
Jelas Fandy tidak akan percaya dengan ucapan Syera yang menurutnya sangat konyol. Demi bisa lepas dari pernikahan yang dikatakan Fandy, membuat Syera mengarang alasan tak masuk akal.
Stelah melepas kedua kancing mantelnya, Syera menyatukan rambutnya dan menggulungnya ke atas, memperlihatkan bentuk wajah Syera.
Syera melepas mantel, membiarkannya jatuh ke lantai. Satu persatu Syera melepas kain yang menempel di tubuhnya, dimulai baju rajut lengan panjang yang menutupi hingga lehernya.
Fandy berbalik badan, ia tidak ingin melihat apa yang akan dilakukan Syera. Sejauh ini Fandy masih tidak mempercayai ucapan Syera sebelumnya. Syera melepas semua pakaiannya dan hanya menyisakan ********** saja.
Jangan tanya bagaimana perasaan Syera saat ini, ia merasa sudah seperti wanita penghibur yang baru semalam memberikan tubuhnya pada pria yang dicintainya namun saat ini ia memperlihatkan kembali tubuhnya pada pria lain.
"Aku nggak bisa nikah dengan kak Fandy," ucap Syera.
"Jangan coba untuk membohongiku, aku tahu kamu wanita seperti apa. Keputusanku sudah bulat."
"Aku mau tahu apa kak Fandy masih mau menikahi aku setelah melihatnya dengan jelas."
Syera menarik tangan Fandy dan memaksa untuk menghadapnya.
Mata Fandy tak berkedip melihat tanda di sekujur tubuh Syera. Amarah Fandy yang tadinya mulai meredam kini naik kembali.
Plak!
Fandy tidak tahu apa tamparannya begitu kuat atau tidak karena ia sendiri tidak sadar tangannya sudah melayang dan menampar pipi Syera. Fandy terkejut melihat tangan yang digunakannya untuk menampar Syera, gadis yang ia cintai.
Syera yang merasakan sakit di pipinya membiarkan Fandy menatapnya dengan penuh amarah dan rasa jijik. Syera sudah tahu akan seperti itu respon Fandy. Fandy kembali berbalik dan membelakangi Syera. Fandy benar-benar hancur dan tidak sanggup melihat tubuh Syera dipenuhi tanda dari perbuatan Syera bersama Leo.
"Hanya butuh satu malam untukmu membuatku kagum, melebihi rasa kagumku selama ini padamu. Kamu lebih berani dari yang aku pikirkan selama ini. Aku tidak menyangka kamu bisa semurahan itu, sepertinya aku salah menilaimu selama ini."
Benar, berpikirlah seperti itu tentang aku. Teruslah menganggap aku seperti itu, kak. Kak Fandy harus marah, jijik dan bila perlu kak Fandy masih bisa menamparku lagi. Aku memang murahan yang karena cinta memberikan tubuhku dengan mudah. Aku memberi tubuhku tapi aku memberinya pada pria yang aku cinta. Aku tidak memberinya pada sembarang pria. Aku ingin selalu bersamanya, itulah alasanku memberikan tubuhku padanya. Aku ingin kak Fandy jijik dan membuangku dan saat itu aku akan bebas berlari pada pria yang sudah memiliki tubuhku ini. Maaf, kak. Kak Fandy harus membenciku dan teruslah seperti itu.
Fandy masuk ke kamar mandi tanpa menutupnya. Tak lama dari dalam kedengaran suara cermin pecah diikuti teriakan. Leo meninju cermin di kamar mandi untuk meluapkan emosinya.
Meski telinga Syera mendengar pecahan cermin jatuh kelantai serta teriakan Leo namun dia sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Syera masih berdiri dengan tubuhnya yang masih memakai dalamnya saja, membiarkan tubuhnya yang kedinginan semakin membeku.
Beberapa menit berlalu, Fandy keluar dari kamar mandi. Ia membiarkan buku-buku jarinya yang terluka dan mengeluarkan darah, membiarkan darah menetes di atas lantai.
"Kamu pasti senang sekarang, iyakan? Aku tahu apa yang kamu pikirkan tapi maaf, aku tidak akan menarik kata-kataku. Aku bukan pria yang dengan mudah menarik apa yang sudah aku ucapkan, termasuk aku yang akan menikahimu. Kita tetap akan melakukannya, sebaiknya pakai kembali bajumu. Aku tidak mau pengantinku sakit disaat pernikahan nanti."
Fandy tak kuasa menahan air matanya, ia sudah seperti orang bodoh yang hanya tertuju pada satu wanita. Fandy marah tapi ia sudah terlalu mencintai Syera.
"Kamu bisa memperlihatkan tubuhmu lagi padaku setelah kita menikah nanti. Kamu bebas menunjukkannya setelah menjadi wanitaku. Cukup sekali saja menjadi murahan pada pria lain, jangan melakukannya di hadapanku juga."
Fandy pergi keluar setelah mengatakannya sedangkan Syera runtuh di atas lantai. Syera menangis melihat tubuhnya yang bagaikan tak berharga. Ia meraih mantel, memeluknya erat dan menumpahkan air matanya hingga lelah.
..........
__ADS_1
Aaaaa.......!!
Fandy berteriak meluapkan amarahnya. Berulang kali ia memukul setir mobil dengan tangannya yang masih mengeluarkan darah. Marahnya Fandy karena kecewa, selama ini tidak sedikitpun terbersit dalam pikirannya untuk melakukan yang tidak-tidak pada Syera. Jika mau, Fandy tentunya punya banyak kesempatan tapi ia menjaga Syera dengan sepenuh hatinya.
Setahun tinggal berdua di negara asing hanya sekali Fandy mencuri cium Syera, itupun ia langsung meminta maaf dan mengatakan jika hanya terbawa suasana. Fandy tidak ingin membuat Syera merasa tidak nyaman saat bersamanya, Fandy menjaga Syera sampai suatu saat nanti akan memiliki Syera seutuhnya.
Fandy marah dan kecewa tapi disaat yang sama ia juga menyesali perbuatannya yang sudah mengangkat dan melayangkan tangannya pada Syera.
Aaaaa.......!!
Apa aku pernah nyakitin perasaanmu? Apa aku pernah berkata kasar? Tapi kenapa justru dia dan bukan aku? Kenapa? Sudah puas untuk kalian berdua mempermainkan aku. Sudah cukup, saatnya aku yang pegang kendali. Apa yang aku mau, itu yang akan aku lakukan. Perasaan kalian, aku tidak peduli lagi. Kalau kalian ingin hidup bahagia maka apa bedanya denganku. Aku akan melakukan apapun demi kebahagiaanku meski apa yang membuat bahagiaku itu tidak seutuhnya menjadi milikku.
..........
Pagi-pagi sekali Ben dan Leo kembali menuju kota. Ben membawa Leo ke hotel tempatnya menginap terlebih dahulu dan akan mengantar Leo ke tempat dimana Syera tinggal bersama Fandy. Tidak hanya tempat Syera bekerja, Ben juga tahu tempat tinggalnya dari hasil membuntuti Syera.
Usai berganti pakaian Ben meluncurkan mobilnya berharap Leo bisa segera bertemu dengan Syera.
Mereka tiba di tempat yang di yang dimaksud Ben. Dengan rasa penuh harap Leo berdiri di belakang Ben yang sedang menekan bel. Berulang kali Ben menekan bel tapi tak seorangpun yang merespon dan membuka pintu.
Seorang pria tua yang tinggal di sebelah tempat tinggal Syera dan Fandy sedikit berteriak pada mereka, mengatakan jika kedua pemilik rumah tersebut sudah pergi beberapa saat lalu dan mungkin untuk bekerja.
Gegas Ben menepuk pundak Leo agar segera naik ke mobil. Selanjutnya mereka pergi ke toko pakaian tempat Syera bekerja. Sampai di sana Ben meminta Leo untuk menunggu di dalam mobil dan ia sendiri yang akan menanyakan keberadaan Syera pada pemilik toko ataupun karyawan lainnya.
Ben hanya butuh sekitar lima menit, dia keluar dengan wajah bingung. Dia menghampiri Leo ke dalam mobil.
"Sorry, bro. Dia tidak ada di toko itu," jawab Ben. "Dia tidak bekerja lagi di sana mulai hari ini. Pemilik toko bilang kalau tadi pagi Syera datang bersama seorang pria dan memberi surat pengunduran diri."
"Apa kau tahu tempat Fandy, maksudku tempat adikku bekerja?"
"Hem... Maaf, bro."
Ben menghela nafasnya, Ben hanya mencari tahu mengenai Syera selama ini dan tidak dengan Fandy. Ben pikir tidak penting mengenai Fandy tapi sekarang ia menyesal dengan pikirannya.
"Aku akan mencari tahu dimana Fandy bekerja, aku rasa itu bukan hal yang sulit. Aku akan mengantarmu kembali ke hotel dan mengabarinya setelah mendapat informasi. Bagaimana?"
"Tidak, sebaiknya antar aku ke tempat mereka tadi. Aku akan menunggu mereka di sana. Maaf sudah merepotkanmu, sebaiknya kau pergi bekerja."
Leo merasa sangat tak enak hati. Sejak ia tiba hingga saat ini, Ben sudah banyak membantunya.
"Apa kau yakin?"
"Iya, aku yakin. Tidak usah mengkhawatirkan aku."
"Hei... Mana mungkin aku tidak khawatir, wanitamu dibawa pergi oleh pria lain. Kau bisa bersikap apa adanya denganku, jangan menutupinya seakan kau itu pria kuat. Aku tahu bagaimana rasanya, mungkin kau tidak percaya tapi aku sudah mengalaminya terlebih dahulu."
__ADS_1
"Sorry, Ben."
"Santai saja, sudah masa lalu dan dia bahagia bersama pria itu," jelas Ben. "So, apa kau yakin akan menunggu mereka di sana?"
Leo mengangguk, ia akan menunggu Syera dan Fandy sampai mereka kembali.
"Baik kalau begitu, aku akan mengantarmu ke sana."
..........
Sepanjang hari Leo berdiri, duduk, jongkok dan mengitari sekeliling tempat ia berada. Ia melihat jam tangannya dan tersenyum karena sudah waktunya para pekerja selesai dan itu artinya Syera akan pulang. Leo terus melihat ke arah jalan, sungguh ia tak sabar ingin bertemu Syera.
Hitungan detik, menit bahkan jam berlalu namun Syera maupun Fandy tak satupun yang datang. Siang berganti sore dan kini telah berganti malam tapi orang yang ditunggu tak kunjung terlihat.
Leo sempat senang saat melihat cahaya mobil dari kejauhan menuju ke arahnya tapi semakin mobil itu mendekat Leo kembali lemas karena itu adalah mobil Ben.
"Apa mereka belum kembali?"
Leo menggeleng, ia sudah tidak bersemangat lagi untuk bicara.
"Ini, makanlah dulu sembari menunggu mereka. Tidak lucu asam lambungmu kambuh di saat penting seperti ini," menyerahkan paper bag berisi makanan dan air mineral pada Leo.
"Apa Bima juga yang memberitahumu mengenai hal itu?"
"Tentunya. Dia sangat khawatir jika kau melewatkan waktu makanmu."
Leo menerima paper bag yang diberikan Ben dan mencoba makan meski ia tidak berselera. Saat siang tadi Ben menyuruh seseorang untuk mengantar makanan pada Leo dan itu juga hanya bisa habis setengah oleh Leo.
Thanks, Bim. Percayalah, kau akan naik jabatan setelah ini.
..........
"Aku nggak mau disini, aku mau pulang."
"Kita akan pulang tapi tidak sekarang. Kita akan disini selama beberapa hari sampai kita menikah nanti dan setelahnya kita akan kembali."
"Kak Fandy nggak bisa berlaku sesuka hati padaku," geram Syera.
"Tutup mulutmu dan tidurlah. Besok kita akan melakukan banyak hal jadi istirahatlah."
"Tapi aku nggak bisa tidur satu ranjang dengan kak Fandy."
"Kenapa tidak bisa? Kalau dengan Leo saja kamu bisa tidur di ranjang yang sama bahkan sudah melakukannya bersama dia, apa bedanya denganku. Tidak perlu takut karena nantinya kita juga akan menikah. Apa kamu juga lupa kalau sudah mempertontonkan tubuhmu itu padaku semalam? Jadi jangan bersikap polos lagi di hadapanku."
Syera tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia tidak ingin pasrah dengan keadaan tapi dia juga tidak punya kendali saat ini. Bahkan Syera tidak bisa berbuat apa saat pagi tadi Fandy membawanya kemanapun ia pergi, surat pengunduran dirinya saja Fandy yang mempersiapkannya hingga kini Fandy membawanya ke sebuah hotel. Meraka akan menginap di sana sampai hari pernikahan mereka.
__ADS_1
Ingin rasanya Syera berteriak sambil menangis tapi ia tidak ingin terlihat lemah. Syera masih memikirkan cara bagiamana ia bisa lepas dari Fandy.