Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Pertemuan Dan Perpisahan


__ADS_3

Leo berlari mengejar Syera, melihat gadis itu menunggu pintu lift terbuka. Leo kembali ke apartemen mengambil sendal untuk Syera. Leo mengambil kunci mobilnya karena berpikir mungkin Syera akan ke suatu tempat.


Saat keluar Leo sudah tidak melihat lagi keberadaan Syera, ia beralih menuju tangga darurat dan menuruni tangga secepat mungkin.


Dalam keadaan menangis Syera tidak lagi merasakan kakinya yang tanpa alas saat berlari ke luar gedung apartemen untuk mencari taksi. Ia hanya ingin segera bertemu dengan mamanya.


"Taksi!" panggil Syera melihat sebuah taksi menuju arahnya. Syera langsung masuk saat taksi itu berhenti di depannya. "Rumah sakit XXX, pak. Ayo cepat, pak."


Syera menyebut tempat tujuannya dan meminta supir taksi mempercepat laju taksinya.


Beruntung Leo masih melihat saat Syera masuk dalam taksi tadi sehingga ia bisa mengikutinya dari belakang. Leo terus mengikuti taksi yang membawa Syera.


Ada apa? Kamu mau kemana malam-malan begini?


Leo menghentikan mobilnya saat taksi di depannya berhenti. Karena fokus dengan Syera dan taksi yang membawa gadis itu Leo tidak memperhatikan kemana arah mobilnya melaju tadi. Barulah setelah Syera turun dari taksi dan berlari melewati pos satpam Leo menyadari jika ia sedang ada di depan salah satu rumah sakit.


Buru-buru Leo memarkirkan mobilnya dan mengejar Syera yang berlari begitu cepat di lorong rumah sakit.


Di pintu masuk UGD rumah sakit mami Jelita sudah menunggu kedatangan Syera.


Wanita itu bukannya mami Syera? Mau apa dia dan Kenapa dia ada disini?


Leo memperlambat langkahnya mengikuti Syera dituntun oleh wanita yang bersamanya menuju salah satu kamar rumah sakit.


Kenapa mereka berdua menangis? Siapa sebenarnya yang mau Syera temui disini?


Langkah Leo berhenti saat Syera dan mami Jelita masuk ke dalam kamar tujuan mereka. Dari posisinya berdiri Leo mendengar jelas teriakan Syera dari dalam. Syera menangis histeris dan meraung memanggil kata 'mama'.


Mama?


Penasaran dengan kondisi di dalam kamar di depannya membuat Leo perlahan mendekat hingga kakinya melangkah ke dalam dan berdiri di depan pintu.


Dilihatnya Syera menggoyang-goyang tubuh seorang wanita yang berada di atas tempat tidur sambil tak berhenti menangis. Seketika bayangan masa lalu saat kematian papanya menghampiri Leo.

__ADS_1


"Mama... Ma... Mama kenapa, ma? Ini Syera, ma. Bangun, ma!" tangis Syera histeris memanggil mamanya yang sudah tak lagi bernyawa di atas tempat tidur rumah sakit.


"Ma... Kenapa jadi gini, ma? Hiks... Hiks... Mama... Kenapa ninggalin Syera lagi?"


Air mata yang keluar sepertinya tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana kesedihan Syera saat ini. Dipelukanya tubuh kaku wanita yang baru hari ini ia panggil mama.


Rasanya bagai sebuah mimpi bagi Syera. Baru dalam hitungan jam ia bertemu dan berpelukan dengan mamanya namun kini mamanya itu sudah tak bisa lagi membalas pelukannya.


Di satu hari yang sama dan dalam hitungan jam saja ia bertemu dan berpisah dengan mamanya untuk selamanya.


Mami Jelita tidak kuasa mendengar tangisan pilu Syera, ia tahu keadaan ini tidaklah mudah untuk bisa di terima terlebih di saat kebahagian baru saja dirasa Syera dengan bertemu Wulandari.


Mami Jelita ingat jika tadi ia diminta untuk ke bagian administrasi oleh perawat sebelum Syera datang.


"Mami tinggal sebentar ya sayang," ucap mami Jelita mengusap-usap pundak Syera yang masih memeluk mamanya.


Mami Jelita terkejut saat melihat Leo berdiri di ambang pintu. Ini adalah pertemuan kedua mereka setelah penggusuran di bar sebelumnya. Meski Syera selalu berkata jika Leo orang yang baik namun mami Jelita tetap tidak suka mengingat kejadian di bar saat itu.


"Masuklah dan temani Syera sebentar," pinta mami Jelita pada Leo meski ia kesal padanya.


Layar pada monitor di samping tempat tidur sudah menunjukkan jika pasien sudah meninggal dunia dan dua perawat masuk untuk melepas semua alat-alat yang tadi digunakan dokter saat mencoba untuk menyelamatkan sang pasien tapi kehendak Tuhan berkata lain. Wulandari pergi untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi untuk bertemu dengan Syera seperti janji mereka sebelum berpisah di kontrakan mami Jelita.


"Syera, tenanglah," pinta Leo membawa Syera ke pelukannya dan membiarkan perawat melakukan tugasnya. Mata Leo tertuju pada wanita di atas tempat tidur.


Bukannya ini wanita yang ada di foto itu? Wulandari, wanita yang melahirkan Syera. Apa yang terjadi dan kenapa Syera bisa tahu, apa mereka sudah pernah bertemu sebelumnya?


"Hiks... Hiks... Harusnya mama ikut bawa Syera juga kemana mama pergi," lirihnya.


"Jangan bicara seperti itu, dia juga pasti sedih jika melihatmu saat ini dan bicara seperti itu. Tenanglah," menguatkan Syera meski sejujurnya Leo masih bingung dengan keadaan yang ada.


Leo membawa Syera keluar untuk ditenangkan terlebih dahulu atas permintaan perawat di dalam. Ia membawa Syera duduk di ruang tunggu keluarga pasien.


"Aku tahu tidak mudah tapi tolong jangan menangis lagi. Kamu sudah terlalu banyak menangis, matamu juga sudah mulai bengkak. Aku tidak sanggup melihat keadaanmu seperti ini."

__ADS_1


Leo berjongkok di hadapan Syera, menggenggam kedua tangannya untuk memberi kekuatan. Sesekali Leo juga menghapus air mata Syera yang tak berhenti mengalir.


"A-aku sendiri lagi sekarang," ucap Syera sesegukan.


"Enggak. Kamu nggak sendirian, ada banyak orang di sekitar kamu yang sangat sayang sama kamu. Ada aku disini untukmu, jadi jangan bicara seperti itu."


Mami Jelita menghentikan langkahnya saat melihat Leo menenangkan Syera. Wanita itu bisa melihat jika Leo sangat menyayangi Syera dari caranya melihat Syera. Seketika mami Jelita berharap untuk Leo bisa menjaga Syera selamanya.


Tadi, setelah Syera pulang dari kontrakan mami Jelita, Wulandari masih tinggal beberapa saat di sana. Kedua wanita itu masih membicarakan tentang Syera. Barulah sekitar pukul sepuluh malam Wulandari pamit untuk pulang dan menyampaikan rasa terima kasihnya lagi karena merawat Syera kecil.


Laju mobil yang dikendarai Wulandari cukup pelan. Ia membayangkan setiap detik pertemuannya dengan Syera, ia begitu menikmati harinya. Kebahagiaan memenuhi hatinya hingga sedikit lengah tidak fokus pada jalan di depannya.


Di perempatan jalan dari sebelah kiri sebuah truk ekspedisi melaju begitu cepat ditambah supir dalam keadaan mengantuk.


Brukkk...!!!


Kecelakaan tidak dapat dihindari. Truk ekspedisi yang akan berbelok ke kanan menghantam mobil yang dikendarai Wulandari hingga bagian depan mobil itu ringsek.


Saat kecelakaan itu tidak terelakkan lagi bayangan wajah Syera saat tersenyum seketika menghampiri Wulandari. Membayangkan itu Wulandari ikut tersenyum hingga hanya suara benturan kuat didengarnya untuk terakhir kali.


Polisi yang bertugas menangani kecelakaan itu menghubungi mami Jelita karena dialah orang terakhir yang di hubungi Wulandari sebelum kecelakaan terjadi.


Mami Jelita syok dan langsung pergi ke rumah sakit yang diberitahukan polisi. Belum sempat bertemu Wulandari dokter sudah mengatakan jika Wulandari tak terselamatkan lagi dan meninggal dunia.


..........


Proses pemakaman Wulandari langsung dilakukan keesokan harinya. Mami Jelita dan Leo mengurus semua keperluan yang ada. Tidak banyak yang menghadiri pemakaman itu karena baik Syera maupun mami Jelita tidak mengenal orang-orang dekat dari Wulandari.


Hanya beberapa orang saja yang hadir, termasuk Fandy yang di kabari oleh mami Jelita. Pak Ferdy yang juga mengenal Wulandari sangat terkejut mendapat kabar kematian Wulandari dari mami Jelita. Akan tetapi pak Ferdy tidak dapat datang karena berada di luar kota. Ibu Linda dan beberapa karyawan lainnya juga datang sedangkan mama Mila baik Leo dan Fandy sepakat tidak memberitahukannya dulu.


Syera tidak dapat berkata apa-apa, hanya air mata yang tak berhenti keluar melihat nisan mamanya. Semalam Syera menangis bahagia bisa bertemu mamanya. Hari ini ia menangis tapi bukan tangis kebahagiaan melainkan tangis kesedihan berpisah dengan mamanya selamanya.


Acara pemakaman sudah selesai namun Syera masih berat untuk meninggalkan pusaran mamanya.

__ADS_1


"Ayo pulang," ajak Fandy. "Tidak baik buatmu lama-lama disini."


Leo diam saja di tempatnya saat melihat Fandy membawa Syera pergi.


__ADS_2