Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Nikmati Masa Mudamu


__ADS_3

"Kalian?" kaget mama Mila melihat keadaan Leo dan Syera. "Kenapa kalian berdua basah?"


"Maaf, tante. Tadi aku kepeleset dan jatuh ke kolam renang," jawab Syera berbohong.


"Syera?"


Fandy yang baru datang bergabung dengan mereka karena mendengar suara mama Mila saat ia di ruang tengah. Fandy ikut kaget melihat Syera yang basah kuyup.


"Terus kamu kenapa ikutan basah?" tanya mama Mila menunjuk Leo. "Kamu ikut kepeleset juga?"


"Bukan, ma. Tadi Leo-"


"Kak Leo basah karena bantuin Syera, tante. Syera nggak bisa berenang soalnya," jawab Syera memotong ucapan Leo.


"Bukannya kamu bisa berenang?" tanya Fandy. Ia tahu jika Syera bisa berenang.


"I-iya, kak. Cuman... ta-tadi itu, em... tadi tiba-tiba kaki Syera kram, aku sulit untuk berenang jadi kak Leo datang buat bantuin."


"Kamu yakin?"


"I-iya, kak."


Syera mencoba meyakinkan Fandy jika apa yang dikatakannya itulah yang sebenarnya terjadi. Bukan hanya setahun atau dua tahun Fandy mengenal Syera, sudah lebih dari tujuh tahun sejak mereka kenal dan itu membuat Fandy tahu saat Syera sedang berbohong.


Meski berusaha meyakinkannya namun Fandy tahu jika Syera sedang berbohong. Hanya melihat kedua jempol Syera yang dimainkannya saja itu sudah cukup untuk Fandy. Melihat Leo yang diam saja membuat Fandy yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dan sedang ditutupi Syera.


"Sudah. Lebih baik kalian berdua ganti baju sekarang," ucap Mila.


Bibi Retno yang sedari tadi berada di balik tembok dan ikut mendengar percakapan semuanya langsung membawa Syera dari sana ke kamar yang dulu di tempatinya. Bibi Retno memberikan handuk dan pakaian ganti untuk Syera.


"Kamu mandi dan ganti baju sekarang," ucap bibi Retno.


"Ini bukannya baju Syera, kenapa ada di sini?"


Syera bingung karena beberapa pakaian lamanya yang dia masukkan ke gudang sebelum pergi dari sana bisa ada di kamar itu.


"Bajunya masih bagus, jadi bibi ambil dari gudang dan cuci."

__ADS_1


"Makasih ya, bi."


"Ayo, lebih baik ganti baju sekarang, jangan buat ibu Mila nunggu lama."


Bibi Retno meninggalkan Syera berganti pakaian. Ia kembali ke pekerjaannya. Wanita itu begitu sayang dan kasihan melihat Syera selama ini.


Ingin rasanya ia mengadukan perbuatan Leo di kolam renang pada nyonya rumah tapi bibi Retno juga yakin jika nantinya Syera akan mendapat imbas dari perlakuan Leo. Ia sendiri juga bingung kenapa Syera memilih berbohong dan tidak berkata jujur saat Mila bertanya tadi.


Bibi Retno bingung dan tidak mengerti apa yang sedang terjadi antara kedua anak muda itu tapi yang jelas mengunci mulutnya dari kejadian di kolam renang adalah pilihan yang terbaik.


..........


"Ma, Fandy sayang sama mama. Fandy mohon untuk yang satu ini mama tolong izinin Fandy dengan Syera, ma. Fandy sayang dia, ma."


"Apa yang kamu rasa itu hanya karena selama ini kamu dekat dan perhatian sama dia. Mama yakin Leo juga sayang dengan Syera, karena dia adiknya. Kamu juga sayang karena Syera adik kamu."


"Ma," menggenggam tangan mama Mila. "Fandy beneran sayang sama Syera. Dia bukan adik aku, ma. Kami nggak ada hubungan darah sama sekali. Jadi tolong izinin Fandy, ma. Please, ma?" pinta Fandy memohon.


Dari belakang Syera datang untuk ikut bergabung dengan Fandy dan Mila, begitu juga dengan Leo yang sudah turun dari lantai dua. Mama Mila dan Fandy tidak bicara lagi.


Semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga. Entah apa tujuan mama Mila kali ini meminta mereka datang ke rumah.


Saat di kolam sebelumnya Leo begitu sulit untuk melepas Syera dari pelukannya. Suara mama Mila memanggil saja tidak dia hiraukan. Kalau bukan karena ancaman Syera yang mengatakan tidak akan pernah mau lagi bicara dan ketemu dengan Leo mungkin dia tidak akan melepasnya.


Dalam keadaan terpaksa Leo melepaskan Syera dari pelukannya. Leo takut dengan ancaman Syera.


"Leo baik-baik saja, ma."


Syera sama sekali tidak sedikitpun melihat atau sekedar melirik pada Leo. Dia duduk diam di samping Fandy.


"Kau," melihat Syera di depannya. "Berhentilah bekerja di restoran itu. Saya tahu kamu anak yang mandiri tapi itu juga akan menjadi hal yang kurang baik bagi keluarga Suntama. Untuk sekarang fokuslah dengan kuliahmu."


"Tapi tante, saya-"


"Uang di keluarga ini masih cukup banyak untuk membiayai hidupmu. Kau bisa kerja setelah lulus kuliah. Jangan membuat kami seperti orang jahat, suamiku juga tidak akan setuju dengan yang kau lakukan."


"Saya nggak berpikir seperti itu, tante."

__ADS_1


"Kau masih muda, nikmati masa mudamu dan kenallah banyak orang. Jangan membuatku merasa bersalah pada almarhum suamiku, jadi lakukan seperti apa yang aku minta."


"Baik, tante."


Syera mengangguk meski sebenarnya dia sangat berat untuk meninggalkan pekerjaannya di restoran. Tempat itu sudah seperti rumah ke dua baginya. Tempat dimana dia bisa tersenyum dan tertawa bebas saat bersenda gurau dengan teman-teman kerjanya. Syera tidak bisa menolak permintaan Mila karena seharusnya dialah yang merasa bersalah karena wanita yang melahirkannya sudah masuk dalam kehidupan keluarga Suntama.


Mama Mila mengajak ketiganya untuk terlebih dahulu makan malam sebelum pulang.


Syera masih duduk di samping Fandy saat makan malam, ia tidak ingin ada di dekat Leo.


Leo mengusap kasar wajahnya menggunakan kedua tangannya, ia tak berselera untuk makan. Pemandangan di depannya sangat tidak ia sukai. Leo tidak suka melihat Fandy menunjukkan perhatiannya pada Syera.


"Sampai kapan kau akan mengupas udang untuk Syera?" tanya mama Mila memperhatikan apa yang sedang dilakukan Fandy. Sepertinya Fandy ingin menunjukkan pada mama Mila bahwa dia sungguh-sungguh dengan perkataannya.


"Seumur hidup Fandy, ma."


"Fandy!" sontak mama Mila terkejut. Mama Mila merasa jika Fandy mulai melakukan perlawanan dengannya.


"Apa ada yang salah dengan itu, ma? Apa salah melakukan hal itu untuk orang yang kita sayangi?" ucap Fandy santai seakan tidak ada apa-apa.


"Tidak perlu melakukannya seumur hidupmu karena akan ada laki-laki lain yang akan melakukan itu nanti untuknya."


Leo menoleh pada mama Mila. Perkataan mamanya membuatnya terkejut, meski itu mamanya tapi perkataan mamanya kali ini tidak di sukai Leo.


"Hahaha... Kalau laki-laki itu ternyata Fandy gimana, ma?"


"Fandy!"


Mama Mila mencoba mengontrol emosinya, seketika meja makan menjadi hening. Syera yang tidak tahu apa-apa menoleh pada Fandy agar berhenti bercanda saat makan.


"Kak?"


Hanya Syera yang tidak mengerti apa maksud dari perkataan Fandy. Baik mama Mila maupun Leo jelas sudah tahu apa maksudnya. Semua yang dikatakan Fandy memenuhi isi kepala Leo, membuatnya semakin pusing dan menambah kusut di wajahnya.


Semuanya kembali makan dengan hening.


"Minggu depan kita semua liburan ke puncak. Kita akan menginap satu malam di sana," ucap Mila.

__ADS_1


"Kalau Syera nggak ikut-"


"Tidak ada yang tidak ikut. Semuanya ikut. Kalian perlu liburan untuk menjernihkan isi kepala kalian masing-masing," tegas Mila.


__ADS_2