
Pasangan anak dan ibu itu menangis haru sambil berpelukan. Pertemuan yang tak pernah dibayangkan Syera selama ini. Air mata tak berhenti mengalir sebagai bukti bahwa meski tak pernah bertemu selama puluhan tahun tidak membuat ikatan batin mati rasa.
Mami Jelita ikut menangis di tempat duduknya. Bisa saja ia menyangkal setiap perkataan Wulandari namun ia tidak ingin menjadi seorang yang egois.
Cukup lama Syera dan Wulandari meluapkan rasa rindu mereka satu sama lain. Tak ada hal yang paling bahagia lagi selain bisa bertemu dengan orang yang selama ini kita rindukan kehadirannya.
"Mama," sebut Syera.
"Iya, nak. Ini mama, ini mama Wulan yang sudah lahirin kamu, nak."
Tangan lembut Wulandari menghapus air mata Syera yang sudah membanjiri pipinya. Putri yang selama ini sangat ingin ia lihat sekarang ada di hadapannya, ia merasa seperti sedang bermimpi saat ini.
Setelah cukup tenang mami Jelita mengajak keduanya untuk duduk. Tak ingin menyia-nyiakan momen pertemuannya, Wulandari tak ingin jauh dari Syera. Wulandari duduk begitu dekat dengan putrinya itu tanpa melepas tangan Syera dari genggaman tangannya.
"Putri mama ternyata sangat cantik," puji Wulandari meneliti setiap inci wajah Syera. Wulandari begitu intens memandangi wajah Syera sambil sesekali menyelipkan rambut panjang dan hitam Syera kebelakang telinganya.
"Minumlah," ucap mami Jelita menawarkan dua gelas air putih pada Syera dan Wulandari.
Syera melihat pada mami Jelita, ia khawatir dengannya karena keberadaan Wulandari saat ini.
"Jangan khawatir, mami baik-baik saja. Apa kau lupa kalau mami ini orangnya sangat kuat dan sudah tahan banting?" gelak mami Jelita mencoba mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang. Mami Jelita tahu apa yang sedang dipikirkan Syera.
Banyak hal yang mereka bicarakan, salah satunya mengenai kehidupan Syera selama ini dan apa saja yang dilakukan. Wulandari tidak menyangka jika putrinya tumbuh menjadi gadis yang cantik dan mandiri.
"Terimakasih sudah membesarkan dan menjaga Syera selama ini," ucap Wulandari pada mami Jelita.
"Tidak perlu berterimakasih, dia juga putriku. Meski bukan terlahir dari rahimku tapi aku sudah menganggap Syera seperti anak kandungku. Aku sangat menyayanginya," ucap mami Jelita.
Syera tersenyum saat beradu pandang dengan mami Jelita. Ia beruntung meski mami Jelita sebelumnya bekerja di bar yang berhubungan dengan dunia malam dan pria hidung belang namun mami Jelita bisa menjaga Syera dengan baik.
"Aku membesarkan dan merawat Syera hanya sampai sekitar tiga belas tahun. Jangan hanya berterimakasih padaku, katakan juga hal itu pada keluarga Suntama. Aku rasa kau mengerti maksudku."
Wulandari terdiam, air mata yang tadi sudah berhenti kembali mengalir lagi saat mami Jelita membahas keluarga Suntama, seketika ia ingat kembali pada bayang-bayang almarhum Bayu.
Tangan Syera terulur menghapus air mata Wulandari.
"Kenapa mama nangis lagi?"
"Tidak, sayang. Apa kamu baik-baik saja selama berada di keluarga Suntama?"
__ADS_1
"Iya, ma. Aku baik-baik saja. Semua orang di keluarga itu sangat baik juga pada Syera," jawab Syera berbohong karena sebelumnya kehadirannya di keluarga Suntama dianggap sebagai malapetaka oleh Leo, bahkan Mila tak sekalipun menggubris keberadaanya di sana.
"Apa tante Mila juga menyayangimu?"
"Iya, termasuk tante Mila."
"Kamu nggak bohong sama mamakan? Kamu bisa jujur sama mama, kamu bisa katakan apa saja yang ada di hatimu selama ini."
"Mereka sudah cukup baik karena mau menampung Syera untuk tinggal di sana. Aku tahu keberadaan ku di sana sangat menyakitkan buat tante Mila."
"Maksud kamu?"
Wulandari mengernyitkan dahi atas perkataan Syera.
"Apa mereka melakukan sesuatu denganmu?" tanya Wulandari lebih lanjut.
"Enggak, ma. Justru Syera merasa bersalah dan nggak enak hati selama ini. Mama juga kalau ada di posisi tante Mila pasti merasakan hal yang sama. Tidak mudah menerima keberadaan anak dari wanita lain apalagi dari luar pernikahan," jelas Syera.
"Tu-tunggu," sela Wulandari. "Mama nggak ngerti kamu lagi ngomong apa sekarang, bisa jelasin sama mama yang kamu maksud itu apa?"
Mami Jelita diam saja, ia tahu Syera sudah besar dan punya hak untuk bertanya maupun mengatakan sesuatu yang selama ini ia simpan dalam hatinya.
"Salah? Maksud kamu apa, nak?" tanya Wulandari semakin bingung.
"Aku sudah dewasa, ma. Aku tahu apa yang terjadi. Mama juga harus minta maaf sama tante Mila. Syera yakin mama orang baik yang mau mengakui kesalahan."
"Mama nggak ngerti apa yang kamu omongin. Mama tahu mama salah karena tidak ada buat kamu sampai kamu dewasa seperti ini dan mama minta maaf sayang, mama sadar dan akui mama salah tapi mama ada alasan melakukan semuanya itu," ujar Wulandari.
"Apa mama nggak merasa bersalah karena melahirkan Syera dari laki-laki yang berstatus suami orang, ma?"
"Kamu bicara apa sih, nak? Mama nggak ngerti."
Sehalus mungkin Syera mengatakannya pada Wulandari namun tak jua membuat mamanya itu mengerti. Akan sangat jahat jika Syera harus mengatakannya secara gamblang tapi dia tidak punya cara lain.
Gantian Syera menggenggam kedua tangan mamanya, mengusap-usap punggung tangan Wulandari lembut.
"Ma, aku tahu kalau Syera anak dari hubungan antara mama dan pak Bayu, suami tante Mila-"
"Syera!" kaget Wulandari menghentikan ucapan Syera. "Kamu bicara apa?"
__ADS_1
Raut wajah Wulandari sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Syera. Ia tidak habis pikir kenapa Syera berpikir seperti itu.
"Maaf, ma. Syera nggak bermaksud mau ikut campur kehidupan pribadi mama di masa lalu tapi mama tahukan kalau itu salah?"
"Bukan mama tapi kamu yang sudah salah, nak. Mama tidak ada hubungan seperti yang kamu pikirkan dengan suami tante Mila. Dulu, jauh sebelum pak Bayu menikah dengan tante Mila memang mama menjalin hubungan dengan pak Bayu tapi setelah mereka menikah kami sudah melupakan hubungan itu," jelas Wulandari.
"Jadi mama dan pak Bayu tidak pernah-"
"Mama bukan wanita seperti itu, saat menjalin hubungan dengan pak Bayu pun hubungan kami adalah hubungan yang sehat. Mama nggak tahu kenapa kamu bisa berpikir seperti itu."
"Maksudmu Syera bukan anak Bayu?" tanya mami Jelita yang sedari tadi mengikuti arah pembicaraan Syera dan Wulandari.
"Apa kau juga berpikiran yang sama?" tanya Wulandari mengalihkan pandangannya pada mami Jelita.
"Jadi Syera bukan anak pak Bayu?" tanya Syera sama seperti mami Jelita.
"Kamu bukan anaknya. Kamu bukan anaknya pak Bayu. Bukan dia papamu."
"Syera benar bukan anak dari pak Bayu, ma?"
Bola mata Syera melotot, ia tidak percaya dengan apa yang di dengar telinganya saat ini.
"Syera, berhenti bertanya seperti itu. Bukannya mama sudah mengatakannya secara jelas, pak Bayu bukanlah papamu."
"Bastian Palmer, itu nama papamu bukan Bayu Suntama. Almarhum papa kamu bernama Bastian Palmer," jelas Wulandari menekankan nama papa Syera yang sebenarnya.
Syera tidak bisa berkata-kata lagi saat mamanya menjelaskan siapa Syera sebenarnya. Apa yang selama bertahun-tahun ini dipercayanya kini dipatahkan oleh penjelasan Wulandari.
Mulut Syera seakan kaku saat ingin memperjelas satu hal lagi pada Wulandari, mamanya.
"Ka-kalau pak Bayu bukan papaku, i-itu maksudnya, e...e... maksudnya berarti itu...," Syera bicara tidak beraturan sangking gugupnya kerena kebenaran yang ia tahu sebelumnya dan ingin kembali meyakinkannya.
"Kamu mau tanya apalagi, nak?" tanya Wulandari lembut.
"Em... Itu, kak Leo. Apa artinya kak Leo bukan kakak kandung Syera?"
"Leo? Leo siapa?" tanya Wulandari tidak mengenal pemilik nama yang dimaksud Syera.
"Leo anaknya Bayu dan Mila," ucap mami Jelita memberitahu Wulandari. "Kalau Bayu bukan papamu berarti Leo bukan kakak kandungmu," mami Jelita mengambil alih menjawab pertanyaan Syera. "Apa kau sedih dengan hal itu?"
__ADS_1
Syera tidak tahu harus menjawab apa. Semua kebenaran yang ia dengar hari ini begitu tiba-tiba. Tanpa Syera sadari kebenaran hari ini telah mengubah siapa dia sebenarnya tapi yang Syera tahu dia akhirnya bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya.