Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Ayo Bicara Dengan Syera


__ADS_3

Proyek kerja sama membangun wahana bermain dengan perusaan Y akhirnya selesai. Sebuah wahana bermain sekaligus tempat berlibur bersama keluarga yang dapat dinikmati segala rentang usia siap untuk dibuka.


Kerja keras dan lelah selama beberapa bulan terbayar sudah dengan hasil yang dicapai. Tidak salah jika pimpinan perusahaan Y mengandalkan Fandy menangani proyek tersebut.


Tak dipungkiri Leo sebagai pimpinan Suntama Grup yang menjalin kerjasama dengan perusahaan Y turut mengapresiasi hasil kerja Fandy dan tim.


Acara makan malam antar kedua perusahaan berlangsung cukup meriah karena diadakan langsung di dalam wahana. Para karyawan yang ikut bergabung dalam acara itu dapat merasakan fasilitas yang ada secara cuma-cuma.


Pimpinan perusahaan Y sudah terlebih dahulu undur diri karena harus menghadiri acara penting lainnya. Tinggallah Leo dan Fandy serta karyawan lainnya di sana. Keduanya hanya terlibat pembicaraam sesekali, itupun dalam pembahasan proses pengerjaan proyek yang di tangani oleh Fandy.


"Terimakasih."


Kata itu lolos begitu saja dari Leo. Selain sebagai adik angkat dan menjadi saudaranya, Fandy adalah bagian dari perusahaan yang punya andil besar setelah kematian Pak Bayu dan selama Leo berada di luar negeri.


Fandy hanya tersungging mendengar ucapan terimakasih yang diucapkan Leo padanya untuk pertama kalinya.


"Tidak perlu berterimakasih. Aku melakukannya untuk papa. Apapun yang kulakukan tidak akan pernah bisa membalas apa yang sudah aku dapat dan rasakan semenjak papa membawaku dari panti asuhan."


"Apapun alasanmu sudah seharusnya aku berterimakasih."


"Kalau bukan karena dia aku juga tidak akan melakukan ini," ucap Fandy. "Syera. Dia memintaku melakukan ini untuk almarhum papa. Dia yang meyakinkan aku untuk menerima kembali posisi wakil direktur. Selain untuk papa aku juga melakukannya untuk Syera."


"Apa kau menyukainya?"


"Sangat. Aku ingin selamanya bersamanya," jawab Fandy.


"Kau tidak bisa melakukannya," tentang Leo namun tidak meninggikan suaranya. "Apa kau lupa kalau dia adikmu, dia adalah anak dari papa Bayu," lanjut Leo.


"Adik? Ck! Mungkin kau juga lupa kalau tidak ada hubungan darah diantara kami. Seperti yang kau pernah katakan kalau Syera adalah seorang anak kecil yang tiba-tiba menjadi adikku setelah papa meninggal. Jadi tidak ada alasan untukku tidak bisa bersamanya."


"Apa kau sudah memberitahunya?"


"Secepatnya aku akan mengatakannya. Hanya aku yang bersama Syera selama ini dan aku adalah orang pertama yang dia ingat dalam situasi apapun."


"Apa kau yakin dengan ucapanmu? Apa kau yakin kalau dia merasakan yang sama denganmu?"


Pertanyaan Leo semakin intens dan sensitif. Leo tidak ingin bertanya lebih lanjut tapi pertanyaan-pertanyaan itu mengalir begitu saja.


"Sama seperti mama, aku juga tidak mengizinkanmu bersama Syera. Bagaimanapun dia adikmu."

__ADS_1


"Meski sebagai kakak tapi kau juga tidak punya hak melakukannya. Dan juga, kau tidak punya hak untuk mengekang Syera, termasuk untuk bisa bertemu denganku."


"Aku punya hak karena aku kakaknya," ucap Leo. Apa yang dikatakan Fandy sedari tadi membuat kepalanya hampir pecah.


"Dia hanya menganggapmu sebagai kakak dan aku yakin tidak lebih dari itu," ucap Leo penuh penekanan.


Dert... Dert....


Ponsel di saku celana Fandy bergetar, ia merogohnya dan tersenyum melihat nama si penelpon.


"Tapi sepertinya tidak seperti itu," ucap Fandy menunjukkan ponselnya yang sedang di telpon oleh Syera.


Syera. Begitu jelas Leo melihat nama itu pada layar ponsel Fandy. Tanpa ragu Fandy menjawab panggilan telepon Syera. Fandy tidak menjauh sedikitpun dari Leo saat berbicara dengan Syera bahkan sengaja dibuatnya dalam mode speaker.


"Kak Fandy sudah pulang? Gimana acara hari ini?" tanya Syera dari seberang telepon.


"Seperti yang kamu harapkan, semuanya berjalan dengan baik," jawab Fandy diiringi tawa kecil.


"Oh, ya? Aku sudah yakin kalau kak Fandy pasti melakukannya dengan baik. Sekarang percayakan kalau kakak bisa?"


"Em, makasih. Semuanya karena kamu."


"Ayo bertemu malam akhir pekan nanti, aku akan mentraktirmu sepuasnya. Bagaimana?"


"Deal! ucap Syera begitu lantang. "Kak Fandy yang terbaik," puji Syera.


Percakapan diantara Fandy dan Syera membuat Leo merasa jengkel. Syera begitu bersemangat saat bicara dengan Fandy, berbeda dengan cara Syera bicara saat bersama Leo.


Leo kecewa dan mengasihani dirinya saat lagi-lagi Syera hanya mengingat Fandy. Selama ini kalau bukan karena keperluan yang mendesak Syera tidak akan pernah menghubunginya seperti yang saat ini Syera lakukan pada Fandy.


Tak ingin lebih lama mendengar pembicaraan keduanya akhirnya Leo pergi dan menjauh dari apa yang tidak ingin ia dengar.


..........


Tet..... Tet....


Syera yang baru selesai mandi dan berpakaian berlari membuka pintu. Dia tidak bisa menebak siapa yang ada diluar. Leo tidak pernah menekan bel, dia akan langsung masuk karena itu adalah apartemennya yang sudah tentu punya akses keluar masuk dengan bebas. Mila, mamanya Leo dan Bima hanya akan datang saat Leo ada. Tidak mungkin Fandy karena baru satu jam yang lalu mereka selesai bicara melalui telepon.


Klek!

__ADS_1


"Kak Leo?"


Diluar dugaannya, ternyata pemilik tempat itulah yang sedari tadi menekan bel.


"Kenapa menekan bel, bukannya kak Leo bisa langsung masuk?" tanya Syera heran.


"Apa membuka pintu saja begitu sulit untukku?" jawab Leo tak bersemangat.


Leo melewati Syera begitu saja, melemparkan tas kerja dan jasnya ke sofa. Masih dengan sepatu di kakinya, Leo merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur besar miliknya.


Pintu kamar yang terbuka lebar membuat Syera dapat melihat Leo di atas tempat tidur, menutup matanya menggunakan lengan.


Belakangan ini Leo menjadi sering bersikap dingin. Tidak banyak bicara bahkan jarang memerintah Syera. Setiap ditanya akan selalu berkata baik-baik saja, membuat Syera bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.


"Kak Leo sudah makan?" tanya Syera lembut dan mendekat pada Leo.


"Em," jawab Leo singkat.


Perlahan Syera meraih lengan yang digunakan Leo menutup matanya, menyingkirkan agar dapat melihat wajah Leo dengan jelas tapi Leo mengeraskan tangannya.


"Apa semuanya baik-baik saja? Apa ada masalah?" tanya Syera berusaha menarik lengan Leo sekuat tenaganya. "Ayo bicara denganku, kak. Jangan seperti ini, ayo bicara."


Syera berhasil menyingkirkan lengan Leo namun saat itu juga Leo berbalik memunggungi Syera.


"Kak Leo kenapa? Jangan bikin Syera takut, kak. Aku nggak suka seperti ini. Ayo bicara dengan Syera," ucap Syera. Suaranya bergetar saat mengatakannya.


"Aku lelah, aku ingin istirahat."


Leo mengambil bantal di bawah kepalanya untuk dijadikan penutup wajah. Leo memeluk bantal yang menutupi seluruh wajahnya. Tanpa sadar air mata Syera lolos begitu saja. Melihat Leo yang seperti ini membuat Syera sangat sedih. Syera merindukan Leo yang selalu berkata sesuka hati dan menyuruhnya melakukan ini-itu.


Bolak-balik Syera menghapus air matanya yang tak berhenti membasahi pipinya.


"Kak? Ayo cerita sama Syera, sebenarnya ada apa?" berjalan mengitari tempat tidur karena posisi Leo yang membelakanginya.


"Kalau kakak diam seperti ini aku nggak tahu harus berbuat apa, kak."


"Keluarlah, aku ingin istirahat," ucap Leo dari balik bantal yang menutupi wajahnya.


Air mata Syera semakin bercucuran. Syera naik ketempat tidur dan perlahan melepas sepatu Leo, ia kemudian mengulurkan tangannya untuk melonggarkan dasi Leo dan membuka kancing paling atas kemejanya.

__ADS_1


"Aku akan tetap disini nungguin sampai kak Leo bicara. Aku nggak akan keluar dari kamar kak Leo!"


__ADS_2