Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Sekali Seumur Hidup


__ADS_3

Pagi setelah sarapan Fandy membawa Syera ke sebuah toko perhiasan. Sebelumnya Fandy dan Syera sudah pernah mengunjungi toko tersebut disaat hari ulang tahun Syera. Saat itu Fandy membelikan sebuah kalung. Cincin yang dulu sempat dibeli Fandy dan akan diberikan pada Syera hilang entah kemana. Mungkin karena terburu-buru membawa Syera dari puncak malam itu, Fandy tidak sengaja menjatuhkannya hingga ia kehilangannya.


Pegawai toko yang sudah mengenal Syera dan Fandy tersenyum menyambut keduanya. Pegawai wanita itu langsung memperlihatkan berbagai design cincin pernikahan saat Fandy mengatakan keinginannya untuk membeli cincin pernikahan.


"Ayo pilih, aku nggak tahu selera cincin yang kamu inginkan untuk pernikahan."


"Aku nggak peduli, aku sudah bilang nggak akan nikah dengan kak Fandy. Jangan memaksaku!"


Fandy tidak ingin berdebat, ia mengamati setiap cincin di atas etalase kaca bening. Sepasang cincin yang terbuat dari emas putih mencuri perhatian Fandy. Pegawai toko memberikannya saat Fandy menunjuk pada cincin yang ia maksud.


Syera tidak ikut memilih tapi ia juga memperhatikan cincin di atas meja. Syera kaget saat Fandy menunjuk cincin yang juga menarik perhatiannya, seakan Fandy bisa membaca pikiran Syera.


Fandy menarik tangan Syera dan membuka paksa kepalan tangan Syera untuk memakaikan cincin di jarinya. Fandy harus menggunakan sedikit tenaganya sampai cincin itu bisa melingkar di jari manis kanan Syera. Setelahnya Fandy memakai pasangan cincin itu dijari manisnya juga.


"A simple design but it's really nice and ellegant wedding rings," puji si pegawai memperhatikan cincin dijari Syera dan Fandy.


"Bagaimana, apa kamu menyukainya?" tanya Fandy pada Syera seperti enggan melihat cincin di jarinya.


"Aku nggak peduli. Kak Fandy bisa menentukannya sendiri karena kakak yang akan menikah, bukan aku."


Fandy tidak menanggapi setiap penolakan Syera. Ia mengeluarkan cincin di jari mereka berdua dan memberikannya kepada pegawai toko. Fandy mengatakan jika mereka memilih cincin tersebut dan meminta pegawai toko mengemasnya.


"Aku yakin kamu juga menyukainya. Itu akan menjadi cincin pernikahan kita."


"Aku nggak peduli."


Untung saja para pegawai toko yang mendengar pembicaraan Syera dan Fandy tidak ada yang tahu artinya. Syera dan Fandy tidak perlu khawatir, para pegawai tersebut tidak akan ada yang tahu jika mereka sedang berdebat, apalagi Fandy selalu mengulas senyum setiap Syera berbicara.


Setelah menyelesaikan pembayaran dan menerima cincin dari pegawai toko, Fandy mengajak Syera pergi.


Fandy menggandeng tangan Syera sedangkan satu tangan lainnya memegang paper bag berisi cincin pernikahan.


"Bersikap baik dan menurutlah mulai sekarang. Tidak akan ada yang berubah, keputusanku sudah bulat dan tidak ada yang bisa merubahnya kecuali malaikat maut mengambil nyawaku saat ini. Meski begitu aku pun tidak akan pernah rela."


Fandy kembali melajukan mobilnya, sama seperti sebelumnya sekarangpun Syera tidak tahu Fandy akan membawanya kemana.

__ADS_1


"Hentikan semuanya, kak. Ini hanya akan nyakitin hati kak Fandy. Aku nggak cinta dan kita nggak mungkin nikah. Kak Fandy orang baik, kak Fandy bisa dapat perempuan yang jauh lebih baik dariku. Kak Fandy bisa dapat perempuan lain yang sayang dan cinta sama kak Fandy. Perempuan yang bersih dan tidak seperti aku," ucap Syera mencoba meluluhkan hati Fandy.


"Berhentilah melobiku dengan kata-kata seperti itu karena tidak akan ada gunanya. Kamu tahu kalau ini akan menyakiti hatiku, oleh karena itu jangan membuatku semakin sakit dengan terus melakukan penolakan."


Fandy mengurangi laju mobilnya saat mengambil ponsel dari saku celananya dan menunjukkan sebuah pesan pada Syera. Sesungguhnya Fandy tidak ingin memperlihatkan pesan itu tapi jika dengan cara Syera mengetahuinya, mungkin akan lebih mudah untuk Fandy mayakinkan Syera untuk menurut.


"Aku nggak ingin menunjukkan ini karena pastinya kamu akan menangis. Aku terpaksa karena kamu yang keras kepala, jadi bacalah!"


'Mama tidak peduli apa yang akan kamu lakukan dengan Syera. Mama hanya ingin Leo pulang secepatnya tanpa dia, tanpa gadis itu! Katakan pada mereka jika masih bersama maka saat pulang ke Indonesia, mama sudah tinggal nama saja. Tanah kosong di samping makam papa sudah berisi mayat mama kalau mereka masih bersama.'


Syera tak kuasa menahan sedihnya, kekuatan yang coba ia bangun terkikis begitu saja. Tidak ada lagi harapan untuknya bisa benar-benar bersama dengan Leo. Tidak hanya Fandy namun mama Mila sampai hari ini juga ternyata masih menentang hubungan mereka.


Rasa sayang yang dimiliki Syera pada Fandy begitu besar tapi di sisi lain ada mama Mila yang sudah mengandung dan melahirkan Leo. Mama Mila adalah wanita pertama yang memberikan cinta dan kehidupan bagi Leo.


Fandy menepikan mobilnya karena tujuan mereka berikutnya sudah sampai. Sebelum mengajak Syera turun dari mobil, Fandy terlebih dahulu menghapus air mata Syera dan memeluknya.


"Maaf sudah membuatmu nangis. Aku hanya ingin kamu tahu dan sadar dengan kenyataan. Leo anak yang baik dan selalu menomor satukan mama selama ini. Mama pasti sangat sedih dan kecewa saat Leo anak kandungnya tidak mendengar perkataan mama lagi."


Syera menangis di pundak Fandy. Syera merasa sudah tidak ada jalan lagi sekarang. Semua jalan tertutup tanpa memberi celah sedikitpun.


Dari luar toko Syera sudah tahu tempat apa yang menjadi tujuan mereka. Melalui kaca transparan sebuah gaun pengantin di pajang, membuat siapapun yang melewati toko tersebut bisa melihatnya.


Bahasa Inggris Fandy yang fasih membuatnya tidak terlalu mengalami kendala saat berinteraksi dengan setiap orang yang pernah diajaknya bicara. Fandy meminta bantuan pegawai di sana untuk memperlihatkan dan membantu mereka memilih gaun pengantin.


Syera dan Fandy di bawa memasuki sebuah ruangan dimana ada berbagai koleksi gaun yang begitu indah, termasuk gaun pengantin. Fandy merangkul bahu Syera, melihat dan mengamati gaun pengantin di hadapan mereka.


"Bagaimana, ada yang kamu suka?" tanya Fandy dengan lembut.


"Semuanya cantik," ucap Syera.


Syera tidak ada pilihan lagi, ia hanya bisa pasrah dan menurut pada Fandy.


"Sekali seumur hidup, jadi kamu sendiri yang harus memilihnya untukmu. Aku menyukai apapun yang menjadi pilihanmu. Ayo lihat dan pilih gaun pengantinmu."


Perlahan Syera berjalan mengamati satu persatu gaun pengantin dengan hati yang hancur. Syera tersenyum kecut memandang indahnya sebuah gaun yang begitu indah dan menarik perhatiannya. Syera berdiri dihadapan gaun tersebut selama beberapa menit.

__ADS_1


"Kamu suka gaun yang ini?"


"Em."


"Aku akan minta pegawainya membantumu untuk mencobanya."


Fandy menunjuk gaun yang dipilih Syera pada seorang pegawai yang menunggu mereka dalam ruangan tersebut. Pegawai itu mengerti dan membantu Syera mencoba gaun pilihannya dibalik sebuah tirai.


"You look so beautiful with this wedding dress," puji pegawai itu pada Syera yang sudah memakai gaun pengantin.


Selagi Syera mencoba gaunnya, Leo membuka ponsel Syera dan mengirim pesan pada Leo dan meminta untuk bertemu disalah satu cafe, tak lupa Fandy juga mengirim alamat cafe yang dimaksud.


Fandy menunggu Syera dengan sabar dan ketika tirai dibuka, ia begitu terpukau dengan kecantikan Syera dalam balutan gaun berwarna putih kristal.


Cantik dan anggun, Fandy semakin terpesona pada Syera. Ia meminta pegawai toko untuk meninggalkan mereka berdua sebentar.


Syera memandangi dirinya pada cermin di depannya. Air matanya tak bisa ia bendung, ia menghapus air matanya dan semakin menangis saat melihat gelang pemberian Leo yang melingkar di pergelangan tangannya. Gelang yang tidak pernah ia lepas sekalipun semenjak dipakaikan Leo.


Fandy menghampiri Syera dan ikut menghapus air matanya. Jujur Fandy jua merasa sedih saat melihat Syera menangis tapi tidak ia tunjukkan.


Fandy berdiri tepat dihadapan Syera dan memandangi wajah gadis itu.


"Kamu cantik, sangat cantik!" puji Fandy.


Fandy menurunkan tangan Syera yang terus menghapus air matanya. Fandy mendekatkan wajahnya pada wajah Syera dan langsung mencium bibirnya. Syera tidak berdaya, kekuatannya sudah tidak ada semenjak membaca pesan mama Mila. Syera pasrah dan tak berkutik saat Fandy menciumnya.


Apa yang sudah begitu lama ditahan Fandy hari ini akhirnya dilakukannya. Ia mencium bibir Syera, memagutnya dan **********. Memberi gigitan kecil pada bibir bagian bawah Syera. Fandy mengelap bibir Syera yang basah dan memagutnya kembali. Fandy melihat dan merasakan air mata yang mengalir di pipi Syera tapi ia tidak peduli.


Tangan Fandy yang semula menangkup wajah Syera perlahan turun hingga meraih pergelangan tangan Syera.


Tak


Tubuh Syera bergetar diikuti air mata yang semakin meluap. Fandy belum menghentikan ciumannya setelah beberapa detik lalu memutus dan melepas gelang di tangan Syera. Fandy justru semakin memperdalam ciumannya meski Syera tidak membalasnya.


Kak Leo, maaf?

__ADS_1


..........


__ADS_2