
"Kamu pulang cepat?"
"Iya, ma. Leo kangen sama mama soalnya," memeluk mama Mila.
"Kangen? Kalau kamu kangen harusnya kunjungi mama setiap hari ke rumah. Kalau bukan karena mama yang minta mungkin kamu cuman sekali sebulan datangnya," sungut mama Mila.
Keduanya berjalan menuju ruang keluarga dengan Leo merangkul pundak mamanya.
"Maaf, ma. Mama tahukan kerjaan di kantor itu banyak," ucap Leo mencari alasan.
"Itu bukan alasan. Adik kamu Fandy aja meskipun hanya sebentar tapi dia sering datang ke rumah."
Leo hanya tersenyum namun hatinya merasa jika mamanya dan Syera sama-sama begitu menyanjung Fandy. Adiknya itu selalu selangkah di depannya dalam melakukan hal apapun untuk kedua wanita itu.
"Apa dia akan datang? Maksud mama Syera?"
"Iya, ma. Bima akan jemput dia nanti dari tempat kerjaannya."
"Kerja?"
"Maaf, ma. Leo juga sudah nyuruh dia buat berhenti kerja tapi dia nggak mau. Dia nggak mau lanjutin kuliahnya kalau nggak diizinkan kerja juga," jelas Leo.
"Kalau gitu biar mama nanti yang ngomong. Kamu nyaman tinggal berdua dengan dia? Kalau nggak biar Syera tinggal di rumah ini aja lagi," saran mama Mila.
"Nggak usah, ma. Jangan!" tolak Leo langsung. "Leo nyaman kok, sejauh ini semuanya baik-baik saja, ma."
"Syukurlah, bagus kalau begitu. Mama tahu ini nggak mudah buat kamu tapi setidaknya sekarang kamu punya adik perempuan. Jadilah kakak yang baik buat dia, hem?"
Leo mengulas senyum, dia tidak yakin bisa melakukan seperti yang mamanya minta.
"Sebaiknya kamu ganti baju dulu, kamu yang pakai tapi mama yang gerah lihat pakaian kamu."
"Iya, ma."
"Ya sudah, kamu istirahatlah. Mama ke belakang dulu bantuin bibi Retno."
Seperti yang dikatakan mama Mila, Leo naik ke lantai dua rumah itu ke tempat dimana kamarnya berada. Leo melepas jas dan pakaian kantornya dan menggantinya dengan pakaian rumah yang begitu santai. Celana pendek dan kaos polos berwarna putih menjadi pilihan Leo.
Leo kembali turun ke bawah dan berjalan-jalan di sekitar rumah. Leo duduk santai di pinggir kolam renang dengan memasukkan kakinya ke dalam air.
Merasakan segarnya air mengenai kedua kakinya membuat Leo mutuskan untuk berenang. Sudah cukup lama juga Leo tidak pernah lagi berenang.
Byur...
Leo hanya mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan langsung menceburkan dirinya ke dalam air kolam renang.
..........
Masih ada sekitar satu jam lagi untuk Syera berangkat ke rumah tante Mila namun Bima sudah datang menjemputnya. Syera terpaksa menuruti Bima karena itu adalah perintah Leo. Setelah pamit dan minta izin pada ibu Linda dan karyawan lainnya Syera pun akhirnya diantar Bima.
"Apa kak Leo sudah di sana?" tanya Syera.
"Sudah. Tuan Leo sudah di sana sejak sejam yang lalu."
"Kalau kak Fandy?"
"Saya rasa pak Fandy masih ada di kantor."
__ADS_1
Apa karena dia pimpinan jadi sesuka hati bisa pulang kapan saja?
Setibanya di rumah tante Mila, orang pertama yang dilihatnya adalah pak Asep yang sedang mencuci motor antik kesayangannya.
"Sore pak Asep?" sapa Syera yang baru keluar dari mobil Bima.
"Nak Syera?"
"Iya, pak. Pak Asep sehat?"
"Sehat, nak. Pak Asep dan bibi Retno sehat, kamu sendiri?"
"Syera juga sehat, pak. Saya masuk dulu ya pak," pamit Syera.
"Iya. Silahkan, nak."
Syera masuk ke dalam rumah sedangkan Bima kembali ke kantor karena ada yang perlu di urusnya. Syera begitu canggung saat akan masuk ke dalam rumah apalagi ia hanya seorang diri. Sebelumnya masih ada Fandy bersamanya saat terakhir kali datang.
Tidak ada seorangpun diruang tengah yang di dapati Syera. Ia memutuskan ke dapur karena yakin pasti ada bibi Retno di sana sedang bekerja.
Benar saja dugaan Syera, orang yang dicarinya ada di sana tapi tidak sendirian melainkan ada tante Mila juga.
"Sore tante," sapa Syera.
"Kau sudah datang?"
"Iya, tante."
Syera ragu namun ia tetap mendekati Mila dan mengulurkan tangannya meraih tangan Mila. Syera mencium punggung tangan wanita yang selama ini tidak pernah meresponnya. Mila membiarkan Syera melakukannya, meski sama sekali tidak menatapnya.
"Pergilah ke ruang tengah," ucap Mila.
"Pergilah, biar aku dan bibi yang mengerjakannya," tolak Mila.
Bibi Retno mengedipkan matanya memberi kode agar Syera meninggalkan mereka saja dan pergi ke ruang tengah.
"I-iya, tante. Syera pergi," ucap Syera pada Mila yang terlihat sibuk dengan bahan masakan.
Syera duduk manis seorang diri sambil mengamati rumah yang pernah dia tinggali itu. Syera juga ingat tempat sekarang ia duduk adalah tempat pertama kalinya ia bertemu dengan Leo dulu. Bahkan Syera juga masih ingat disitulah tempat saat Leo menarik kerah bajunya, mendorongnya hingga jatuh kelantai dan Fandy datang menolongnya.
Duduk sendirian tanpa melakukan apapun apalagi tidak ada orang untuk di ajak bicara membuat Syera merasa bosan. Ia akhirnya berjalan-jalan, mengamati satu per satu foto yang ada di dinding.
"Kak Fandy ternyata sudah tampan sejak kecil," gumam Syera melihat foto Fandy semasa SD. "Kak Leo juga sama, tampan dan keren," lanjutnya melihat foto Leo di sebelah foto Fandy.
Langkah kaki Syera tak terasa membawanya hingga ke pinggir kolam renang. Syera kaget mendengar suara air menyeruak.
"Kak Leo?" panggil Syera melihat Leo tiba-tiba muncul dari dalam air.
Leo tidak meresponnya dan tetap asik berenang.
"Pasti sangat segar berada di dalam sana," pikir Syera.
Syera menendang-nendang kecil air kolam renang sambil mengitarinya. Melihat cara Leo berenang membuat Syera kagum karena dirinya tidak sehebat Leo saat berenang.
Leo berenang ke arah Syera berdiri dan mengulurkan tangannya keatas.
Sebelah tangan lainnya ia gunakan menyisir rambut basahnya kebelakang dan mengusap air pada wajahnya.
__ADS_1
Leo menurunkan tangannya dan kembali mengulurkannya ke atas. Syera tidak mengerti apa maksud Leo, tanpa tanya Syera menyambut uluran tangan itu dan begitu terkejut karena ternyata Leo justru menariknya ke dalam kolam.
Byur...
"Kak!" kaget Syera saat Leo menariknya namun Leo hanya menyeringai.
"Bajuku jadi basah," ucap Syera kesal. "Aku nggak bawa baju ganti."
"Aku bisa membeli sepuluh kali lebih banyak dari baju yang kau punya sekarang."
"Kak!" geram Syera.
Syera mencoba meraih tangga yang terbuat dari besi untuk keluar dari dalam kolam namun Leo menahannya. Leo menarik tangan Syera dan memegang kedua bahunya.
Lagi-lagi sorot mata Leo begitu dalam melihat Syera.
"Awas, Syera mau keluar," melepas tangan Leo namun tidak berhasil.
"Sepertinya aku memang sudah gila."
Byur...
Plak!
"Emp... Kak!"
Plak!
Bibi Retno gemetaran memegang nampan di tangannya menyaksikan apa yang baru saja dilihat oleh kedua matanya.
Wanita itu kembali ke dapur dan meletakkan jus yang dibawanya di meja ruang tengah.
"Sudah, bi?"
"Ha? I-iya, bu. Sudah. Jusnya sudah saya antar ke mereka berdua," jawab bibi Retno gugup.
Bibi Retno kembali meneruskan pekerjaannya bersama Mila, nyonya rumah. Bibi Retno tidak bisa konsentrasi karena apa yang tadi dilihatnya berputar-putar di dalam kepalanya.
Di dalam kolam renang Syera sedang menangis berusaha melepaskan dirinya dari Leo.
Syera begitu kaget saat tadi Leo menekan bahunya dan menenggelamkan tubuh mereka kedalam air bersamaan. Saat tubuh mereka sepenuhnya berada dalam air Leo mencium bibir Syera dan itu terjadi begitu cepat.
Syera kaget dan menampar Leo setelah keluar dari air. Usai ditampar, Leo menarik tengkuk Syera dan kembali mencium bibir gadis itu. Syera marah dan menampar Leo lagi. Seolah belum cukup Leo kembali akan mencium bibir Syera namun gadis itu berontak dan saat berbalik Leo menahannya dan memeluknya dari belakang.
"Hiks... Lepas, aku bilang lepas," pinta Syera sambil menangis. Degup jantungnya sungguh tidak beraturan.
Leo semakin mengeratkan pelukannya pada Syera dan ikut menangis di atas bahu Syera. Leo menggeleng-gelengkan kepalanya pada setiap apa yang dikatakan Syera.
"Jangan seperti ini, kak. Tolong lepasin Syera. Aku nggak mau ikutan gila seperti kakak," ucap Syera sesegukan.
Leo masih memeluk erat Syera dari belakang sambil menangis.
"Kak, ayo lepas!" mengusap air matanya. "Cukup kak, jangan buat Syera jadi benci sama kak Leo!"
Leo masih pada posisinya, tidak mengatakan apapun.
"Leo..."
__ADS_1
Mama Mila dari ruang tengah memanggil Leo. Syera semakin takut karena Leo tak juga melepaskan pelukannya.
"Leo..."