
Dua botol bir ditangan Leo terlepas, jatuh dan pecah. Leo berlari secepat mungkin namun mobil yang membawa Syera sudah melaju kencang dijalan yang mulus dan sepi pengendara. Leo tak mau menyerah, ia terus berlari meninggalkan Ben dibelakang yang sudah kelelahan.
Cukup jauh Leo berlari mengejar mobil yang membawa Syera. Pikiran Leo kosong saat berlari sekuat yang ia mampu, ia hanya terus berlari berharap kakinya bisa mengejar Syera yang semakin jauh dan tak terlihat lagi.
Berlari cukup jauh dan kencang ditengah gelapnya jalanan malam dan udara dingin akhirnya membuat kaki kokoh Leo lemas dan tak berdaya. Leo tumbang ditengah jalan disertai nafas yang tersengal-sengal.
Untuk kedua kalinya Leo berada di situasi yang sama. Seseorang membawa Syera dari Leo disaat ia dipenuhi kebahagiaan. Leo takut jika kali ini Syera akan pergi semakin jauh bahkan tidak dapat melihatnya lagi.
Dari belakang Leo yang terkulai lemas ada Ben yang berjalan terseok-seok karena lelah berlari dan menghampiri Leo yang sudah begitu jauh dari rumah tempat mereka berada. Udara yang begitu dingin membuat mereka yang lelah semakin sulit menarik nafas.
"Sorry, bro. Aku tidak menduga kejadian saat ini," ucap Ben. "Ayo kembali, kau sudah lelah, kau terlalu banyak berlari. Atau apa tidak sebaiknya kita lapor polisi?" tanya Ben memberi saran.
Ben membantu Leo berdiri. Leo sempat terjatuh karena kakinya yang kebas dan mati rasa namun Ben menopangnya berjalan untuk kembali. Ben memberi segelas air untuk menenangkan pikiran Leo, dalam situasi seperti ini kata-kata saja tidak cukup untuk diungkapkan, Ben memberi waktu untuk Leo tenang dengan segala kecemasan dan kepanikannya.
"Maaf, bro. Andai saja aku tidak membuat mobilku di bengkel untuk di dandani, pasti kita sudah bisa mengejar mereka," ucap Ben merasa bersalah. "Aku tidak tahu siapa pria yang membawa gadismu tapi aku yakin dia dan Syera saling mengenal."
Leo mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Syera meski ia tahu akan seperti apa hasilnya. Beberapa kali Leo menghubungi Syera namun panggilannya tak satupun yang dijawab. Dibukanya galeri ponsel dan menunjukkan sebuah foto pada Ben.
Sebenarnya Leo sempat melihat sekilas wajah pria yang membawa Syera. Meski dari jarak yang sedikit sedikit jauh tidak mungkin Leo salah mengenalinya, akan tetapi ia tetap ingin memastikan nya pada Ben.
"Apa ini orangnya?" tanya Leo memperlihatkan sebuah foto pada Ben.
"Kau punya fotonya, apa kau mengenalnya?"
"Iya, aku mengenalnya bahkan sangat mengenalnya."
"Tunggu," Ben berpikir sejenak dan teringat pembicaraan mereka beberapa saat lalu. "Apa dia adik yang kau maksud saat tadi kita ngobrol?"
Leo mengangguk sambil menghela nafas. Sudah jelas jika pria yang membawa Syera adalah Fandy.
__ADS_1
Ben hanya bisa terdiam namun tidak lama kemudian ia mencoba menghubungi seseorang dan dari pembicaraan mereka bisa di dengar Leo jika Ben meminta agar mobilnya diantar lebih cepat, bahkan akan memberi tips jika mengantarnya saat itu juga.
"Sorry, bro. Mereka tidak bisa mengantar mobil saat ini karena sudah malam. Sabarlah, kau pasti akan bertemu dengannya lagi. Kau seorang pria, kau harus yakin dan percaya jika Syera tidak akan mudah juga menyerah untukmu."
"Aku takut dia membawa Syera ketempat yang lebih jauh lagi atau mungkin ketempat yang tidak bisa aku temui."
Perasan dan pikiran Leo sudah tidak dapat ia tenangkan. Mengingat perjuangannya mencari keberadaan Syera setahun ini dia sudah sangat sulit apalagi jika hal serupa terjadi lagi untuk kedua kalinya. Leo tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya. Fandy selalu membawa Syera dari Leo setiap kali mereka mengukir kebahagian bersama.
"Kuasai pikiranmu, bro. Jangan berpikir yang tidak-tidak, percayalah jika semua akan baik-baik saja."
Ben sadar jika kata-katanya saat ini tidak akan bisa berterima akal sehat Leo namun ia tetap mencoba untuk meyakinkan teman barunya itu. Melihat Leo yang tak bersemangat dan menjambak rambutnya saja sudah membuat Ben mengerti jika Leo tidak sangat baik keadaanya.
"Aku akan keluar sebentar, meski sulit tapi cobalah untuk istirahat."
Ben meninggalkan Leo sendiri di dalam rumah. Ia ingin memberi Leo waktu untuk sendiri.
..........
"Tolong, kak? Aku mohon jangan bawa aku lagi. Aku mau sama kak Leo. Kasihan kak Leo, dia pasti nyariin aku kemana-mana. Tolong?"
Sepanjang jalan Syera terus memohon, mengiba bahkan memaksa Fandy untuk membawanya kembali ke Leo. Kali ini ia akan menjadi lebih berani, bukan hanya karena Leo tapi untuk dirinya sendiri.
"Ayo putar balik mobilnya, kak. Kak Leo pasti khawatir dan takut sekarang. Aku mohon putar balik, kak. Apa nggak kasihan samaku? Apa kak Fandy nggak sayang samaku? Ayo kita kembali atau turunin aku sekarang."
Syera masih tak menyerah, ia terus memohon pada Fandy.
"Kak?!" teriak Syera karena Fandy mengabaikannya.
"Diam! Aku bilang diam!"
__ADS_1
Teriakan Fandy dua kali lipat dari yang dilakukan Syera. Jalanan sepi membuat suara Fandy menggema karena jendela mobil dalam keadaan setengah terbuka. Entah lupa atau tidak terpikir oleh Fandy karena buru-buru, jendela di samping Syera masih terbuka setengah.
Tangan Syera yang sedari tadi menarik-narik lengan Fandy dan memukul-mukulnya terlepas karena terkejut mendengar teriakan Fandy.
"Diam!"
Suara lembut dan menenangkan selama ini berubah menjadi teriakan yang memekakkan telinga. Untuk pertama kalianya Fandy berteriak dan teriakannya tertuju pada Syera yang duduk di sampingnya.
Syera terkejut, dilihatnya wajah Fandy seperti berapi-api. Kata-kata kasar, kata kebencian dan teriakan sudah sering ia dengar dari Leo sebelum akhirnya ada kata cinta yang menyatukan mereka. Akan tetapi berbeda karena justru Fandy yang berteriak keras pada Syera kali ini.
Kelembutan dan kesabaran Fandy selama ini membuat Syera tidak percaya jika pria disampingnya itu adalah Fandy. Syera bergidik ngeri namun ia berusaha kuat dan tidak takut.
Fandy yang sudah dikuasi amarah memukul setir mobil, melampiaskan kemarahannya pada benda mati itu. Fandy tidak berkata apa-apa, ia melajukan kembali mobilnya yang sempat berhenti saat berteriak tadi.
Seseorang menelpon Leo dan itu dari mama Mila. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Syera, ia menurunkan jendela mobil hingga terbuka sepenuhnya. Fandy menyadarinya dan menatap tajam Syera.
"Iya, ma. Dia sudah sama Fandy sekarang. Mama nggak usah khawatir, jaga kesehatan mama. Sudah dulu, ma. Fandy akan telepon mama lagi nanti."
Fandy langsung memutus sambungan telepon tanpa melepas Syera dari matanya.
"Turunin aku sekarang atau aku lompat dari jendela," ancam Syera membalas tatapan tajam Fandy.
"Apa kamu sudah gila? Kalau memang mau silahkan lompat sekarang."
Tentunya ucapan Syera tadi hanya ancaman semata, tidak mungkin dia akan benar-benar melakukannya disaat ada seorang pria sedang khawatir dan akan berusaha menemukannya.
"Ayo cepat lompat kalau berani," tantang Fandy. "Kenapa belum lompat juga?"
Nyali Syera menciut saat ditantang Fandy. Ia akhirnya memilih diam, memikirkan cara lain untuk bisa kembali pada Leo.
__ADS_1