Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Aku Suka


__ADS_3

Orang yang sama tapi kini wajahnya berbeda dari beberapa jam lalu. Jika saat pergi berbelanja tadi Syera bersama seorang pria berambut gondrong dan brewokan, maka sekarang dia sedang dalam perjalanan pulang dengan pria yang begitu mempesona.


Sesekali menggunakan ekor matanya Syera mencuri lirik pada Leo di sampingnya yang sedang mengemudi.


Akhirnya Syera tahu apa yang menjadi alasan Leo tadi meninggalkannya cukup lama dengan alasan akan pergi ke toilet.


Hampir saja Syera menghubungi Fandy jika Leo tidak muncul dihadapannya saat itu juga. Ternyata Leo pergi untuk memotong rambut dan mencukur brewok serta kumisnya.


Syera tidak dapat menahan senyumnya akan pemandangan indah dari wajah Leo. Syera berharap dapat memandangi wajah Leo dengan leluasa. Selama ini setiap kali Syera bertemu Leo, dia hanya melihatnya sekilas tidak berani menatap untuk waktu lama karena Leo sangat membencinya.


Kini wajah Leo sudah kembali seperti semula. Rambutnya sudah dipotong dan rapi. Bulu-bulu yang menutupi ketampanan wajahnya sudah disingkirkan. Wajah Leo kembali mulus dan bersih menambah pesona wajahnya yang memang sudah tampan.


"Apa kau ada gangguan kejiwaan sehingga senyum-senyum sendiri?" sarkas Leo. Sedari tadi Leo sudah memperhatikan wajah Syera yang selalu tersenyum.


"Bukan gitu, kak." Syera menyangga ucapan Leo. "Apa aku bisa bilang sesuatu?" tanya Syera ragu. Sebenarnya dia tidak yakin akan mengatakan isi kepalanya pada Leo.


"Em. Katakan." Leo sama sekali tidak menoleh pada Syera saat berbicara, berbeda dengan Syera yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah Leo.


"Kak Leo sangat tampan dengan wajah yang seperti ini."


Chittt...


Mendengar pengakuan sekaligus pujian dari Syera membuat Leo tiba-tiba mengerem mobilnya. Leo sedikit grogi dan salah tingkah mendengar apa yang dikatakan Syera. Tak pernah terbayangkan oleh Leo jika suatu hari gadis yang selama ini sangat dibencinya dan sekarang berstatus sebagai adiknya memuji penampilannya.


"Kenapa tiba-tiba berhenti, kak?"


"Tidak apa-apa."


Kembali Leo melajukan mobil menutupi rasa groginya.


"Aku suka dengan kak Leo yang sekarang."


Chittt...


"Kak!" teriak Syera kaget.


Untuk kedua kalinya Leo menginjak rem secara tiba-tiba. Jika ada polisi lalu lintas yang bertugas lewat mungkin saja Leo sudah akan digiring ke kantor polisi karena dianggap tidak bisa mengemudi dengan baik.

__ADS_1


"Apa ada yang salah dengan mobilnya?" tanya Syera ketakutan karena sudah dua kali Leo menghentikan mobil dengan tiba-tiba.


"Diamlah. Semua akan baik-baik saja kalau kau diam. Ternyata kau orang yang sangat cerewet, tidak seperti apa yang kuduga selama ini. Diam dan berhentilah bicara."


Sampai kapan dia akan selalu bicara seperti itu? Apa akan selalu bicara dengan ketus dan nada yang tinggi padaku? Sepertinya dia memang terpaksa menerimaku sebagai adiknya.


Gadis itu tidak lagi berbicara bahkan satu katapun sudah tidak terdengar lagi darinya. Beberapa kali dia menguap ditengah jalanan yang macet. Semakin lama kedua matanya semakin tertutup hingga pada akhirnya Syera tertidur karena tidak dapat menahan rasa kantuknya.


Saat menoleh ke kiri, Leo melihat Syera yang tengah tertidur pulas. Jalanan yang macet akibat ada kecelakaan membuat banyak pengendara memilih mematikan mesin mobilnya dan tak terkecuali dengan Leo.


Jendela mobil di samping Leo yang tadinya terbuka dinaikkannya agar tertutup. Sengaja Leo melakukannya supaya Syera tidak terganggu dengan suara riuh dari orang-orang dijalan terlebih lagi dengan bunyi-bunyi klakson yang saling bersahutan.


Ponsel Syera yang ada di dalam tas kecil yang sedang disandangnya bergetar. Alih-alih membangunkan Syera, Leo justru membuka tas kecil itu dan mengambil ponsel dari dalamnya. Melihat nama kontak si penelpon tanpa pikir Leo langsung mengangkatnya.


"Syera, kamu baik-baik aja? Kenapa nggak balas pesan kak Fandy? Kak Fandy-"


"Dia lagi tidur. Tidak perlu mengkhawatirkannya karena dia akan baik-baik saja denganku."


Fandy terkejut karena yang mengangkat ponsel Syera adalah Leo dan langsung menyela ucapannya. Bahkan sebelum Fandy sempat mengatakan sesuatu lagi Leo sudah mematikan ponsel Syera. Fandy tidak percaya dengan situasinya saat ini, dia hanya dapat tertawa kecut atas keadaan sekarang.


Saat ini Fandy juga sedang terjebak macet menuju apartemen sama seperti yang dialami Leo. Fandy dalam perjalanan pulang dari rumah mama Mila. Fandy masih belum menyerah atas Syera meski kali ini pun mama Mila tetap tidak menyetujui apa yang diinginkan Fandy.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya Leo tiba di parkiran basemen apartemen. Syera masih tidur dan sepertinya begitu nyenyak. Leo mencoba membangunkan Syera dengan cara mentoel sedikit lengannya namun cara itu tidak berhasil.


"Baik, tidurlah sebentar lagi karena aku bukan seperti pria di kebanyakan novel fiksi yang akan menggendongmu naik ke atas," ucap Leo.


Leo keluar dari mobil setelah mematikan mesinnya untuk menjawab panggilan dari Bima. Belum sempat Leo menjawab teleponnya dia sudah kembali masuk ke dalam mobil. Entah ada masalah apa Leo langsung merendahkan tempat duduk Syera agar tidak dilihat oleh Fandy yang sedang memasuki area parkiran di basemen apartemen.


Melihat mobil Fandy mendekati arah mobilnya, Leo ikut merendahkan tempat duduknya.


"Dari banyaknya tempat kosong kenapa dia harus parkir di samping mobil ini?"


Fandy tidak menyadari jika di dalam mobil yang parkir disebelah mobilnya ada Leo dan Syera di dalamnya. Padahal saat keluar dari mobil, Fandy sempat memperhatikan mobil Leo.


Leo menunggui Fandy pergi sampai tidak kelihatan lagi dan yakin jika Fandy sudah berada di apartemennya karena sudah sekitar lima belas menit lamanya.


Dari tempat duduknya Leo melihat Syera yang masih tidur dan tidak terusik sama sekali. Wajah Syera begitu teduh dan tenang membuat Leo tak sadar memandanginya begitu lekat. Tangan Leo terangkat ingin menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Syera.

__ADS_1


"Dia lebih cantik dibanding foto-foto itu."


Mata Leo meneliti setiap inci wajah gadis di sampingnya. Tangan yang tadi menyingkirkan rambut yang menghalangi Leo melihat keseluruhan wajah Syera kini mengambang di atas pipi Syera ingin mengelus bagian itu.


Perlahan Leo mendaratkan telapak tangannya dan merasakan kelembutan saat jempolnya mengelus pipi Syera. Merasakan ada sesuatu yang menempel dan bergerak di pipinya membuat Syera terganggu dari tidurnya. Saat matanya terbuka Syera melihat wajah yang dikatakannya tampan itu begitu dekat dengan wajahnya.


Leo gugup saat Syera tiba-tiba membuka mata dan kedua manik mereka bertemu. Sesaat Leo membeku di posisinya berpikir apa yang harus dilakukannya.


"Apa kau akan tidur di sini sampai besok pagi?"


Spontan Leo menarik pipi Syera karena tidak ada cara lain untuk ia lakukan lagi dalam situasinya.


"Ah... Sakit, kak." Syera menyingkirkan tangan Leo dari pipinya. Perbuatan Leo membuat pipinya terasa sakit.


"Ayo keluar," perintah Leo.


Terlebih dahulu Leo mengambil semua belanjaan dari kursi belakang dan membawanya. Syera berjalan mengikuti Leo dari belakang dan sesekali menubruk bagian belakang tubuh Leo.


"Apa jalannya sempit sampai harus berjalan di belakangku?" tanya Leo kesal.


"Maaf, kak."


Sesampainya di apartemen Syera yang masih mengantuk langsung masuk ke kamar untuk tidur. Leo menghela nafas dan meletakkan belanjaan ditangannya di lantai begitu saja karena Syera mengabaikannya.


"Harusnya tadi dia yang membawa semua belanjaan ini," gerutu Leo.


Leo merebahkan tubuhnya di sofa untuk beristirahat sebentar tapi siapa sangka jika akhirnya dia terlelap hingga pagi di sana.


..........


Pagi sekitar pukul setengah enam Syera sudah bangun. Setelah mencuci wajah Syera akan membuat sarapan untuk Leo dan tentunya untuknya juga.


Saat menuju ke dapur yang terhubung dengan ruang tamu Syera melihat Leo meringkuk di atas sofa. Syera mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Leo yang sepertinya kedinginan.


Bukannya langsung pergi setelah menyelimuti Leo, gadis itu justru berjongkok memandangi wajah Leo. Syera tersenyum memandangi wajah Leo yang sedang tidur.


"Aku akan berusaha jadi adik yang baik untuk kak Leo," ucap Syera pelan. "Aku suka dengan kak Leo yang sekarang," lanjutnya.

__ADS_1


Syera meninggalkan Leo dan pria itu langsung membuka mata setelahnya. Leo mendengar apa yang tadi Syera katakan dan merasakan saat Syera menyelimutinya. Sebenarnya Leo sudah bangun sedari tadi namun karena dingin dan malas bergerak Leo masih memejamkan matanya.


__ADS_2