
Semua kebutuhan selama di puncak sudah berada di dalam bagasi mobil. Leo dan Syera gegas menyusul mama Mila yang sudah terlebih dahulu berangkat bersama pak Asep dan bibi Retno.
Liburan kali ini mama Mila mengajak bibi Retno agar tidak kesepian selama di puncak mengingat ini liburan pertamanya tanpa sang suami setelah beberapa tahun. Ia juga butuh teman untuk di ajak mengobrol saat di perjalanan.
Ini adalah pengalaman liburan Syera untuk pertama kalinya, Syera sangat menikmati perjalanan menuju puncak. Saat mulai memasuki area puncak, Leo menurunkan jendela mobil agar Syera merasakan udara segar yang tidak pernah ia rasakan selama berada di ibu kota.
Hawa dingin nan sejuk seketika masuk ke dalam mobil dan menghampiri wajah Syera. Gadis itu menarik panjang nafasnya menghirup udara segar yang tak pernah ia rasakan selama ini.
Syera memiringkan tubuhnya kerah jendela mobil di sampingnya, mengeluarkan tangan kirinya, merentangkannya merasakan sejuknya udara. Leo mengurangi laju mobilnya, ia senang melihat Syera menikmati perjalanan mereka.
Leo mengulurkan tangannya, menjangkau dan mengusap kepala Syera.
"Kamu suka?"
Syera mengangguk membenarkan pertanyaan Leo.
"Aku ingin tinggal di tepat seperti ini. Jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk ibu kota. Pasti sangat nyaman bisa tinggal di sini, udaranya bersih dan sejuk."
"Kalau begitu kita akan menua bersama di sini," ucap Leo.
Syera mengalihkan pandangannya menatap wajah Leo, ia tersenyum mengangguk menyetujui ucapan Leo.
Leo meraih tangan Syera dan mengecupnya lembut. Syera sangat bahagia dengan keadaanya saat ini. Demikian juga dengan Leo, ia tidak pernah menduga seseorang yang memberinya kebahagiaan adalah gadis yang sangat ia benci sebelumnya.
Tiba di villa milik keluarga Suntama, Syera dan Leo menemui mama Mila yang sedang menikmati teh di pondok belakang villa.
"Kalian bisa istirahat dulu kalau capek," ucap mama Mila.
"Syera nggak capek, tante. Saya senang, terimakasih sudah ikut mengajak Syera kesini."
Leo yang duduk di di belakang mama Mila mengulas senyum memperhatikan interaksi canggung Syera saat bicara dengan mamanya. Leo yakin jika Syera sangat berhati-hati saat bicara dengan mamanya. Leo mengetik sesuatu di ponselnya dan pura-pura batuk agar Syera melihatnya.
Leo mengangkat ponselnya dan menunjukkan kalimat yang ia ketik pada Syera.
'Dia calon mama mertua kamu'
Mama mertua?
Syera gugup dan salah tingkah membaca kalimat yang ditunjukkan Leo. Ia takut mama Mila melihat apa yang baru dibacanya.
"Apa kalian hanya akan duduk diam disini? Ajaklah dia jalan-jalan, ini pertama kalinya Syera kemari."
"Iya, ma. Leo akan membawanya keliling," ucap Leo. "Ayo," mengajak Syera ikut dengannya.
"I-iya, kak. Syera permisi, tante."
Syera sedikit membungkuk pada mama Mila dan berjalan mengekori Leo.
Mama Mila memperhatikan Syera dan mengingat apa yang selalu dikatakan Fandy. Terakhir, semalam Fandy mengirim pesan padanya. Fandy tidak peduli dan terserah jika mama Mila marah dan menganggapnya anak tidak tahu diri dengan apa yang akan ia lakukan.
Mama Mila mengeluarkan ponsel dari saku baju rajutnya dan menghubungi Fandy.
"Kamu sudah dimana, nak?"
(Satu jam lagi Fandy nyampe kok, ma)
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan."
(Iya, ma)
Fandy datang terlambat karena ada hal penting yang harus ia lakukan sebelum berangkat ke puncak. Fandy sudah yakin dan memikirkannya matang.
Fandy meletakkan ponselnya, ia mengeluarkan kotak kecil persegi berwarna merah dari saku kemeja lengan pendek yang dipakainya. Fandy tersenyum membuka isi kotak kecil itu sambil membayangkan wajah Syera.
..........
Syera berjalan merentangkan kedua tangannya menyentuk ujung pucuk teh di kiri dan kanannya. Merasakan hembusan angin sejuk menerpa wajah dan rambutnya sedangkan Leo mengikutinya dari belakang.
"Kak?"
"Em?"
"Apa benar kita akan menua bersama di tempat ini?"
"Tentu, kenapa tidak? Ayo kita lakukan selama itu membuat kita bahagia."
Syera berhenti dan memandang hamparan hijau di sekelilingnya. Matanya dimanjakan dengan pemandangan indah kebun teh yang membentang luas.
__ADS_1
Jika Syera menikmati udara sejuk dan pemandangan hijau maka Leo sedang menikmati pemandangan yang di suguhkan Syera. Wajah Syera begitu manis dan indah apalagi saat angin menerpa rambutnya yang terurai panjang.
"Syera?" panggil Leo meraih tangan Syera. "Aku tidak tahu apa yang kamu suka, aku hanya memilih apa yang aku suka dan anggap cocok untukmu."
Leo mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan memakaikannya di pergelangan tangan Syera.
"Kak? Ini-"
"Aku harap kamu menyukainya."
Mata Syera berkaca-kaca melihat gelang yang dipakaikan Leo di tangannya.
"Hei... Aku memberimu gelang ini bukan untuk membuat dan melihatmu menangis," canda Leo menggoda Syera agar tidak jadi menangis.
"Cantik, aku sangat suka gelangnya, kak. Harganya pasti mahal, iyakan?"
"Harga gelang itu tidak ada artinya dibandingkan dirimu. Kamu jauh lebih mahal dari apapun di dunia ini."
Syera tertawa diikuti air mata yang terjatuh. Ia tidak tahu hal baik apa yang sudah ia perbuat hingga mendapat kebahagian seperti sekarang ini.
"Jangan pernah melepasnya, paham?"
Syera menganggukkan kepalanya dalam pelukan Leo.
"Ayo, kita kembali ke villa. Aku ngantuk sedari tadi menyetir mobil, aku ingin istirahat."
Keduanya kembali menuju villa sambil menikmati udara sejuk dan pemandangan indah di depan mata.
"Kamu tahu, villa tempat papaku membawa mamamu dan kamu saat bayi adalah villa yang kita tempati sekarang. Jadi ini bukan yang pertamakali tapi kedua kalinya kamu ke sini," memberitahu Syera.
"Apa kak Leo yakin?"
"Iya, ada dua villa milik keluarga di sini, yang satu lagi dibeli sepuluh tahun yang lalu sedangkan tempat kita sekarang sudah ada sejak aku masih SD."
"Wah... Syera nggak nyangka bisa seperti ini ceritanya."
Syera tidak menduga jika ia berada di tempat yang bersejarah. Tempat dimana dia dan mamanya tinggal dan bersembunyi dari pantauan keluarga Palmer. Di tempat ini Syera kecil dan Wulandari pernah tinggal bersama meski hanya beberapa bulan saja.
..........
Fandy yang menyadari kehadiran Leo dan Syera menutup kotak kecil yang isinya ia perlihatkan pada mama Mila dan memasukkannya ke dalam kantong sweater yang ia pakai. Posisi Leo yang membelakangi Leo dan Syera membuat mereka tidak melihat kotak kecil itu.
"Kamu sudah lama sampai?"
Fandy menghampiri Syera dan mengajaknya untuk duduk di sofa.
Leo menyunggingkan bibirnya tak senang melihat Fandy memegang tangan Syera tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain fokus pada tangan Fandy yang tak lepas dari tangan Syera.
Bibi Retno datang dari dapur membawa teh dan singkong goreng yang baru ia masak. Mama Mila mengajak bibi Retno ikut bergabung dengan mereka diruang tamu sedangkan pak Asep, suaminya sedang ngopi dengan penjaga villa di pondok.
Banyak yang mereka bicarakan, apalagi bibi Retno termasuk orang yang suka bercanda jadi ada-ada saja hal yang diucapkan bibi Retno hingga membuat mereka tertawa.
"Bagaimana dengan Karina?"
Pertanyaan mama Mila membuat Syera tiba-tiba terdiam, padahal ia baru saja tertawa karena candaan bibi Retno. Syera melirik pada Leo yang bersikap biasa-biasa saja.
"Bagaimana hubungan kalian? Apa dia baik?" lanjut mama Mila bertanya.
"Karina?" Leo mengambil goreng singkong dan menggigitnya. "Karina baik, orangnya asik dan nyambung diajak ngobrol."
"Bagus kalau gitu," ucap mama Mila senang mendengar pengakuan Leo.
"Iya, ma. Dia baik dan punya banyak kesamaan dengan Leo. Apalagi pacaranya, seru buat diajakin bahas mengenai kerjaan."
"Pacar? Maksud kamu pacar Karina?"
"Iya, ma."
"Jadi Karina sudah punya pacar?"
"Sudah, ma. Rencananya tahun depan mereka mau nikah."
Mama Mila sedikit kecewa karena ternyata Karina sudah memiliki kekasih dan akan menikah padahal mamanya Karina meyakinkannya jika Karina cocok buat Leo. Mama Mila yakin jika mamanya Karina tidak tahu hal itu, ia tidak bisa menyalahkannya.
Bibi Retno, Fandy dan Syera mengikuti pembicaraan mama Mila dan Leo tanpa berkomentar.
"Hahaha... Apa mama kecewa?"
__ADS_1
"Sedikit. Makanya kamu juga jangan kerja terus. Sudah waktunya kamu cari perempuan yang akan menemani kamu seumur hidup. Jangan bilang kalau kamu masih belum bisa lupain gadis itu, dia sudah jadi milik orang lain."
Uhuk-Uhuk
Leo terbatuk mendengar mamanya mengungkit masa lalunya saat ada Syera.
"Minum dulu, tuan."
Bibi Retno sigap memberikan minum pada Leo. Syera ingin melakukannya tapi ia tahan agar tidak menarik perhatian mama Mila dan Fandy. Bukan hanya karena itu, Syera juga tidak memberikan minuman karena gadis yang dibicarakan mama Mila.
"Kenapa dibahas, ma? Leo sudah lupa dan nggak ingat lagi."
Leo melirik Syera khawatir gadis itu berpikir yang tidak-tidak.
"Kamu yakin?"
"Iya, ma. Leo sudah lupa dan itu masa lalu. Lagian sekarang aku sudah punya seseorang."
"Kamu serius dan nggak bohongin mama?"
"Enggak, ma. Leo sangat suka dan sayang dengan gadis itu."
Melihat Leo tersenyum saat membicarakan gadis yang ia sukai membuat mama Mila yakin jika Leo tidak sedang berbohong.
"Kalau gitu kamu harus kenalkan sama mama," pinta mama Mila.
"Nanti, setelah kita pulang dari sini Leo bakalan bawa dan kenalin dia ke mama secara resmi."
Syera menelan salivanya membayangkan saat itu tiba. Saat dimana Leo mengenalkannya pada mama Mila sebagai gadis yang disukai Leo.
"Siapapun gadis itu yang bisa buat kamu bahagia, mama akan setuju."
"Janji ya, ma?"
Baik Syera maupun Leo sangat senang mendengar apa yang dikatakan mama Mila. Fandy juga ikut senang karena Leo sudah punya gadis yang sangat ia sukai. Fandy berharap agar semuanya lancar buat Leo dan gadis itu. Sesaat Fandy berpikir mungkin itu alasan akhirnya Leo mendekatkannya pada Syera beberapa waktu lalu.
..........
Waktu sudah hampir tengah malam, Syera yang tidur sekamar dengan bibi Retno merasa haus dan keluar untuk mengambil minum. Syera tidak menyadari jika Leo masih berada di ruang tamu seorang diri dan melihatnya saat menuju bagian dapur.
Leo melihat sekeliling dan dirasanya semua orang sudah tidur nyenyak. Ia mengikuti Syera ke dapur.
"Kamu belum tidur?"
"Kak Leo?"
Syera kaget saat Leo memeluknya dari belakang.
"Lepas, kak. Ngapain disini? Nanti ada yang lihat gimana?" bisik Syera takut ada yang mendengar.
"Semuanya sudah tidur dan hanya ada kita berdua disini. Nggak akan ada yang dengar ataupun tahu kalau kamu tidak bicara."
"Tapi-"
"Shtt... Jangan bersuara lagi."
Leo menempelkan telunjuknya di bibirnya sendiri. Detik kemudian Leo sudah menyatukan bibir mereka dan menyudutkan Syera ke pintu kulkas.
Entah mengapa Syera akan selalu terbuai oleh ciuman Leo. Ia tidak dapat berbuat apa-apa saat Leo menguasai bibirnya. Sesekali Leo menjeda ciumannya, mengelap bibir Syera yang basah dan kembali melanjutkan ciumannya. Seperti biasa, Leo selalu mendominasi.
Syera mendorong Leo saat ciuman Leo tiba-tiba turun hingga ke lehernya. Selama ini ciuman mereka hanya sejauh di bibir dan tidak lebih. Mata Syera berkedip-kedip lucu saat bibir Leo menempel di lehernya.
Saat lengah, Leo kembali mencium Syera dan menahan kedua tangan gadis itu kebelakang agar tidak memberi perlawanan. Syera meronta namun tidak dipedulikan oleh Leo yang justru kian menjadi-jadi mencium Syera.
Syera menggeliat geli saat bibir basah Leo kembali turun ke lehernya. Syera mendesis, ciuman lembut yang dilakukan Leo berubah menjadi hisapan yang tidak bisa digambarkan Syera dengan kata-kata.
Leo tersenyum puas melihat hasil karya pertamanya di leher Syera, ia yakin Syera akan menangis saat melihat tanda itu dan menghajarnya habis-habisan saat pulang ke apartemen nanti.
Mata Syera yang masih tertutup membuat Leo kembali menyatukan bibir mereka. Sebenarnya Leo sudah ingin menyudahinya namun ia gemas melihat wajah Syera.
Leo menahan tawanya dengan bibir yang masih menempel di bibir Syera dan tidak menyadari jika seseorang datang ke dapur.
"Ka-kalian, apa yang kalian lakukan disini?"
Wanita yang baru masuk ke dapur itu melotot melihat dengan jelas apa yang dilakukan Leo dan Syera.
Bersamaan dengan pertanyaan wanita itu mata Leo dan Syera terbuka lebar. Mereka ketahuan! Syera menelan salivanya ketakutan, Leo melepas ciumannya dan menyeka bibir basah Syera.
__ADS_1