Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Cuman Ketiduran


__ADS_3

Kelopak mata yang bigitu indah, alis tebal hitam dan bentuk hidung yang semakin mempertegas wajah tak bosan Syera memandanginya. Tanpa menyentuh Syera melukis indahnya wajah Leo dengan telunjuknya. Wajahnya begitu berbeda saat sedang tidur.


"Engh... " lenguh Leo mendekap tangan Syera di dada.


Memandangi Leo yang sedang tidur membuat Syera ikut mengantuk. Posisi tangan Syera yang di dekap Leo membuat Syera beranjak dari sofa dan duduk dibawah menghadap Leo.


Syera meletakkan kepalanya di dekat dada Leo.


Menit demi menit berganti keduanya begitu lelap dalam tidur.


Saat akan memiringkan tubuhnya Leo merasa ada yang menahan dadanya. Perlahan ia membuka mata lalu tersenyum melihat Syera ternyata terlelap di sampingnya dan kepala bersandar pada dadanya.


Leo menarik pelan tangan Syera yang sedari tadi dia dekap di dada. Begitu lembut dan cukup lama Leo mendaratkan bibirnya pada punggung tangan Syera, mengecup cukup lama dengan segala gejolak dalam hati yang tak terbendung dan tak tersampaikan.


Berhati-hati Leo bangkit dari sofa setelah terlebih dahulu melepas tangan Syera. Perlahan ia mengangkat gadis itu dan meletakkannya ke atas sofa.


"Apa kau datang untuk menggoda pria yang ada di perusahaan ini?" gerutu Leo dalam hati.


Jas yang tadi Leo gantung pada kursinya kemudian ia ambil untuk menutupi bagian bawah tubuh Syera. Mungkin karena posisi tidur rok yang dikenakan Syera sedikit naik ke atas hingga memperlihatkan setengah bagian pahanya hingga kebawah.


"Tidurlah," ucap Leo menyisihkan rambut yang menutupi sebagian wajah Syera. "Terimakasih sudah datang hari ini."


Leo berdiri menuju meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya namun langkahnya berhenti dan berbalik lagi pada Syera. Leo mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang sudah jelas hanya ada mereka berdua di sana.


Langkah kaki Leo kembali menuju Syera dan berjongkok di depan wajah gadis itu. Leo mengepalkan kedua tangannya dan semakin mendekatkan wajahnya pada Syera hingga ia berhenti saat bibirnya hanya berjarak dua senti dari bibir Syera.


Ruangan yang cukup dingin karena pendingin ruangan dan tidur yang begitu nyenyak, Syera tidak merasakan saat nafas Leo menerpa wajahnya terlebih disaat wajah mereka yang begitu dekat.


Leo menutup mata mencoba meyakinkan dirinya dengan apa yang sedang ia lakukan. Seketika kepalan tangannya terbuka, ia menarik wajahnya menjauh dari Syera. Leo terkulai lemas duduk di lantai. Setelah beberapa saat ia kembali melihat Syera dan mengecup kening gadis itu dan melanjutkan pekerjaannya.


..........


Rapat dengan klien untuk proyek baru hari ini di wakilkan oleh Fandy. Semua berjalan dengan lancar dan tidak menemui kendala yang berarti. Sebelum kembali ke kantor Fandy terlebih dahulu makan siang di restoran ibu Linda yang sekarang sudah menjadi milik dan atas nama Leo. Hal itu hanya diketahui oleh Ibu Linda, Bima dan tentunya Leo.


Fandy sedikit kecewa saat tahu jika Syera tidak ada di restoran mengingat tujuannya selain untuk makan siang ke sana juga karena ingin bertemu Syera. Karyawan di sana juga tidak ada yang tahu kenapa Syera tidak masuk kerja karena tidak ada kabar.


Ibu Linda yang kini bukan sebagai pemilik lagi namun tetap di percaya untuk menjalankan dan mengelola restoran tidak mempermasalahkan Syera yang tidak masuk kerja. Ibu Linda sudah diberi tahu siapa Syera dan apa hubungannya dengan Leo oleh Bima.


Setibanya di kantor Fandy menjumpai sebuah kotak dan saat dibuka ternyata berisi makanan. Fandy yakin jika itu dari Syera. Oleh sebab itu meski sudah makan diluar Fandy tetap menghabiskan isi kotak itu.


Seperti yang pernah ia lakukan, Fandy mengambil fotonya dengan kotak yang sudah kosong dan mengirimnya pada Syera.


Fandy membawa laporan hasil pertemuannya tadi dengan klien untuk diberikan pada Leo. Saat menuju ruangan Leo, ia berpapasan dengan Bima yang akan ke pantry.


"Pak Fandy," panggil Bima.

__ADS_1


Fandy berhenti dan menoleh pada Bima.


"Apa anda ingin bertemu tuan Leo?"


"Saya hanya ingin menyerahkan laporan pertemuan yang tadi," jawab Fandy.


"Sebaiknya biar saya yang kasih nanti. Beliau tidak ada di ruangannya, beliau sedang ada keperluan penting di luar," ucap Bima berbohong.


"Baik. Itu lebih bagus," menyerahkan map yang dibawanya pada Bima.


Fandy kembali ke ruangannya begitu juga dengan Bima untuk menaruh map itu terlebih dahulu baru kemudian pergi ke pantry.


..........


Sayup-sayup Syera mendengar seseorang sedang bicara. Perlahan ia membuka matanya yang masih berat dan saat bergerak ke kanan ia terjatuh.


Bug!


"Aw!"


Tidak hanya itu, setelah terjatuh kepalanya terantuk pada bagian bawah meja saat mengangkat kepalanya. Syera mengerang kesakitan. Ia kemudian mencoba untuk berdiri namun jas Leo sedikit menghalangi pergerakan kakinya hingga ia terjerembab dan kembali terjatuh.


"His... Ck, kenapa ada ini disini?" sungut Syera menarik jas yang membelit kakinya.


Leo tertawa melihat tingkah Syera yang sedang menggerutu dengan wajah merengut.


Syera sadar sepenuhnya saat mendengar suara Leo. Ia ingat jika sedang berada di ruangan kerja Leo.


"Nggak. Aku cuman ketiduran sebentar karena kak Leo megangin tanganku tadi, sekarang aku mau pergi kerja."


"Kerja? Kau yakin mau pergi kerja sekarang?" tanya Leo menahan tawanya. Ia takut Syera akan marah karena menertawakannya.


"Iya. Aku mau pergi kerja sekarang," ucap Syera.


Syera berdiri, merapikan rambut dan pakaiannya. Tak lupa ia juga membenarkan jas Leo dan meletakkannya di sandaran sofa.


"Tunggu sebentar."


Leo mengemasi barang-barangnya dan memasukkan beberapa dokumen dan laptop ke dalam tas kerjannya.


"Ayo, bawa jasku. Kita pulang."


"Pulang?" tanya Syera dengan dahi mengkerut.


"Iya, pulang. Apa kau berencana menginap di sini?" mengangkat tangan kirinya dan mengetuk-ngetuk jam tangannya ke arah Syera.

__ADS_1


Syera menyalakan ponselnya dan langsung melotot melihat waktu yang ada di layar ponselnya.


"Hakh... Mana mungkin," kaget Syera tak percaya.


"Sudah, ayo pulang."


Leo membuka pintu ruangannya dengan kunci yang ada padanya. Syera mengikuti Leo berjalan di belakangnya. Leo menarik tangan Syera dan mempercepat langkahnya saat melewati ruangan Fandy.


Dua resepsionis yang mengira Syera adalah kurir makanan menunduk hormat saat Leo keluar dari lift dan berjalan melewati mereka dengan menggenggam tangan Syera.


Syera sedikit kewalahan untuk menyamakan posisinya dengan Leo yang berjalan cukup cepat.


"Apa kau bisa menyetir?" tanya Leo dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Syera.


"Belajarlah lain kali supaya jangan aku saja yang menyetir."


"Aku tidak mau menyetir. Kak Fandy juga tidak pernah mau mengajariku menyetir."


"Ck. Apa hubungannya dengan dia," decak Leo tak suka lagi-lagi membawa Fandy dalam pembicaraan mereka.


"Aku bisa bawa motor itu karena kak Fandy yang ajarin. Setelah paham bawa motor aku pernah minta kak Fandy buat ngajarin bawa mobil tapi tidak diizinkan," cerita Syera mengingat saat Fandy mengajarinya membawa sepeda motor. "Katanya aku cukup duduk manis saja di sampingnya dan itu sudah cukup," lanjutnya.


"Aku tidak memintamu untuk menceritakannya," sungut Leo. "Jangan membahas tentang dia saat bersamaku."


"Tapi dia adik kak Leo," ucap Syera mengingatkan.


"Sudahlah."


Leo melajukan mobilnya sedikit cepat untuk menghindari macet mengingat sebentar lagi jam pulang kantor.


"Apa tadi tidurmu nyenyak?" tanya Leo untuk mengalihkan pembicaraan. "Mana ada orang ketiduran sampai berjam-jam saat hari masih terang."


Syera juga tidak tahu bagaimana bisa ia ketiduran selama itu. Dia hanya merasa ngantuk saat melihat Leo tidur. Ia hanya memejamkan matanya sesaat namun saat bangun sudah sore.


Ponsel Leo berdering, ia mengurangi kecepatannya dan menjawab panggilan teleponnya.


"Halo, ma?" sapa Leo.


Syera tidak tahu apa yang dibicarakan Leo dengan mamanya. Leo tidak banyak bicara, ia hanya melirik sebentar kearah Syera sebelum akhirnya menyudahi panggilan telepon.


"Iya, ma. Besok Leo ke rumah dan bawa dia."


Leo kembali menambah kecepatan mobilnya dan menoleh pada Syera.


"Mama minta kita ke rumah besok sore," ucap Leo memberitahu.

__ADS_1


"Besok?"


"Em, Fandy juga ikut."


__ADS_2