
"Badannya saja yang besar dan tinggi tapi kelakuan masih seperti bocah. Dia punya tangan tapi kenapa disuapi?" cibir Mery berjalan meninggalkan restoran.
Waktu beroperasi restoran sudah selesai. Satu persatu karyawan sudah pulang. Pintu restoran juga sudah ditutup. Akan tetapi masih ada tiga orang di dalamnya. Ada Syera dan pemiliknya serta Leo yang sedang menikmati makan malamnya.
Saat Leo meminta pesanannya dibuat ulang dan meminta Syera datang kemejanya lagi, gadis itu justru dengan berani mengabaikannya. Syera terus melakukan pekerjaannya di belakang hingga selesai. Dia pikir Leo akan bosan dan pulang begitu saja karena kesal atau marah menungguinya namun sayang Leo tak kunjung pergi meski sebenarnya dia sudah sangat marah.
Melihat keberadaan Leo yang masih terlihat lemah Syera akhirnya membuatkan sup yang baru. Untung saja masih ada nasi di penanak.
Tak lupa Syera meminta ijin kepada ibu Linda sampai Leo selesai makan. Wanita itu tidak keberatan selama itu demi kebaikan. Hitung-hitung pelayanan ekstra bagi pelanggan apalagi Syera mengatakan jika pria yang ada di sudut ruangan itu adalah salah satu keluarganya.
"Yang di mulutku saja belum selesai aku kunyah dan telan," keluh Leo karena Syera menyodorkan lagi sendok berisi makanan saat mulutnya masih berisi.
"Kalau begitu cepatlah sedikit atau setidaknya makanlah sendiri."
"Kalau aku tidak sakit dan bertenaga aku tidak akan mau menerima makanan dari suapanmu. Lagian siapa yang memaksaku untuk makan tadi?" cecarnya.
"Tapi itu tadi bukan sekarang. Nanti bus yang saya tumpangi akan lewat dan kak Fandy pasti khawatir saya pulang terlambat seperti kejadian di lift tempo hari."
"Kau bisa telepon dia dan bilang agak pulang terlambat. Selain itu masih ada banyak taksi yang lewat. Apa kau sebegitu menyayanginya dan tidak ingin membuatnya khawatir?" tanya Leo meninggikan suaranya sampai ibu Linda memperhatikan ke arah mereka.
"Sudahlah. Aku sudah kenyang, aku tidak mau makan lagi."
"Tapi tuan masih makan dua sendok, anda harus makan lagi."
"Sebenarnya maumu apa? Sebentar menyuruh bahkan memaksaku untuk makan tapi kau juga tidak sabaran ingin pulang. Aku sudah selesai dan kau bisa pulang menemuinya."
Leo beranjak dari duduknya dan dengan sigap Syera menahannya. Syera menahan kesal agar tidak membuat suasana semakin ribut apalagi masih ada ibu Linda yang sedang menghitung pendapatan restoran hari ini di meja kasir.
"Ma-maaf. Saya minta maaf tapi tolong tuan kecilkan sedikit suara anda. Saya hanya karyawan disini," pinta Syera.
"Itu bukan urusanku. Besok juga tempat ini bisa aku beli atau mungkin sudah rata dengan tanah."
Syera menelan liurnya. Jangankan membayangkan, mendengar perkataan Leo barusan saja sudah membuat Syera ketakutan. Ia tidak ingin karena dirinya maka sesuatu yang buruk terjadi pada orang lain seperti sebelumnya.
Tidak bisa dibayangkan jika apa yang dikatakan Leo tadi menjadi kenyataan. Ibu Linda akan menangis dan para karyawan harus kehilangan pekerjaan mereka termasuk dirinya sendiri.
Syera akhirnya berhasil membujuk Leo dan menemaninya hingga selesai makan. Gadis itu juga tidak lupa untuk meminta bayaran dan memberikannya pada ibu Linda.
Sudah tidak ada lagi bus ataupun angkutan umum, Syera melirik ke kanan dan ke kiri. Ia memutuskan untuk naik ojek online meskipun sebenarnya ia takut karena pernah hampir dijambret saat pertamakali memakai jasa ojek online.
"Tuan, pulanglah. Saya juga akan pulang."
"Panggilkan aku taksi," ucap Leo yang berdiri di samping Syera. "Aku tidak membawa mobil tadi. Aku tidak punya kekuatan untuk menyetir jadi bagaimana aku membawa mobil."
Benar saja dengan kondisinya, Leo tidak mungkin mengemudi. Akan sangat berakibat fatal jika mengemudi di saat tubuh tidak dalam keadaan sehat karena akan menggangu fokus dan konsentrasi.
Beruntung ada taksi yang lewat. Syera menghentikannya dan menyuruh Leo untuk masuk.
"Cepat masuk," perintah Leo justru menyuruh Syera masuk deluan. "Jangan salah, aku bersikap baik bukan karena ingin tapi siapa yang tahu jika sesuatu mungkin saja terjadi denganku dijalan nanti.
__ADS_1
"Cepat. Aku kedinginan," paksa Leo memeluk tubuhnya. Mau tidak mau Syera mengikuti perintah Leo lagian hal itu lebih baik dari pada harus naik ojek online meski ia tahu Leo akan terus mengatainya.
Kondisi tubuh yang tidak fit ditambah guncangan saat tak sengaja ban taksi mengenai lubang membuat Leo merasa mual. Leo memijit kepalanya, lehernya begitu tegang apalagi ia belum mengkonsumsi obat sama sekali. Ia semakin merasa mual dan ingin muntah.
Leo mencoba menahan mualnya dengan cara menutup mulutnya namun tidak berhasil.
"Aku ingin muntah," ucap Leo menoleh pada Syera.
"Ha?"
Hoek... Hoek...
Belum sempat Syera meminta supir untuk berhenti Leo sudah terlebih dahulu mengeluarkan muntahnya.
"Berhenti, pak. Tolong berhenti sebentar," pinta Syera.
Syera kesal dan ingin rasanya ia marah tapi itu hanya ada dalam angannya saja. Bagaimana tidak, muntahan Leo mengenai bagian depan bajunya.
Buru-buru Syera membuka jendela mobil agar Leo mengeluarkan kepalanya dan memuntahkan lagi apa yang masih tertahan. Dan lagi sebelum Leo melakukan apa yang dikatakan Syera pria itu sudah mengeluarkan muntahannya dan kali ini mengenai celana jeans Syera.
Hoek... Hoek...
Tubuh Leo sungguh tak berdaya, ia lemas dan tak mampu menopang tubuhnya. Ia menjatuhkan kepalanya di atas lutut Syera tak jauh dari ceceran muntahannya. Apa yang tadi ia makan ia keluar semua.
"Apa sudah selesai?" tanya Syera memijit pelan leher Leo. "Apa masih ada lagi? Kalau sudah selesai sebaiknya angkat kepala anda, ada muntahan di dekatnya."
Syera membantu mengangkat kepala Leo dan menyenderkannya ke kursi. Mata Syera memicing melihat pakaiannya dari atas hingga kebawah.
Hoek... Hoek...
Lagi-lagi Leo menumpahkan muntahannya pada Syera.
"Sudah, cukup. Jangan muntah lagi," sungut Syera.
Tak lama supir taksi berhenti di depan sebuah apotik. Pak supir merasa kasihan pada Syera karena bajunya penuh muntahan sedangkan ia melihat Leo dengan tatapan sinis.
"Apa anda akan masuk ke apotik dengan pakaian seperti itu?" tanya pak supir pada Syera.
Leo yang merasa sangat pusing menoleh pada Syera dan matanya meneliti pakaian gadis yang ada di sampingnya itu.
"Kau," tunjuk Leo pada supir taksi. "Keluar sebentar dan jangan masuk sebelum disuruh."
"Hei, ini taksiku. Enak saja menyuruhku keluar. Kau saja yang keluar. Lihat lantai taksinya, kotor dan bau. Kau harus tanggung jawab dan membersihkannya nanti," geram si supir.
"Keluarlah selagi aku memintanya dengan baik."
"Kenapa saya harus keluar?"
Amarah Leo merasa di pancing namun ia sadar jika kondisinya begitu lemah dan tidak cukup kuat meladeni si supir.
__ADS_1
"Dia akan ganti baju," ucap Leo menoleh pada Syera.
Sambil menggerutu supir taksi akhirnya keluar dan berdiri membelakangi pintu samping kemudi. Setelah itu Leo membuka jaketnya dan meletakkannya di antara ia dan Syera.
"Cepat ganti dengan itu."
"Kalau gitu tuan juga harus keluar dari sini. Saya harus membuka atasan saya."
"Apa aku harus keluar dengan kondisi seperti ini? Cepatlah ganti. Aku tidak lihat dan tidak akan mau lihat karena tidak ada yang perlu untuk di lihat."
Leo memutar tubuhnya dan memunggungi Syera agar gadis itu segera mengganti pakaian. Melihat Leo yang sudah memunggunginya, Syera langsung membuka pakaian atasnya berhati-hati menghindari wajahnya dari muntahan Leo.
Kaos berkerah dan berkancing depan itu Syera angkat keatas, mengeluarkannya melalui kepala. Syera melakukannya pelan. Tanpa sengaja saat Leo menghadap ke arah jalan dan melihat keluar melalui jendela kaca taksi, Leo melihat bayangan Syera dari jendela kaca tersebut.
Leo diam tertegun melihat bayangan tubuh Syera yang menampilkan perut ratanya. Leo tak melepas pandanganya dan juga tidak berniat menutup matanya hingga Syera selesai melepas dan mengganti pakaian dengan jaket Leo.
Setelah selesai Syera membersihkan celananya menggunakan baju kotornya tadi dan pergi pergi ke apotik. Tak butuh waktu lama Syera sudah kembali dan memberi apa yang dia beli tadi pada Leo.
"Ayo, minum. Ini obat sakit kepala dan mual."
Tanpa membantah Leo menuruti perkataan Syera. Ia juga sadar jika kondisi tubuhnya saat ini sangat membutuhkan yang namanya obat.
Syera memanggil kembali supir taksi untuk mengantar mereka pulang. Mungkin karena pengaruh obat, Leo pun tertidur di pundak Syera selama di perjalanan hingga tiba di depan gedung apartemen.
"Gimana, mba. Sudah nyampe ini alamatnya," tegur pak supir.
Syera tahu tujuan mereka sudah sampai masalahnya tidur Leo begitu nyenyak dan membuat Syera kasihan tak tega membangunkannya.
"Dia siapanya, mba?"
"Saudara saya, pak."
Tanpa ragu Syera mengatakan Leo adalah saudaranya. Perlahan ia menepuk-nepuk lengan Leo agar bangun dan keluar dari taksi.
"Ongkosnya, bos. Sekalian buat bersihin bekas muntahannya," tagih supir taksi pada Leo.
"Berapa?" tanya Leo ketus.
"200 ribu."
Tangan Leo begitu kasar membuka dompetnya. Lima lembar seratus ribu ia ambil dan ia letakkan di atas taksi. Leo sengaja memukul dengan kuat bagian atas taksi saat meletakkan uang itu.
Supir taksi hanya berdecak namun ia merasa sangat beruntung malam ini.
"Apa kau tidak bisa mencari supir taksi yang lebih baik dari dia?"
"Sudahlah. Ayo," menarik tangan Leo. "Dia hanya minta 200 ribu tapi kenapa memberinya 500 ribu?"
"Itu salahmu. Lain kali pilih taksi yang bukan dia supirnya," tegas Leo berjalan mendahului Syera.
__ADS_1
"Lain kali?" pikir Syera dan menyusul langkah Leo.