
Klek!
Sejak pertengkaran di pagi hari Syera mengunci diri di dalam kamar. Barulah saat menjelang sore hari ia keluar. Dia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, tidak melihat keberadaan Leo lagi.
Pintu kamar Leo pun terbuka dan tidak ada Leo juga di dalamnya. Biasanya saat akhir pekan seperti hari ini Leo sangat jarang keluar rumah. Kalau tidak ada keperluan atau hal mendesak ia hanya akan menghabiskan waktunya dengan beristirahat dan membaca laporan-laporan perusahaan.
Asap sup yang tadi pagi mengepul sudah tidak ada lagi. Sup itu sudah dingin dan tak tersentuh sama sekali. Syera menghela nafasnya dan memanaskan kembali sup yang sudah dingin.
Dia pergi kemana?
Syera tidak bisa menebak dimana Leo sekarang berada. Dia begitu tidak bersemangat dan melamun dengan tatapan kosong.
Ting!
Bunyi pesan masuk di ponselnya menyadarkan Syera dari lamunannya. Satu pesan masuk dari Fandy, mengingatkan Syera agar tidak lupa dengan janji mereka beberapa hari lalu untuk bertemu di akhir pekan dan itu adalah hari ini.
Syera membalas pesan Fandy mengatakan jika dia tidak lupa dan akan menemui Fandy diluar malam nanti.
Merasa lapar Syera mengambil sedikit nasi untuk mengisi perutnya yang kosong. Sejak pagi Syera hanya makan sepotong roti tawar dan secangkir teh hangat sebelum Leo bangun dan sekarang ia merasa sangat lapar.
Sambil makan Syera terus memikirkan Leo. Ia khawatir jika terjadi sesuatu diluar sana dengannya mengingat bagaimana keadaan Leo pagi tadi. Syera semakin khawatir karena Leo tidak sarapan, ia takut Leo juga melewatkan makan siangnya yang bisa berujung kambuhnya asam lambung yang diidapnya.
..........
Memakai pakaian serba hitam dan kacamata hitam seorang pria berdiri di dekat sebuah pusaran. Sudah cukup lama ia tidak berkunjung ke sana. Sepertinya sudah lebih dari lima tahun lalu sejak terakhir kali ia mengunjungi makam papanya.
Saat berada di luar negeri diam-diam ia pernah kembali ke Indonesia sehari hanya untuk melihat makam dimana nama 'Bayu Suntama' tertulis pada batu nisannya.
"Hai, pa?" sapa Leo pada nisan di depannya. "Hahaha... papa pasti marah karena aku baru datang lagi sekarang, iyakan?" ucap Leo tertawa kecil.
Leo akhirnya duduk di sisi kiri nisan papanya, cukup lama ia berdiam diri tidak mengatakan apa-apa.
"Hem... Leo nggak bawa bunga, pa. Maaf kalau aku tidak sebaik putra papa yang satu lagi."
Leo kembali diam dan menengadah ke langit. Ia tersenyum melihat langit siang yang begitu cerah.
"Sepertinya akan lebih baik jika berada di sana."
Raut wajah Leo berubah menjadi muram diikuti kepala yang ia tundukkan. Leo kembali tertawa saat air matanya mengalir.
"Apa papa tahu, sekarang Leo sudah seperti anak kecil yang sangat cengeng. Entahlah, Leo nggak tahu kenapa akhir-akhir ini air mata Leo begitu mudah keluar. Sepertinya ada masalah dengan mataku, mungkin aku harus mengunjungi dokter mata secepatnya."
Leo menyeka air matanya tanpa melepas kacamata hitamnya.
"Maaf."
Tubuh Leo bergetar saat mengucapkan kata maaf, berusaha menahan dirinya agar jangan sampai tangisnya pecah.
"Kenapa dia yang harus jadi putri papa? Dari banyaknya anak perempuan kenapa harus dia, pa?" tanya Leo sesegukan. "Apa karena selama ini Leo sangat jahat sama dia, kalau seperti itu kenapa perasaan itu datang, pa? Kenapa harus Leo yang merasakannya?"
"Sama sepertinya, papa juga pasti benci Leo, iyakan? Hanya orang gila yang memiliki perasaan seperti yang Leo rasakan saat ini. Aku rasa memang seperti itu. Seorang kakak laki-laki jatuh cinta pada adik perempuannya, terdengar sangat mengerikan bahkan menjijikkan," ucap Leo menertawakan diri sendiri.
"Kalau papa masih hidup saat ini papa pasti sudah bunuh Leo, iyakan?"
Leo tertawa namun air matanya tak berhenti mengalir. Hari semakin sore namun Leo Sepertinya masih betah berada di samping pusaran papanya. Diam, berbicara, diam, berbicara, itulah yang terus-menerus di lakukan Leo.
__ADS_1
"Pa, putri papa itu sangat cantik dan Leo sangat suka dia. Bukan hanya Leo, pa. Fandy, putra papa yang satunya lagi juga menyukai putri papa itu. Fandy selalu ada untuknya dan membuatnya tertawa sedangkan aku hanya bisa membuatnya menangis dan ketakutan."
"Pa?" Leo terisak dengan kepala menunduk, ia tidak dapat menahan lagi sesuatu yang memenuhi dadanya. Leo sudah tidak dapat mengendalikan emosinya lagi.
"Sekali ini saja, pa. Leo tahu ini salah tapi apa aku bisa egois sekali ini saja? Apa Leo bisa melakukan satu lagi kesalahan dengan mencintainya, pa?"
Langit siang yang begitu cerah sudah berganti dengan jingganya langit sore. Leo berdiri, entah sudah berapa lama ia duduk di sana diapun tidak tahu.
"Leo pulang, pa. Maaf karena Leo tidak punya tempat lain untuk mengatakan ini semua. Lain kali Leo akan datang dengan bunga kesukaan papa dan membawanya ikut bersama Leo menemui papa."
..........
Syera sudah bersiap untuk pergi menemui Fandy. Awalnya mereka akan pergi bersama namun ada hal penting yang harus dilakukan Fandy dan meminta Syera menemuinya ke alamat yang sudah diberitahu Fandy.
Melihat jam di dinding membuat Syera semakin khawatir karena Leo belum juga pulang. Leo memang bukan anak kecil tapi keadaan yang membuatnya khawatir.
Sudah setengah tujuh malam, akhirnya Syera memutuskan untuk pergi saja bertemu Fandy, dengan begitu dia tidak akan kepikiran dengan Leo lagi.
Klek!
"Kak Leo?"
Tiba-tiba Leo membuka pintu dan masuk dengan wajah yang begitu kusut.
Kenapa celananya kotor?
Syera memperhatikan bekas tanah menempel pada celana jeans Leo. Ingin rasanya Syera bertanya Leo dari mana tapi Syera menahannya.
"Aku akan keluar, mungkin agak malaman pulangnya," ucap Syera memberitahu.
Leo memperhatikan Syera dari atas hingga bawah, gadis itu begitu rapi dan cantik meski hanya mengenakan pakaian kasual.
Fandy? Ya, tentu saja, hanya ada Fandy di pikiranmu.
"Apa kamu tetap akan pergi kalau aku melarang?"
"Aku akan tetap pergi. Sama seperti kak Leo, dia juga kakakku."
Syera melewati Leo, ia akan segera pergi takut Fandy menunggunya terlalu lama karena mereka janji bertemu pukul tujuh malam.
"Jangan pergi."
"Syera harus pergi."
"Tapi aku minta jangan pergi," mohon Leo.
Syera berbalik melihat Leo yang menahan tangannya.
"Aku mohon jangan pergi," pinta Leo lembut.
"Sebaiknya kakak mandi, kak Leo sangat berantakan seperti ini."
Leo mengernyit menggigit giginya, memegang perut sebelah kanan menahan rasa sakit. Syera memperhatikannya namun tetap menahan diri untuk tidak bertanya.
"Aku pergi," ucap Syera.
__ADS_1
Leo masih ingin menahan Syera namun sakit di perutnya membuat Leo tak kuat untuk mengejarnya. Seperti ada ribuan jari yang sedang mencubit lambung Leo belum lagi rasa perih yang ikut menyertainya.
Leo tahu saat ini asam lambungnya sedang kambuh karena belum makan apapun seharian. Ia mencari obat yang biasa dikonsumsinya saat kambuh tapi sayangnya obat itu habis. Leo teringat jika selama tinggal bersama Syera asam lambungnya tidak lagi pernah kambuh sebelum hari ini.
Rasa mual dan pusing membuat pandangan Leo tidak fokus. Ia menuju kamar mandi dan mengeluarkan muntahannya. Leo membutuhkan air hangat, ia segera bangkit namun karena pusing yang luar biasa membuatnya terjatuh dilantai kamar mandi dan tak sadarkan diri.
..........
"Maaf, aku telat, kak."
"Enggak, kok. Kak Fandy juga baru nyampe sepuluh menit yang lalu," jawab Fandy berbohong.
"Kenapa restorannya sepi? Biasanya kalau kita kesini pasti rame apalagi saat akhir pekan seperti ini," mengedarkan pandangannya pada meja-meja yang kosong.
Syera merasa aneh karena pelanggan restoran tempat mereka sekarang berada hanya mereka berdua.
"Tidak usah dipikirkan, karena hanya ada kita berdua maka anggap saja kita lagi kencan."
"Kencan?"
"Iya, kenapa? Kau tidak suka dengan kata itu?"
"Aneh, kak."
"Tidak ada yang aneh, lebih baik kita makan dulu."
Seorang pelayan menyajikan makanan pembuka. Saat menyuapi ke mulut Syera teringat pada Leo. Ia berpikir apa Leo sudah makan saat ini. Hidangan ke dua yang merupakan menu utama mereka malam ini menyusul setelah hidangan pembuka habis.
Bayangan Leo saat mengernyit dan memegangi perutnya membuat Syera tidak fokus saat Fandy berbicara dengannya.
Apa asam lambungnya kambuh lagi?
"Syera?"
"I-iya, kak?"
"Kamu kenapa melamun?"
"Enggak kok, kak. Makanannya enak."
"Benarkah? Kalau gitu makanlah."
Fandy melihat pada pelayan yang bertugas, menganggukkan kepalanya memberikan kode untuk menyajikan menu terakhir, yaitu makanan penutup.
Bayangan wajah Leo tak bisa pergi dari Syera, membuatnya semakin khawatir. Hidangan yang disajikan pun tak dapat dinikmatinya dengan baik.
Pelayan sudah datang dan meletakkan makanan penutup di atas meja. Sebuah puding dengan toping es krim. Sebelum pergi pelayan itu mengangguk pada Fandy, memberi arti sudah melakukan apa yang diminta oleh Fandy.
"Ayo makan-"
"Maaf, kak. Syera harus pulang," menyela ucapan Fandy.
"Tapi kita belum-"
"Tapi aku harus pergi, kak."
__ADS_1
Syera berdiri namun Fandy menahannya.
"Kamu boleh pergi tapi setelah makan malam ini selesai."