
Leo berlari di lorong apartemen, tak sabar ingin bertemu dengan Syera. Semalaman ia benar-benar tidak bisa tidur, ia terus memikirkan Syera yang tidak bisa dihubungi. Usai mengantar mama Mila ke rumah dan mendapat ceramah yang panjang Leo langsung menuju apartemennya.
Klek!
"Syera?"
Leo memanggil nama Syera saat pintu ia buka. Ia ingin memeluk gadisnya, mengatakan jangan khawatir dan semua akan baik-baik saja.
"Syera?" panggil Leo lagi menyusuri setiap ruang apartemen. Ruang tengah, balkon, kamar mandi, dapur, tidak ada Syera di sana.
Tok-tok-tok
"Syera? Kamu di dalam?" mengetuk pintu kamar Syera. "Syera?"
Tentu saja tidak ada jawaban karena orang yang dicari Leo sudah tidak ada di sana, Fandy sudah membawa Syera pergi.
Tak sabar Leo membuka pintu kamar Syera tapi tak menemukannya di sana. Khawatir dan takut satu persatu menghampiri Leo. Pintu lemari Syera yang terbuka semakin membuat Leo takut. Ia melihat ke atas lemari, koper Syera sudah tidak ada di sana.
Perasaan Leo campur aduk saat mendekat dan melihat isi lemari Syera. Leo runtuh ke lantai, tak kuat menopang tubuhnya lagi. Leo memukul-mukul dadanya merasa sesak di bagian itu.
Sekuat tenaga Leo berdiri, ia melihat ponsel Syera di atas tempat tidur dan mengambilnya. Dengan langkah gontai Leo berjalan menuju kamarnya.
'Kak Leo baru pulang kerja?'
'Apa kita akan selalu pesan makanan dari luar setiap kali mau makan?'
'Kak Leo mau makan apa?'
'Cari yang benar, kak. Mungkin kak Leo lupa letak dimana ponselnya.'
'Kak?'
'Kak Leo?'
'Kakak harus pergi kerja.'
'Kenapa nggak pakai baju sih, kak?'
'Cukup, kak. Jantungku mau copot setiap kali kakak cium.'
'Iya, aku suka, aku sayang dan cinta sama kak Leo.'
"Hahaha... Jangan seperti ini, kak. Kak Leo?'
Suara Syera bergema di setiap sudut ruangan. Bayang-bayang gadis itu memenuhi seisi apartemen. Leo bagai orang linglung mencari-cari asal suara Syera yang tentu tidak akan ia temukan di sana.
Leo masuk ke kamarnya, mengunci pintu dan ambruk. Leo menyalakan ponsel Syera, ia tertawa melihat foto dilayar ponsel itu. Foto yang diambil Leo saat mereka berada di kebun teh seperti sedang menertawakannya.
Tertawa namun air mata keluar, itulah keadaan Leo. Ia memukul-mukul kepalanya ke pintu berharap ia sedang bermimpi dan terbangun tapi kenyataanlah yang sedang terjadi.
Syera tidak ada di sana, dia sudah pergi dan Leo tidak tahu kemana. Janji untuk menua bersama di puncak yang udaranya sejuk lenyap seketika. Kebahagian yang dirasa kini berganti dengan kesedihan.
Leo merangkak ke atas tempat tidurnya yang berantakan karena pagi sebelum berangkat kepuncak Syera dan Leo terlambat bangun hingga tak sempat merapikannya. Leo menarik dan memeluk selimut yang dipakainya bersama Syera.
Leo tidak bisa berkata apa-apa, ia merasa pusing dan kepalanya terasa berat. Ia hanya bisa terisak mengingat setiap kebersamaannya dengan Syera dan betapa bahagianya mereka saat itu.
Lewat tengah malam mata Leo sudah tertutup rapat, ia sudah tidur, lebih tepatnya tertidur karena lelah menangis dan semua isi kepalanya.
Wajahnya tersenyum untuk beberapa saat, mungkin Leo sedang bermimpi indah bersama Syera di dekatnya. Tak lama ia berubah murung dan raut kesedihan terlukis jelas diwajahnya.
__ADS_1
..........
Pagi hari Bima datang ke apartemen Leo. Sejak semalam hingga saat bangun tadi Bima menghubungi Leo dan Syera namun tak satupun yang menjawab teleponnya. Takut terjadi sesuatu Bima meluncur ke tempat Leo.
Hening!
Suasana apartemen Leo terasa asing bagi Bima untuk pertama kalinya. Bima mencoba menghubungi Leo kembali. Dering ponsel dari kamar Leo menuntun Bima masuk dengan membuka pelan pintu kamar.
Leo terkulai lemas di lantai. Sejak semalam ia tidak selera makan dan minum, ia melewatkan semua jam makannya. Perutnya yang sakit dan perih saat asam lambungnya kambuh tak dihiraukannya. Tubuhnya yang tak bertenaga membuatnya terjatuh saat akan ke kamar mandi.
Panik!
Bima membantu Leo naik ke atas tempat tidur dan mencari obat di laci. Tangan Leo yang memegangi perutnya membuat Bima yakin jika asam lambung Leo sedang kambuh.
Bima mencari keberadaan Syera namun tidak menemukannya. Ia kembali ke kamar Leo sambil menekan nomor kontak Syera guna menghubunginya.
Bima melongo saat panggilan sudah tersambung, ponsel Syera berdering dan ada di dekat bantal Leo.
Hahaha...
Leo tertawa dan semakin membuat Bima melongo, ia bertanya-tanya situasi yang sedang ia alami.
"Sampai bumi ini runtuh dia tidak akan menjawab panggilan teleponmu," ucap Leo tertawa namun air matanya mengalir, sesaat kemudian ia menangis.
Dalam diam Bima berpikir jika sesuatu pasti sudah terjadi. Ia akhirnya memesan makanan lewat aplikasi online karena yakin jika Leo pasti belum makan. Mengenai pekerjaan kantor yang ingin Bima beritahu diurungkannya. Tidak mungkin membicarakan masalah pekerjaan dengan keadaan Leo saat ini.
"Saya sudah pesan makanan untuk, tuan. Sebentar lagi akan tiba, apa anda butuh sesuatu yang lain?"
Leo mengangkat kepalanya pada Bima dan menatapnya penuh harap.
"Aku tidak butuh yang lainnya. Aku hanya butuh dia," ucap Leo memohon. "Bawa dia untukku sekarang, aku hanya butuh dia."
"Tolonglah, tolong???" pinta Leo memohon pada Bima.
"Baik, tuan. Saya akan membawanya segera tapi anda juga harus istirahat," pesan Bima.
Bima meninggalkan Leo, di dalam mobil ia bertanya-tanya apa yang mungkin sudah terjadi. Jika Leo dan Syera bertengkar maka tidak mungkin Leo akan mencari Syera hingga memohon seperti tadi padanya kalau bukan karena ada hal lain.
Akan tetapi, untuk saat ini kemana Bima akan pergi sedangkan dia tidak tahu banyak tempat yang mungkin bisa di tuju oleh gadis itu.
Bima akhirnya memikirkan sesuatu, ia menjumpai bagian keamanan apartemen dan meminta agar menunjukkan CCTV, berharap ada petunjuk dari sana.
Benar saja, Bima menemukan sesuatu dari CCTV. Ia melihat Syera meninggalkan apartemen bersama Fandy dengan seorang petugas apartemen menarik dua koper yang bisa dipastikan itu adalah milik Syera dan Fandy. Rekaman CCTV juga memperlihatkan taksi yang ditumpangi keduanya saat akan pergi.
Berdasarkan petunjuk rekaman CCTV, Bima menghubungi perusahaan taksi yang membawa Syera dan Fandy. Supir yang mengemudikan taksi tersebut berkata jika dirinya hanya mengantar kedua penumpang tersebut ke bandara dan tidak tahu kemana tujuan mereka pergi.
Selanjutnya, Bima mencari informasi keberangkatan penumpang pada pihak maskapai penerbangan. Sangat sulit bagi Bima untuk memperoleh informasi. Barulah setelah Bima menggunakan bantuan seorang kenalan yang berpengaruh, pihak bandara akhirnya memberikan sedikit informasi.
Pihak bandara membenarkan jika memang ada penumpang atas nama Syera Hanindy dan Fandy Putra Suntama berangkat mengunakan penerbangan pertama di pagi ini. Pihak bandara hanya bisa memberikan informasi tersebut, mereka tidak dapat memberitahu tujuan penerbangan Syera dan Fandy karena itu adalah rahasia penumpang. Berbeda jika yang meminta informasi adalah bagian pemerintahan/kepolisian dengan membawa surat resmi maka mereka wajib memberitahu.
Buntu!
Bima tidak punya jalan atau cara lain untuk menemukan keberadaan Syera dan membawanya pada Leo. Pencarian Bima hari ini berakhir sampai disini. Ia akan memikirkan cara lainnya nanti, sekarang ia akan kembali melihat keadaan Leo.
Saat akan menekan tombol lift seseorang menelpon Bima, memintanya datang dan menemui si penelpon dirumahnya. Bima balik badan dan menuju rumah si penelpon, Bima akan menemui Leo nanti setelahnya.
Tiba di ruang tamu seorang wanita sudah menunggu kedatangan Bima. Dengan sikap hormat Bima menyapa wanita itu ramah.
"Selamat malam, nyonya. Anda memanggil saya?" sapa Bima memberi salam pada Mila, mamanya Leo. Dialah orang yang tadi menelpon Bima.
__ADS_1
"Jangan panggil aku nyonya. Kau bukan orang suruhanku jadi jangan memanggilku nyonya."
"Baik, bu. Saya minta maaf," ucap Bima meralat panggilannya.
"Dengarkan baik-baik, kalau kau masih ingin bekerja di Suntama Group maka dengar dan ingat apa yang akan aku katakan," ucap mama Mila memberi ultimatum terlebih dahulu pada Bima.
Bima diam dan mendengar apa yang akan dikatakan mama Mila selanjutnya.
"Kau hanya perlu membantu Leo akan pekerjaannya, tidak untuk hal lainnya. Syera dan Fandy, jangan sekalipun mencari informasi mengenai mereka bahkan mengatakan apapun pada Leo jika suatu saat kau mengetahui sesuatu. Kau hanya perlu mengunci mulut mengenai Syera dan Fandy saat Leo bertanya."
Seperti dugaan Bima, pasti sesuatu yang besar telah terjadi hingga mama Mila ikut campur tangan.
"Aku hanya ingin dengar kata 'paham'. Ini untuk kebaikan Leo dan sebagai sekretarisnya aku yakin kau juga ingin yang terbaik untuknya."
Bima yakin jika seorang ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, Bima yakin jika apa yang dilakukan mama Mila semata karena sayang pada Leo dan tak ingin hal buruk terjadi.
Bima yang tidak tahu akan apa-apa menyanggupi permintaan mama Mila dan berjanji akan melakukan sesuai yang diinginkan mama Mila. Selain itu Bima juga masih butuh pekerjaannya, ia tidak ingin kehilangan pekerjaan hanya karena masalah pribadi tuannya.
"Baik, bu. Saya paham dan akan melakukan seperti yang ibu mau."
Pertemuannya dengan mama Mila sangat singkat. Perkataan mama Mila sangat jelas dan tidak perlu bagi Bima bertanya karena itu masalah pribadi, bukan mengenai pekerjaan.
Bima akan melihat keadaan Leo tapi pak Asep dan bibi Retno mencegatnya sebelum masuk ke dalam mobil. Pasangan lansia itu menanyakan keadaan Leo, memberikan kantong berisi pakaian Syera yang tinggal di villa.
Bima yang sebenarnya sangat penasaran akhirnya bertanya pada pak Asep dan bibi Retno tanpa memberitahu keadaan Leo pada mereka. Alangkah terkejutnya Bima saat bibi Retno menceritakan apa yang terjadi di puncak dan mengenai hubungan Syera dan Leo.
Sama sekali tidak terpikir oleh Bima jika Syera dan Leo punya hubungan istimewa. Sekalipun mereka bukan saudara kandung, mengingat bagaimana sebelumnya Leo memperlakukan Syera sangatlah tidak mungkin. Justru Bima berpikir jika Syera sedang dekat dengan Fandy.
Apa tuan Leo sering senyum-senyum sendiri karena Syera? Apa itu alasannya dia selalu pulang tepat waktu belakangan ini? Kalau iya, aku sudah melakukan kesalahan dengan menyetujui permintaan ibu Mila. Mau bagaimana lagi, aku juga masih membutuhkan pekerjaan.
Bima meluncur ke tempat Leo, memastikan keadaan tuannya yang pastinya tidak sedang baik-baik saja.
Tiba di dalam apartemen, Bima menjumpai Leo sedang duduk di sofa. Wajahnya kusut, berantakan dan tak ada gairah hidup sama sekali. Dihadapan Leo ada dua piring dan dua gelas, seakan tadi Leo makan dengan seseorang. Isi piring dan gelas Leo tidak habis namun sudah berkurang sedangkan piring dan gelas yang satunya lagi tak tersentuh sama sekali.
"Tuan?" panggil Bima.
"Kenapa kau datang sendiri? Apa dia menyusul dari belakang? Harusnya kau membawa dia ikut bersamamu, ini sudah malam kalau terjadi sesuatu bagaimana?"
Apa yang akan dikatakan Bima tentunya bukanlah hal yang ingin di dengar Leo namun mau bagaimana lagi, Bima harus mengatakannya.
"Adik anda, maksud saya Syera. Maaf, tuan. Fandy sudah membawanya pergi dan saya tidak tahu kemana. Saya tidak punya petunjuk kemana Fandy membawanya. Sebaiknya anda beristirahat, anda harus menjaga kesehatan karena ibu Mila sangat khawatir."
"Pergilah. Aku ingin sendiri dan tidak perlu mengkhawatirkanku."
"Baik, tuan. Apa besok-"
"Tidak perlu khawatir, aku pastikan aku besok ke kantor. Aku bukan anak kecil yang butuh dikasihani," tegas Leo.
"Baik, tuan. Saya permisi."
Leo memasukan sesuap makanan ke mulutnya, mengunyahnya malas sembari tersenyum kecut.
"Apa kamu melihatnya, sekretaris yang selama ini aku kagumi dan cekatan dalam melakukan tugasnya tunduk pada mama."
Leo berdecak, seakan ada temannya berbicara. Leo tahu jika Bima bertemu dengan mamanya sebelum menemuinya. Tanpa bertanya Leo tahu apa yang dibicarakan mamanya pada Bima.
Melalui pesan singkat pak Asep memberitahu Leo jika Bima menemui mama Mila. Pak Asep merasa jika Leo harus tahu mengenai hal itu.
"Rasanya tidak enak. Aku tidak suka makanan ini tapi aku harus tetap makan untuk bisa bertemu denganmu."
__ADS_1
Leo mengangkat kepalanya melihat pada sofa di depannya.