Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Executive Lift Only


__ADS_3

Keadaan tubuh Fandy yang hanya menggunakan handuk semakin membuat Leo menatap tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat. Syera terkejut harus bertemu Leo di dalam apartemen Fandy. Fandy terkejut melihat Syera keluar dari kamar dan bertemu Leo dalam keadaan yang tak ia duga. Dan Leo begitu terkejut mendapati adik angkatnya bersama Syera dalam apartemen.


Pikiran Leo dipenuhi dengan hal-hal diluar nalarnya mengenai Fandy dan Syera. Pikirannya berkelana jauh akan apa yang mungkin sudah kedua orang itu bisa lakukan.


Dengan sinis Leo berjalan mendekati Syera dan menatapnya lekat. Maniknya begitu tajam menatap manik Syera. Ia sudah membayangkan hal-hal yang tentu saja tidaklah dilakukan Syera dan Fandy.


"Sejak kapan kau disini?" suara Leo begitu datar.


"Sejak dihari dia meninggalkan rumah."


Bukan Syera namun fandy yang menjawab pertanyaan Leo. Ekor mata Leo melirik Fandy yang berdiri dibelakangnya.


"Apa kau tahu tempat ini milik siapa, ha?" tanya Leo lagi. "Apa hanya tempat ini yang bisa kau tuju?"


"Dia tidak punya teman yang bisa dituju. Dengan keadaan mami Jelita yang sekarang ini tidak memungkinkan bagi Syera untuk tinggal bersamanya. Dan aku yang memaksanya untuk tinggal disini," jawab Fandy lagi mengambil alih.


"Benarkah? Apa kau tidak punya rasa malu untuk tinggal disini, ha?" cecar Leo.


"Cukup, kak!"


Fandy menarik lengan Syera dan menyembunyikannya dibelakang tubuhnya. Ia sudah melihat Syera mulai gugup dan ketakutan. Hal itu membuat Leo semakin tak suka ditambah Syera tak menjawabnya sama sekali.


"Masuklah ke kamar," pinta Fandy pada Syera. "Jangan takut, oke?" bisiknya ditelinga Syera.


Mata Leo terus mengawasi keduanya hingga Syera masuk dalam kamar.


"Dia tinggal disini atau tidak, itu nggak ada urusannya dengan kak Leo. Katakan ada perlu apa sampai rela datang lagi ke sini?"


"Apa sekarang kau punya hobi baru menampung orang dalam apartemenmu?" tanya Leo bersidekap dada.


"Bukankah dia juga bagian dari keluarga Suntama?" tanya Fandy balik. "Jadi apa salahnya dia tinggal disini? Satu hal lagi, apapun yang aku lakukan tidak ada urusannya dengan kak Leo, termasuk mengenai dia," mengarahkan pandanganya pada pintu kamar dimana saat ini Syera duduk di atas lantai kamar.


"Hah... Kalian berdua sungguh menjengkelkan."


BRAK...


Tak ingin berlama-lama Leo keluar dari sana namun sebelumnya ia menendang rak sepatu yang ada di dekat pintu hingga menimbulkan suara.


Selang beberapa menit Bima masuk ke dalam apartemen leo dan mendapatinya tengah duduk di sofa sambil menyeringai namun sesaat kemudian wajahnya berubah menjadi merah padam.


Berhati-hati Bima mengeluarkan satu persatu minuman kaleng dari kantong plastik ditangannya dan meletakkannya di atas meja di hadapan Leo.


"Ternyata dia bersembunyi di sana," gumam Leo dan meneguk habis isi satu kaleng minuman yang disodorkan Bima padanya.

__ADS_1


..........


Sebulan sudah berlalu sejak pertemuan ketiganya di apartemen Fandy. Semuanya berjalan normal seperti biasanya. Akan tetapi siapa sangka jika selama itu juga perasaan tak tenang melanda Syera.


Tidak mungkin semua akan baik-baik saja setelah Leo tahu jika dirinya keluar dari rumah Suntama dan tinggal di apartemen Fandy, itulah yang dipikirkan Syera.


Meski begitu Syera tidak menunjukkan ke khawatirannya di hadapan Fandy. Selama ini juga ia berusaha untuk tidak bertemu dengan Leo. Bahkan Syera beberapa kali menggunakan tangga darurat untuk turun atau naik saat melihat Leo akan menggunakan lift.


Walaupun lelah tapi itu lebih baik bagi Syera daripada bertemu dengan Leo yang hanya akan melontarkan kata-kata yang akan membuat sakit hatinya.


Jika Syera merasa berhasil tidak menunjukkan keberadaannya di depan Leo maka sebaliknya. Tanpa gadis itu ketahui Leo kerap kali melihatnya berlari ke tangga darurat, menutup kembali pintu saat bersamaan Leo keluar dari apartemennya.


Siang ini sebelum jam makan siang dan pelanggan restoran ramai, Syera menyempatkan untuk mengantar bekal makan siang Fandy. Ia merasa bersalah karena lelah bekerja dia bangun kesiangan dan saat bangun Fandy sudah berangkat kerja. Padahal biasanya setiap pagi ia akan membuatkan sarapan untuk Fandy dan tentu untuknya juga.


Tiba di depan pintu masuk Syera teringat sesuatu. Ia tidak mungkin mengantar langsung pada Fandy apalagi masih sekitar satu jam lagi untuk waktu makan siang. Ia juga tidak ingin mengganggu jam kerja Fandy.


Ia melihat seorang pria berseragam OB lewat dari hadapannya dan saat itu juga ide muncul di dipikirannya.


"Permisi, mas." Sapa Syera menepuk pelan bahu office boy tersebut.


"Iya, mba."


"Mas-nya kerja disini bukan?"


"Tolongin saya boleh ya, mas. Tolong antar ini keruangan sales."


"Kebetulan saya juga mau ke sana sih, mba. Ya sudah saya bantu antarin. Oh iya, nama karyawannya siapa ya mba?"


"Fandy."


"Oh... Pak Fandy... Kalau pak Fandy sih saya kenal. Semua karyawan juga kenal dengan beliau."


"Oh, ya?" Syera bersemangat karena ternyata pria itu mengenal Fandy.


"Iya, mba. Semuanya kenal. Mantan wakil direktur utama yang sekarang jadi sales. Hahaha... "


Raut wajah Syera seketika berubah menjadi datar mendengar apa yang dikatakan sang OB.


"Maaf, mba. Bukan apa-apa, lucu aja soalnya selama sepuluh tahun bekerja disini baru ada kejadian seperti itu sekali dan drastis loh mba turunnya. Kalau langsung di pecat masih mending. Tapi kasihan sih, padahal pak Fandy orangnya baik dan apa itu namanya yang sering anak muda zaman sekarang bilang," mengingat istilah yang sering disematkan pada Fandy. "Oh iya, low profile."


Syera semakin pusing mendengar si OB yang terlalu banyak bicara.


"Ya sudah mas, saya permisi dulu. Jangan lupa anterin buat pak Fandy, ya."

__ADS_1


"Siap, mba."


"Makasih ya, mas."


"Anytime for you, mba. Cantik soalnya," goda si OB.


Syera tersenyum meninggalkan si OB yang memberi tanda hati padanya.


Si OB berlari mengejar lift yang akan menuju ke atas. Dengan sedikit ngos-ngosan ia berhasil masuk dan langsung menekan tombol menuju lantai lima.


"Astaga Tuhan!" seru si OB terkejut. Matanya membulat melihat dua pria selain dirinya dalam lift tersebut. "Kenapa menggunakan lift karyawan, pak? Apa lift buat para eksekutif sedang rusak?" tanya si OB sambil melirik pada Bima yang berdiri dibelakang Leo.


Dengan horor Leo menatap si OB. Seketika nyali si OB menciut dan mundur kesamping Bima.


Si OB menganggukkan kepala saat bertatapan dengan Bima. Bima menunjuk pada sesuatu yang ada di depan mereka.


OB yang bertubuh kurus dan tinggi itu seketika menganga melihat tulisan 'executive lift only' di sebelah kiri pintu lift.


Sekretaris Bima menahan senyumnya melihat wajah OB itu yang berubah menjadi pucat.


Ting!


Pintu lift terbuka setelah tiba dilantai lima.


Bima menepuk pundak si OB mengingatkan jika mereka sudah berada di lantai lima.


Dengan kaki sedikit gemetaran dia keluar dari dalam namun suara Leo menghentikan langkahnya saat sebelah kakinya sudah berada diluar lift.


"Apa aku yang salah saat memasuki lift?"


"Ti..tidak, pak. Sa...saya yang salah. Saya janji ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya."


"Sudah seharusnya," Leo menekan ucapannya. "Itu apa yang ada di tanganmu?" tanya Leo melihat kantong kain yang tadi Syera titipkan. "Bukankah ini masih jam bekerja, kenapa kau justru keluar membeli makanan?"


"Ma...maaf, pak. Ini bukan punya saya, ini saya tadi dititip buat dikasih ke pak Fandy di bagian sales."


"Apa kau tidak berbohong?"


"Mana berani saya, pak. Tadi ada perempuan cantik pokoknya nitip ini buat pak Fandy. Mungkin kekasih pak Fan-,"


"Pergilah," sela Leo tak ingin mendengar OB itu lagi.


Tiba di lantai tujuh Leo langsung masuk ke dalam lift menuju lantai bawah dan menyuruh Bima ke ruangannya terlebih dahulu.

__ADS_1


Leo turun dilantai lima, langkahnya menjurus pada bagian sales.


__ADS_2