
Hanya ada kata pasrah di benak Syera dengan apa yang nanti diucapkan Leo ketika sadar dan merasakan tubuhnya kesakitan. Melalui pintu belakang Syera membawa tubuh tak berdaya Leo dengan cara menyeretnya. Takut ada yang mengenali Leo dengan keadaannya seperti itu membuat Syera tidak memilih pintu depan restoran.
"Eghh... Maaf tapi tuan berat sekali," mengerahkan seluruh kekuatannya menarik kedua tangan Leo dan menyeretnya hingga ke parkiran.
Tubuh kecil Syera sudah begitu kelelahan namun setidaknya sekarang mereka sudah berada di parkiran.
Celingak-celinguk Syera mencari supir yang tadi dikatakan pelayan untuk mengantar Leo. Tak lama seorang pria bertubuh kurus menghampirinya dan memperkenalkan diri sebagai supir yang ditugaskan oleh Bima.
Setelah cukup yakin dengan si supir akhirnya Syera dibantu pria itu memasukkan Leo ke dalam kursi penumpang.
Beberapa kali kepala Leo terantuk pada kaca pintu mobil. Syera takut jika sewaktu-waktu Leo sadar dan mengamuk mendapati dirinya berada dalam mobil yang sama sehingga Syera membiarkan Leo begitu saja dalam mobil.
Egkkk... Egkkk...
Berkali-kali Leo bersendawa bahkan seakan ingin muntah namun tidak jadi. Suhu dalam mobil cukup dingin namun karena pengaruh minuman tadi membuat Leo merasa gerah.
Bersusah payah leo melepas jasnya dan melemparkannya kesamping tepat mengenai wajah Syera.
Bug!
Kepala Leo mengenai bagian belakang kursi di depannya.
Tiba di parkiran apartemen pak supir ikut membantu Syera membawa Leo hingga masuk ke dalam lift.
"Ini kunci mobilnya, mba. Saya antar sampai disini."
"Tu-tunggu pak, ini bagaimana?"
"Tugas saya hanya mengantar sampai disini aja, mba. Saya permisi."
Pak supir langsung melenggang pergi meninggalkan Syera dan Leo.
Syera menekan angka tujuh dimana apartemen Leo dan Fandy berada. Pundaknya sudah begitu pegal menahan tubuh Leo. Ia berharap Leo tidak akan terjatuh karena akan sulit baginya untuk mengangkat dan mendirikannya lagi.
Beruntung jarak dari lift dengan apartemen Leo tidak begitu jauh. Sejenak Syera merasa lega karena sudah berada di depan pintu namun beberapa detik kemudian ia bingung karena tidak tahu pin apartemen Leo.
Berpikir mungkin Fandy sudah berada di apartemen dan sadarkan diri, Syera merogoh gawainya dari dalam tas untuk menelpon meminta bantuan.
Egkkk...
Kembali Leo bersendawa saat Syera baru saja menekan nomor kontak Fandy. Refleks karena terkejut ditambah dengan Leo yang bergerak sempoyongan membuat Syera hampir saja terjatuh namun ia tahan sekuat tenaga.
__ADS_1
Ponselnya terjatuh karena gerakan tangan Leo yang tiba-tiba menyudutkan Syera.
"Ponselku..."
Mata Syera menatap iba pada ponselnya yang kini berada dibawah sepatu kulit Leo. Saat ingin meraih ponselnya tubuh Leo yang sedari tadi bersandar padanya hampir saja tumbang. Alhasil Syera mengurungkan niatnya.
Perlahan Syera mulai mencoba menekan angka-angka yang kemungkinan bisa menjadi pin apartemen Leo. Mulai dari tanggal lahir Leo, mama Mila, pak Bayu, dan lainnya akan tetapi tak satupun yang benar.
Sangkin fokusnya dengan angka-angka di depannya membuat Syera tak menyadari wajah Leo mengkerut untuk sesaat menekan kuat benda yang ada dibawah sepatunya.
"Harus bagaimana, tuan?" gerutu Syera kehabisan ide.
Dari tempatnya berdiri Syera melihat sepasang suami istri yang sudah lanjut usia akan memasuki apartemen. Dari kejauhan ia memperhatikan si istri mengeluarkan sebuah kartu dari tasnya dan menempelkan pada bagian pintu.
"Oh iya," sejak tadi Syera tak memikirkan cara itu. Ya, sebuah kartu khusus untuk membuka pintu yang kini sering digunakan selain menggunakan pin. Syera yakin jika Leo pasti menggunakan cara itu juga.
Satu persatu saku jas yang dipegang syera dirogohnya mencari dompet namun tak ada. Ekor mata Syera beralih pada saku celana Leo.
"Maaf, tuan. Sa-saya harus melakukannya."
Perlahan Syera memasukkan tangannya kedalam saku celana yang sedikit menonjol dan ia yakin itu adalah dompet. Benar saja Syera berhasil menarik dompet dari saku itu dan tanpa pikir lagi mencari benda yang ia butuhkan.
Klik!
Setelah berada di dalam Syera langsung menjatuhkan tubuh Leo ke atas sofa. Syera duduk dilantai menyandarkan tubuhnya pada sofa.
Syera berniat keluar karena kini Leo sudah berada di apartemennya namun langkahnya terhenti tak tega melihat Leo tidur di sofa. Ada dua kamar di sana dan Syera membuka satu persatu mencari kamar yang biasa digunakan Leo.
Sama seperti mengeluarkan Leo dari restoran kali inipun Syera menyerat tubuh Leo ke dalam kamar. Menggunakan kedua tangannya Syera mendekap Leo dan menariknya naik keatas keranjang.
Bruk!
Akibat kehabisan tenaga Syera terjatuh di atas tempat tidur dan tubuh Leo menimpanya. Syera sesak nafas menahan bobot Leo yang mungkin dua kali lipat dari bobot tubuhnya sendiri.
"Bima, apa kau menyuruh seseorang mengganti ranjangku?" racau Leo di tengah ketidak sandarannya.
Bola mata Syera melotot karena mendengar Leo berbicara. Dadanya terasa semakin sesak namun mendengar ia menyebut nama Bima membuat Syera sedikit lega. Setidaknya Leo tidak tahu jika yang bersamanya sekarang bukanlah sekretaris Bima melainkan Syera, gadis yang dibenci oleh Leo.
Entah apa yang dirasakan Leo, sepertinya ia begitu nyaman tidur menindih tubuh Syera yang dikiranya ranjang baru sedangkan Syera ketakutan setengah mati. Bak seekor cicak Leo tidur menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang dan hampir menutupi seluruh tubuh Syera.
Syera tak kuasa menahan rasa takut jadi ia membiarkan Leo sebentar sampai pria itu benar-benar tidur. Ia akan menggeser tubuh Leo dan keluar dari sana saat Leo sudah terlelap.
__ADS_1
..........
Klik
Seseorang membuka pintu apartemen dan langsung saja ia memungut ponsel yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Orang itu kembali masuk kedalam dan mengambil SIM card dari ponsel yang tadi ia ambil.
Ia mengambil botol air mineral dari dalam kulkas dan meminumnya hingga habis. Kerongkongannya seolah tanah tandus yang merindukan turunnya hujan dari langit.
Tak berapa lama ia sudah kembali ke kamarnya dan berdiri memandangi Syera yang tidur begitu pulas.
Ya. Niatnya Syera akan menunggui Leo hingga benar-benar tertidur namun siapa sangka jika pada akhirnya dialah yang kini tidur begitu nyenyak di atas kasur king size milik Leo dengan tas sandang yang masih menempel di tubuhnya.
Ternyata kau seperti orang mati saat sedang tidur.
Leo menggerak-gerakkan seluruh tubuhnya seperti seseorang yang sedang berolahraga. Tangan Leo kemudian memijat-mijat bagian-bagian tubuhnya yang terasa sakit. Apalagi punggung dan bokongnya, terasa begitu ngilu hingga ia membutuhkan jasa tukang pijat saat itu juga.
"Kau harus membayar semua rasa sakit di tubuhku ini."
Leo membaringkan tubuhnya di atas kasur tepatnya disebelah Syera yang kini sedang tidur.
..........
Syera merasakan seolah angin menerpa lehernya. Ia memaksa untuk membuka matanya meski begitu berat. Pandangan Syera menerawang pada langit-langit diatasnya. Langit-langit ruangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya membuat Syera mengedip-ngedipkan matanya.
Hoamm...
Suara menguap Syera membuatnya seketika tersadar dan merasakan ada beban berat di atas tubuhnya. Syera terbelalak dan melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat pagi.
Ingatan Syera kembali pada kejadian semalam yang membuatnya berujung di atas ranjang pria yang sangat membencinya dan tak ingin melihatnya.
Pelan dan berhati-hati Syera menggeser tubuh Leo dari atas tubuhnya. Ia tidak ingin membuat Leo sampai terbangun dan mendapatinya di sana.
Saat akan bangkit gantungan kunci yang ada di tas sandang Syera terkait pada ikat pinggang Leo hingga tak sadar jika benda yang diberikan Fandy sebagai hadiah tertinggal di sana.
Buru-buru Syera keluar tanpa menimbulkan suara yang bisa mengusik pendengaran Leo. Syera mengamati sekitar pintu dan lorong apartemen untuk mencari keberadaan ponselnya namun tidak menemukannya.
Langkah Syera begitu malas saat memasuki apartemen disebelah milik Leo. Syera begitu sedih karena harus kehilangan ponsel pintar yang ia beli dari hasil menabung selama setahun.
Seseorang pasti sudah mengambil ponselnya semalam, itulah yang dipikirkan Syera.
Sebelum masuk ke kamarnya terlebih dahulu Syera mengintip keberadaan Fandy di kamarnya. Syera cukup lega karena Fandy ada di sana dan sedang tidur meski masih memakai pakaian kerja yang digunakannya semalam.
__ADS_1
Sesampainya dikamar Syera merebahkan tubuhnya dan mencoba untuk kembali tidur namun tidak bisa.
Akhirnya Syera memutuskan untuk memasak lebih awal dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.