
Bab Terakhir (isinya sekalian promo novel baru ya)
Mobil yang sempat terhenti kembali dilajukan oleh Fandy. Dia tidak mau lagi melihat pada Syera disampingnya. Fandy tidak ingin Syera menangis tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak mungkin melepas Syera saat apa yang diimpikannya akan segera tercapai. Tujuannya hidup bersama Syera sudah berada di depan mata, tinggal selangkah lagi.
Fandy menekan lama klakson mobilnya. Entah mengapa tiba-tiba saja jalanan hari ini begitu macet.
Tin-Tin-Tin.....
"Ayo cepat jalan, ayo, ayo...!"
Fandy mengerang berharap akan segera lampu hijau.
"Argh....!!"
Bug!
Fandy menjatuhkan kepalanya di atas setir mobil setelah memukul pintu di sampingnya. Tubuh Fandy bergetar dan dapat di dengar Syera suara isakan Fandy.
Suara klakson mobil Fandy yang begitu berisik ternyata mengundang perhatian banyak pengendara dan orang di sekitar, termasuk Leo yang sedang berjalan dan melihat pada kendaraan yang berhenti karena lampu merah.
Tidak jauh di depan sana sebuah gereja sudah kelihatan tinggi menjulang dan itu tandanya tak lama lagi ia akan tiba dan menyaksikan sesuatu yang begitu menyakitkan.
Sambil terus berjalan dengan perlahan, Leo kembali mengalihkan pandangannya pada deretan kendaraan yang belum maju sedikitpun. Dari posisinya berada Leo tersenyum kecut melihat seseorang memakai gaun pengantin di dalam mobil.
"Ada banyak orang yang akan menikah dan hidup bahagia. Syera, apa kamu juga bahagia dengan pilihanmu ini? Aku akan datang untuk melihatmu yang akan menikah karena aku masih berharap ada sebuah keajaiban untuk kita berdua. Aku datang bukan karena sudah melepaskanmu dan merelakammu dengan siapapun pria itu. Apa aku membawamu saja kabur dari gereja nanti?"
Leo bermonolog di pinggir jalan, masih tertuju pada pengantin di dalam mobil.
"Kak Leo?" gumam Syera saat menoleh pada pejalan kaki.
Fandy mengangkat kepalanya, ia menghapus air matanya dan menoleh pada Syera di sampingnya yang baru saja ia dengar menyebut nama Leo.
Pandangan Leo dan Syera saling beradu dari kejauhan. Leo ingin berlari saat menyadari wanita yang sedari tadi ia perhatikan adalah Syera. Sesaat kemudian Leo menunduk melihat sosok pria yang sangat dikenalnya berada di sebelah Syera.
Air mata Leo tumpah begitu saja. Bagaimana mungkin ia bisa menyaksikan pernikahan Syera dan Fandy nanti sedangkan melihatnya saja seperti sekarang ini Leo sudah tidak kuat.
Lampu merah sudah berganti menjadi warna hijau. Leo langsung melajukan mobil dan menyalip kendaraan di depannya. Syera semakin terisak menyadari mereka akan segera tiba di tujuan.
Langkah Leo juga semakin cepat mengikuti mobil Fandy yang mencoba terus menyalip kendaraan. Syera bolak-balik melihat ke kanan dan kirinya. Melihat pada Leo mempercepat langkahnya dan Fandy yang menyetir di sampingnya.
Isakan Syera begitu menggangu dan menyakitkan bagi Fandy hingga tanpa sadar ia menghentikan kembali mobilnya.
"Syera, aku sangat mencintaimu," ucap Fandy berteman air matanya.
Diraihnya tangan Syera dan menariknya ke pelukan. Pelukan Fandy kali ini tidak seperti biasanya, dua kali lebih erat dari biasanya. Fandy menangis memeluk Syera, air matanya menjadi bukti betapa ia sangat mencintai dan tidak ingin melepas Syera.
Fandy melonggarkan pelukannya dan menatap sendu wajah Syera.
"Kak, aku-"
Suara Syera yang lirih sudah tidak terdengar lagi saat Fandy mencium bibir Syera. Air mata keduanya yang sama-sama mengalir dapat mereka rasakan saat bening air mata itu mengalir dan ikut membasahi tautan bibir keduanya.
Fandy melepas ciumannya dan kembali duduk di kursinya tanpa melihat wajah Syera lagi.
"Pergilah."
Kata yang diucapkan Fandy barusan membuat Syera terpaku. Ia melihat wajah Leo yang basah karena air mata.
"Pergi dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku."
"Kak?"
Seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya, Syera menarik lengan Fandy dan menatapnya penuh tanya.
"Aku mencintaimu, jadi pergilah padanya."
Syera menggeleng tidak yakin. Leo mengulurkan tangannya, menghapus air mata Syera, air mata yang disebabkan olehnya. Fandy mengganggukkan kepalanya agar jelas buat Syera. Seketika Syera menghambur dalam pelukan Fandy.
"Aku sayang sama kak Fandy, kakak terbaik untukku dan satu-satunya kakak yang Syera punya selama ini."
Fandy menganggukkan kepalanya lagi pada Syera.
"Pergilah."
Tak berlama-lama lagi Syera membuka pintu mobil di sampingnya untuk keluar dan berlari pada Leo.
"Kak Leo?" teriak Syera usai keluar dari mobil. Syera masih memegang pintu mobil karena sedikit kesulitan dibuat gaun yang dipakainya.
Mata Leo yang tak melepas pandangannya berlari melihat Syera yang turun dari mobil.
Syera menangis namun ia senyum saat melihat Leo berlari kearahnya. Syera menarik ujung gaunnya yang masih berada di dalam mobil. Syera mengulas senyum pada Fandy diikuti tangannya yang akan menutup pintu mobil.
Brukkk!
Seorang pengendara mobil lainnya menabrak Syera saat akan menutup pintu mobil.
Kaget dengan apa yang dilihat matanya membuat Fandy spontan berteriak memanggil nama Syera.
"Sye-"
Brukkk!
Fandy tidak dapat mendengar teriakan suaranya sendiri karena tiba-tiba telinganya berdengung diikuti pandangannya yang menggelap dan hitam. Sebuah truk angkutan barang menabrak mobil Fandy.
Kedua kaki Leo begitu goyah, dia yang berlari berubah melambat menatap nanar pada kejadian di depan matanya.
Bersusah payah Leo hingga bisa menjangkau Syera yang tergeletak di atas aspal.
"Sye-syera? Syera, bangun Syera? Syera????! teriak Leo histeris mengangkat Syera sekuat tenaganya.
Gaun pengantin yang dikenakan Syera kini sudah tidak hanya berwarna putih kristal lagi, noda darah sudah mengotori gaun indah itu. Tangan Leo juga kini penuh darah saat mengangkat kepala Syera.
__ADS_1
Syera yang penglihatannya sudah mulai meremang tersenyum manis melihat wajah Leo di hadapannya. Leo menangis sejadi-jadinya, menggenggam tangan Syera yang ikut bernoda darah.
"Enggak-enggak, kamu nggak bisa seperti ini."
Seseorang mengarahkan Leo untuk naik ke salah satu mobil pengendara lainnya guna membawa Syera ke rumah sakit. Pemilik mobil tersebut berlari di depan Leo. Posisi mobil yang berada pinggir jalan dan berlawanan jalur dari gereja yang dituju, membuat Leo harus sedikit berlari menuju mobil yang akan membawa mereka ke rumah sakit.
"Syera, bertahanlah. Kita akan ke rumah sakit dan kamu akan baik-baik saja. Tolong buka terus matamu. Jangan menutupnya, aku mohon buka matamu untukku. Syera, aku sangat mencintaimu. Kamu tidak boleh seperti ini. Aku-"
Brukkk!
Senyum manis Syera adalah hal terakhir yang dilihat Leo sebelum Syera terlepas dan jatuh dari gendongannya sedangkan Syera melihat wajah panik Leo berurai air mata. Setelahnya penglihatan Syera menggelap.
Sebuah sepeda motor yang sedang dikejar polisi menabrak dan menghantam tubuh Leo.
Situasi lalu lintas begitu ramai dipenuhi dengan kendaraan yang berhenti dan orang-orang yang menyaksikan kecelakaan itu.
Mobil patroli polisi satu persatu tiba dan mengamkan situasi jalan sedangkan mobil ambulan yang juga tidak lama sampai segera membawa tiga orang korban kecelakaan ke rumah sakit untuk ditangani.
Bima mencari remot untuk mematikan televisi, ia akan menyusul Leo ke gereja. Siaran berubah menjadi breaking news. Bima berhenti mencari remot saat mendengar seorang reporter dalam siaran langsung menyebutkan jika terjadi kecelakaan di jalan raya dekat gereja terbesar kota itu.
Bima mengalihkan pandangannya dan terkejut saat melihat wajah korban kecelakaan. Bima berlari dari kamar hotel menuju rumah sakit yang disebutkan oleh reporter.
..........
Bima ambruk mendengar pemberitahuan dari tim dokter yang menangani ketiga korban kecelakaan. Dua dari korban sudah meninggal dunia ditempat kejadian dan seorang lagi dalam keadaan koma.
Ben yang juga mendengar kejadian itu langsung menghubungi Bima dan menyusulnya ke rumah sakit.
Bima bagaikan orang linglung, ia tidak tahu apa yang akan ia katakan pada mama Mila. Ben yang melihat keadaan Bima tidak juga dalam keadaan baik, mengurus semua administrasi ketiga korban kecelakaan.
Semua urusan kepulangan korban yang meninggal dunia ditangani oleh Ben, beruntung karena Ben bekerja di kedutaan maka semua berjalan dengan lancar sehingga tidak begitu lama untuk bisa membawa dua peti berwarna putih ke Indonesia.
Mama Mila yang mendapat telpon dari Bima berteriak histeris mendapat kabar yang sungguh menyakitkan itu. Ia mengutuki Bima dan mengatakan jika Bima yang menjadi penyebab semuanya.
Hari yang ditunggu mama Mila tiba. Dua peti mati dibawa ke kediaman Suntama dengan ambulan. Mama Mila, bibi Retno, pak Asep, mami Jelita dan orang-orang yang mendapat kabar kecelakaan itu tak dapat menahan tangisnya, terlebih mama Mila.
Mama Mila sudah bagaikan orang stress saat melihat dua wajah tak bernyawa di depan matanya. Bima tidak sanggup melihat keadaan di dalam rumah hingga ia memilih keluar dan mengutuki dirinya sendiri.
..........
Acara pemakan berlangsung dengan baik, mama Mila sudah kembali kerumah dibawa bibi Retno dan pak Asep. Satu persatu orang yang ikut ke pemakaman juga berangsur pulang.
Tinggallah mama Jelita berdiri di depan kedua makam baru itu. Mami Jelita menangis meletakkan boquet bunga matahari di atas salah satu makam.
"Anak mami yang cantik dan manis. Apa kamu sudah bertemu dengan mama Wulandari di sorga? Mami bahagia dengan kehadiranmu dalam hidup mami. Selamat tidur putri cantik, mataharinya mami Jelita."
Mami Jelita berlalu meninggalkan pemakaman. Ia tak tahan jika harus berada lebih lama di sana. Putri yang dibesarkannya hingga remaja pergi meninggalkannya tanpa sebuah pesan ataupun kata.
Saat semuanya telah pergi, Bima datang dan berdiri dengan kepala tertunduk pada dua makam di depannya. Bima mengepalkan kedua tangannya, marah pada dirinya.
"Maaf?"
๐Syera Hanindy ๐
๐Leo Geraldi Suntama ๐
Dua nama yang saling mencintai terukir pada batu nisan yang ditinggalkan Bima.
Rasa benci Leo pada Syera membawanya pada kebahagiaan saat cinta hadir pada keduanya. Rasa benci dan air mata mempertemukan Leo dan Syera hingga membuat mereka merasakan satu kata manis, yaitu 'cinta'.
Keduanya berakhir ditempat yang begitu indah, Swiss.
..........
5 tahun kemudian
"Emi!!!! Cepat sedikit."
Seorang gadis berambut panjang hingga hampir mencapai pinggang berlari dari lantai dua keluarga Suntama.
"Cepat!"
Suara teriakan itu kembali menggema.
"Iyaaaa!!! Teriakan dibalas teriakan.
"Kau bukan seorang gadis, teriakanmu seperti preman pasar."
"Sama. Kakak pikir teriakan kakak itu maco? Yang ada kayak kaleng bekas minuman dilempar ke aspal."
"Apa kalian berdua akan terus bertengkar seperti ini setiap hari?"
Seorang wanita berkacamata keluar dari kamarnya dan menarik nafas mendengar keributan setiap hari namun ia sangat bahagia.
"Bunda, dia yang teriak deluan ke aku. Dia juga bilang aku bukan seorang gadis."
"Memang seperti itu kenyataan," meledak gadis berambut panjang itu.
"Sudahlah, jangan bertengkar lagi! Ayo berangkat."
Tiga puluh menit sebuah mobil berhenti di depan sebuah gapura pemakaman. Wanita berkacamata, gadis berambut panjang dan seorang pemuda turun dan masuk ke area pemakaman.
"Bunda sudah nyampe?" sapa seorang pemuda pada wanita berkacamata itu.
Detik kemudian ia melirik pada dua orang dibelakang wanita yang dipanggilnya bunda.
"Kau juga juga sudah ada disini?"
"Iya, Bun. Tadi kak Bima yang jemput aku dari kampus," tunjuknya pada Bima disebelahnya.
Wanita itu sama sekali tidak melirik pada Bima, ia memilih meletakkan karangan bunga ditangannya pada kedua makam di hadapannya. Tiga orang yang memanggilnya bunda ikut melakukan hal yang sama, meletakkan bunga di atas kedua makan. Bima menjadi orang terakhir yang meletakkan karangan bunga. Beberapa saat mereka terdiam memandangi kedua makam itu. Wanita itu menghapus air matanya dan mencium kedua nisan dihadapannya.
__ADS_1
Gadis berambut panjang yang dipanggil Emi itu melihat wajah Syera yang anda di batu nisan.
Hei, kakak cantik? Ini untuk ketiga kalinya aku kesini. Aku sudah melihat foto-fotomu dan kau memang sangat cantik. Pria disampingmu itu juga sangat tampan.
"Ayo pulang," ajak wanita itu kemudian.
"Maaf, Bu. Saya ingin bicara sebentar."
Bima menahan wanita itu dan menyuruh ketiga lainya pergi terlebih dahulu menuju mobil.
"Maaf, apa saya sudah-"
"Jangan bertanya, tetap lakukan seperti biasanya. Aku yang akan menentukan sampai kapan. Jangan membuatku marah di depan makam anakku."
Bima menghela nafasnya saat wanita itu meninggalkannya begitu saja. Wanita itu adalah mama Mila yang hampir gila karena kehilangan anak yang dilahirkannya dan satu satu lagi dalam keadaan koma selama hingga saat ini. Wanita itu juga merutuki dirinya akan Syera yang menjadi pelampiasan kemarahannya pada wanita yang melahirkan Syera.
"Selalu saja seperti ini setiap tahunnya. Apa kalian berdua tahu ada apa?"
"Tidak perlu ikut campur urusan orang dewasa," serempak kedua pemuda di kiri-kanan Emi mengatakan kalimat yang sama.
"Is, kalian selalu begitu. Oh iya, kak Bima ganteng ya?"
"Om! Ingat, dia menyuruhmu memanggilnya om."
Pemuda yang meneriakinya menarik pelan rambut panjang itu.
"Sakit!"
"Makanya potong saja biar tanganku ini tidak gatall untuk selalu menariknya. Biar persis seperti dulu lagi, seperti tokoh kar-"
Ucapannya berhenti saat mata gadis itu menatapnya tajam.
"Aku nggak mau pulang dengan kalian, aku akan pulang dengan kak Bima."
"Dia tidak akan mau," ledek pemuda yang sering meneriakinya.
Gadis itu tidak peduli, ia berlari kebelakang pada bundanya.
"Bunda, aku pulang sama kak, eh, maksudku om Bima, boleh?" memasang nyengir kudanya.
"Boleh, kenapa tidak."
Bima menatap jengah pada gadis itu tapi Bima tidak bisa membantah.
"Apa menurutmu kak Bima akan pulang?"
"Jelas mau, ada bunda Mila. Satu lagi, jangan pernah membahas tokoh kartun itu lagi kalau tidak mau urusannya jadi panjang. Cukup hanya kita berdua dan Emi yang tahu bagaimana bentuk rambutnya dulu."
"Aku kan tidak jadi menyebutnya. Hanya sampai kar- aku belum bilang -tun dan Dora."
"Itu baru saja kau bilang Dora."
Hahaha...
..........
Hampir lima tahun sudah Fandy berbaring di tempat tidur rumah sakit. Melalui proses yang begitu panjang akhirnya mama Mila berhasil membawa Fandy untuk dirawat di rumah sakit Indonesia pada tahun kedua dia koma.
Mama Mila mengadopsi tiga orang anak yang kini memanggilnya bunda untuk menghilangkan kesepian dan kerinduannya pada anak-anaknya.
Bima masih bekerja di Suntama Group, meski sebenarnya ia tidak sanggup dan sulit menghadapi situasi barunya. Dia hanya bisa berhenti saat mama Mila mengatakan berhenti.
Pada ketiga anak-anaknya saat ini mama Mila sangat sayang namun berbeda pada Bima yang seakan tak dianggap namun dipekerjakan sebagai pengganti Leo.
Sore ini, perawat yang biasanya menjaga dan membersihkan tubuh Fandy masuk untuk melakukan tugasnya. Setelahnya ia meninggalkan ruang rawat itu.
Tit-Tit-Tit-Tittttttttt.......
Layar monitor di ruangan itu berbunyi hingga bunyinya tanpa jeda.
..........
Di sana, ditempat yang indah, pria dan wanita dalam balutan busana putih bergandengan tangan melihat cahaya indah nan menyilaukan dihadapan mereka.
"Sudah lama, apa aku bisa bergabung?"
Keduanya menoleh kebelakang, pada suara yang mereka dengar. Keduanya tersenyum merentangakan tangan menyambut si pemilik suara untuk ikut bergabung dengan mereka.
Pria itu ikut tersenyum menghampiri keduanya.
๐Fandy Putra Suntama ๐
END
..........
...
cast: Leo dan Syera...
cast: Fandy
__ADS_1