Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Melepasnya Untuk Melihatnya Bahagia


__ADS_3

"Pergilah istirahat tidak usah perdulikan ini, aku bisa mengatasinya sendiri."


Leo mengambil kotak tisu dan meletakkannya di dekatnya. Ia menarik beberapa lembar untuk ia gunakan membersihkan tumpahan mie instan yang tadi ia masak.


Sebenarnya Leo sedang lapar namun ia tidak berani meminta Syera memasak sesuatu untuknya. Saat Syera berkata berniat untuk tidak pulang Leo cemas dan tidak ingin hal itu terjadi. Apalagi ketika melihat Syera langsung masuk ke kamar karena mengantuk dan ingin istirahat. Leo tidak ingin mengganggu Syera seperti yang biasanya ia lakukan.


Leo yang belum pernah melakukan pekerjaan di dapur pun berinisiatif untuk memasak mie instan. Tidak ada yang lebih gampang dari membuat makanan itu yang terpikirkan oleh Leo.


Tangannya sedikit gamang saat meletakkan panci berisi air ke atas kompor yang sudah terlebih dahulu ia nyalakan, berbanding terbalik dari orang yang sudah terbiasa memasak.


Setiap instruksi dalam kemasan menjadi alat panduannya memasak mie instan tersebut. Awalnya semua berjalan dengan lancar hingga saat Leo hendak memasukkan telur kedalam panci tanpa sengaja ada pecahan cangkang telur yang ikut masuk. Menggunakan sendok makan Leo berusaha mengeluarkan pecahan cangkang telur agar tidak bercampur dengan mie instan.


Karena kurang hati-hati saat menarik pecahan cangkang telur itu sendok yang dipegang Leo nyangkut pada bagian pegangan panci hingga akhirnya jatuh kelantai.


Malang, perut yang sudah lapar harus tertunda untuk diisi.


"Apa kak Leo akan menghabiskan semua tisu itu untuk membersihkan semuanya?"


"Lalu, apa aku harus menggunakan bajuku?"


"Ada kain lap, kak. Apa tidak bisa lihat kalau ada kain lap di atas gantungan itu?" tunjuk Syera pada kain lap yang menggantung tak jauh dari posisi wastafel.


"Kenapa jadi mengomeliku, aku sudah bilang kalau aku bisa membereskan semua ini. Jadi masuklah ke kamar. Lagian kain lap itu lembab."


Leo menarik beberapa lembar tisu lagi untuk membersihkan lantai.


"Ya sudah, kalau memang tidak mau pakai kain lap. Seperti yang tadi kak Leo bilang aja, pakai baju kakak sekalian untuk membersihkannya."


Syera kesal karena Leo begitu keras kepala, tidak bisa dibilangin. Ia kembali masuk ke kamarnya membiarkan Leo menyelesaikan urusannya sendiri.


"Kenapa dia jadi marah-marah, sebenarnya tadi itu dia bertemu siapa di luar sana," gerutu Leo. "Apa dia pikir aku nggak berani melakukannya?"


Leo membuka semua kancing kemejanya dan melepasnya. Tanpa pikir ia menggunakan kemeja menggantikan tisu untuk membersihkan lantai.


Syera tidak tahan saat mengingat cara Leo membersihkan lantai tadi, dengan terpaksa ia keluar tapi ia malah kembali dikejutkan oleh kelakuan Leo yang benar-benar diluar nalarnya.


"Kak!" pekik Syera melihat Leo bertelanjang dada. "Kenapa nggak pakai baju?"


"Bukannya tadi menyuruhku membersihkan ini pakai bajuku?"


Leo mengangkat dan memperlihatkan kemeja putihnya yang sekarang sudah berubah warna dan berminyak, belum lagi mie yang menempel di kemeja itu.


Nafas Syera memburu dengan matanya begitu tajam melihat Leo.


"Lebih baik kak Leo tinggalin dapur ini sekarang!"


Leo bergidik ngeri melihat tatapan Syera. Ia langsung memasukkan kemeja ditangannya ke dalam tempat sampah dekat kamar mandi dan meninggalkan Syera.

__ADS_1


Melihat Leo sudah menghilang dari hadapannya, Syera langsung membersihkan lantai dan mengepelnya.


Ia mengambil dua bungkus mie instan dan dua butir telur untuk ia masak. Syera yakin jika Leo pasti sedang lapar.


Tok... Tok... Tok...


Tak lama Leo membuka pintu kamarnya saat mendengar Ketukan. Leo sudah mandi dan mengganti pakaian.


"Apa masih lapar? Kalau iya, ayo makan."


Leo menurut dan mengikuti Syera dari belakang. Syera meletakkan panci berisi mie instan rebus ke atas meja makan yang sudah ia taruh serbet dibawahnya.


"Ini," menyerahkan sendok garpu dan sendok makan pada Leo. "Makan ini juga," ucap Syera meletakkan piring berisi nasi di depan leo.


Syera mengambil mangkok dan sendok untuknya. Ia duduk berhadapan dengan Leo.


"Ayo makan," mempersilahkan Leo mengambil untuk pertama.


Bukannya mengambil sendiri Leo justru mengangkat piringnya meminta Syera mengambilkan untuknya.


"Bukannya sudah seharusnya melayani yang lebih tua?"


Syera menurut dan menaruh sesendok mie instan ke dalam piring Leo.


"Sekali saja, untuk selanjutnya kak Leo ambil sendiri."


Keduanya makan malam di saat waktu sudah lewat dari pukul sepuluh malam. Meski hanya mie instan namun karena sudah lapar membuat mereka makan begitu lahap.


"Aku sudah selesai," ucap Leo meletakkan sendoknya. Segelas air putih juga habis diminumnya.


Leo berpindah ke sofa dan menyalakan televisi. Syera yang juga sudah selesai makan langsung mencuci alat makan mereka.


Hari ini terasa begitu panjang untuk di lalui Syera namun sebanding dengan rasa bahagia yang di dapatnya. Meski sudah terlalu malam Syera tetap membersihkan tubuhnya yang sudah gerah seharian. Ia mencuci wajahnya yang seharian ini dibanjiri air mata kebahagian.


Selagi Syera di kamar mandi Leo yang tadi menyalakan televisi malah asik memainkan ponselnya. Telunjuknya sibuk menaik-turunkan layar ponselnya.


Jarinya berhenti saat membaca sebuah kutipan yang menarik perhatiannya.


"Bukan kebahagian yang kamu berikan tapi hanya rasa sakit untukmu dan dirinya jika ada kata ego di dalam cinta itu. Melepasnya untuk melihatnya bahagia itulah cinta"


Berulangkali Leo membaca kutipan itu sampai setiap kata yang tertulis melekat di kepalanya. Ia seakan di sadarkan dengan situasinya saat ini, apa yang ia rasakan pada Syera.


Leo menyandarkan tubuhnya ke sofa, menutup kedua matanya dan memikirkan kutipan itu lagi.


"Kakak sudah tidur?" tanya Syera pelan.


Leo membuka matanya dan melihat pada Syera tanpa bicara.

__ADS_1


"Aku cuman mau oles ini ke tangan kak Leo," ucap Syera menunjukkan salep luka bakar.


Syera duduk di samping Leo dan meraih tangannya yang memerah.


"Apa ini karena kena tumpahan mie yang tadi kakak masak?"


Leo menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan Syera.


"Akan sedikit perih," ucap Syera memberitahu sambil perlahan mulai mengoleskan salep ke tangan Leo. "Lain kali harus bilang kalau kak Leo butuh sesuatu. Kalaupun aku nggak ada lebih baik pesan makanan dari luar."


Tidak ada respon dari Leo, ia masih sibuk memikirkan sebuah kutipan yang kini berputar-putar di kepalanya. Leo menoleh pada Syera disampingnya, memandangi wajah gadis itu lekat.


"Apa kamu sangat terganggu dengan pengakuan yang aku buat? Apa kamu benar berpikir untuk tidak kembali ke sini lagi seperti katamu sebelumnya? Apa aku sangat egois, hem?"


"Menurut kakak?"


"Hem... Terimakasih," menarik tangannya yang sudah selesai di olesi salep oleh Syera. "Aku akan berusaha untuk melupakannya. Maaf, seharusnya aku katakan itu dari kemarin-kemarin."


"Maksudnya? Sebenarnya kak Leo mau bilang apa?"


"Seperti yang kamu bilang, ayo kita anggap semua yang aku katakan dan yang terjadi sejak di kolam renang tidak pernah ada. Hem... Ayo kita lakukan seperti itu," ucap Leo membuang mukanya dari Syera.


"Tapi, kak-"


"Maaf, aku minta maaf untuk semua yang sudah aku lakukan," pinta Leo. Suaranya begitu berat saat mengatakannya.


"Kenapa tiba-tiba kak Leo berubah pikiran?"


Ponsel Syera di kamarnya berdering, mengalihkan perhatian Syera. Ia melihat jam di dinding sudah hampir tengah malam dan tidak biasanya ada yang menghubunginya selarut itu.


Syera masuk ke kamarnya dan mengangkat panggilan yang masuk.


Mami? Nggak biasanya mami nelpon jam segini.


"Halo, mi? Tumben nelpon-"


Seketika Syera terdiam sebelum selesai bertanya. Raut wajahnya berubah, Syera gemetaran, lututnya serasa mati rasa tak kuat menopang tubuhnya.


Setiap kata yang ia dengar dari sambungan telepon seperti sebuah lelucon yang sangat tidak ingin ia dengar.


Ponsel Syera terjatuh diikuti Syera yang runtuh kelantai.


"Mama...!" teriak Syera histeris.


Suara histeris dari kamar Syera mengagetkan Leo yang masih duduk di sofa. Ia berlari menjumpai gadis itu ke kamar.


"Kamu kenapa?"

__ADS_1


Syera langsung berdiri dan mengambil ponselnya. Ia menerobos Leo yang berdiri di depan pintu kamarnya. Ia berlari dan keluar dari apartemen tanpa memakai alas kaki.


"Syera... Kamu mau kemana?"


__ADS_2