
Tin... Tin... Tin...
Berulang kali Leo membunyikan klakson meminta Fandy yang berada di depannya menghentikan mobilnya. Leo memukul setir mobilnya karena Fandy belum juga berhenti.
"Kamu yakin kita nggak berhenti?"
Syera yang duduk di samping Fandy hanya mengangguk, menatap keluar dari kaca jendela mobil di samping kirinya.
Seusai makan malam dan mengobrol dengan mama Mila, Fandy pamit untuk pulang. Awalnya Leo masih akan menunggu beberapa saat lagi untuk ia pulang bersama Syera, membiarkan Fandy pulang terlebih dahulu. Akan tetapi, saat Fandy akan pulang Syera berdiri dan ikut berpamitan pada mama Mila.
Sontak Leo ikut pamit untuk pulang karena Syera. Mama Mila hanya mengantar mereka sampai depan pintu dan langsung masuk kedalam rumah sehingga tidak melihat para pemuda itu pulang.
Fandy sangat senang saat Syera berjalan dibelakangnya dan ikut masuk ke dalam mobilnya namun sebelum masuk dalam mobil Fandy, Leo terlebih dahulu menahan dan menarik tangan Syera agar pulang bersamanya.
Tidak ada yang dikatakan Syera saat itu, melihat Leo saja pun tidak. Mata Syera hanya tertuju pada Fandy agar segera membawanya pergi dari sana.
Fandy melepas paksa tangan Syera dari Leo dan pergi begitu saja. Leo tidak terima dan hatinya sakit karena Syera seperti tidak menganggapnya.
Leo terus mengejar mobil Fandy dan sudah beberapa kali ia mencoba menyalibnya namun Fandy juga tidak mau kalah.
Syera terlihat tegang dan ketakutan saat Fandy menambah laju mobilnya. Selain menutup kedua matanya Syera juga memegang kuat seat belt-nya. Syera tidak meminta untuk mengurangi atau mempercepat laju mobil yang di bawa Fandy, Syera hanya diam saja.
Di pertengahan jalan Fandy semakin melambat dan menghentikan mobilnya. Hal itu tidak di sia-siakan Leo yang ikut berhenti dan langsung keluar menuju mobil Fandy yang berhenti di depannya.
Syera khawatir Leo datang dan memaksanya turun untuk ikut bersamanya. Fandy yang sepertinya menunggu kedatangan Leo menyeringai melihat Leo semakin mendekat.
Sepertinya Fandy sudah merencanakannya, saat Leo mengangkat tangan akan mengetuk jendela mobil, Fandy langsung tancap gas dan pergi begitu saja meninggalkan Leo.
"Brengsek!" umpat Leo karena dikerjai Fandy.
Fandy mengurangi kecepatan mobil karena yakin Leo sudah jauh tertinggal di belakang. Fandy kembali menyeringai puas dengan apa yang dilakukan.
"Apa kamu yakin semua baik-baik saja?"
__ADS_1
"Iya, kak."
Tidak ada yang bisa ditanyakan Fandy lagi karena Syera berkata baik-baik saja meski ia tahu bukan seperti itulah yang sebenarnya. Fandy meraih tangan Syera dan menggenggamnya.
"Apa kau masih ingat dengan pesanku yang memintamu untuk menunggu dan bersabar sebentar lagi?"
Syera menoleh ke Fandy, ia ingat sudah beberapa kali Fandy mengatakan kalimat itu padanya.
"Tidak lama lagi," ucap Fandy tersenyum membalas pandangan Syera.
Mobil yang di kendarai Fandy akhirnya tiba dan mereka langsung naik keatas. Sejak bertemu dengan Syera di rumah mama Mila sampai mereka berada di lift sekarang ini, Syera kebanyakan diam saja dan seperti tak bersemangat. Itu terbukti dari Syera yang tidak terlalu menanggapi saat Fandy bicara dan bertanya padanya. Hanya anggukan kepala atau kata-kata singkat yang dikeluarkan Syera dari bibirnya.
"Syera, kamu masih ingatkan pin apartemen ini?" tanya Fandy menunjuk pintu di depannya. "Masih sama seperti sebelumnya. Aku tidak akan merubahnya jadi kapan pun kamu mau kembali kamu bebas melakukannya."
Lagi-lagi Syera hanya mengangguk menanggapi ucapan Fandy.
"Syera masuk dulu, kak. Terimakasih sudah bawa Syera pulang," ucap Syera lalu masuk ke dalam.
Tak lama mobil Leo juga tiba di parkiran, dia sudah tidak sabar ingin bertemu Syera.
Pintu terbuka, Leo disambut oleh kegelapan ruangan itu. Leo menyalakan satu per satu lampu berpikir jika Syera belum tiba namun saat melepas sepatunya Leo melihat sepatu yang dipakai Syera tadi sudah berada di raknya.
Tok... Tok... Tok...
"Kamu di dalam?" tanya Leo sembari mengetuk pintu kamar Syera. "Kita harus bicara, jadi keluarlah."
Leo duduk di sofa menunggu Syera keluar dari kamar.
Lima menit,
Sepuluh menit,
Hingga sudah lebih dari lima belas menit Leo menunggu tapi Syera tak kunjung keluar.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
Kembali Leo mengetuk pintu kamar Syera.
"Aku tahu kamu belum tidur. Keluarlah, kita harus bicara," pinta Leo lembut.
Ya. Syera memang belum tidur, setibanya tadi, dia langsung masuk ke kamar dan menguncinya. Syera menangis dengan sebuah guling di pelukannya.
Bayangan saat Leo menciumnya saat berada di kolam renang terngiang-ngiang di kepalanya. Bukan hanya sekali, Leo menciumnya dua kali bahkan hampir tiga kali. Meski hanya kecupan singkat namun itu berhasil membuat sekujur tubuh Syera berdesir karena Leo melakukannya tepat dibibir.
Untuk pertamakali Syera merasakan kecupan pada bibirnya akan tetapi, Syera tidak pernah menduga jika yang melakukannya adalah pria yang dipanggilnya kakak.
Tidak seharusnya itu terjadi. Tidak seharusnya Leo melakukan itu padanya, Syera marah, ia tak mengerti apa yang Leo pikirkan. Leo menciumnya dan itu jelaslah salah. Syera menangis sambil menyentuh bibirnya.
"Syera, aku mohon keluarlah. Kita harus bicara, aku tahu kamu di dalam dan belum tidur. Jangan diam saja. Ayo keluar," mohon Leo.
"Apa kamu marah? Kalau iya, maka keluarlah dan pukul aku. Aku mohon keluarlah," suara Leo begitu mengiba menanti dan berharap Syera keluar dan menemuinya.
Air mata Syera semakin bercucuran namun ia menahan suara tangisnya agar tidak keluar. Kedua tangan Leo saat memeluk erat tubuhnya yang basah saat di kolam renang juga masih dapat ia rasakan. Syera berpikir kalau Leo memang benar-benar sudah gila seperti ucapannya.
Tubuh Leo runtuh dibawah pintu kamar Syera. Leo terduduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya di pintu. Isi kepala dan hati Leo begitu kacau. Dia bingung harus melakukan apa saat ini. Bisa saja Leo mengunakan kunci yang ada padanya untuk membuka pintu kamar Syera namun tidak ia lakukan. Leo ingin Syera yang membuka pintu itu sendiri.
"Syera, kamu mendengarkan?" suara Leo bergetar, air matanya tidak terbendung lagi. Dari dalam Syera bisa merasakan jika Leo juga sedang menangis sama sepertinya.
"Aku nggak akan kemana-mana, aku akan tetap disini sampai kamu keluar dan kita bicara," ucap Leo menyeka air matanya.
Malam semakin larut namun baik Leo maupun Syera masih bertahan di tempat masing-masing. Leo merebahkan tubuhnya di atas lantai yang dingin menghadap pintu kamar Syera. Kepalanya terasa berat dan tak lama ia tertidur memeluk tubuhnya.
Syera yang masih terjaga merasa haus, tenggorokannya terasa kering. Syera memutuskan untuk keluar apalagi sudah tidak ada lagi suara Leo.
Alangkah terkejutnya Syera saat mendapati Leo tertidur dilantai dekat pintu kamarnya. Rasa marahnya seperti terkikis saat melihat wajah Leo. Syera melangkahi Leo dan pergi ke dapur untuk minum.
Syera melangkahi Leo lagi saat akan masuk ke kamarnya. Syera tidak tega melihat Leo, ia mengambil selimut dan memakaikannya pada Leo.
__ADS_1
Air mata Syera mengalir memandangi wajah Leo yang tidur di lantai.
Jangan melakukannya lagi, kak. Sama seperti aku, kak Leo juga harus bisa menahannya.