
Ada banyak hal yang harus ditulis Wulandari dari pada agenda yang ia berikan pada Syera. Ia menuangkan rasa rindunya pada sang putri lewat tulisan. Bahkan terkadang ia bagaikan sedang mendongeng dalam isi tulisannya. Berharap putrinya yang sedang berbaring di kasur rumah tempat Syera berada dapat mendengar dongengnya dan terlelap.
Beberapa tulisan Wulandari...
Sehari sebelum Syera lahir.
Selamat pagi Putri mama yang cantik, apa tidurmu nyenyak di dalam perut mama, sayang? Mama tidak sabar melihat kamu lahir ke dunia ini. Maafin mama karena papamu tidak ada buat menemani kita berdua. Tapi kita tidak perlu sedih karena papamu pasti menjaga kita dari surga dan tersenyum melihat kita berdua karena sudah kuat sampai sejauh ini. Hari ini kita akan ke rumah sakit dan besok mama akan mendengar suara tangisan indahmu.
..........
Beberapa hari setelah Syera lahir.
Syera Hanindy Palmer, putri cantik mama dan papa. Nama yang indah, semoga kamu menyukai nama itu sayang. Nama itu sudah di persiapkan papamu sejak kamu baru berusia satu bulan dalam kandungan mama. Nama yang cantik untuk putri cantik kami tapi maaf papamu tidak bisa ada untuk menggendongmu. Dia tidak ada di sampingmu tapi mama yakin papa mendengar suara tangisanmu dan melihat betapa mungilnya kamu dari surga.
..........
Saat Syera berusia lima bulan.
Putri mama yang cantik, maafin mama sayang. Mama harus melakukannya karena mama sayang sama kamu. Jangan marah apalagi membenci mama. Mama terpaksa melakukannya karena mama ingin kamu tumbuh dilingkungan yang baik dan menjalani hari-harimu seperti anak-anak biasanya. Mama yakin setelah malam ini mama akan selalu menangis karena merindukanmu. Tumbuhlah dengan baik dan jadilah anak yang kuat. Mama sayang kamu, nak.
..........
Syera berusia tujuh tahun.
Syera, mama rindu dan sangat merindukan kamu sayang. Apa kamu makan dan tidur dengan baik? Apa wanita yang saat ini kamu panggil dengan sebutan mama/mami/ibu menyayangimu? Mama yakin jika dia wanita baik-baik dan akan menjagamu seperti putrinya sendiri.
..........
Syera berusia sepuluh tahun
Putri mama yang cantik, apa hari ini kamu sudah meniup lilin ulang tahunmu yang ke sepuluh? Selamat ulang tahun sayang. Mama sangat merindukanmu, nak.
..........
Syera berusia tiga belas tahun (sehari sebelum kecelakaan dan Bayu meninggal dunia).
Syera, mama tidak sabar untuk bisa bertemu dengan kamu lagi sayang. Besok kita akan ketemu, nak. Mama tidak bisa tidur dan berharap hari ini cepat berganti dengan esok. Setelah tiga belas tahun akhirnya kita akan ketemu, nak. Jangan marah dan membenci mama saat melihat mama. Mama sayang dan sangat merindukan Putri mama.
..........
Sebulan setelah kecelakaan
Maafin mama, sayang. Karena kecerobohan mama, kita tidak bisa bertemu bulan lalu. Mungkin mama orang yang paling jahat di dunia ini. Keinginan mama untuk bertemu denganmu justru membuat orang yang sangat baik kehilangan nyawanya. Mama tahu sekarang kamu tinggal dengan keluarga Suntama, mama yakin jika keluarga itu akan menyayangimu karena almarhum om Bayu orang yang baik. Mama merasa bersalah pada istri dan anak om Bayu, mereka pasti sangat terpukul karena kehilangan om Bayu. Maafin mama, jangan membenci mama, nak.
..........
Hari ini mama lagi di pantai membawa anak-anak TK liburan. Mama sangat menyukai pekerjaan mama ini karena bisa bertemu dengan anak-anak yang lucu dan bermain dengan mereka. Apa kamu tahu, di pantai tempat mama sekarang berada adalah tempat pertama kali mama bertemu dengan Bastian Palmer, almarhum papa kamu. Mama sangat berterima kasih pada om Bayu karena dialah yang sudah memperkenalkan mama dengan papa. Papa kamu rekan bisnis om Bayu yang sedang mengembangkan perusahaanya di negri ini tapi sayang dia terlalu cepat meninggalkan kita. Papa meninggal karena leukemia, dia pergi saat kamu berusia tujuh bulan dikandungan mama. Kamu harus tahu kalau papa kamu itu orang baik dan dia sangat menyayangi kita berdua.
..........
Syera, mama sangat kesepian dan rindu kamu, nak. Kalau bukan karena keluarga Palmer mama tidak akan rela berpisah dengan kamu selama ini, nak. Damian Palmer adalah nama opa kamu, di negri ini mungkin tidak ada yang mengenalnya tapi di Scotlandia dia sangat dikenal dan ditakuti. Papa kamu meninggalkan Scotlandia karenanya dan oma kamu sangat mendukung keputusan papa. Keluarga Damian Palmer sangat kaya tapi kekayaan mereka berasal dari bisnis senjata ilegal dan barang haram. Semua keluarga Palmer melakukan hal yang sama, terkecuali papamu. Ia tidak ingin melakukan hal itu dan tunduk pada perintah Damian, opa kamu. Papa satu-satunya anak laki-laki Damian dan tiga lainnya adalah perempuan. Saat papa meninggalkan Scotlandia dan Damian tahu mama mengandung kamu, mereka ingin mengambil kamu dari kami. Keadaan semakin buruk saat papa meninggal. Setiap hari mama harus berhati-hati karena orang orang suruhan Damian selalu mengawasi mama, mereka menginginkanmu setelah lahir dan membawamu untuk nantinya melanjutkan bisnis kotor mereka saat kamu dewasa. Beruntung ada om Bayu, dia yang menjemput mama dan kamu dari rumah sakit setelah kamu lahir karena memang mama tidak punya saudara, mama tumbuh dan besar di panti asuhan. Om Bayu membawa kita tinggal di villanya karena tidak memungkinkan tinggal di rumah kita seperti saat papa masih hidup. Hanya hitungan bulan orang suruhan Damian tahu keberadaan kita hingga akhirnya dengan terpaksa mama menerima saran om Bayu untuk menitipkanmu pada seorang wanita yang bekerja di bar dan wanita itu bernama Jelita. Mama berharap kamu tidak perlu bertemu dengan keluarga Palmer. Mama ingin kamu jadi anak yang baik, melakukan apa yang kamu mau dan berada dilingkungan yang baik juga. Mama sayang kamu, nak. Mama rindu kamu, Syera. Mama harus selalu menahan diri mencarimu karena orang suruhan opa-mu yang dulu membawa mama dari rumah sakit saat kecelakan dengan om Bayu selalu mengawasi mama.
..........
Kamu sedang apa sayang? Sudah bertahun-tahun lamanya, mama ingin bertemu denganmu meski hanya untuk sekali saja. Mama ingin melihatmu yang sudah tumbuh dewasa, melihat rupamu dan membelai rambutmu. Sekali saja, mama ingin bertemu dan memelukmu.
__ADS_1
..........
☘️☘️☘️☘️☘️
Kembali pada Leo dan Syera di balkon.
Emppp....
Syera tak dapat menahan degup jantungnya saat tiba-tiba Leo mendaratkan ciuman di bibirnya. Sekujur tubuh Syera berdesir dan membuatnya gemetaran. Syera mengulum dan menutup rapat bibirnya.
Leo menarik wajahnya dari Syera. Raut wajah Syera yang begitu tegang tampak jelas, membuat Leo tersenyum puas. Posisi Syera seperti orang terpojok memegangi pagar balkon begitu erat semakin menambah ketegangan Syera.
Cup
"Apa kau sangat ketakutan?" tanya Leo setelah mengecup bibir Syera sekilas.
"Iya, aku takut dan jangan melakukannya lagi."
Cup
"Melakukan apa?"
Meski kecupan-kecupan singkat tapi membuat tubuh Syera berdesir.
"I-itu, yang barusan kak Leo lakukan."
Cup
"Memangnya aku melakukan apa barusan? Kedua kaki dan tanganku tidak melakukan apa-apa," ucap Leo menahan senyumnya.
"Bu-bukan kaki dan tangan ta-tapi..."
Cup
"Jangan menciumku lagi, kak."
Ponsel di saku jeans Leo berdering. Ia melihat nama si penelpon, ia memikirkan sesuatu saat melihat pada Syera.
"Ekhem," sengaja Leo melakukannya agar Syera melihat padanya. "Halo, Karina," jawab Leo membalas sapaan dari seberang telepon. Leo tidak membuatnya dalam mode speaker agar Syera tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Karina.
Karina? Untuk apa dia menelpon kak Leo lagi, bukannya tadi baru saja ketemu?
Syera mendongak melihat Leo berdiri di hadapannya sedang menjawab telepon Karina.
"Aku sudah sampai di apartemen dan sedang bermain dengan adik kecilku."
Adik kecil? Aku bukan anak kecil.
"Tentu saja, kenapa tidak? Kita harus sering-sering bertemu, itu akan sangat baik. Aku akan meluangkan waktuku besok untukmu, kamu bisa kabari aku."
Mereka mau bertemu lagi besok? Untuk apa?
"Baiklah, selamat malam dan tidurlah."
Selesai menjawab panggilan telepon dari Karina, Leo kembali pada Syera yang mencoba menutupi muka masamnya. Leo yakin jika Syera tidak senang saat tadi ia bicara dengan Karina.
__ADS_1
Apa mungkin dia juga minta pulang saat di restoran tadi karena Karina? Apa dia tidak menyukai Karina? Kalau iya, kenapa? Karina baik dan tidak melakukan apa-apa padanya saat di restoran tadi. Tunggu, dia bilang menyukaiku kan? Atau jangan-jangan dia...
"Yang menelponku barusan itu adalah Karina," memberitahu Syera memancing responnya. "Dia mengajakku nonton besok malam."
Leo berkacak pinggang di hadapan Syera dan memperhatikan air muka gadis itu yang berubah gelap. Ternyata tebakan Leo tidak melesat, ingin rasanya ia melompat kegirangan.
Untuk kali ini kau tertangkap basah, kau tidak pintar menyembunyikannya dariku. Syera, kau cemburu!
"Turunkan aku. Aku bilang turunkan aku," mohon Syera.
Persetan dengan semuanya, aku tidak akan melepasmu lagi untuk selamanya. Aku tidak peduli yang lainnya, aku hanya menginginkanmu.
"Syera," menyebut nama gadis di depannya dengan lembut.
Cup
Diawali kecupan singkat, Leo kemudian dengan lembut mencumbu bibir ranum Syera. Tubuh Syera kembali berdesir bahkan berkali-kali lipat dari yang ia rasa sebelumnya. Kecupan singkat saja sudah membuat jantung Syera berdegup kencang apalagi saat ini Leo menguasai bibir mungilnya.
Leo sengaja membuka matanya ingin melihat reaksi Syera, ia tidak dapat menahan senyumnya meski bibirnya menempel di bibir Syera karena gadis itu berkedip-kedip lucu. Leo melepas ciumannya, tidak dapat menahan tawanya melihat wajah tegang tapi terlihat lucu dan menggemaskan di depannya.
"Hahaha... Bukannya kau menyukaiku? Lalu kenapa wajahmu seperti orang ketakutan?" goda Leo membuat wajah Syera yang dingin karena angin malam menjadi merona. "Sudah cukup bermain-mainnya, aku akan melakukannya dengan benar."
Mata Syera kembali melotot saat Leo kembali mendaratkan ciuman di bibirnya. Sesaat Leo masih membuka mata namun ia kemudian menutup matanya, menikmati cumbuannya pada bibir gadisnya.
Leo melepas kedua tangan Syera dari pagar balkon dan melingkarkan pada pinggangnya namun kedua tangan itu terjatuh karena Syera seolah tak memiliki tenaga akibat cumbuan bibir Leo. Degup jantung Syera berpacu tak beraturan, nafasnya tersengal karena Leo terus membungkam mulutnya dengan ciuman.
Leo melepas ciumannya untuk mengatur nafas, memberi waktu bagi Syera untuk menghirup oksigen.
"Ka-Karina-"
Cup
"Jangan merusak suasana dengan menyebut nama orang lain saat ini."
Kedua mata Leo menatap wajah Syera dengan sendu. Gemuruh nafas Leo menyapu seluruh wajah Syera.
"Hanya ada kita berdua," ucap Leo menempelkan kedua kening mereka dan suaranya terdengar begitu berat.
"Syera, aku menyukaimu, aku menyayangimu dan aku mencintaimu," bisik Leo ditelinga Syera.
Leo menurunkan Syera dari atas meja bundar kecil dan kembali menciumnya. Syera hampir terjatuh kalau Leo tidak menahan tubuhnya. Kaki Syera lemas dan tidak punya tenaga lagi untuk menopang tubuhnya. Melihat itu Leo malah tertawa kecil.
Hap!
"Kita kedalam, disini dingin."
Leo mengangkat dan mengendong Syera seperti anak kanguru. Ia membawa Syera ke dalam.
Sofa menjadi tujuan Leo, ia duduk tanpa melepas Syera dari gendongannya. Leo belum selesai, ia menarik tengkuk Syera namun Syera menahannya.
"Cu-cukup, kak."
"Aku tidak tanya."
Emppp...
__ADS_1
Syera tidak punya tenaga dan keberanian untuk menghindar saat Leo kembali menciumnya, mencecap dan menguasai bibirnya. Meski hanya ciuman sepihak karena tak ada balasan dari Syera namun Leo sudah cukup senang karena Syera tidak menolaknya, mungkin akan berbeda jika dilain waktu.
..........