
Bibir Syera seakan terkunci saat menyaksikan pemandangan di depan matanya. Dia merasa seperti sedang bermimpi saat ini. Rasa sakit di betis dan pergelangan kakinya bukan hal yang paling penting baginya melainkan pria yang sedang melepas sepatu dan kaos kakinya saat ini.
Setelah terjatuh tadi Syera diangkat dan diletakkan kembali di atas sofa. Ujung meja yang terbuat dari kaca tadi mengenai pergelangan kakinya hingga terluka dan mengeluarkan sedikit darah.
"Apa kau sedang mencari sesuatu di wajahku?"
Syera langsung menggelengkan kepala. Ditariknya perlahan kakinya yang terluka dan mencoba bangkit berdiri.
"Saya akan obati sendiri," ucap Syera menahan takut.
"Duduk!"
"Saya bisa sendiri, tuan. Saya permisi," ucap Syera meraih sepatu dan kaos kakinya dari dekat kaki Leo.
Ya. Pria gondrong lengkap dengan kumis dan brewok lebat itu adalah Leo. Pria yang selama dua bulan ini menghilang dan tidak tahu pergi kemana. Kini pria itu tiba-tiba muncul di hadapan Syera.
Selama dua bulan ini Leo sama sekali tidak pernah mencukur rambut, brewok maupun kumisnya. Leo merupakan salah satu pria yang pertumbuhan bulu di sekitar wajahnya tumbuh begitu cepat. Ini adalah untuk kedua kalinya Leo membiarkan hal itu terjadi pada wajahnya.
Leo beranjak dari duduknya dan mengambil kotak P3K dari salah satu meja.
"Duduk sendiri atau aku dudukkan dengan paksa?" perintah Leo.
Syera masih saja menggeleng. Ia tidak paham sedang berada dalam situasi apa sekarang. Leo yang dikenalnya bukanlah seperti yang saat ini berada dihadapannya. Leo bukanlah orang yang akan mengasihaninya ataupun menolongnya tapi kenapa sekarang justru ingin mengobati luka dikakinya?
Entahlah, Syera tidak mengerti.
"Ayo cepat duduk dan jadilah adik penurut!" tegas Leo.
Syera yang ketakutan langsung duduk dengan kedua tangan memeluk erat tasnya. Syera menarik sedikit kakinya merasakan perih saat Leo mengoleskan obat merah ke bagian yang terluka.
"Jangan berlebihan. Hanya perih sedikit dan kau bukan anak kecil lagi," ucap Leo seperti ingin mengejek.
Leo menutup bagian yang terluka dengan sedikit perban dan merekatkannya menggunakan plester.
"Apa saya memang adik anda?"
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Syera, bahkan ia sendiri kaget setelah menyadarinya.
"Sama sepertiku, kau mungkin tidak akan menyukainya tapi kemungkinannya memang seperti itu."
"Apa anda yakin?" tanya Syera memastikan.
Leo mengembalikan kotak P3K tadi ke tempatnya. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan Syera.
"Maaf," ucap Syera yang masih duduk di sofa membelakangi Leo. Syera tahu tidaklah mudah berada di posisi Leo saat mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Sudah malam, istirahatlah di kamar yang satunya lagi."
"Saya mau pulang," ucap Syera.
Leo berjalan ke kamar satunya lagi dan membuka pintunya.
"Masuk dan istirahatlah sekarang. Naik tangga dari lantai dua sampai tujuh pasti membuat betismu sakit. Jangan membantah ucapanku!" tekan Leo.
"Tapi tempat tinggalku ada di sebelah. Kak Fandy pasti lagi nunggu aku. Kak Fandy pasti khawatir kalau aku tidak pulang. Kak Fandy-"
Tak!
Suara dentuman pintu memenuhi seisi ruangan. Syera menutup kedua telinganya dengan tangan. Baru saja dia menjadi adiknya Leo yang tiba-tiba bersikap baik padanya tapi sekarang pria itu kembali lagi seperti Leo yang sebelumnya.
Leo tidak suka saat Syera membantahnya dengan menyebut nama Fandy sebagai alasan. Dia sudah mencoba bersikap baik sedari tadi tapi sepertinya gadis itu tidak mengerti. Leo menghampiri Syera dan menarik lengannya dengan sorot mata yang tajam.
"Jangan marah," pinta Syera memohon.
Melihat Syera menunduk sembari menutup kedua telinganya membuat Leo menahan emosinya.
"Baik. Malam ini kau bisa kembali ke sana tapi mulai besok tempatmu di sini."
"Kenapa harus? Aku sudah terbiasa tinggal dengan kak Fandy. Kalaupun harus keluar dari sana aku akan cari tempat tinggal yang lain dan bukan di sini."
"Kalau kau mau melihat restoran itu rata dengan tanah maka silahkan lakukan apa yang kau suka."
"Keluar!"
"Ha?"
"Keluar sekarang juga!" perintah Leo.
Jika tadi Syera tidak sabar ingin pulang sekarang ia justru menolaknya. Syera yang takut akan ancaman Leo menggelengkan kepala.
"Ayo cepat, keluar. Aku tidak butuh adik yang tidak penurut pada kata-kataku. Kau bisa tinggal selamanya dengan laki-laki yang kau panggil kakak itu.
"Kalau saya keluar apa restorannya akan aman? Sekalipun saya adik anda, ide tinggal disini bukanlah pilihan yang tepat. Kak Fandy nggak akan suka. Dia nggak bakalan kasih izin."
Kepala Leo seperti akan meledak setiap kali Syera bicara dan selalu menyangkut pautkan pada Fandy. Leo ingin bersikap baik layaknya sebagai seorang kakak pada adiknya tapi ternyata tidak segampang yang dipikirkannya.
Syera sedang berada dalam dilema. Restoran yang kapan saja bisa rata dengan tanah, meninggalkan apartemen Fandy dan tinggal dengan Leo. Syera ingat tadi pagi Fandy mengatakan jika ada gadis yang disukainya dan ingin selalu bersamanya. Apa Syera harus tinggal dengan Leo disaat seperti ini? Entahlah, Syera tidak dapat berpikir dengan jernih.
"Akan saya pikirkan tapi untuk saat ini saya harus pulang," mohon Syera.
"Terserahmu saja. Aku tidak peduli."
__ADS_1
Akibat kakinya yang sakit membuat Syera sedikit kesulitan saat berdiri. Sebelah sepatu yang tadi dibuka Leo saat akan mengobati bagian yang luka di tenteng Syera sambil berjalan tertatih.
Leo menghampiri Syera dan berjongkok membelakanginya.
"Cepat naik!"
"Saya bisa sendiri," tolak Syera.
Tak sabar karena Syera selalu membantah perkataanya, Leo langsung berdiri dan menggendong Syera.
"Diam atau aku lempar dari balkon," ucap Leo menakuti Syera.
Begitu entengnya Leo saat berjalan sambil menggendong Syera ke apartemen Fandy. Syera menekan password pintu apartemen dan mengalungkan kembali tangannya dileher Leo.
Klek!
Saat pintu terbuka Fandy yang sedari tadi tengah menunggu Syera di sofa berlari ke arah pintu dan terkejut melihat gadis itu berada di gendongan seorang pria asing.
"Kau siapa?" tanya Fandy pada pria yang menggendong Syera. Sama seperti gadis itu sebelumnya, Fandy juga tidak tahu jika pria itu adalah Leo.
Dengan paksa Fandy mengambil alih Syera dari gendongan Leo dan meletakkannya di sofa. Perban di pergelangan kaki Syera mencuri perhatian Fandy.
"Kaki kamu kenapa?" tanya Fandy dengan ekspresi khawatir diwajahnya.
"Tidak usah berlebihan. Kakinya hanya tergores sedikit bukan patah," ucap Leo ketus.
"Kau?" sontak Fandy memalingkan wajahnya. Suara itu, suara yang sangat dia kenal.
"Kak?" panggil Syera pelan. "Iya, itu dia. Leo," bisik Syera di telinga Fandy.
"Ekhem! Jangan lupa untuk mengemasi semua barang-barangmu dan pindah ke sebelah besok," ingatkan Leo.
"Pindah?" Fandy tercengang mendengar apa yang di katakan Leo.
"Mulai besok dia akan pindah dan tinggal di sebelah," ucap Leo.
Tak ingin lama di sana, Leo keluar meninggalkan Syera yang hanya diam dan Fandy yang terlihat kebingungan.
Fandy yang tidak mengerti maksud perkataan itu akhirnya menyusul Leo ke luar.
"Maksudnya apa?" tanya Fandy menahan Leo yang akan masuk ke apartemennya. "Dia tidak akan pergi kemana-mana. Syera akan tinggal bersamaku. Kau tidak punya hak untuk menentukan dia harus kemana. Tempatku adalah yang paling aman untuknya."
"Lalu siapa yang bisa menjamin kau tidak akan melakukan apa-apa padanya, ha? Kau pria dewasa dan dia seorang gadis. Kalian tidak bisa tinggal lagi bersama."
"Tapi kami-"
__ADS_1
"Apa kau mau bilang kalau kalian itu kakak-adik?" sela Leo. "Apa kau yakin hanya menganggapnya sebagai adik selama ini?" cecar Leo dengan pertanyaan yang tak dapat dijawab Fandy. "Aku lelah dan ingin istirahat. Mama juga setuju hal ini. Satu lagi, aku lebih berhak darimu atas Syera. Sebagai adik tentunya dia harus menuruti apa yang dikatakan kakaknya, yaitu aku."
Sebelum masuk Leo menepuk-nepuk pundak Fandy dan meninggalkannya begitu saja. Fandy tidak dapat beradu argumen dengan Leo karena apa yang dikatakannya saat ini memang benar tapi dia juga tidak ingin Syera pergi dari tempatnya.