
Malam semakin larut namun Syera tak kunjung tidur. Pikirannya masih berkutat dengan apa yang harus ia lakukan besok. Kejutan yang di dapatnya hari ini sungguh sangat luar biasa. Mulai dari Leo yang mengatakan Syera adalah adiknya, mengharuskannya untuk tinggal bersama Leo bahkan menaiki tangga darurat hingga lantai tujuh.
Sebelum Syera masuk kamar untuk istirahat Fandy meyakinkannya untuk tetap tinggal bersamanya dan menolak apa yang dikatakan Leo. Syera semakin bingung saat baru berbaring tadi sebuah pesan dari nomor baru masuk ke ponselnya. Pemilik nomor itu ternyata adalah mama Mila.
Pesan itu mengatakan agar Syera tinggal bersama Leo dan memulai hubungan baru yang lebih baik.
Sama seperti Syera, Fandy juga masih terjaga di kamarnya. Fandy yakin jika mama Mila pasti sudah memberitahu Leo mengenai dirinya yang menyukai Syera. Mama Mila pasti melakukan itu untuk membuat Fandy melupakan perasaannya pada Syera.
Berbeda dengan Syera dan Fandy, pria yang tinggal disebelah mereka justru sedang tidur begitu pulasnya. Pria yang diwajahnya ditumbuhi bulu-bulu itu tidur tanpa menggunakan pakaian atas.
Keesokan paginya saat sarapan Syera mengatakan keputusan yang dia ambil pada Fandy.
"Kak, Syera akan pindah ke sebelah," ucap Syera memberitahu.
"Tidak bisa karena aku tidak izinkan."
"Hanya pindah ke sebelah. Nggak jauh, kak."
"Aku tidak peduli mau jauh atau dekat. Selamanya kau akan tinggal denganku," tegas Fandy.
Baru beberapa suap Fandy sudah menghentikan sarapannya. Ia bersiap untuk pergi kerja. Semalaman dia tidak bisa tidur karena mengingat ucapan Leo dan pagi ini suasana hatinya menjadi tambah buruk mendengar apa yang dikatakan Syera.
"Kak?" panggil Syera pelan. Ia mendekati kamar Fandy dan berdiri di depan pintu yang terbuka.
"Aku hanya pindah ke sebelah, tidak jauh. Kita juga akan tetap ketemu setiap hari. Aku akan sering main kesini dan kita juga akan jalan-jalan waktu Syera off kerja seperti biasanya. Kak Fandy nggak perlu khawatir, Syera yakin kalau dia juga akan bersikap baik."
Apa yang dikatakan Syera sama sekali tidak direspon Fandy, pria itu sibuk masukkan berkas-berkas dalam tasnya yang semalam ia bawa dari kantor untuk dikerjakan di rumah namun hal itu tidak jadi dia lakukan.
Setelah memakai dasi dan merapikan kemeja, Fandy siap untuk pergi kerja. Biasanya masih ada sekitar tiga puluh menit lagi untuk Fandy pergi namun untuk menghindari hal lain terjadi karena suasana hatinya yang tidak baik Fandy memilih untuk pergi lebih awal saja.
"Kak? Kenapa diam," menahan tangan Fandy yang akan pergi. "Apa kak Fandy nggak mau kalau hubungan kami jadi lebih baik seperti kita berdua?"
__ADS_1
"Tapi tidak perlu tinggal dengan dia," jawab Fandy akhirnya.
"Meski itu tante Mila juga yang minta?" tanya Syera tanpa ragu.
Suasana hati Fandy yang tidak baik membuat emosinya menjadi tersulut. Mama Mila, mamanya itu pasti hanya ingin menjauhkannya dari Syera.
"Aw, kak!"
Syera terkejut saat Fandy mendorong tubuhnya kedinding dan menahan kedua lengannya.
"Apa kak Fandy pernah minta apapun dari kamu?" tanya fandy yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Syera.
"Enggak kan? Nggak pernah tapi untuk kali ini kak Fandy mau kamu dengar dan janji kalau kamu nggak akan pergi kemanapun," tekan Fandy.
"Tante Mila-"
"Sekalipun yang minta itu mama!"
"Kak?" panggil Syera lembut. Syera yakin jika Fandy hanya khawatir mengingat bagaimana sikap Leo selama ini padanya.
"Syera yakin akan baik-baik aja. Lagian cepat atau lambat Syera juga bakalan pergi dari sini. Aku nggak mungkin tinggal disini selamanya. Kak Fandy juga punya kehidupan pribadi, iyakan?" ucap Syera mencoba memberi pengertian namun ternyata malah membuat Fandy semakin marah.
Dasi yang dipakai Fandy seakan ikut mencekiknya hingga Fandy membukanya lagi. Dengan sedikit kasar Fandy menarik lengan Syera dan membawanya duduk di sofa.
Fandy menarik nafas untuk menenangkan hati dan pikirannya. Fandy tidak ingin ia melakukan kesalahan atau mengatakan sesuatu yang tidak baik pada Syera.
"Hm... Baik. Kamu pasti sudah pikirin sebelum memutuskannya. Jujur kak Fandy nggak setuju tapi semuanya kembali lagi ke kamu. Tapi kamu harus janji kalau ada apa-apa orang pertama yang harus kamu tuju itu adalah kak Fandy, oke?"
Syera begitu terharu mendengar perkataan Fandy dan tidak sadar Syera menangis.
"Kenapa kau nangis, hem? Harusnya aku yang nangis karena akan tinggal sendiri lagi," goda Fandy. Fandy mengusap air mata Syera dan membawanya dalam pelukan.
__ADS_1
"Perasan tadi kamu yang bilang kalau hanya pindah ke sebelah tapi melihat kamu nangis seperti ini seakan kamu nggak akan pernah kembali lagi ketempat ini. Apa kamu menyesal sekarang dan berubah pikiran, hem?" gelak Leo.
"Sudah, kalau masih nangis terus aku benar-benar tidak akan kasih kamu untuk tinggal di sebelah nanti," ucap Fandy membelai rambut Syera.
..........
Leo memandangi wajahnya di cermin yang sangat berbeda dari biasanya. Selama beberapa hari ke depan dia juga masih akan di rumah saja untuk beristirahat. Dua bulan naik turun gunung di berbagai provinsi di dalam negeri membuat tenaga Leo dikuras.
Selama dua bulan juga Leo mencoba berdamai dengan dirinya dan keadaan. Meski tidak seratus persen menerima dan meyakini apa yang diceritakan mama Mila saat terakhir bertemu namun Leo ingin mencoba bersikap seperti seorang saudara bagi Syera.
Dan Leo tahu hal itu tidak akan mudah untuk dilakukannya mengingat bagaimana hubungannya dengan Syera selama ini.
Seperti halnya Leo, hari ini Syera juga izin untuk tidak masuk kerja. Seharian ini dia hanya bermalas-malasan saja di atas tempat tidur setelah Fandy pergi kerja.
Bosan karena tidak ada kegiatan akhirnya Syera memutuskan untuk mengemasi pakaiannya. Hanya butuh waktu singkat Syera sudah selesai berkemas karena barang-barang yang dimilikinya memang hanya sedikit.
Usai berkemas Syera membersihkan seluruh ruangan dan kamar yang selama ini menjadi tempat tidurnya. Syera merapikannya agar saat dia keluar dari sana Fandy bisa menggunakannya lagi seperti sebelumnya.
Syera menghabiskan waktunya menunggu Fandy pulang kerja dengan menonton televisi. Sebelumnya Fandy berpesan agar Syera menunggunya pulang kerja dan tidak pergi sendiri ketempat Leo karena dia sendiri yang akan mengantar Syera kesana.
Terlalu lama menonton membuat mata Syera lelah dan juga mengantuk. Masih dengan televisi yang menyala Syera merebahkan tubuhnya di atas sofa dan tak lama dia pun tertidur.
Mungkin karena semalam dia kurang tidur membuat Syera tidur begitu nyenyak. Syera tidur cukup lama sampai saat Fandy pulang saja tidak di dengarnya. Saat masuk Fandy melihat Syera tidur dengan televisi yang menyala dan ruangan yang sedikit gelap karena hari sudah sore.
Syera akhirnya bangun saat Fandy menyalakan semua lampu yang membuat ruangan itu terang benderang.
"Kau sudah bangun? Apa tidurmu nyenyak?"
Syera mengucek matanya dan melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan lewat dari pukul enam sore. Dia tidak menyangka jika sudah tidur selama itu. Syera tidur lebih dari tiga jam.
"Ayo cepat mandi. Kita akan makan di luar," ucap Fandy.
__ADS_1