo mengobrol santai di ruang keluarga. Tak lupa mama Mila menanyakan keadaan putranya itu karena Leo terlihat kurang fit terbukti dari Leo yang selalu bersin-bersin dan suara bindengnya namun Leo selalu saja akan mengatakan jika ia baik-baik saja.


"Ma?"


"Kenapa, nak?"


"Leo mau tanya sesuatu tapi mama janji harus jawab dengan jujur."


"Tumben. Memang kamu mau tanya apa?"


"Syera."


Mama Mila tertegun. Untuk pertama kalinya Leo membicarakan mengenai Syera. Selama ini Leo justru tidak ingin mendengar dan jangan ada yang membahas tentang gadis itu saat ada dia namun sepertinya berbeda kali ini.


"Sebenarnya Syera siapa, ma? Sejak hari itu Leo dan mama tidak pernah bicarain soal dia. Leo yakin mama pasti tahu sesuatu, iyakan?"


"Tapi kamu-"


"Ma? Leo mau tahu entah tentang apapun itu. So, please?"


"Maafin mama," ucap mama Mila menghela nafas. "Sebenarnya papa kamu menikah dengan mama karena terpaksa. Tepatnya karena dijodohkan oleh orang tua kami."


"Bukan itu yang Leo mau dengar, ma. Lagian aku yakin papa pasti cinta sama mama, buktinya ada Leo, iyakan?"


"Sebenarnya papa kamu sudah memiliki kekasih dan akan segera menikahinya saat opa kamu menjodohkan mama dan papa. Opa kamu tidak terima dengan wanita pilihan papa kamu karena wanita itu bukan dari keluarga terpandang. Singkat cerita kami menikah dan mama sangat mencintai papa kamu meski mama tahu kalau papa masih berhubungan dengan wanita itu. Untuk membuat papamu jauh darinya mama menemui wanita itu, memintanya agar menjauh dan melepas papa. Hal itu berhasil dan mama berterimakasih meski lagi-lagi mama tahu papa kamu masih tetap memikirkan wanita itu," tutur mama Mila kembali menghela nafas.


"Terus Syera itu benar anak papa?"


"Beberapa tahun setelah kamu lahir papa kamu kembali bertemu dengan wanita itu lagi. Mama tidak tahu bagaimana ceritanya dan apa yang terjadi. Saat itu mama hanya mengikuti papamu dan ternyata dia menuju kesebuah klinik bersalin. Mama melihat papa kamu menjemput wanita itu dan papa kamu menggendong seorang bayi sambil tersenyum."


Mama Mila tidak dapat menahan tangisnya. Sudah bertahun lamanya ia mengetahui hal itu tapi karena Bayu, suaminya selalu bersikap baik mama Mila memilih diam yang penting Bayu tetap menjadi suaminya dan selalu ada buat mama Mila dan anaknya.


"Nama wanita itu siapa, ma?"


"Wulandari. Namanya Wulandari dan setelah saat itu mama tidak pernah dengar dan mau tahu tentang dia. Baru saat kecelakaan papa kamu terjadi dan pak Ferdy membawa Syera ke rumah mama dengar lagi mengenai wanita itu. Wanita itu adalah ibunya Syera, wanita yang juga berada di mobil papa kamu saat kecelakaan terjadi tapi menghilang begitu saja saat berada di rumah sakit."


"Itu artinya benar Syera adik Leo?"

__ADS_1


Mama Mila lagi-lagi hanya menghela nafasnya mendengar pertanyaan Leo.


__ADS_2