
Langkah kaki Syera berhenti setelah tiba di depan ruangan VIP tempat pertemuan dua pimpinan perusahaan. Seorang pelayan yang tadi menuntunnya ke sana undur diri dan mempersilahkannya untuk masuk.
Perlahan Syera menekan handle pintu dan mendorongnya. Matanya mencari seseorang yang akan ia bawa pulang karena tadi diberitahu melalui sambungan telpon.
"Tu-an?"
Alangkah terkejutnya Syera saat mendapati hanya ada satu orang saja yang berada di ruangan itu. Ia bingung antara masuk atau keluar meninggalkan pria itu.
Akan tetapi Syera memberanikan diri masuk ke dalam mengingat tujuannya adalah untuk menjemput Fandy yang tadi diberitahu tengah mabuk hingga tak sadarkan diri.
"Ma-maaf, tuan. Sa-saya permisi masuk sebentar."
Dengan langkah yang begitu berhati-hati Syera masuk dan mendekati satu pintu yang ada di dalam sana. Syera berpikir jika itu adalah pintu kamar mandi yang disediakan khusus untuk tamu VIP dan kemungkinan Fandy sedang berada di dalam sana.
"Kak, kak Fandy... Kak Fandy ada di dalam?" panggil Syera pelan sambil mengetuk daun pintu.
Berulang kali Syera mengetuk dan memanggil-manggil namun tak ada yang menyahut dari dalam. Kaki syera semakin gemetaran saat ekor matanya menangkap Leo yang sedari tadi terus-menerus meneguk minuman.
Tak!
Syera terperanjat saat mendengar suara yang cukup kuat. Begitu kuat Leo meletakkan gelas minuman ditangannya ke atas meja. Setelah itu Leo kembali mengisi gelas kosong tersebut dari isi botol yang baru.
Tak!
Sekali lagi Leo meletakkan gelasnya begitu kuat. Untung saja gelas itu tidak gampang pecah, kalau tidak mungkin akan berbeda lagi ceritanya.
Hisss... huhhh...
Suara desisan Leo setelah meneguk minuman untuk kesekian kalinya terdengar begitu menyeramkan ditelinga Syera. Ia sudah tidak tahan lagi untuk berlama-lama di ruangan itu. Berada di sana seakan membuat usia Syera berkurang sehari.
Pandangan Syera kembali tertuju pada pintu di depannya. "Kak Fandy ada di dalam? Kita pulang ya, kak."
Ptak!
Bunyi dentuman pintu membuat Syera menunduk dan menutup kedua telinganya. Gadis yang phobia akan suara keras itu tidak mengetahui sejak kapan Leo bangkit dari duduknya dan menendang pintu yang sedari tadi diketuk Syera.
Hanya satu kali tendangan cukup membuat pintu malang itu terbuka lebar. Usai menendang pintu Leo kembali duduk namun kali ini ia menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Sekuat tenaga Syera menahan rasa takutnya. Kedua matanya menelisik kedalam ruang kecil yang pintunya baru saja ditendang Leo.
Nihil. Tidak ada seorang pun di dalamnya.
"Hahaha... Apa kau mengkhawatirkannya karena dia tidak ada disini? Apa kau kesal karena yang kau jumpai disini hanya aku?"
Leo tertawa sinis sambil menuang kembali minuman ke dalam gelasnya.
"Dia tidak ada disini."
__ADS_1
Syera mengepalkan kedua tangannya namun ia sadar dengan siapa dia berhadapan saat ini. Apapun alasannya ia tidak berhak untuk marah. Hanya saja Syera bingung karena tadi Bima menelponnya untuk menjemput Fandy yang mabuk dan tak sadarkan diri namun nyatanya ia tidak menjumpai Fandy di sana.
Satu jam yang lalu....
Setelah Bima menelpon Syera ia meminta pelayan yang bekerja di sana untuk menunggui Fandy sampai di jemput oleh seorang gadis.
"Sebentar lagi gadis itu akan datang untuk menjemput pak Fandy. Saya akan mengantar tuan kembali ke apartemen."
"Benarkah?" cibir Leo.
Meski begitu Leo tidak langsung pergi namun ia terus memperhatikan Fandy yang entah pingsan atau sedang terlelap.
Dua puluh menit berlalu Bima tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Leo sehingga masih bertahan di ruangan itu.
"Maaf, tuan. Saya rasa sebaiknya kita pulang sekarang."
Leo bertopang dagu menggunakan tangan kirinya sedangkan telunjuk kanannya mengitari bibir gelas minumannya.
"Pergilah bawa dia."
"Maksud, tuan?" tanya Bima memperjelas apa yang dimaksud Leo untuk ia lakukan.
Leo mengangkat kepalanya dan mengusap-usap leher bagian belakangnya. Ia memutar ke kiri dan ke kanan kepalanya, mencoba merilekskan otot lehernya.
"Bawa dan urus dia," ucap Leo memperjelas.
"Aku baik-baik saja."
Ucapan Leo adalah perintah jadi sudah tentunya Bima akan melakukan apa yang diucapkan Leo.
Menggunakan seluruh kekuatannya, Bima membopong tubuh tak berdaya Fandy dan membawanya dari sana dan meninggalkan Leo seorang diri.
..........
Leo memegangi tepi meja dan mencoba untuk berdiri. Baru dua langkah ia sempoyongan, tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya hingga terjatuh mengenai meja.
Bruk!
Trang...
Bunyi yang cukup berisik karena beberapa alat makan di atas meja terjatuh dan pecah.
Tak ingin berlama-lama di sana yang tentunya membuatnya semakin ketakutan Syera lewat dari belakang Leo. Dipikirannya hanya ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Belum lagi Syera mencapai pintu seorang pelayan sudah terlebih dahulu masuk. Si pelayan melihat Syera dengan tatapan menyelidik karena melihat keadaan di dalam.
Dengan cepat Syera menggeleng-gelengkan kepalanya pada si pelayanan ingin mengatakan jika ia tidak ada hubungannya dengan situasi di dalam.
__ADS_1
"Itu mba," si pelayan menunjuk kearah Leo yang menelungkupkan wajahnya di atas meja yang berantakan.
"Sa-saya permisi, mba. Saya salah masuk sepertinya. Orang yang saya cari ternyata bukan di ruangan ini. Maaf, mba."
"Mba Syera bukan?" tanya si pelayan.
Spontan Syera menjawab sambil mengangguk. "Iya, saya mba." Baru saja Syera mengiyakan pertanyaan si pelayan Syera kemudian meralatnya dengan menggelengkan kepala diikuti kedua tangan berkata tidak. "Eh, bukan-bukan... Bukan saya mba."
Bruk!
Baik Syera dan pelayan bersamaan menoleh pada tubuh yang tidak mereka lihat saat tadi mencoba bangkit namun kembali ambruk dan terlentang.
"Sebaiknya mba bawa pulang pak Leo. Tadi sekretarisnya pesan ke pihak kami kalau pak Leo akan di jemput oleh seorang gadis bernama Syera dan itu pasti mba, iyakan?"
"Tapi saya-,"
"Di depan sudah ada supir dan mobil yang akan membawa pak Leo dan mba. Sebaiknya dibawa pulang sekarang, mba."
Berulang kali Syera menolak dan mengatakan tujuan dirinya datang ke tempat itu namun tetap saja ia dipaksa untuk membawa Leo dari sana.
Berpikir sejenak Syera akhirnya memutuskan akan membawa Leo pulang ke apartemen. Setidaknya sudah ada supir dan mobil yang akan membawa mereka.
Syera mencoba menghubungi ponsel Fandy namun tak ada jawaban. Ia melihat pada Leo yang terlentang di hadapannya.
"Ayo, mba."
Huff...
Syera menghembuskan nafasnya dan bersama si pelayan akan mengangkat tubuh Leo. Baru saja mereka akan bergerak seorang pelayan lain masuk dan meminta temannya itu untuk membantu karena restoran sedang ramai pengunjung.
Tinggallah Syera seorang diri selain Leo yang kesadarannya seperti ponsel yang hampir kehabisan baterai.
Seluruh kekuatan dikerahkan Syera mendudukkan Leo dan mencoba mengangkat tubuh Leo yang tentu saja lebih berat dari bobot tubuhnya. Sampai-sampai Syera harus menahan nafas saat menahan tubuh itu agar tidak terjatuh.
Bruk!
Kaki syera gemetaran hingga tidak mampu menahan tubuhnya dan Leo. Sudah beberapa kali Syera hampir berhasil mendirikan Leo namun ketika akan mengalungkan lengan Leo pada lehernya, mereka kembali terhuyung dan jatuh. Syera menimpa tubuh Leo.
"Hisss... kenapa jadi begini. Harusnya bukan seperti ini," gumam Syera merutuki keadaannya.
"Ayo bangun, tuan. Tubuhmu ini berat dan aku tidak sanggup mengangkatnya. Apa aku pergi saja dari sini, mereka tidak akan tahu kan, tujuanku kesini juga bukan untuk anda. Anda juga pasti akan kesal dan marah saat sadar dan tahu saya sudah menyentuh anda," monolog Syera duduk di samping tubuh Leo.
Syera melihat keluar, ia melihat jika suasana restoran cukup ramai dan tidak mungkin membawa keluar tubuh Leo melalui pintu depan restoran. Semua karyawan pun terlihat mondar-mandir sangkin sibuknya.
Kembali Syera masuk dan menatap lekat pada Leo.
"Maafkan saya, tuan."
__ADS_1