Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)

Benciku, Air Matanya (Akhir Sebuah Rasa)
Aku Tidak Suka


__ADS_3

Sudah beberapa jam hujan deras mengguyur jalanan membuat Syera terpaksa berdiri diluar resetoran yang sudah tutup berharap hujan akan segera reda. Beberapa karyawan menerobos hujan lebat dengan sepeda motor sedangkan yang lainnya masih menunggu seperti Syera.


"Ra, kamu pulangnya naik apaan? Kayaknya kendaraan umum udah nggak ada deh karena hujan lebat. Taksi juga nggak ada yang lewat dari tadi. Rumah kamu juga arahnya beda dengan kami, gimana dong?" tanya Baim yang sudah mengetahui tempat tinggal Syera.


"Pasti ada kok, Im. Kalau hujannya reda pasti ada yang lewat."


"Biasanya kalau hujan seperti ini bakalan awet alias lama berhentinya."


Syera memeluk tubuhnya yang kedinginan karena terpaan angin. Belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti bahkan suara petir dan kilat seperti akan memecah bumi.


"Ra, kami pulang dulu ya, takutnya makin lebat. Kamu nggak kenapa-kenapa kan kalau kami tinggal?"


"Iya, nggak kenapa-kenapa. Hati-hati, Im. Jalanan licin apalagi boncengan sama si Mery."


"Iya, Ra. Kamu juga hati-hati kalau pulang nanti."


Tinggallah Syera seorang diri, matanya celingak-celinguk melihat jika saja ada taksi yang lewat.


Hari semakin malam membuat Syera mulai ketakutan apalagi tidak ada lagi orang yang bisa ia ajak untuk bicara.


Apa aku telpon saja? Tapi mereka pasti sibuk, ada rapat penting di perusahaan. Aku mana mungkin mengganggu mereka.


Tadi pagi sebelum berangkat kerja Syera mendengar percakapan antara Bima dan Leo yang akan mengadakan rapat penting dengan para pimpinan departemen perusahaan. Sebagai wakil direktur tentu saja Fandy juga ikut dalam rapat tersebut.


Syera melihat waktu di ponselnya yang sudah hampir pukul sepuluh malam. Tanpa pikir Syera langsung menekan angka satu pada papan tombol ponselnya.


"Kak?" panggil Syera seperti orang yang hampir menangis.


"Kamu kenapa?" suara seorang pria bertanya dari seberang telepon. "Kamu ada dimana?" tanyanya lagi khawatir.


"Aku lagi di depan restoran, kak. Kendaraan umum dan taksi nggak ada yang lewat. Syera takut, kak. Hujannya juga nggak mau berhenti."


"Kamu sama siapa di sana?" tanyanya semakin khawatir.

__ADS_1


"Aku sendirian, kak. Semuanya sudah pulang."


"Jangan takut dan jangan kemana-mana. Ingat, tunggu di sana. Aku ke sana sekarang dan sebentar lagi akan nyampe, oke?"


"Iya, kak."


Syera memutuskan panggilan telponnya karena suara petir dan kilat kembali menggelegar. Rasa takutnya sedikit berkurang namun entah kenapa Syera mulai menangis.


Duar!


Suara petir mengejutkan Syera hingga ponselnya terlempar dari tangannya karena seperti ada percikan api menghampiri ponselnya.


"Hiks... Kak, cepat."


Syera semakin menangis dan berjongkok di depan pintu restoran.


..........


Beruntung jalanan sepi, tidak banyak kendaraan yang bergerak sehingga laju mobilnya yang begitu cepat membuatnya bisa tiba begitu cepat bahkan lebih cepat dibandingkan saat tidak ada hujan.


Lampu sorot mobil yang berhenti di depannya membuat Syera langsung mengangkat kepalanya.


Syera berdiri dengan mata sembab karena menangis. Akhirnya orang yang tadi di hubungi dan di tunggunya keluar dari mobil dengan membawa payung ditangannya.


"Apa aku terlalu lama?"


"Hiks...Kak Fandy," sambil menangis Syera menghambur ke dalam pelukan Fandy.


Sebelumnya...


Rapat penting yang diadakan sejak sore sudah selesai dalam waktu dua jam namun karena diluar sedang turun hujan Leo selaku pemimpin tertinggi sekaligus pemilik perusahaan mengadakan acara makan malam dadakan di kantor dengan para karyawan yang ada di ruang rapat.


Satu mobil box datang membawa pesanan dan langsung dibawa keruang rapat. Ditengah acara Fandy mendapat telpon dari Syera yang sedang tertahan tidak bisa pulang akibat hujan lebat dan kendaraan umum yang sepertinya berhenti beroperasi.

__ADS_1


Awalnya Leo tidak begitu menghiraukan saat melihat Fandy berbicara di telepon. Akan tetapi saat raut wajah Fandy berubah seperti sedang ada masalah membuat Leo penasaran. Terlebih tanpa mengatakan apapun Fandy langsung pergi meninggalkan acara makan malam yang sedang berlangsung.


Entah kemana Fandy akan pergi Leo tidak tahu karena dia sama sekali tidak mendengar apa yang tadi Fandy bicarakan di telpon. Leo menilik keluar dari tirai jendela ruang rapat, dilihatnya jalanan. cukup sepi karena hujan lebat.


Saat itu Leo teringat akan Syera dan langsung menelponnya untuk memastikan apa Syera sudah pulang atau belum. Beberapa kali Leo menelpon tapi panggilan itu tidak masuk. Apa karena sinyal yang jelek atau karena ponsel Syera kehabisan baterai Leo tidak tahu.


Leo khawatir dan akhirnya menyusul Fandy meninggalkan acara makan malam, Leo akan pergi ke restoran tempat Syera bekerja.


Akibat kurang hati-hati hampir saja Leo menabrak pembatas jalan sebanyak dua kali. Ditengah jalan Leo melihat sebuah mobil melaju begitu cepat dan saat memperhatikan plat nomor kendaraannya Leo tahu itu mobil Fandy.


Leo kembali mengingat raut wajah khawatir Fandy saat bicara ditelepon tadi dengan seseorang. Semakin Fandy mempercepat laju mobilnya semakin cepat juga Leo membawa mobilnya.


"Dia mau kemana?" melihat mobil Fandy belok kiri di pertigaan jalan. "Mau apa dia kesini? Tidak mungkinkan kalau dia-" Leo terdiam saat menyadari arah yang dituju Fandy sama seperti arah yang ingin ditujunya.


Hanya lima menit setelah belok kiri dari pertigaan mobil Fandy berhenti tepat di depan restoran Syera bekerja. Fandy keluar dari mobil membawa payung. Fandy mendapati Syera sedang duduk berjongkok di depan pintu restoran. Syera menangis datang ke pelukan Fandy.


"Maaf kalau aku lama, apa kamu ketakutan?" menenangkan Syera yang sesegukan.


Syera menggelengkan kepalanya. Tentu saja Syera merasa takut dalam situasinya tapi yang membuatnya sesegukan dalam pelukan Fandy karena laki-laki itu tiba begitu cepat. Dia tidak bisa membayangkan kecepatan mobil yang dibawa Fandy dalam kondisi hujan lebat.


"Jangan nangis lagi, kita pulang sekarang." Fandy melonggarkan pelukannya dan menghapus air mata Syera. Fandy juga melepas jasnya dan memakaikannya pada Syera.


"Ayo," ajak Fandy merangkul pundak Syera setelah membuka payung.


Akhirnya Syera bisa bernafas lega setelah kedatangan Fandy. Tidak lagi bingung bagiamana caranya untuk pulang dalam kondisi hujan dan kendaraan umum yang tak satupun lewat.


Kau tidak menganggap aku sama sekali, iyakan? Aku bukan orang pertama yang kau ingat disaat kau perlukan. Kau hanya ingat dia bukan aku. Aku tidak ada artinya untukmu.


Tatapan Leo menjadi sendu setelah menyaksikan interaksi Fandy dan Syera dari dalam mobil. Melihat kedekatan mereka membuat hati Leo sakit.


"Apa hanya aku sendiri yang merasakannya, aku tidak suka melihatmu bersama laki-laki lain. Aku tidak suka, sama sekali tidak suka."


Leo menoleh ke kanan saat mobil Fandy melewatinya. Bisa dilihatnya tangan kiri Fandy mengelus kepala Syera. Melalui kaca spion Leo memandangi mobil Fandy yang membawa Syera pergi menjauh dan tidak terlihat lagi.

__ADS_1


__ADS_2