Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Apa Aku Melakukan Kesalahan?


__ADS_3

"Kamu yakin baik-baik aja?"


"Iya, kak. Aku baik-baik aja kok dan itu berkat kak Fandy yang udah jemput Syera. Makasih ya, kak."


"Bagus kalau seperti itu. Sekarang kamu masuklah dan istirahat dan jangan lupa ganti bajumu."


"Kak Fandy juga istirahat, kakak pasti capek kerja seharian di kantor dan jemput aku," ucap Syera merasa tak enak telah merepotkan Fandy.


"Jangan berpikir seperti itu, Aku justru senang karena orang yang kamu ingat saat seperti tadi adalah kak Fandy."


"Maaf kalau sering nyusahin kak Fandy."


"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Masuklah."


Rasa khawatir Fandy saat menerima telpon dari Syera hilang sudah. Kini ia merasa senang karena orang pertama yang dihubungi Syera adalah dirinya. Sebisa mungkin Fandy akan selalu ada untuk Syera, memastikan gadis itu baik-baik saja dan berharap akan menjadi satu-satunya pria yang Syera andalkan dalam hidupnya.


Melalui kejadian malam ini Fandy yakin jika tidak akan sulit baginya untuk bisa bersama Syera. Fandy tahu jika rasa yang dimiliki Syera untuknya hingga saat ini adalah rasa sayang pada seorang kakak tapi Fandy yakin seiring berjalannya waktu Syera pasti dapat merasakan apa yang dirasakan Fandy padanya.


..........


Karena begitu lelah Syera langsung naik ketempat tidur dan menelusup kedalam selimut. Dia hanya melepaskan jas Fandy yang lupa dia kembalikan. Syera teringat akan ponselnya yang tadi terlempar saat ada petir dan kilat secara bersamaan menyambar. Sangking takutnya Syera tidak berani mengambil ponselnya yang jatuh dan bermandikan air hujan. Lagi, Syera tidak mempunyai ponsel.


Hujan diluar sudah reda dan menyisakan gerimis halus. Syera yang terbungkus dalam selimutnya sudah bersatu dengan alam mimpi.


Lewat tengah malam Leo baru tiba di apartemen. Wajah dan penampilannya begitu kusut. Dia berjalan mendekati kamar Syera dan sedikit membuka pintu kamarnya.


"Bahkan kau bisa tidur nyenyak saat ini."


Melihat Syera yang sudah tidur menambah rasa sakit di hati Leo, berpikir bahwa Syera tidak memikirkannya sama sekali. Leo menutup pintu kamar Syera perlahan.


Leo mengambil ponsel lamanya dari laci dimana Syera menemukan foto-foto dirinya semasa sekolah.


Karena dia aku tidak lagi mengingatmu tapi karena dia juga aku kembali mengingatmu saat ini.


Leo melihat satu-satunya nomor kontak yang tersimpan di ponsel itu.


Telunjuknya bergetar saat mengetik sebuah pesan untuk dikirimnya pada si empunya nomor. Tanpa ragu pesan yang di ketiknya langsung dia kirim begitu saja tanpa berpikir terlebih dahulu. Biasanya Leo akan berpikir ribuan kali sebelum mengirimnya bahkan tidak jadi mengirimnya.


Ponselnya bergetar, ada sebuah pesan yang masuk. Leo kaget karena tidak biasanya juga pesannya langsung di balas apalagi ini sudah larut malam. Isi pesan itu membuat Leo tersenyum dan berdecak.


"Pantas saja langsung dibalas," decak Leo.


Leo tidak membalas pesan itu, sepertinya pesan yang dikirimnya tadi adalah pesan terakhir kepada wanita yang sekarang sudah menjadi milik orang lain dan jadi bagian masa lalunya.


..........


Paginya seperti biasa Syera menyiapkan sarapan dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sama halnya dengan Leo yang saat ini sedang bersiap untuk berangkat kerja.


"Sarapannya sudah siap, kak."


Apa yang Syera masak sudah ia tata rapi di atas meja makan. Ia kemudian berlari ke kamarnya mengambil handuk dan baju gantinya untuk ke kampus.

__ADS_1


Usai dari kamar mandi Syera menyusul Leo yang sudah sarapan terlebih dahulu. Senyap, tidak ada yang membuka pembicaraan. Syera merasa ada sesuatu yang aneh dari Leo.


Belakangan ini hampir setiap pagi Leo akan menanyakan ini itu dan menyuruh Syera melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan Leo sendiri tapi tidak untuk pagi ini.


"Kak Leo baik-baik aja? Atau mungkin ada masalah di kantor?" tanya Syera membuka pembicaraan.


"Makanlah, tidak perlu mengkhawatirkanku. Semua baik-baik saja," jawab Leo datar.


Pagi ini selera makan Leo pun tidak ada tapi ia tidak ingin mengecewakan Syera yang sudah memasak. Meski hanya sedikit Leo tetap memaksakan untuk makan.


"Apa makanannya tidak enak?" takut seandainya rasa masakannya tidak seperti biasanya.


"Aku hanya sedikit tidak berselera," ucap Leo jujur


Leo tidak mampu lagi untuk melanjutkan makannya, ia menyudahinya dengan secangkir teh hangat yang dibuat Syera.


"Apa kak Leo sudah mau berangkat kerja?"


"Em."


"Apa kakak yakin baik-baik saja?"


"Em."


"Kak Leo butuh sesuatu?"


"Tidak. Aku baik-baik saja."


"Apa aku melakukan kesalahan? Apa Syera ngelakuin sesuatu yang kak Leo tidak suka?"


Pertanyaannya Syera kali ini begitu sulit dijawab Leo. Tidak ada jawaban yang dimiliki Leo untuk pertanyaan itu. Suasana hening sejenak, hanya kedua pasang mata mereka yang saling memandang. Bertanya dan menjawab melalui netra yang tidak saling memahami.


"Tidak ada apa-apa, semuanya baik-baik saja. Aku hanya lelah karena ada banyak pekerjaan dan itu membuatku kurang istirahat."


"Kak Leo nggak lagi bohongkan?"


"Em, sudahlah jangan berpikir yang aneh-aneh. Kau hanya perlu belajar dengan baik di kampus."


Dari cara bicara Leo, Syera merasa ada sesuatu yang terjadi tapi Leo selalu mengatakan jika tidak ada apa-apa dan semuanya baik-saja.


Sambil melanjutkan sarapannya Syera mengingat-ingat apa saja yang dia lakukan semalam yang mungkin saja membuat dirinyalah penyebab atau menjadi alasan Leo bersikap dingin pagi ini.


"Apa ponselmu mati?" tanya Leo sebelum berangkat kerja.


"Ponsel?"


"Iya, apa kau mematikannya? Tadi malam aku menelepon beberapa kali tapi ponselmu tidak aktif."


"Em... I-itu, kak. Ponselku mati, tepatnya mungkin sudah rusak. Semalam ponselnya jatuh ke air waktu Syera mau pulang dari restoran."


"Bukannya semalam hujan lebat, bagaimana caramu pulang? Aku yakin tidak ada kendaraan umum saat turun hujan lebat seperti semalam."

__ADS_1


"A-aku naik taksi, kak. Kebetulan masih ada taksi yang lewat semalam," bohong Syera.


"Apa kau yakin semalam pulang naik taksi?"


"Iya, kak."


"Hm....baiklah," Leo menghela nafas. "Aku pergi," ucap Leo.


Syera terdiam setelah Leo pergi. Syera tidak bisa memahami dirinya yang sudah berbohong. Bisa saja dia berkata jujur jika semalam dia meminta Fandy menjemputnya di restoran dengan alasan hujan lebat dan kendaraan umum yang tidak lagi ada tapi Syera tidak melakukannya, dia justru memilih berbohong.


..........


Setibanya di kantor Leo menyuruh Bima membeli ponsel baru untuk Syera. Bima langsung melakukan apa yang diminta Leo dan setelah dari tempat pembelian ponsel dia langsung menemui Syera ke kampus untuk memberikan ponsel baru Syera.


Tidak sulit untuk bertemu dengan Syera. Bima cukup mendatangi kantor rektor dan meminta ingin bertemu mahasiswi bernama Syera Hanindy dan tidak lama seorang dosen sudah datang dengan Syera ikut bersamanya. Hal itu bisa dilakukan Bima karena Suntama Grup yang saat ini di pimpin Leo adalah pemegang saham terbesar kampus tempat Syera kuliah.


Jujur Syera merasa tidak nyaman dan tidak enak hati pada pihak kampus dengan cara Bima saat mau menemuinya tapi mau bagaimana lagi, Syera tidak punya kendali akan itu.


"Ini ponsel baru anda dan nomornya juga masih seperti sebelumnya," ucap Bima menyerahkan ponsel yang baru ia beli.


"Apa ini dari kak Leo?"


"Iya. Saya sudah menyimpan nomor tuan Leo di ponsel anda."


"Makasih kak Bima, tapi jangan bicara formal seperti itu denganku. Aku bukan tuan ataupun majikan kak Bima."


"Sudah seharusnya, anda adik tuan Leo."


"Aku tahu tapi tidak usah pedulikan itu, anggap saja Syera adiknya kak Bima juga. Apalagi kalau hanya berdua seperti ini, kak Bima santai saja."


"Kalau gitu saya permisi, saya harus kembali ke kantor sekarang," ucap Bima pamit.


"Makasih buat ponselnya, kak."


"Saya hanya melakukan tugas saya. Kata terimakasih itu sebaiknya katakan pada tuan Leo."


"Iya, kak. Nanti aku pasti ucapin ke kak Leo."


Syera kembali ke ruangannya sambil mengamati ponsel barunya. Syera sangat tahu jika harga ponsel itu setara dengan gajinya selama tiga bulan bekerja di restoran ibu Linda.


..........


Isi pesan yang dikirim Leo


Leo: Sepertinya aku akan mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya.


My Vanila: Cerita setiap pertemuan pasti berbeda. Waktu dan kesempatan tidak selalu datang berpihak pada kita. Terkadang kita sendiri bisa menciptakan kebahagiaan itu ( LEON ).


My Vanila itu nama kontak yang dibuat Leo untuk seseorang yang bernama Jesselyn Anastasya. Kalau mau tahu dia siapa, langsung aja mampir ke novel pertama saya. Ceritanya seperti Le Mineral ☺️ ☺️


Yang balas pesan Leo bukan Jesselyn tapi Leon. Siapa dia? Mampir di novel pertama ya...🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2