
Di depan sebuah salah satu cafe, mobil Fandy berhenti. Pukul tiga sore, tampak dari luar suasananya masih cukup sepi.
Syera yang memang sudah lelah memandang malas, ia sungguh ingin segera kembali dan beristirahat. Mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang semerawut.
"Aku sudah kenyang, mau apa lagi ke tempat ini. Aku capek dan butuh istirahat. Apa aku juga harus mengikuti ke semua tempat yang kakak kunjungi?" tanya Syera dengan nada malas.
"Kamu harus menyelesaikannya sekarang," ucap Fandy.
"Maksud kak Fandy apalagi?"
"Kamu akan tahu setelah masuk nanti. Sebaiknya kita turun sekarang agar semuanya selesai dengan cepat."
Tangan Fandy sudah membuka pintu mobil di sampingnya namun seketika ditutupnya kembali. Tidak hanya itu, pintu di sebelah Syera pun ikut dikunci oleh Fandy.
"Apalagi, kak? Bukannya tadi bilang biar cepat selesai?" tanya Syera memicing.
Jujur saat ini Fandy khawatir jika terjadi hal yang tidak ia harapkan. Sesaat ia berpikir apa keputusannya mempertemukan Syera dan Leo sudah tepat atau malah sebaliknya.
Fandy ingin mempertemukan keduanya untuk menyelesaikan urusan antara Syera dan Leo. Ia ingin saat pernikahannya nanti tidak ada lagi yang mengganjal di hatinya.
Mata Fandy melihat Syera penuh harap. Fandy ingin Syera melepas Leo sebelum akhirnya nanti mereka menikah.
"Syera?" meraih tangan Syera dan mengusap-usapnya. "Untuk kali ini saja, percaya denganku. Tolong jangan mengecewakanku lagi, aku sudah cukup sakit menahan perasaanku selama ini. Percayalah, aku sangat mencintaimu dan aku akan memberi kebahagiaan padamu."
Dapat dirasa Syera jika Fandy ingin menangis saat mengatakan hal itu padanya.
"Selain mama Mila, tidak ada yang bisa membuatku bahagia lagi selain kamu. Hanya kamu yang aku butuhkan. Kamu mau berjanjikan?"
Syera hanya bisa menarik panjang nafasnya mendengar permintaan Fandy. Syera tidak menolak tapi juga tidak mengiyakannya.
Setelah cukup yakin, Fandy membawa Syera bersamanya berjalan menuju cafe. Pintu kaca transparan membuat orang yang berada diluar bisa melihat pengunjung yang ada di dalam.
Langkah Syera terhenti saat kedua bola matanya melihat jelas seorang pria yang sangat dikenalnya duduk di salah satu kursi. Syera menoleh pada Fandy di sampingnya untuk mendapat penjelasan namun Fandy justru menarik tangan Syera dan membawanya masuk.
Dari tempatnya duduk Leo tersenyum saat melihat Syera memasuki cafe meski senyumnya sedikit memudar menyadari ada Fandy bersama Syera.
Entah apa tujuan Fandy membawanya ke tempat ini dan bertemu dengan Leo. Dari hati yang terdalam Syera ingin berlari dan memeluk Leo saat itu juga tapi Fandy yang terus menggenggam tangannya menyadarkan Syera jika ada seorang ibu yang sedang terluka hatinya.
Di dalam hatinya Syera sedang menjerit, menangisi dengan ketidak berdayannya. Saat itu pula Fandy memegang kedua bahu Syera agar menghadapnya, menekannya sedikit dan menatapnya.
"Syera, berjanjilah untuk tidak mengecewakanku kali ini," ucap Fandy.
Tubuh Syera bergetar dan merasakan bening air matanya mengalir membalas tatapan Fandy.
"Selesaikan semuanya saat ini. Lepaskan dia dari hatimu. Kamu mau berjanjikan?" pinta Fandy.
Syera lagi-lagi hanya bisa menjerit dalam hatinya. Bagaimana caranya ia sanggup melepaskan pria yang sangat dicintainya dengan mudah? Bagaimana caranya ia mengatakannya pada Leo? Sungguh ini tidaklah mudah bagi Syera.
"Pergi dan temuilah, dia pasti sudah menunggumu sedari tadi," melepas tangan Syera.
Syera masih berdiri ditempatnya, menunduk membayangkan jika pertemuannya dengan Leo nanti hanya akan memberikan air mata kesedihan.
__ADS_1
"Aku akan menunggu di luar, lakukan dengan cepat dan jangan menangis lagi."
Fandy kembali meraih tangan Syera dan memberinya gelang yang dilepas Fandy sebelumnya.
"Lakukan dengan baik." Fandy keluar dan menunggu Syera di dalam mobil.
Hati yang hancur diiringi langkahnya yang begitu berat, Syera berjalan menghampiri Leo yang sudah berdiri di sana. Senyum Leo tidak bisa ia balas, sangat sulit baginya untuk bisa memaksakan senyumnya disaat ini.
Langkah Syera berhenti dan tak sanggup melihat mata Leo yang berdiri di hadapannya. Tubuhnya kembali bergetar saat tubuhnya sudah berada dalam pelukan Leo. Hangat dan nyaman, pelukan yang tidak akan dirasakannya lagi setelah ini.
Syera memberikan tubuhnya dipeluk erat oleh Leo untuk yang terakhir kalinya. Mungkin jika bukan karena berada di tempat umum, saat ini Leo juga sudah menciumnya.
"Kamu baik-baik saja, hem?" menangkup wajah Syera dan memandang indahnya. "Aku sangat takut saat kamu pergi. Maaf karena tidak bisa menemukanmu."
Sebuah kecupan lembut diberikan Leo di kening Syera, membuat gadis itu semakin meraung dalam hati.
Leo menarik kursi untuk Syera dan duduk disampingnya. "Apa kamu ingin pesan sesuatu? Atau mau kita ketempat yang lain mungkin?" Leo begitu bersemangat bertemu Syera hingga tak terbersit hal lain dalam pikirannya.
"Kita disini saja, aku tidak akan lama."
Nada bicara Syera sedikit berbeda dirasa Leo tapi Leo menepisnya.
"Kenapa? Apa kamu kurang enak badan?"
Syera tertunduk menggelengkan kepalanya.
"Apa Fandy mengatakan sesuatu? Kamu datang bersama dia, kenapa dia tidak menemuiku juga?"
"Em? Kenapa?" menyelipkan rambut Syera kebelakang telinga.
Syera mengangkat kepalanya, melihat Leo mengulas senyum yang begitu manis. Tangan kanannya yang sedari tadi berada di atas pangkuannya diangkat keatas meja.
"Maaf, kak?"
Manik keduanya bertemu saat kata maaf diucapkan Syera.
Leo menggeleng melihat Syera mengurai air mata. Leo belum mengerti arti dari kata maaf Syera. Sesaat Syera menutup kedua matanya dan tak lama membukanya kembali. Pandangan Syera tertuju pada tangannya di atas meja. Perlahan tangannya bergerak dan berhenti di depan Leo.
Apa yang dilakukan Syera diperhatikan oleh Leo, ia mengikuti arah pandang Syera. Tangan Syera di atas meja tergenggam erat.
"Maaf?" bibir Syera bergetar, menahan tangis yang ingin pecah meski air matanya tak dapat ia bendung. "Semuanya selesai saat ini buat kita," lirihnya.
Syera membuka genggaman tangannya dan mengangkatnya ke atas.
"Syera, ini maksudnya apa? Kenapa gelangnya kamu lepas?"
Kekhawatiran mulai menyelimuti Leo, takut dengan apa yang dipikirkannya. Buru-buru Leo mengambil gelang tersebut untuk di pakaikan kembali pada Syera.
Leo kesulitan memakaikannya karena gelang tersebut diputus, bukan dibuka dari pengaitnya. Baik Syera maupun Leo sama-sama menahan nangis. Berulang kali Leo berusaha bahkan mencoba menyatukannya dengan membuat simpul namun juga tidak bisa.
"Cukup, kak."
__ADS_1
Syera menarik tangannya namun Leo menahannya dan terus berusaha memakaikan gelang tersebut sambil sesekali menghapus air matanya. Leo tidak ingin menyerah.
"Kak?! panggil Syera sedikit mengangkat suaranya hingga pengunjung cafe lainnya tertuju pada Leo dan Syera. "Ini akhirnya, kak. Ini akhir buat kita," ucap Syera menahan isakannya.
"Enggak-enggak, kamu jangan ngomong gitu. Kita akan tetap sama-sama sampai kapanpun. Kita saling sayang dan saling cinta. Kita-"
"Kak? Cukup! Cinta bukan berarti harus bersama, iyakan? Ada tante Mila, pikirkan perasannya juga."
"Kenapa kita harus selalu pikirin perasan yang lain? Memangnya perasaan kita nggak penting? Aku sayang sama mama tapi ini hidup aku, aku yang menentukan akan dengan siapa, bukan mama."
"Apapun itu nggak akan merubah keadaan kita. Aku minta kak Leo lupain aku dan mulai hidup yang baru, sama seperti aku. Aku juga akan mulai hidup yang baru."
"Tunggu, maksud kamu apa?"
"Semuanya sudah berakhir saat gelang itu lepas dari tanganku."
"Nggak! Aku dan kamu belum berakhir!" tegas Leo. "Cukup lihat aku, hanya aku seorang. Tidak perlu pikirkan yang lain, oke?"
Syera tak bisa lagi terus di sana, mendengar Leo menangis semakin lama semakin menyakitkan untuknya. Dengan paksa Syera menarik tangannya dari Leo.
"Kak Leo orang baik, makasih buat semuanya. Aku akan lupain kak Leo dan itu juga yang harus kakak lakuin."
Syera berdiri, menguatkan tubuhnya agar tidak roboh karena sungguh ia tak bertenaga lagi, Syera lelah dengan semuanya. Leo mencoba menahan tangan Syera namun langsung ditepis Syera karena tidak ingin memberi harapan lagi.
Semua berakhir, aku dan kamu antara Leo dan Syera tidak ada lagi kita. Semuanya akan menjadi memori manis yang jelas tidak akan pernah terlupakan bagi Syera dan Leo.
Fandy yang baru masuk ke dalam cafe langsung menghampiri Syera dan menyuruhnya untuk menunggu di mobil. Tanpa menunggu lama Syera berlari, meninggalkan Leo tanpa mengatakan salam perpisahan.
"Tidak perlu," ucap Fandy mencegat Leo saat akan mengejar langkah Syera.
Dari dalam saku mantelnya Fandy mengeluarkan sesuatu dan memberikannya pada Leo.
"Ini tidak mungkin, ini pasti salah. Syera nggak mungkin akan melakukan ini denganmu," sanggah Leo tak percaya.
"Tapi itulah kenyataannya."
"Kau tidak bisa melakukan ini," protes Leo.
"Sejak awal aku yang menjaganya dan berusaha selalu ada untuknya. Itu juga yang akan aku lakukan sampai akhir, aku yang akan menjaganya!" tegas Fandy.
Seketika tubuh Leo bagaikan mengambang diterpa angin, ia terduduk lemas.
"Kau pria sejati, aku yakin kau akan datang. Kau juga harus melihat bagaimana cantiknya Syera saat memakai gaun pengantin," ucap Fandy seolah ingin menekankan jika nyatalah keadaan saat ini.
Fandy menepuk pundak Leo, menunjukkan jika dialah pemenangnya. Fandy meninggalkan Leo bersama hatinya yang hancur.
Tidak ada yang dikatakan Leo lagi, ia sudah seperti orang linglung. Matanya tak lepas dari sebuah kertas ditangannya, sebuah surat undangan yang tadi diberikan Fandy padanya. Satu-satunya surat undangan yang dicetak sendiri oleh Fandy.
Saat menerima pesan dari Syera hati Leo begitu senang, berpikir jika akhirnya bisa kembali bersama Syera. Akan tetapi rasa senangnya berubah saat membaca nama Syera tertera di surat undangan pernikahan ditangannya.
Leo menutup kedua matanya, membohongi dirinya jika saat ini ia sedang bermimpi. Cukup lama Leo baru membuka matanya diikuti air mata yang mengalir.
__ADS_1
Apa semuanya memang sudah berakhir untuk kita?